
Jika kita menuruti emosi dan hawa nafsu hanya akan merugikan, dan penyesalan adalah hadiah yang pasti akan diterima. Mungkin itu yang saat ini Dania rasakan, penyesalan kehilangan anak. Memang kehilangan anak lebih menyakitkan dari pada kehilangan apa pun.
Setelah puas menumpahkan kesedihannya, Dania memutuskan untuk pulang. Dan berjanji akan selalu datang ke sini, dan berjanji akan datang bersama Mario.
"Mami janji, akan ajak papi ke sini," ujar Dania mencium nisan kecil tersebut, kemudian dia beranjak dari duduknya. Tak peduli dengan kotor yang menempel di celananya.
"Mami pulang dulu sayang," pamit Dania.
Dania berjalan gontai, meninggalkan makam sang anak. Karena terlalu asik melamun saat berkendara, Dania tidak menyadari jika di depan sana ada anak kecil yang akan menyebrang. Membuatnya refleks banting setir ke kiri, membuatnya mengalami kecelakaan.
****
Sedangkan di rumah Laura, Yumna dan Yusra sedang di dapur menyiapkan makan malam. Beruntung Yusra selalu turun ke dapur, saat di rumah Mario.
"Kamu pintar masak juga, Ra."
"Gini-gini, aku jago masak tahu. Meski di rumah ada pelayan tapi, aku selalu bantu mereka apalagi bantuin mama Wina,"
Yumna hanya beroh saja, tiba-tiba Yusra kepikiran tentang triple date.
"Ou yah, kapan Bara pulang?" tanya Yusra yang sedang mengaduk sayur.
"Gak tahu, memangnya kenapa?"
"Rencananya, aku sama Hito mau ngedate. Tapi kalo kita berdua aja gak seru kayanya, jadi aku mau ajak kamu, Bara, Keano dan Zea buat ngedate." Jelas Yusra semangat.
"Triple date maksud kamu?"
"Iya, gimana?"
"Ya tunggu Bara datang ke Jakarta aja lah," sahut Yumna.
"Kamu tahu, aku dan Hito juga belum unboxing," kata Yusra.
"Hah!! Unboxing? Apa tuh?"
"Ihh kamu, malam pertama celap celup,"
"Astaga kamu, celap celup emangnya teh apa," Yumna memutar bola mata malas.
"Emang kenapa belum gitu?" tanya Yumna.
"Karena nunggu kamu nikah sama Bara," kekeh Yusra.
Tiba-tiba Yusra menghubungi nomor Keano, dan langsung di jawab sang empunya.
"Ya, hallo," jawab Keano dengan suara berat.
"Ehh... Kenapa kamu?"
"Yusra tutup teleponnya, ganggu aja," omel Keano.
Kemudian panggilan pun terputus, membuat Yumna tertawa. Tahu mereka sedang apa.
"Kamu sih, melakukan gak tepat waktu,"
"Ya ampun, mereka lakuin sore menjelang magrib gini. Astaga mereka, aku kan mau bilang jangan dulu lakuin. Hah telat," kesal Yusra.
"Ya udahlah, gak apa kamu juga boleh lakuin itu sama Hito," ucap Yumna.
Yusra langsung cemberut, menatap Yumna kedua gadis kembar tersebut. Terus saja berbicara sambil masak, mereka menceritakan masa kecil mereka.
****
Sementara itu di apartemen Keano, lelaki itu sangat kesal karena Yusra menganggu dirinya dengan Zea yang sedang menyelami kenikmatan surgawi.
Tapi dia tetap melanjutkan kegiatan yang dia senangi, beberapa hari terakhir ini. Setelah keluar dari rumah sakit Keano benar-benar melakukan tugasnya menjadi seorang suami, dia pun memberikan perhatian pada Zea.
Dan membuat Zea langsung luluh, dan memberikan haknya pada Keano keesokan harinya. Karena Keano ingin memulai semua dari awal.
Setelah mencapai puncak, Keano berbaring di sebelah Zea. Yang menutup tubuh polos mereka, kemudian Keano membawa Zea kedalam pelukannya.
"Tadi kenapa Yusra, menelpon mu?" tanya Zea.
"Kamu kan pernah cerita, kalo Yusra pernah kerja di cafe kamu. Mungkin dia meminta dari salah satu karyawan kamu sayang," jelas Zea, semakin mengeratkan pelukannya.
"Mungkin, coba kamu hubungi dia lagi, dan tanya ada apa?" perintah Keano.
Kemudian Zea pun menghubungi nomor Yusra, dan menanyakan ada apa? Yusra pun menceritakan tentang rencana mereka triple date saat Bara ada di Jakarta. Dan Zea pun menyetujui itu atas izin dari Keano, setelah panggilannya terputus Zea menatap Keano.
"Kenapa?"
"Kamu gak akan baperkan, jika ketemu Yumna? Kamu sudah move-on kan?" cerca Zea.
"Tenang Zea, kamu gak perlu khawatir. Aku sedang belajar mencintai mu, Zea. Jadi jangan bicara seolah-olah aku belum bisa melupakan Yumna," kata Keano mengusap punggung polos Zea.
"Kemarin-kemarin aku memang susah move-on, mungkin karena rasa bersalah ku padanya." Keano menatap wanita yang berstatus istrinya tersebut.
"Sudah waktunya, kamu mencoba terbuka pada mereka. Siapa tahu mereka asik di ajak jadi teman," ujar Keano.
"Aku akan coba, aku terlalu takut Keano. Aku takut kamu meninggalkan aku, di saat aku sudah menyerahkan semuanya."
"Tidak akan, percayalah," ucap Keano meyakinkan, Keano pun semakin erat memeluk Zea.
Rasa itu sudah mulai tumbuh untuk sang istri, bagi Keano pernikahan itu sekali seumur hidup.
*****
Sementara itu Mario yang mendapatkan kabar bahwa Dania kecelakaan, langsung meluncur ke rumah sakit Medika Kasih. Yang tak jauh dari tempat kecelakaan tersebut.
Beberapa menit kemudian, Mario sudah sampai. Langsung menuju ruangan UGD, dia bertanya pada suster dan suster memberitahu bahwa Dania belum sadarkan diri, dan masih dalam penanganan dokter.
Mario pun menunggu di ruang tunggu depan UGD, dia belum memberitahu Yusra. Karena tidak ingin sang anak khawatir, karena dia tahu Yusra berada di rumah Laura.
Beberapa puluh menit berlalu, Dokter pun keluar dan memberikan kabar bahwa keadaan Dania cukup parah. Dia mengalami benturan hebat di kepala, menyebabkan dia harus di operasi karena ada pendarahan.
"Lakukan, yang terbaik untuk istri ku Dokter," pinta Mario.
"Saya akan berusaha tuan, kalau begitu anda bisa mengurus adminstrasi terlebih dulu. Agar pasien secepatnya di tangani," jelas Dokter.
"Baik," jawab Mario.
Dokter pun meninggalkan Mario, Mario mengembuskan nafas secara kasar. Dia memejamkan matanya.
"Seandainya kamu meminta ku untuk menemani mu, mungkin semuanya akan baik-baik saja Dania. Walau bagaimana pun, aku masih mencintai mu. Kamu dan Laura menempati masing-masing hati ku," ucap Mario, menatap Dania dari kaca.
Terdengar egois memang tapi, mau bagaimana lagi begitulah perasaan Mario saat ini. Walau dia mencintai Dania, tapi cintanya pada Laura lebih besar. Bahkan sampai sekarang Mario tidak menceraikan Dania.
Mario berjalan gontai, menuju tempat pembayaran. Mario duduk di bangku besi depan tempat pembayaran, Mario termenung menatap kosong ke depan. Lagi dan lagi Dania tidak menurut pada dirinya, berbeda sekali dengan Laura yang penurut.
Seandainya waktu bisa di putar kembali, aku lebih memilih tak mengenal Laura atau melarang Dania pergi saat itu. Tapi Mario tahu bahwa itu sudah menjadi takdir dirinya dan Dania.
"Yang aku butuhkan, hanya satu sebuah sandaran yang nyaman untuk melepaskan rasa penat," gumam Mario.
****
Sementara itu, di tempat Laura entah mengapa Yusra merasakan jantungnya berdebar dengan keras, sesak dan sakit.
Dia tersenyum pada semua orang yang ada di meja makan.
"Semua ada disini, tapi kenapa perasaan ku tidak enak." Batin Yusra.
"Ra, kamu baik-baik aja?" tanya Yumna, Yusra rasa Yumna adalah orang yang paling peka atau mereka saudara jadi bisa tahu kecemasan kembarannya tersebut.
"Aku baik-baik aja,"
Yusra tersenyum menenangkan, Yumna pun mengangguk sebagai jawaban. Untuk kali ini anggaplah dia percaya.
tbc...
Maaf typo
Jangan lupa tinggalkan jejak, Makasih 🙏
Aku bingung, mau bikin Dania hidup atau meninggal 🤔