
Tidak mudah bagi Auriga berperan menjadi Ayah sekaligus ibu, bagi kedua putri. Terutama putri sulung yang menginjak remaja dan butuh perhatian exstra, dia selalu tertutup pada Auriga. Bahkan saat dia mendapati haid pertamanya Auriga bingung apa yang harus dia lakukan. Jika saat itu Auriga tidak melihat bercak darah di rok sang anak, mungkin Lula akan acuh dengan terpaksa Auriga meminta bantuan pada Zea yang lebih paham.
Setelah puas menumpahkan rasa sedih dan emosinya Lula melepaskan pelukannya pada Auriga, Auriga mengusap air mata yang membanjiri pipi sang anak.
"Lula berjanjilah pada ayah, bahwa apa pun yang Lula rasakan. Katakan pada ayah, kamu cerita ya sama ayah jangan buat ayah asing pada mu." Jelas Auriga.
Lula tidak menjawab dia hanya menatap Auriga dengan penuh rindu, sejujurnya Lula memang Lula rindu pada ayahnya tersebut. Lula pun menganggukan kepalanya.
"Pintar anak baik dan pintar." Auriga mengecup puncak kepala Lula.
"Sekarang kamu tidur ya, besok ayah akan membawa mu main kemana pun kamu mau," ujar Auriga.
"Tapi jangan bawa Ara ayah, aku ingin hanya berdua dengan ayah," pinta Lula dengan lirih.
"Baiklah, hanya Lula dan ayah. Yang akan pergi," putus Auriga.
"Setelah memastikan sang anak tidur, Auriga menuju kamarnya bersama Ara. Dia belum tega membiarkan Ara tidur sendiri, jika saja sikap Lula baik pada Ara mungkin Auriga akan menyatukan kamar sang anak.
Auriga melihat sang anak yang sudah terlelap, sambil memeluk boneka beruang favoritnya. Auriga mencium kening Ara kemudian dia beranjak menuju kamar mandi, setelah memastikan Auriga ke kamar mandi. Ara terisak sambil mengeratkan pelukannya pada boneka kesayangannya.
"Kenapa kakak jahat sama Ara? Kenapa kakak gak sayang sama Ara? Harusnya ibu, gak usah lahirin Ara, biarin Ara yang pergi." Ucap pilu Ara di antara isak tangisnya.
Saat Auriga keluar dari kamar mandi, Ara sudah berhenti menangis dan tertidur. Auriga melihat air mata sang anak dan memeluknya, menggumamkan kata maaf.
****
Minggu yang cerah secerah wajah Dika, Dela yang melihat sang paman baru keluar kamar sambil tersenyum dan jangan lupakan begitu rapih dan wangi.
"Idih... Kenapa lo, endus gue?" tanya Dika melihat kelakuan keponakannya itu.
"Biasanya tak pake minyak wangi, biasanya tak suka begitu. Saya curiga, saya cemburu..."
Tiba-tiba Dela menyayikan lagu salah satu artis ternama Indonesia.
"Dih amit-amit, masih pagi udah ke sambet setan aja lo." Ujar Dika, menoyor bahu Dela.
"Enak aja, aku cantik gak akan kesambet ya," protes Dela.
"Aku nyanyi soalnya, keinget lagu artis dangdut itu loh! soalnya paman Dika tiba-tiba wangi dan masih pagi udah rapih aja. Mau kemana nih?" tanyanya kepo.
"Anak kecil gak usah kepo." Dika menjulurkan lidahnya pada Dela, kemudian turun ke lantai bawah untuk sarapan.
Dela pun mengekor Dika di belakang, mereka menyapa Laura, Yumna dan Bara. Saat melewati Tatiana Dika mengacak keponakannya yang cerewet bawel.
"Papi mana bu?" tanya Dika.
"Papi kamu sakit Dik, semalam katanya gak enak badan," jelas Laura, di jawab anggukan oleh Dika.
"Kamu mau kemana pagi-pagi gini udah rapih?" tanya Yumna menatap adik laki-lakinya.
"Gak anak, gak ibu sama-sama kepo. Ada deh rahasia," kekeh Dika.
Membuat Yumna berdecak kesal.
"Bu, nanti sore aku dan mas Bara mau pulang ke rumah. Titip Dela ya, dia gak mau pulang katanya." Papar Yumna.
"Iya." Jawab Laura singkat. "Ibu ke atas dulu yah, mau nyuapin papi." Sambungnya lagi.
Di jawab anggukan oleh semuanya, mereka sarapan dengan Dela yang meledek Dika habis-habisan.
"Ka aku berangkat dulu, takut telat. Berisik juga disini," sindirnya pada Dela.
"Iya hati-hati," sahut Yumna.
"Ihh... Uncle gak ada ahlak emang," kesal Dela.
"Sudah Dela, makan." Tegas Bara, yang melihat anak dan adik iparnya debat.
*****
Dika mengetuk salah satu rumah kontrakan yang berjajar rapih, tak menunggu lama. Pintu terbuka dan nampak lah Anyelir yang belum terlalu rapih.
"Ohh... Ka Dika, masuk ka. Aku belum siap-siap soalnya harus nyuci juga mumpung libur kerja," kekeh Anye.
"Gak apa, aku tungguin kok. Pintunya di buka aja ya biar gak jadi fitnah," ujar Dika.
"Iya ka, tunggu yah."
Anyelir pun berlalu menuju kamarnya dan bersiap secepat mungkin, dia tidak ingin pacarnya menunggu. Tak lama Anyelir pun sudah selesai, dan mengajak Dika segera berangkat.
Dika mengajak Anyelir ke Kota Tua, dia akan mengajak Anyelir berjalan-jalan dengan sepedah menyusuri lorong dan jalan yang berliku. Kota Tua Jakarta, dulu di kenal dengan nama Old Batavia yang menyimpan sejuta kenangan. Ya sambil membayangkan gaya berpacaran zaman dulu.
Setelah bersepeda, Dika berencana mengajak Anyelir ke Museum lalu makan siang di cafe Batavia. Sungguh rencana yang indah.
Setelah sampai Dika pun membayar tiket masuk, dan menyuruh Anyelir duduk di belakang jok sepeda.
"Memangnya kamu bisa bawa sepeda?" tanya Anyelir.
"Hey... Jangan ragukan kekasih mu ini, Nye." Ujar Dika.
Membuat Anyelir tertawa, tawa yang selalu Dika suka saat pertama bertemu. Dika pun mulai mengayunkan sepedanya dan menyusuri jalan.
"Dika udah sore, ayo kita pulang!" ajak Anyelir.
"Kamu mau beli oleh-oleh, atau cemilan dulu gak?"
Anyelir hanya menggeleng sebagai jawaban, tapi Dika malah menarik Anyelir ke Tok Merah yang bersejarah. Lalu Dika mengajak Anyelir mengitari Chinatown di petak sembilan yang sarat budaya, dan pernak pernik oriental. Dan suasana keakraban yang khas Indonesia.
Tepat pukul lima sore, Dika dan Anyelir menyelesaikan acara jalan-jalannya. Dan Dika sedang mengantar Anyelir pulang, pada saat melihat-lihat oleh-oleh Anyelir tidak mau membelinya, karena dia pikir baru satu hari jadi pacar sudah banyak maunya. Anyelir takut di kira matre.
Tapi saat di jalan pulang, Dika mengehentikan mobilnya di minimarket. Dia masuk dan Anyelir hanya menunggu, beberapa menit kemudian. Dika sudah selesai, dan keluar dengan membawa dua kantong belanjaan di tangannya.
"Belanja kamu banyak banget ka! Apa gak boros?" tanya Anyelir.
"Engga kok, lagian itu juga buat kamu kok," jelas Dika, setelah dia masuk mobil.
"Hah!! Buat aku ka? Seharusnya jangan dong ka, dari tadi ka Dika terus keluarin uang buat kita."
"Gak apa-apa, Anye. Aku gak masalah, toh kamu kekasih ku." Dika mengelus rambut Anyelir dengan sayang.
Belum pernah Dika jatuh cinta yang seperti ini, yang ada sepanjang hidup sebelum bertemu Anyelir. Dia selalu bertemu dengan gadis-gadia centil dan matre.
Dika pun melajukan mobilnya, membelah jalanan ibu kota yang sebentar lagi akan turun hujan. Berpuluh menit kemudian Dika sudah sampai di depan gang kontrakan Anyelir, Dika membawakan belanjaan Anyelir dan makan malam untuknya. Membuat Anyelir benar-benar tak enak hati.
"Makasih ya ka," ucap Anyelir.
"Sama-sama, jangan lupa makanan yang aku pesan tadi kamu makan ya. Jangan di kasih orang," canda Dika, membuat Anye terkekeh.
"Engga dong ka."
"Ya udah kalo gitu aku pulang dulu, Nye. Sampai jumpa," pamit Dika.
Anyelir menunggu Dika sampai tak terlihat lagi, setelah memastikan Dika tak terlihat Anyelir melangkah menuju rumah kontrakannya.
Saat akan membuka pintu, tiba-tiba suara sumbang menyakiti hatinya.
"Enak yah, kalo punya pacar orang kaya. Bisa di beliin makanan dan di ajak jalan-jalan juga," sindir tetangga kontrakan Anyelir.
Namun Anyelir tidak menanggapi sindiran tersebut, dia sudah terbiasa semasa ibunya masih hidup pun. Mereka selalu menghina dirinya dan sang ibu.
tbc....
Maaf typo
Jangan lupa tinggalkan jejak, makasih 🙏