
💞💞💞
Yumna menatap pria dewasa yang sedang berdiri di ambang pintu, yang sedang menatap oma dan mamah nya.
"Maaf om siapa ?" tanya Yumna, membuat Laura sadar bahwa dia tak datang sendiri melainkan bersama Mario.
"Saya..."
Sebelum Mario berbicara, Laura terlebih dulu menyela pembicaraan Mario. "Dia teman mamah, sayang." Balas Laura cepat.
Dan Yumna hanya beroh saja pura-pura tidak ingin tahu, padahal dia ingin tahu siapa laki-laki itu, Laura begitu gugup pasalnya Mario menatap lekat wajah Yumna. Mario begitu sulit mengenali wajah Yumna karena dia memakai kacamata, dan juga masker yang menutup mulut Yumna.
"Aku seperti mengenal wajah itu, tapi di mana ?" batib Mario.
"Mario terima kasih, sudah mengantarkan aku." Ucap Laura, menyadarkannya dari lamunan.
"Sama-sama." Jawab Mario.
Mario menghampiri nyonya Anjani, dan menyalami wanita paruh baya tersebut. Nyonya Anjani ingin berbicara tapi Laura mengisyaratkan jangan, membuat nyonya Anjani menurut.
"Kalo begitu, saya permisi dulu nyonya." Ucap Mario, dan nyonya Anjani menganggukan kepala nya.
Setelah Mario keluar, Laura menyuruh Yumna dan Keano pulang karena dia yang akan menjaga nyonya Anjani.
"Kenapa kamu tidak memberi tahu Yumna ?kalo laki-laki tadi adalah ayahnya ?" tanya nyonya Anjani, setelah Yumna dan Keano keluar.
"Belum saatnya, Yumna tau siapa ayahnya." Lirih Laura.
"Kenapa ?" tanyanya lagi.
"Aku belum siap jika suatu saat, dia ingin bersama ayahnya." Balas Laura, Laura menatap lurus tepat di mata sang ibu. "Aku hanya punya, ibu, dan Yumna." Lanjutnya lagi.
Nyonya Anjani menarik tubuh Laura, dan mendekapnya erat. Laura hanya takut jika Dania tau Yusra memiliki kembaran, dia akan di sakiti atau bisa jadi Yusra akan membenci kembarannya tersebut.
💞💞💞
"Keano," panggil Yumna, setelah lama Yumna diam saat sampai di mobil Keano.
"Kenapa ?" tanya Keano.
Yumna hanya diam saja, tidak menjawab peetanyaan Keano.
"Aku gak tau, bingung." Kekeh Yumna, membuat Keano geleng-geleng kepala.
Keano melirik Yumna, yang lebih diam tak banyak bicara seperti biasanya. Keano tidak akan bertanya sebelum Yumna yang bercerita.
Perjalanan mereka hanya di isi dengan keheningan. "Besok kamu masuk kerja ?" tanya Keano.
"Iya, kalo gak kerja dari mana aku bantuin mamah." Balas Yumna.
Yumna menggengam tangan keano yang bebas. "Keano, terima kasih karena selalu ada untuk ku dan keluarga ku. Kamu selalu bantuin aku, dan aku belum bisa membalas budi padamu." Terang Yumna, yang tengah menatap Keano.
Mobil berhenti di lampu merah, dan mejadikan kesempatan untuk Keano menatap Yumna. "Aku tulus membantu mu Na, karena aku menyayangimu." Jawab Keano, mengelus puncak kepala Yumna.
Yumna tersenyum, dan meyandarkan kepalanya di lengan Keano. Keano sangat senang jika Yumna bermanja-manja pada dirinya.
💞💞💞
Kediaman Mario
"Kenapa anak itu jam segini belum pulang ?" tanya Dania, pada pelayan di rumahnya.
"Saya tidak tau, nyonya. Nona Yusra tidak mengabari saya kalau akan pulang terlambat." Lirih Mala.
Dania menarik napasnya dengan perlahan. "Baiklah, kalian boleh pergi dan ya satu lagi. Kalian jangan ada yang keluar kamar sampai aku yang menyuruh kalian." Jelas Dania, dan di jawab anggukan oleh semua pelayannya.
Beberapa menit kemudian, suara deru mesin mobil milik Hito telah sampai di depan rumah Yusra. Dania melihat itu semua dari balik jendela, saat Yusra sudah memasuki pekarangan Dania bertolak pinggang di ambang pintu.
"Mami." Cicit Yusra.
"Dari mana saja kamu ?kamu tau ini jam berapa ?" tanya Dania, dia menghampiri Yusra dan menatap Yusra dari atas sampai bawah. "Ou berani sekali kamu, mewarnai rambut. Uang dari mana hah!" bentak Dania marah.
"Mi aku..."
Satu tamparan berhasil mendarat di pipi mulus Yusra, membuat nya terhuyung ke belakang.
"Tante." Bentak Hito, yang sedari tadi melihat Yusra yang di marahi.
Hito membantu Yusra bangun, dan mendekapnya.
"Kenapa tante, selalu jahat sama Yusra ?tante selalu kasar padanya, dia anak tante." Bentak Hito.
Dania tertawa mendengar ucapan Hito. "Asal kamu tahu, dia bukan anakku." Pekik Dania, tepat saat itu mobil Mario tiba di depan.
"Dania." Marah Mario.
Yusra yang mendengar suara sang ayah, langsung melepas pelukannya dari Hito dan berlari pada Mario. Setelah sampai di depan Mario Yusra memeluk tubuh Mario.
"Pi katakan, aku ini anak kalian kan ?" tanya Yusra, di antara isak tangisnya.
"Kamu anakku Yusra." Tutur Mario, mengeratkan pelukannya pada Yusra.
"Katakan saja, pada anak mu itu. Aku sudah tidak peduli, dia selalu mengingatkan ku pada wanita tersebut." Pekik Dania, kemudian berlalu dari terlas rumah.
Yusra melerai pelukannya, dan menatap Mario dengan mata berkaca-kaca. "Aku bukan anak kalian, kamu selalu ada untukku."
Setelah mengucapkan itu Yusra berlari keluar halaman, dan tanpa di sangka-sangka tubuh Yusra tertabrak sebuah mobil yang melaju kencang.
"Yusra." Pekik Hito, dan Mario bersama.
Sedangkan di rumah Yumna, Yumna yang baru selesai dengan ritual mandinya entah mengapa merasakan tak enak hati.
Dan juga dia merasakan pipinya yang panas. "Aihh kenapa pipi ku sakit yah ?panas pula." Keluh Yumna.
Yumna berjalan ke dapur, dia akan membuat teh hangat untuk menghangatkan tubuhnya. Saat Yumna sedang menungkan air panas, tak segaja dia menjatuhkan panci yang berisi air panas dan mengenai kakinya.
"Aduh...panas, panas." Yumna berusaha mengipas-ngipas kakinya, yang panas.
"Ya Tuhan, ada-ada saja ini." Keluh Yumna.
Yumna pun berlari ke kamar mandi, dan mendinginkan kakinya yang panas. Yumna tidak mungkin lama di kamar mandi dia memutuskan untuk mengompres kakinya.
Yumna mencoba untuk menghubungi Keano, lagi-lagi dia merepotkan kekasihnya itu.
"Hallo, Ano."
"..."
"Iya, kaki ku perih. Ini lagi di kompres pake air dingin, aku minta tolong kamu ke sini bentar yah."
"..."
"Iya, makasih."
Setelah memutuskan panggilan telpon dengan Keano, Yumna terus mengipas kaki nya yang panas, dan perih.
"Menyebalkan sekali." Lagi-lagi, Yumna mengeluh.
Beberapa jam menunggu, akhirnya Keano pun tiba dengan membawa keresek dari apotik sebelum dia datang ke rumah Yumna. Dengan telaten dia mengoleskan salep kepada kaki Yumna.
Yumna tersenyum melihat, perlakuan manis Keano. "Nah, sudah selesai.", Ucap Keano, menyadarkan lamunan Yumna.
"Terim kasih." Lirih Yumna. "Aku terus saja merepotkanmu, hari ini." Lanjutnya lagi.
"Tidak sayang, kamu tidak merepotkanku. Aku senang karena kekasihku meminta bantuan padaku, bukan pada yang lain." Balas Keano, dan dia mengusap puncak kepala Yumna.
"Kenapa kamu bisa ceroboh seperti ini ?kamu melamun ?" tanya Keano.
"Tidak aku tidak melamun, tiba-tiba saja panci nya terjatuh begitu saja. Dan kamu tau perasaanku juga gak enak dari sesudah aku mandi, dan liat pipi ku terasa panas. Seperti ada orang yang menamparku sangat keras." Jelas Yumna panjang lebar, dan Keano hanya terkekeh mendengar penjelasan terakhir dari Yumna.
"Kamu nih ada-ada saja." Ucap Keano.
Yumna mendelik kesal pada Keano. "Ya sudah kalo, gak percaya." Kesal Yumna.
Akhirnya Keano menemani Yumna di rumahnya, setelah meminta izin pada rt dan Laura.
tbc...
Maaf typo
Jangan lupa komen, dan like. Makasih 🙏