
💞💞💞
Dua minggu berlalu, Mario masih setia berada di apartemen yang dulu di tempati oleh Laura. Pergi ke luar kota hanyalah alasannya saja, jika dia merindukan Laura maka dia akan datang ke apartemen ini. Dan menyendiri, merasakan kekosongan hatinya.
Dia tidak memberi kabar pada siapapun, termasuk pada sang anak Yusra. Walau dia tau perlakuan Dania pada Yusra tidak lah baik. Melihat Yusra sekilas membuat Mario selalu merindukan Laura, karena ada sedikit kemiripan pada putrinya tersebut.
"Kenapa jadi seperti ini? Apakah aku jatuh cinta padanya? Bukannya Dania wanita yang aku cintai?" Mario menghembuskan napasnya secara kasar, dan menatap foto pernikahannya dengan Laura, yang tergantung di dinding kamar.
ponsel Mario berdering, dia melihat bahwa Yusra yang menelpon.
"Ya sayang ?"
"..."
"Mungkin papi pulang besok, kenapa?"
"..."
"Baiklah, akan papi usahakan." Jawab Mario, dan mematikan panggilannya.
"Maafkan papi, Yusra." Gumam Mario.
Kemudian Mario terlelap menuju alam mimpi, dan melupakan sejenak Laura.
💞💞💞
"Gimana, kata papi mu?" tanya Hito, sambil menyesap minumannya. Setelah melihat Yusra menyimpan ponsel ke saku celananya.
"Papi bilang, dia akan usahakan besok." Jawab Yusra cuek.
"Ou yah, gimana tadi keterima?" Hito bertanya dengan mulut penuh cake.
Membuat Yusra berdecak kesal. "Kalo mau ngomong, ya abisin dulu makananya dong Hito ihh. Kamu mah jorok tauk." Ketus Yusra.
"Ya maaf." Balas Hito nyengir kuda. "Jadi gimana? Interviewnya lancar?" tanya Hito.
"Ya lancar, dan aku keterima. Besok aku udah mulai kerja bagian shif sore," balas Yusra.
"Hito anter aku ke salon yah," pinta Yusra, dan di jawab anggukan oleh Hito.
"Abisin dulu makannya, di salon kan lama. Nanti kamu lapar." Kata Hito mengingatkan.
"Beres bos." Kekeh Yusra.
Hito selalu suka melihat senyum Yusra yang sangat manis, dia selalu berusaha membuat Yusra untuk tersenyum.
💞💞💞
Keano merenggangkan otot-otot tubuhnya, setelah seharian duduk menginterview pekerja baru. Sebuah ketukan membuatnya mengangkat kepala, dan tersenyum melihat siapa yang masuk.
"Ano, udah selesai?" tanya Yumna.
"Udah, mau pulang sekarang?"
Yumna berpikir sejenak. "Enaknya kita jalan, ke mall yuk." Ajak Yumna, dengan raut wajah sumringah.
"Baik tuan putri, mana bisa aku menolak permintaanmu." Balas Keano, dan mereka terkekeh sendiri.
Setelah selesai membereskan berkas-berkasnya, Keano dan Yumna mampir terlebih dulu ke mall ternama di Jakarta. Semenjak oma Anjani sakit, Laura dan keluarganya pindah ke Jakarta untuk lebih dekat dengan rumah sakit yang lebih lengkap.
Karena Keano pemilik cafe, dan kebetulan Yumna sudah selesai shiftnya. Maka dari itu mereka pulang masih sore.
"Kamu mau beli sesuatu ?" tanya Keano, saat melihat ekspresi Yumna.
"Eumm...sebenarnya, aku mau beli sepatu. Sepatuku udah jelek." Tunjuknya pada sepatu yang dia pakai.
Keano tersenyum, dan mengajak Yumna ke toko sepatu. Lalu memilih sepatu yang pas untuk Yumna, dia tau bagaimana keadaan ekonomi keluarga Yumna. Laura ibu Yumna harus bekerja exstra untuk kesembuhan ibu Anjani yang menderita sakit gagal ginjal, setelah beberapa tahun lalu di nyatakan sembuh dari kanker.
Dan kepindahan Laura dan keluarganya ke Jakarta beberapa tahun lalu, berkat bantuan dari Keano, dan keluarganya.
Setelah menerima sepatu yang di belikan oleh Keano, Yumna mengucapkan terima kasih. "Makasih yah, nanti aku ganti." Kekeh Yumna.
"Tidak usah, kamu harus ganti dengan semangat bekerja di cafeku." Ucap Keano, membuat Yumna tersenyum sangat manis, dan kemudian mengangguk.
Setelah dari toko sepatu, Keano mengajak Yusra ke tempat makanan khas jepang. Tanpa mereka sadari Yusra dan Yumna masuk bebarengan ke restauran jepang tersebut, tanpa ada kesadaran dari mereka.
💞💞💞
Laura duduk di taman termenung, memikirkan nasib sang anak Yusra. Dia selalu bertanya-tanya bagaimana keadaannya ?apakah Yusra mendapatkan kasih sayang yang berlimpah dari Dania, dan Mario ?perkataan itu selalu berputar-putar di kepalanya.
Laura menghembuskan napasnya secara perlahan, dan menatap anak-anak yang sedang bermain di taman tersebut.
Laura tersenyum melihat tingkah menggemaskan mereka, ingatannya melayang pada saat Yumna masih kecil.
Flashback
"Yumna gak mau sama oma, Yuman maunya sama ibu," rajuk Yumna dengan suara khas anak-anak, sambil memeluk kaki Laura.
"Yumna sayang, ibu harus kerja. Nanti kalo ibu gak kerja siapa yang akan beliin Yumna boneka, dan mainan lainnya." Bujuk Laura, dengan lemah lembut.
Yumna berhenti menangis, dan menatap sang ibu dengan mata berkaca-kaca sambil mengerjapkan matanya.
"Izinin ibu kerja yah, sayang!?" bujuk Laura lagi.
"Iya deh ibu boleh kerja, tapi pulangnya bawa aku main ke taman ok." Pinta Yumna, dan di jawab anggukan oleh Laura.
"Baiklah, anak pintar. Nah sekarang kamu sama oma yah, jangan nakal, nurut apa kata oma." Nasehat Laura pada Yumna.
"Siap bu," kekeh Yumna.
"Bu, aku titip Yumna yah. Assalamualaikum." Pamit Laura, setelah mencium punggung tangan nyonya Anjani.
"Wa'alaikumsalam, hati-hati nak." Balas nyonya Anjani. "Nah Yumna, kamu salam dulu sama ibu mu." Perintah nyonya Anjani, dan Yumna pun menyalami Laura.
Setelah berpamitan Laura pun berangkat, menggunakan angkutan umum. Dia bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga kecilnya.
Flashbackend
Jika mengingat pada saat itu, dia merasa sesak menjadi singel parent untuk anaknya, dan bekerja untuk memenuhi kebutuhan dapurnya. Setelah Laura memiliki cukup uang dia membuka toko roti di sekitaran rumahnya. Awalnya ramai, tapi lama-lama pengunjungnya sepi. Karena banyaknya saingan, dan juga Laura tidak memiliki modal, terlebih lagi sang ibu yang menderita penyakit gagal ginjal, akibat kebanyakan mengkonsumsi obat-obatan. Membuatnya semakin tertekan.
Tapi Laura kuat, dia mampu melewati itu semua berkat bantuan dari nyonya Antiah. Ibu dari Mario, beliau dengan baiknya memberikan biaya pendidikan untuk Yumna.
Saat tengah asik, dengan pikirannya. Laura tak sadar bahwa sedari tadi Mario memperhatikan dirinya.
"Laura." Gumam Mario. "Long time no see" Ucap Mario, tersenyum menyeringai.
tbc...
Maaf typo
Jangan lupa like, dan komen. Makasih 🙏