
Aku tidak butuh apa pun di dunia ini, aku hanya butuh seorang ibu
Sore menjelang Lula masih terlelap dalam mimpinya, dia tidak tahu saja bahwa Auriga begitu panik saat dirinya tidak ada di sekolah. Auriga di beritahu oleh satpam bahwa Lula menangis dan keluar dari sekolah saat masih jam pelajaran.
Auriga pun mendatangi wali kelas Lula, menanyakan apakah sang anak ada masalah atau tidak? Dan ya, wali kelas yang bernama bu Santi itu pun memberitahu bahwa. Lula memukul salah satu temannya.
"Apa alasannya anak saya memukul salah satu temannya?" tanya Auriga dingin.
"Saya tidak tahu yang pastinya kenapa pak, tapi anak-anak bilang bahwa temannya yang di pukul bilang kalau Lula tidak mempunyai ibu." Jelas bu Santi.
"Baiklah terima kasih infonya, lain kali ajarkan anak didik anda yang benar. Dan berikan edukasi tentang bullying di sekolah agar tak ada korban lagi," papar Auriga, kemudian dia berpamitan pada wali kelas Lula.
Auriga kembali masuk ke dalam mobilnya, kurangnya perhatian kepada sang anak. Membuatnya tak pernah tahu, apa yang terjadi pada anaknya tersebut di sekolah. Dan sekarang Auriga bingung akan mencari kemana Lula.
"Astaga Lula, kamu dimana nak?"
Auriga terus mencari Lula di sepanjang jalan, siapa tahu bertemu begitu pikirnya. Dia pun sudah menghubungi Zea akan pulang telat, karena harus mencari Lula yang entah berada di mana.
"Ada-ada saja," ucap Zea, setelah panggilannya terputus dengan Auriga.
"Kenapa sayang?" tanya Keano.
"Lula bolos di jam pelajaran setelah istirahat, dan sekarang ka Riga mencari Lula yang gak tahu dimana," jelasnya.
"Apa Lula hilang juga? Lula dan Ara sepertinya butuh ibu baru!"
"Tapi aku rasa, ka Riga tidak akan mau. Kamu tahu sendiri kan sayang gimana dia,"
"Ka Riga harus menurunkan egonya, demi anak-anak. Kalau seperti ini terus Lula akan membenci Ara, apa kamu gak kasian sama Ara?" tanya Keano, Zea pun membenarkan ucapan Keano.
"Iya juga sih, nanti aku kasih tahu daddy. Supaya ka Riga mencari pengganti mbak Maria, ayok sekarang kita makan malam. Anak-anak dan daddy pasti sudah menunggu," ajak Zea, mengecup sekilas bibir Keano.
"Nakal ya!" kekeh Keano, membalas ciuman Zea.
Zea mendorong dada Keano, jika sudah seperti ini mereka akan telat makan malam dan membuat yang lainnya menunggu.
"Sudah nanti malam saja, kasian mereka sudah menunggu." Ucapnya.
"Ya sudah, ayok."
Zea dan Keano pun keluar dari kamar menuju meja makan, dimana Manda, Ara dan Jimi sudah menunggu.
"Tante, ayah sama ka Lula belum pulang juga?" tanya Ara.
"Belum sayang, mungkin kerjaan ayah mu banyak sekali." Balas Zea.
"Lebih baik sekarang kamu makan yah! Nanti kalo ayah jemput tinggal pulang," ujar Jimi.
Ara pun hanya menganggukan kepala saja, mereka pun memulai makan. Zea menatap Ara yang seperti tak semangat.
*****
Di rumah Mario, Lula sudah duduk di meja makan dekat dengan Dela. Ketegangan terjadi di meja makan, saat Dela memberitahu bahwa Lula adalah kakaknya Ara dan cucunya Jimi. Mario langsung tidak suka, dan marah pada Dela walau tanpa berteriak.
"Lebih baik kamu, kasih tahu keluarganya. Suruh jemput kesini," tegas Mario.
"Tapi opah..."
"Dela jangan membantah, kita tidak tahu mungkin mereka sedang mencari Lula," ujar Mario dingin.
"Sayang turuti lah apa kata opah mu nak, kabari ayah atau tantenya sayang. Lula harus pulang," ucap Laura.
"Baiklah," jawab Dela pasrah.
Dika hanya menyimak, obrolan orang tuanya dan Dela. Dari sorot mata papinya Dika tahu bahwa papinya tidak suka berhubungan dengan keluarga Lula.
Dela pun menghubungi Auriga bahwa Lula ada di rumahnya, dia menyuruh Auriga menjemput Lula di rumah Mario.
"Ka Dela," panggil Lula.
"Ya sayang?"
"Maafin Lula ya, karena Lula ka Dela di marahi." Sesal Lula.
"Tidak apa-apa sayang, harusnya ka Dela yang minta maaf. Ka Dela gak bisa tepati janji kakak ke kamu, dan gak bisa anterin kamu pulang juga. Maaf yah,"
Lula pun menganggukan kepala sebagai jawaban. Dela mengajak Lula kembali ke kamar, dan membereskan barang-barang Lula.
"Ayok kita tunggu ayah mu, di teras depan."
Dela dan Lula menunggu Auriga di teras depan, mereka bercanda membuat Lula tertawa bahagia.
"Aku hanya ingin ibu, bukan apa pun yang ada di dunia ini. Aku ingin ibu seperti ka Dela," batin Lula menatap Dela yang malam ini begitu cantik.
Dela tersenyum menatap Lula, sekilas Lula bisa melihat kemiripan senyum ibu Maria dengan Dela.
"Mau kemana uncle rese?" bukannya menjawab pertanyaan Dika, Dela malah bertanya balik.
"Heh... Dasar keponakan rese, di tanya malah balik tanya. Mau ngapel dong, emang kamu jomblo," ledek Dika, karena tadi sore Dika tidak jadi menjemput Anyelir.
"Hih... Dasar uncle rese dan nyebelin," omel Dela.
Lula terkekeh melihat pertengkaran mereka, saat mereka sedang cubit-cubitan tiba-tiba mobil Auriga sudah sampai di depan gerbang rumah Mario. Dan menunggu di bukakan oleh satpam.
"Ayah," pekik Lula.
Auriga tidak memasukan mobilnya, jadi dia berjalan ke halaman depan rumah Mario dengan tampang dinginnya.
"Sayang, ayah khawatir."
"Maaf ayah," ucap Lula menunduk.
Auriga menatap Dika dan Dela yang saling diam, tadi dia melihat Dika dan Dela sedang bertengkar.
"Terima kasih, lagi-lagi kamu menolong putri ku," kata Auriga.
"Sama-sama tuan," jawab Dika.
"Kalau begitu saya permisi," pamit Auriga, tak ingin berlama-lama di rumah Mario.
"Ka Dela, aku pulang yah! Dan makasih ka," ujar Lula.
"Iya," balas Dela tersenyum.
Setelah mobil Auriga meninggalkan halaman rumah Mario, Dela pun masuk ke dalam rumah tapi di tahan Dika.
"Apaan sih, uncle rese." Ketus Dela.
"Idih kenapa marah?" kekeh Dika.
"Siapa yang marah."
"Itu kok wajahnya cemberut, pantes selalu jelek," leden Dika.
"Uncle rese," pekik Dela, memukul Dika.
"Aduh.. Aduh, ampun Dela." Mohon Dika.
"Makanya jangan nyebelin, sana pergi." Usir Dela.
"Loh kok ngusir sih, ini rumah gue tau."
Dela mencebikan bibir dan melipat tangan di dada, menatap tajam uncle resenya tersebut.
"Lo, suka kan sama bapaknya Lula," tebak Dika.
"Heh... Jangan asal kalo ngomong, mana ada aku suka sama dia," sangkal Dela.
"Yakin, secara sudah dua kali kebetulan lo. Nolongin anak-anaknya, dan mereka pun nyaman-nyaman aja sama lo. Gue tau lo Del, lo sama adik aja gak pernah akur," papar Dika, menatap serius sang keponakan.
"Udahlah jangan ngaco lo, gue gak mungkin suka sama ayahnya Lula dana Ara. Dia lebih pantas jadi ayah atau paman gue," ujar Dela. "Secara dia duda," sambungnya lagi.
"Memang masalah kalo duda? Toh di luar sana banyak tuh, yang gaet suami atau istri orang. Auriga kan duda, jadi gak akan lo kena bully netijen atau masyarakat sekitar."
Yang di ucapkan Dika, ada benarnya juga. Tapi Dela takut dengan asumsi masyarakat dan kedua orang tuanya. Jika dia benar-benar jatuh cinta pada Auriga, secara perbedaan usia mereka begitu jelas.
"Tapi kalo lo takut, dengan asumsi tetangga sekitar rumah lo sama ka Yumna dan ka Bara. Gue yakin mereka bakal mengerti," ucap Dika, mengelus pundak Dela.
Dela menatap Dika, tidak semudah itu dia tahu bahwa ada masa laku yang tak baik antara keluarganya dengan keluarga Jimi.
"Ya sudah, gue pergi dulu takut ke buru malam."
Dika pun berlalu meninggalkan Dela, dengan pemikirannya. Yang membuatnya pusing, mungkin dia sadar sudah menyukai Auriga secara tak langsung. Jika benar, entah apa yang akan dia katakan pada kedua orang tuanya.
Dela berjalan gontai masuk ke dalam rumah, entahlah akan seperti apa kisah cinta dirinya. Apakah akan indah seperti Dika dan Anyelir?
Visualnya Dela yang ini ya, di bab sebelumnya Dika sama Anyelir udah aku ubah ko 🤭
Semoga Suka
tbc...
Maaf typo
Jangan lupa tinggalkan jejak, makasih 🙏