Twin'S

Twin'S
Keano dan Zea



Dua minggu berlalu usia pernikahan Keano dan Zea, namun mereka masih tak saling bicara. Hanya seperlunya saja, bahkan mungkin tak terlihat seperti suami istri.


Zea kira pernikahannya akan berjalan dengan mulus, tapi siapa sangka itu akan menjadi tantangannya tersendiri. Membuat seseorang suaminya jatuh cinta padanya, awalnya mereka tinggal di rumah orang tua Keano. Namun Zea menolak, dia ingin melakukan tugas seorang istri dan melakukan pendekatan dengan caranya sendiri.


"Mau sampai kapan, kita seperti ini terus?" tanya Zea.


"Apa yang kamu harapkan, dari pernikahan kita ini? Asal kamu tau, aku bukan orang yang mudah jatuh cinta," ujar Keano.


"Pernikahan yang bahagia adalah pernikahan yang saling menghormati, saling mencintai, saling mengasihi jika aku hanya melakukannya sendiri apa bisa disebut bahagia? tentu aku enggan berjuang sendirian." Papar Zea.


"Zea cukup, aku tidak ingin membahas itu terus."


"Tidak bisakah kamu membuka hati mu untuk ku? Setidaknya jadikan pernikahan ini indah membuat kenangan tersendiri, gak dingin dan monoton kaya gini. Kita pulang, mandi, makan dan tidur. Kita gak kaya pasangan yang lain tahu gak!!" ucap Zea menahan amarah.


"Zea dari awal aku sudah mencoba menolak, apa kamu tahu itu?"


"Aku tahu, dan aku berharap kamu bisa melupakan Yumna. Dan belajar mencintai ku," lirih Zea.


Kemudian dia menyudahi makan malamnya, dan masuk ke dalam kamarnya. Kamar yang terpisah dengan Keano, Zea menangis terisak terkenang akan sang ibu. Mungkin ini yang di rasakan oleh mommy-nya, pada saat pertama menjadi seorang istri tapi tak di pedulikan, selain dia peduli pada bayi yang di kandungnya.


"Aku salut sama mommy, mommy wanita yang hebat dan tegar. Mommy mampu bertahan sampe aku dan ka Riga lahir, aku ingin menjadi seperti diri mu mom. Kuatkan aku mom," isak Zea, dan mampu di dengar oleh Keano.


Keano pun masuk ke kamarnya, sebab tak ingin terbawa perasaan. Dia mencoba menghubungi nomor Yumna tapi masih tidak aktif kembali, saat dia mengirim pesan.


" Yumna kamu dimana? Aku merindukan mu,"


*****


Pagi pun tiba seperti biasanya Keano dan Zea, akan berangkat kerja. Keano mengantarkan Zea terlebih dulu karena permintaan Jimi, sebab Zea tak pernah dia izinkan membawa mobil sendiri. Maklumlah Zea kesayangan Jimi, dan keluarganya.


Beberapa menit kemudian Keano sudah sampai, di mall tempat cafe Zea berada. Zea menatap Keano dan mengulurkan tangannya, dia ingin mencium punggung tangan Keano.


Zea pun mencium punggung tangan Keano, tapi Keano tidak membalas dengan mencium kening Zea.


"Biarlah seperti ini, aku akan merebut hati mu,"batin Zea.


"Hati-hati di jalan, Keano."


Tanpa menjawab pertanyaan Zea, Keano pun melesatkan mobilnya dengan cepat. Membuat Zea memejamkan matanya, kemudian dia mencoba tersenyum untuk menutupi kesedihannya.


"Pagi ka," seru Zea, saat melihat sang kakak Auriga berada di pantry sedang menyeduh kopi sachet.


"Kamu mau?" tawar Auriga.


"Seperti biasa," jawab Zea, dan Auriga mengacungkan jempolnya.


Semenjak Zea menikah, Auriga yang berperan mengelola cafe dan ZeZone milik adiknya. Sekarang pukul delapan cafe dan ZeZone belum buka, hanya saja adik kakak ini, selalu datang lebih awal untuk melihat stok barang yang habis.


"Apa kamu bahagia Zea?" tanya Auriga meletakan secangkir Creamy late favorite Zea.


"Aku bahagia ka," bohong Zea.


"Keano baik, dia selalu memanjakan aku, Walau cinta itu belum ada. Tapi kita berusaha untuk saling melengkapi dan Keano mencoba membuka hatinya untuk ku," sambungnya lagi.


Namun bukan Auriga namanya, jika tidak mengendus kebohongan pada saudara kembarnya ini. Dirinya dan Zea berbagi rahim yang sama, jadi dia tipe kakak yang peka. Namun dia mencoba untuk tidak terlalu mencampuri, rumah tangga sang adik.


"Nanti sore aku mau ke rumah, aku kangen Daddy," ujar Zea, membuyarkan lamunan Auriga.


"Izin dulu sama Keano," Auriga mengingatkan Zea, dan di jawab anggukan oleh Zea.


Sore pun tiba, dan Zea pulang di antar oleh Auriga. Sedangkan Auriga kembali ke cafe yang berdekatan dengan Zezone.


"Aku kangen banget, dad."


"Daddy juga, rumah terasa sepi karena gak ada kamu," balas Jimi, mengeratkan pelukannya pada sang anak.


"Heum.... Jadi curiga," Zea memincingkan matanya menatap Jimi.


"Daddy kangen, karena rumah jadi sepi. Tiap hari kakak mu selalu pulang malam," jelas Jimi, menuntun sang anak ke kursi.


"Tidak bisakah kamu tinggal disini sayang? Barang sehari atau dua hari." Pinta Jimi.


"Nanti aku diskusikan pada Keano, dad. Aku harus minta izin padanya. Bagaimana pun dia suami ku,"


Zea tersenyum manis pada Jimi, berharap Jimi tak curiga sama sekali. Tadi sebelum pergi ke rumah, Zea meminta di jemput di rumah ayahnya saja. Setelah Zea menikah, Jimi dan Auriga pindah ke perumahan elit di daerah sekitaran Jakarta. Dan Keano mengiyakan, dia akan menjemput Zea di rumah mertuanya.


"Apa kamu bahagia sayang?" tanya Jimi.


"Kenapa Daddy dan ka Auriga, bertanya seperti itu pada ku? Seolah aku tak bahagia," kekeh Zea.


"Daddy tenang saja, aku bahagia ko," ujar Zea mencoba meyakinkan Jimi.


"Baiklah anggap daddy percaya, kalau ada apa-apa jangan lupa hubungi daddy atau kakak mu. Walau kamu sudah menikah, tapi daddy tetap selalu mengkhawatirkan mu. Gadis kecil daddy,"


Jimi mencium kening Zea, dan langsung memeluknya. Zea sangat mirip dengan Delia, rasa bersalah pada Delia selalu menghantui Jimi. Oleh sebab itu, Jimi tidak ingin putri kesayangannya di sakiti oleh siapa pun. Begitulah setiap ayah di dunia, tidak ingin putrinya terluka sekali pun dia tumbuh dewasa atau menikah.


*****


Zea dan Jimi asik mengobrol apa saja, Zea selalu bersikap seceria mungkin di hadapan Jimi agar Jimi tak curiga.


Saat asik mengobrol, bel rumah pun berbunyi dan di buka oleh asisten rumah tangga.


"Keano," sapa Jimi.


Keano mengecup punggung tangan Jimi, dan Zea mencium punggung tangan Keano. Demi agar terlihat baik, dengan terpaksa Keano mencium kening Zea untuk pertama kalinya. Membuat jantung Zea berdebar, seperti habis lomba lari berpuluh kilo meter.


"Keano jangan bersikap seperti ini, walau aku ingin. Tapi ini tak baik untuk jantung ku," batin Zea memejamkan mata.


"Gimana cafe? Rame?" tanya Jimi basa basi.


"Alhamdulilah rami, dad. Tiap hari malah selalu rame," jawab Keano.


"Kapan kalian akan memberikan ku cucu?" tanya Jimi.


Membuat Keano yang sedang minum tersedak, kemudian saling pandang salah tingkah.


"Santai aja nak, jangan terburu-buru. Daddy cuma bercanda," kekeh Jimi.


"Daddy bisa aja, doakan semoga aku cepat hamil dad," lirih Zea, menatap Keano.


"Daddy selalu mendoakan yang terbaik, untuk mu nak,"


Bagaimana akan memilik anak, berhubungan juga belum batin Keano. Ketika dia ingin mencoba namun bayangan Yumna selalu mengganggunya, jadi begitu sulit bagi Keano. Dan Jimi pun bukan tak tahu, jika mereka belum melakukan ritual suami istri. Jimi akan terus memantau keadaan rumah tangga anaknya, jika Yumna muncul dan mengganggu maka dia akan bertindak.


tbc...


maaf typo


Jangan lupa tinggalkan jejak, makasih 🙏