Twin'S

Twin'S
Exstra Part.16



Ketika rasa sakit bertemu dengan dendam. Maka benci adalah keturunannya.


Itu lah yang di rasakan Yumna saat ini, dia membenci orang yang melukainya di masa lalu hingga menimbulkan dendam pada orang tersebut. Bahkan anaknya sekaligus.


Setelah di tenangkan oleh Bara, Yumna akhirnya tertidur dan kini Bara akan berbicara dengan Dela.


"Yumna sudah tidur?" tanya Laura.


"Sudah bu, maafkan aku yang tak bisa membahagiakan dia bu. Aku gagal jadi ayah dan suami yang baik," ucap Bara.


"Tidak nak, kamu tidak gagal. Kamu sudah menjalankan tugas sebagai ayah dan suami yang baik, bagi anak dan istri mu."


"Aku lemah ibu, aku lemah tidak bisa mengambil tindakan."


"Sudahlah bicara pada Dela, dia tidak mau makan bersama tadi ibu, Yusra dan Dika sudah membujuknya. Lihatlah, ibu khawatir dia nekat." Ujar Laura, di jawab anggukan oleh Bara.


Bara pun memutuskan untuk ke kamar sang anak, Bara mengetuk pintu dan mencoba memanggil Dela. Tapi tak ada jawaban dari dalam. Bara mencoba membuka pintu tapi di kunci, dia pun khawatir. Bara mencoba mendobrak pintu kamar Dela dengan sekuat tenaga, membuat Mario, Laura, Dika dan Anyelir menghampiri Bara.


"Bara ada apa?" tanya Laura.


"Dela tak menjawab bu, aku takut terjadi apa-apa sama dia," ujar Bara, mencoba mendobrak tapi yang ada bahunya sakit.


"Biar aku bantu ka," tawar Dika, Bara pun mengangguk dan mereka bersama mendobrak pintu kamar Dela yang akhirnya terbuka.


"Dela," pekik Bara dan Dika.


"Ada apa?" tanya Mario.


"Dela astaga," pekik Yusra.


"Cepat bawa ke rumah sakit," perintah Mario.


Bara menggendong Dela, saat akan keluar kebetulan mobil Hito datang. Dia akan menjemput Yusra.


"Dela, kenapa dia Bar?" tanya Hito saat keluar dari mobil.


"Tolong antar, kita ke rumah sakit." Pinta Bara, Dika membuka pintu belakang dan langsung duduk. Dan menerima Dela dan menekan luka pada pergelangan tangannya.


"Kenapa lo, nekat sih Del!" gumam Dika, menatap Dela yang sudah pucat.


"Aku akan menyusul," teriak Yusra, dan di jawab anggukan Bara.


Yusra bergegas menuju kamar Yumna, dan mengetuk pintu dengan kasar. Pintu terbuka dengan muka bantal Yumna.


"Ada apa Yusra?"


"Dela di bawa ke rumah sakit," balas Yusra.


"Apa?" pekik Yumna. "Kenapa Dela? Apa yang terjadi?" tanya Yumna.


"Kamu tahu, dia mencoba bunuh diri Yumna. Itu karena kamu, terlalu menekannya." Yusra menatap tajam Yumna.


"Engga pasti kamu bohong kan."


"Kalo kamu gak percaya, ayo ikut. Aku, ibu dan papi akan segera ke rumah sakit."


"Baiklah aku ikut."


Yumna pun bergegas menuju halaman rumah, di mana mobil Mario sudah siap.


"Anyelir, maaf ya kamu jaga Tatiana dulu. Gak papa kan?"


"Gak papa ka."


"Makasih Anye, aku pergi dulu. Jangan lupa kunci pintu yah!" pinta Yusra.


"Iya ka."


Yusra pun menyusul masuk ke dalam mobil, dan duduk di samping Yumna.


"Pih, papi bisa nyetir? Biar aku aja pih," pinta Yusra.


"Tidak apa-apa, nak. Papi baik-baik saja. Kamu tenangkan saja kaka mu," kata Mario.


"Iya pih."


Mobil pun melesat dengan cepat, berpuluh menit kemudian. Mobil Mario sudah sampai di rumah sakit terdekat dari rumah Yumna. Yusra mengajak keluarganya menuju IGD, karena menurut Hito Dela masih di tangani.


"Dika, bagaimana keadaan Dela? Mana Bara?" tanya Yumna setelah mereka sampai di depan IGD.


"Bara sedang melakukan donor darah, karena Dela kehilangan banyak darah." Sahut Hito, karena Dika terlalu shock dia trauma dengan darah.


"Ibu." Dika memeluk Laura, dia benar-benar takut darah.


"Sudah-sudah, Dela akan baik-baik saja." Ucap Laura menenangkan, dan Mario menepuk pundak Dika.


"Tadi darahnya, keluar banyak bu aku takut." Ujar Dika.


Dulu saat masih kecil, Dika tak sengaja melihat korban kecelakaan di hadapan matanya dan darahnya mengenai dirinya. Membuat dia menjerit histeris, Laura dan Mario membawa Dika pergi ke kantin agar Dika tenang.


"Ibu ke kantin dulu," ujar Laura pada Yusra dan Hito.


"Iya bu," sahut Hito dan Yusra.


Sedangkan Yumna berusaha melihat ke dalam ruang tindakan tersebut, walau usahanya akan sia-sia. Sebab terhalang oleh perawat dan Dokter.


****


Auriga yang cemas akan Dela pun menyusul ke rumahnya, setelah mengantar Lula ke rumah Zea. Dan membujuk Ara yang rewel, dan di sinilah Auriga di depan pintu rumah Dela yang cukup sepi. Auriga mengetuk pintu rumah dan menunggu cukup lama, pintu pun terbuka.


"Maaf cari siapa mas?" tanya Anyelir, dia tadi di kamar Tatiana menemaninya belajar.


"Dela," jawabnya singkat.


"Dia di bawa ke rumah sakit mas, karena mencoba bunuh diri." Ujar Anyelir, membuat Auriga membulatkan kedua matanya.


"Serius? Lalu di rumah sakit mana sekarang?" tanyanya tak sabar.


"Iya mas, masa bohong. Rumah sakit Harapan, gak jauh dari sini."


Selama perjalanan Auriga begitu khawatir akan keadaan Dela.


"Kenapa kamu nekat Del, seharusnya kamu gak lakuin itu!" gumam Auriga.


Karena jalanan tak terlalu ramai, membuat Auriga cepat sampai di rumah sakit. Dia menanyakan di bagian informasi tentang pasien yang bernama Dela, setelah mendapatkan info. Auriga dengan segera berlari menuju ruang perawatan VIP.


Auriga ragu untuk mengetuk pintu, sampai pintu tersebut terbuka. Membuat Yusra dan Hito terkejut.


"Astaga, Auriga ngagetin aja." Omel Yusra.


"Maaf, gimana keadaan Dela?"


"Dia udah baik-baik saja, masih belum sadar. Aku saranin sebaiknya kamu jangan dulu jenguk Riga. Aku takut ka Yumna bakal emosi lagu," ujar Yusra.


Auriga menghembuskan napasnya secara kasar, menatap ke pintu yang tertutup. Auriga menatap Yusra dan Hito yang terdiam.


"Aku ingin melihatnya, apa pun yang terjadi." Kekeh Auriga.


"Di bilangin ngeyel," desah Yusra.


"Ya sudah masuk," titahnya pada Auriga.


Auriga pun mengikuti langkah Yusra dan Hito, sesampainya di dalam hanya ada Bara dan Yumna yang menggengam tangan Dela. Sedangkan Mario, Dika dan Laura sudah pulang, karena Dika trauma dengan darah walau darah itu menempel di bajunya.


Yumna yang melihat kedatangan Auriga, langsung bangkit dan menatap tajam Auriga.


"Ngapain kamu di sini? Gak cukup buat anak saya menderita?" ucapnya marah.


"Sayang sudah lah, dia ingin menjenguk Dela." Ujar Bara.


Sedangkan Hito sudah siap siaga di dekat Auriga, jika terjadi penyerangan dari Yumna. Dan Yusra pun sama siaga di dekat sang kakak.


"Aku gak rela, dia jenguk anak kita," bentak Yumna.


"Aku janji, aku dan anak-anak setelah ini akan pergi dari hidup Dela. Asal izinkan aku untuk bertemu dengannya Yumna," mohon Auriga.


"Jangan." Lirih Dela, menatap Auriga.


"Dela, kamu sudah bangun nak?" tanya Yumna menghampiri Dela.


"Jangan pergi Auriga, jangan tinggalkan aku." Dengan suara lirih Dela memohon, dan dia merasakan air matanya akan meluncur bebas.


"Kamu masih punya bunda nak."


Dela menepis tangan Yumna dengan lemah, dia menatap Auriga dan mengulurkan tangannya. Tapi Auriga hanya diam saja.


"Dela maafkan aku, jika kehadiranku dengan anak-anak menggangu mu. Tapi ibu mu benar, aku tak pantas untuk mu. Karena aku terlalu tua untuk mu."


Auriga mendekati Dela, dan mengusap pipinya dengan lembut.


"Maafkan aku Dela, aku pergi. Kamu harus bahagia tanpa aku." Ucap Auriga mencium kening Dela.


Auriga pun meninggalkan kamar rawat Dela, membuat tangis Dela pecah. Dela mencoba turun dari ranjang, dia ingin mengejar Auriga namun dia sangat lemas dan pusing.


"Tidak Auriga, jangan pergi. Jangan tinggalkan aku," teriak Dela.


"Dela sudah nak." Yusra memeluk Dela, karena dia enggan di peluk oleh Yumna.


"Tante bawa dia kembali tante," pinta Dela.


"Bunda jahat, bunda gak sayang aku. Aku benci bunda," pekik Dela.


Dela mencoba melepaskan pelukan Yusra, Hito pun membantu memeluk Dela. Sementara Bara memanggil Dokter dengan menekan tombol emergency.


Yumna menatap sang anak yang menangis histeris, dia menjambak rambutnya sendiri. Luka di tangannya pun kembali berdarah.


"Dela," lirih Yumna.


Dela menatap tajam Yumna.


"Pergi, semuanya pergi." Pekik Dela.


Tak lama Dokter dan perawat datang, memberikan obat penenang.


"Sebaiknya, nyonya dan tuan. Keluar lebih dulu, dan yang menjaga di ruangan hanya satu orang saja." Ujar perawat.


"Baik sus," jawab Yusra.


"Yumna sebaiknya kamu pulang, jika kamu sayang pada anak mu. Maka turuti perintah ku," ucap Bara menatap Yumna yang menangis.


"Tapi aku ingin menjaganya, Bara."


"Tapi dia akan mengamuk kembali Yumna, apa kamu tidak kasian pada anak mu?" bentak Bara, untuk pertama kalinya Bara membentak Yumna.


"Yusra tolong bawa pulang Yumna, biar aku yang di sini."


"Baik Bar, ka ayok pulang. Jika Dela sudah tenang kakak boleh jenguk dia lagi," bujuk Yusra.


"Iya ka, Yusra benar aku takut Dela akan hilang kontrol karena emosi. Dan itu bisa memperparah kondisinya," ujar Hito.


"Kalau ada apa-apa, hubungi aku Bara," pinta Yumna dan di jawab anggukan oleh Bara.


Yusra dan Yumna pun meninggalkan ruangan tempat Dela di rawat, Hito menepuk pundak kakak iparnya tersebut.


"Kalo ada apa-apa, hubungi gue ok!" ucap Hito.


Bara hanya membalas singkat, ucapan Hito. Setelah semuanya pergi, Bara masuk kembali ke ruangan sang anak yang tertidur.


Bara berbicara sebentar dengan Dokter jaga, Dokter tersebut berpesan, supaya Dela tenang agar luka di pergelangan tangannya gak semakin melebar. Setelah Dokter keluar, Bara menatap Dela yang tertidur dengan lelap. Dia mengusap pipi putri bungsu kesayangannya.


"Maafkan ayah nak, ayah belum bisa memberikan yang terbaik untuk mu." Ucap Bara.


**Semoga suka 💞


Maaf typo**