Twin'S

Twin'S
Exstra Part.20



Sekarang memang masih terasa pahit, nanti juga akan manis kok. Nikmati dan jalani prosesnya, kuatkan mental dan jangan pernah lari dari kenyataan. Percayalah, semua akan indah pada waktunya.


Siang ini Dela di izinkan pulang oleh Dokter, kondisinya sudah baik dan jahitan di pergelangan tangannya sudah kering. Hari ini dia akan pulang bersama Bara dan Yumna, dan yang lainnya menunggu di rumah.


"Uncle rese kemana bun? Dari aku di rumah sakit dia kok gak jenguk aku sih? Jahat banget jadi paman," omel Dela.


"Uncle mu trauma darah Dela, jadi dia gak mau datang ke rumah sakit." Kekeh Yumna, membereskan barang-barang Dela. Sedangkan Bara sedang melakukan pembayaran dan pengambilan obat.


Dela pun hanya menjawab oh saja, dia memainkan ponselnya. Sepi ya ponselnya sepi dari pesan, tak ada pesan dari Auriga hanya ada pesan dari Zea itu pun dari Ara.


"Auriga aku rindu," batin Dela, menatap foto mereka.


"Bunda."


"Kenapa?"


Dela pun ragu untuk mengatakan bahwa dia ingin bertemu Auriga, hubungannya tidak jelas. Dan Yumna pun belum berbicara bahwa dia merestui hubungan dirinya dan Auriga.


"Engga deh," kekeh Dela, Yumna hanya menggeleng saja.


Yumna memeriksa semua tempat, agar tak ada yang tak tertinggal setelah selesai. Dia mengobrol dengan Dela menunggu Bara.


****


Sementara itu di rumah Dela, pegawai cafe Keano tengah di sibukkan melakukan dekorasi dan menyediakan makanan. Dan mereka bekerja dengan cepat, Auriga tersenyum menatap kejutan lamaran untuk Dela, dia memperhatikan cincin berlian yang berbentuk indah.


"Semoga kamu suka," gumam Auriga.


"Ayah," pekik Ara, dia berlari dan memeluk Auriga. Keadaannya sudah mulai membaik setelah bertemu Dela.


"Kapan ka Dela pulang? Aku sudah rindu." Ucapnya manja.


"Sabar yah, mungkin sedang di jalan."


"Iya ayah," jawab Ara patuh, dan turun dari pangkuan Auriga.


Jimi menyentuh pundak Auriga, tak menyangka anaknya tersebut akan jatuh cinta lagi. Dia takut Auriga seperti dirinya yang tak bisa jatuh cinta lagi pada wanita lain. Nyatanya cinta itu di persatukan oleh Ara.


Auriga tersenyum pada Jimi, walau baru mengenal Dela selama satu bulan. Auriga sudah yakin pada pilihan hatinya, terlebih lagi Dela dekat dengan kedua anaknya.


"Sebentar lagi mereka pulang, mereka mampir dulu ke toko katanya," beritahu Yusra pada yang lain.


"Iya."


****


Tak butuh waktu lama, setelah mampir ke suatu tempat Dela kembali pulang. Yang di cari tak ada.


"Sebenarnya, kamu cari apa sih Del? tanya Yumna.


"Cari koleksi BTS bun, tapi gak ada." ucapnya berbohong, sebenarnya dia ingin ke apartemen Bara cuma gengsi bilang.


Yumna hanya bisa beroh saja, akhirnya Dela memutuskan untuk mampir di toko cake kesukaannya.


"Kamu tunggu saja, biar ayah yang beli." Kata Bara.


"Iya yah," jawabnya patuh.


"Yah, jangan lupa cheese cake, wafel, croissants sama brownies ya." Pinta Dela tersenyum. "Ahh... Satu lagi, minumannya ya." Teriak Dela, yang di jawab anggukan oleh Bara.


"Makan kamu banyak juga Del, melebihi bunda," cibir Yumna.


Dela hanya berdecak saja, dan menatap ke depan.


"Aku kan masih dalam masa, pertumbuhan bunda." Ucapnya membuat Yumna terkekeh.


"Memangnya kamu Tatiana! Kamu udah dewasa,"


Dela cemberut karena perkataan Yumna, yang membuatnya badmood. Sambil menunggu Bara, Dela memutuskan untuk menonton drama Korea saja. Sedangkan Yumna dia menyusul Bara.


Tak lama Yumna dan Bara pun sudah masuk ke dalam mobil, dengan membawa banyak kotak kue dan minuman.


"Kok... Banyak banget yah?"


"Di rumahkan banyak orang, wajar ayah beli banyak." Sahut Yumna, dan Dela hanya beroh saja.


Sambil menunggu tiba di rumah, Dela memakan croissants yang berisi coklat lumer kesukaannya. Tak sampai satu jam mobil Bara sudah sampai di rumah mereka, Dela pun mengeryit merasa kenal dengan dua mobil yang terparkir cantik di depan rumahnya, dan satu mobil box berlogo Keano's cafe.


"Ada apa ini bun?" tanya Dela.


"Entahlah, bunda pun tak tahu." Jawabnya berbohong, dia tahu rencana Auriga yang akan melamar Dela. Bara yang memberitahu padanya, awalnya Yumna berat. Tapi setelah di pikir dia menerima Auriga sebagai menantunya, ya meski pun agak aneh sih.


****


Sementara itu di dalam rumah, sudah siap semua. Dan menurut Yusra sebentar lagi mereka sampai, jangan di tanya bagaimana perasaan Auriga saat ini.


Tak lama pintu rumah terbuka, di ujung sana tampak wajah segar Dela menatap tak percaya pada Auriga. Auriga tersenyum dan menghampiri Dela.


"Kaya anak kecil aja," omelnya terharu, dia memeluk Yumna yang sudah berkaca-kaca.


"Ka Dela," pekik Lula dan Ara, dan memeluk Dela.


"Ayah bilang ka Dela akan pulang, jadi kita kasih kejutan deh." Ucap Ara.


"Makasih ya," Dela mengusap rambut Ara dan Lula dengan sayang.


"Aku engga ka? Aku udah cape tiupin balon tuh," tunjuknya pada semua balon.


Membuat Dela memutar bola mata malas, lantas dia pun mengucapkan terima kasih pada sang adik.


"Sebaiknya, kita makan dulu saja." Ajak Laura.


Mereka semua pun menuju ruang makan, Auriga belum buka suara sama sekali. Mungkin nanti setelah makan dia akan melamar Dela, dan langsung menentukan tanggal pernikahannya dengan Dela.


Mereka pun makan siang pun berlangsung, dan di selingi obrolan seputaran bisnis. Setelah selesai makan siang, mereka pun duduk di ruang keluarga. Sementara anak-anak mereka bermain di taman belakang, dan Tatiana pun sudah mulai akrab dengan Manda dan Lula.


Auriga menatap Bara, dia meminta izin untuk bicara. Dan Bara pun mengangguk sebagai jawaban.


"Maksud kedatangan saya ke sini, dan memberikan kejutan ini pada Dela. Karena saya ingin melamar Dela menjadi istri saya, menjadi ibu dari anak-anak saya." Papar Auriga, menatap Dela yang membulatkan kedua matanya.


"Wah... Dela, lo keluar dari rumah sakit langsung di lamar hebat," bisik Dika, langsung di senggol oleh Dela.


Dela pun melirik Yumna dan Bara, dia cemas menunggu jawaban dari orang tuanya. Terakhir kali yang dia tahu, bahwa bundanya tak merestui Dela dan Auriga.


"Saya tergantung Dela Auriga, jika dia menerima maka saya merestui kalian berdua." Ujar Bara, Auriga pun melirik Yumna.


"Kalo Dela bilang iya, maka aku bisa apa."


"Bunda," lirih Dela.


"Jika kamu bahagia, bunda bisa apa nak. Bunda sayang sama kamu Dela. Jangan pernah berpikir kalau aku gak sayang kamu," kata Yumna memeluk sang anak.


"Jadi gimana Del, lo nerima Auriga apa engga? Nanti dia keburu berubah pikiran." tanya Dika mewakili Auriga.


"Ya aku menerima mu," ucap Dela tersenyum.


"Syukurlah," ucap semuanya dengan lega.


Saat Dela akan bangkit Dika menghalangi Dela. Dika pikir pasti Dela akan memeluk Auriga.


"Uncle rese, apaan sih lo!" kesal Dela.


"Gue tahu, lo mau meluk Auriga kan? Jangan harap belum halal yah," ledek Dika, membuat Dela cemberut dan merajuk pada Bara.


"Idih udah mau nikah, kaya anak kecil." Cibir Dika.


"Baiklah pernikahan kalian, dua minggu lagi bagaimana?" usul Mario.


"Baiklah saya setuju, tuan Mario. Dan maafkan semua kesalahan saya di masa lalu," ucap Jimi, rasanya dia perlu meminta maaf juga pada Mario.


"Saya sudah memaafkan mu Jim."


****


Tepat pukul tiga sore, para pegawai Keano's cafe pulang ke rumah masing-masing. Karena cafe tutup hari ini dan sudah di borong oleh Auriga, membuat pegawai bahagia. Karena bisa pulang cepat, dan pegawai yang lama bisa reuni bersama Yumna dan Yusra.


Dela dan Auriga sedang duduk di taman belakang, mereka mengawasi anak-anak yang masih asik bermain. Auriga pun menggengam tangan Dela dan mengusap tangan yang terluka.


"Lain kali jangan bertindak bodoh, gimana kalo kamu gak selamat? Aku jadi duda terus dong," canda Auriga, langsung mendapat cubitan Dela membuat Auriga meringis.


"Maaf, lain kali aku gak akan bertindak bodoh. Aku benar-benar frustasi waktu itu." Ujar Dela menatap ke depan.


"Aku sudah jatuh cinta pada mu, dan aku gak mau pisah sama kamu." Lanjutnya lagi.


"Tapi dengan mencoba bunuh diri, kamu mencoba pisahkan dari aku!"


"Iya sih," kekeh Dela. "Udahlah, tapi itu kan udah berlalu. Sekarang bunda udah restui kita."


Dela tersenyum menatap Auriga, yang balas tersenyum dan menggenggam tangannya. Kata-kata Indah pada waktunya, mungkin akan Dela percaya. Dulu sempat tak percaya karena kurang sabarnya dirinya.


Kita tak tahu, cinta itu akan tumbuh pada siapa. Dan bagaimana cara Tuhan mempersatukan cinta tersebut, ada yang harus di tinggalkan atau meninggalkan. Tidak semua kisah cinta itu manis semanis coklat. (◔‿◔)


Kurang puitis ya maaf gak bisa puitis soalnya 🤭


Semoga suka 💞


tbc...


Maaf typo


Jangan lupa like, boleh komen kok makasih 🙏