
Siang pun tiba, Dika dan Mario sudah berada di sebuah restoran yang tak jauh dari kantor Mario. Mereka memesan privat room.
"Memangnya kita, mau ketemu siapa Pih?"
"Tuan Sanova."
"Pemilik rumah produksi Sanova corp? Memangnya ada apa mereka ingin bertemu kita?
"Entahlah papi pun tidak tahu, Dik. Oh ya, bagaimana hubungan mu dengan Anyelir?"
"Kita sudah putus Pih, lebih tepatnya dia yang putusin aku." Jawab Dika lirih.
"Loh! Kenapa? Kamu berbuat salah?"
"Enggak kok, dia bilang dia gak pantas buat aku. Lalu dia akan menikah dengan orang lain,"
Mario menepuk pundak anak lelaki satu-satunya.
"Jika dia jodoh mu, maka dia akan kembali pada mu." Ujar Mario, Dika pun hanya mengangguk sebagai jawaban.
Tak lama pintu terbuka, dan munculah tuan Alderik Sanova bersama seorang gadis yang mungkin seumuran dengan Dika.
"Jenny Sanova," gumam Dika.
Siapa yang tak mengenal Jenny Sanova, dia adalah putri dari Alderik Sanova berdarah Jawa dan Jerman. Mereka menetap di Jakarta, dan membuka usaha rumah produksi. Jenny pun menjadi salah satu artis rumah produksi milik sang ayah.
Mario menyambut Alderik dan putrinya, Mario menjabat tangan Alderik di susul Dika.
"Silahkan duduk tuan," ujar Mario.
"Terima kasih, tuan Mario. Sudah meluangkan waktu untuk bertemu, aku tahu anda sangat sibuk," canda Alderik.
"Anda bisa saja tuan, sebaiknya kita makan terlebih dulu. Mari," ajak Mario.
Mereka pun makan siang bersama, sesekali Alderik bertanya pada Dika. Sedangkan Jenny dia mencuri pandang pada Dika.
"Baiklah tuan, saya mengajak bertemu ingin mendekatkan anak-anak kita." Ujar Alderik to the poin.
"Maksudnya?" tanya Mario, dia menggenggam tangan Dika saat dia hendak protes.
"Ya putri saya menyukai Radika tuan, dia meminta saya untuk pendekatan terlebih dulu. Jika cocok bisa masuk ke tahap serius," papar Alderik.
Mario menarik napas panjang dan menatap Dika, yang menggeleng.
"Saya terserah anak saya tuan, saya sebagai orang tua tidak pernah memaksa." Ujar Mario.
Alderik pun mengangguk sebagai jawaban, dia pun setuju pendapat Mario.
"Tapi bisakah putri saya dekat dengan anda, nak Dika?"
Dika mengedikan bahunya acuh, dia tidak peduli jika di anggap tak sopan.
"Maafkan anak saya tuan,"
"Tidak masalah tuan Mario, kalau begitu kami pamit dulu. Permisi,"
Alderik menarik Jenny untuk keluar dari ruangan itu.
"Lihat! Dia begitu angkuh untuk kamu Jenny, daddy tidak suka dia."
"Tapi dad, aku suka Dika sejak dulu. Dulu aku gak berani buat bilang cinta sama dia," papar Jenny.
"Sekarang kamu maunya gimana, hah?"
"Aku akan dekati dia dad, aku suka tantangan. Daddy tenang saja, jangan khawatir ini akan menjadi urusan ku," kata Jenny.
"Terserah kamu sajalah," Alderik pun hanya pasrah dengan keputusan sang anak, yang sangat keras kepala.
***
Di hotel, sepasang pengantin baru kini mereka duduk berpelukan di balkon kamar. Kebetulan kamar tersebut memiliki kursi seperti ayunan, Auriga melarang Dela memakai pakaian tertutup.
"Kan dingin kalau pake, lingeri terus." Protesnya sebelum mereka duduk di balkon.
"Gak papa, kan ada aku. Aku bisa peluk kamu biar hangat," goda Auriga.
Dela tak menyangka, bahwa Auriga si muka datar dan dingin ini. Bisa bersikap manis dan hangat, jika mengingat dulu Dela, selalu ingin tertawa.
"Kenapa ketawa?" tanya Auriga.
"Tidak, ohh... Ya kapan kita pulang?"
"Besok atau besoknya, kenapa?"
"Gak papa, aku cuma ingin menikmati waktu berdua dengan mu." Ujar Dela, mengecup pipi Auriga.
"Aku curiga, kamu pasti takut. Jika nanti ke rumah, kamu gak ada waktu bersama ku kan," goda Auriga, membuat Dela tertawa.
"Iya sih itu salah satunya," kekeh Dela.
"Aku yakin Ara dan Lula, akan mengikuti aku kemana pun aku melangkah," sambungnya lagi dan tertawa.
"Tidak apa, Ara senang memiliki ibu. Dari lahir, dia belum merasakan kasih sayang seorang ibu," papar Auriga lirih.
Dela mengusap pipi Auriga.
"Tapi sekarang, Ara punya aku."
"Ya, Ara punya ibu sambung yang sayang padanya."
Auriga memeluk Dela begitu erat, rasanya waktu berdua ini tidak ingin cepat berlalu. Ingin terus seperti ini, berpelukan menikmati siang hari dan menikmati senja nanti.
****
Sore pun tiba, Dika yang masih kesal pun memutuskan untuk menuju cafe tempat Anyelir bekerja. Dika mengirim pesan pada Mario, bahwa dia akan pulang terlebih dulu. Setelah mendapat balasan, Dika melajukan mobilnya. Membelah jalanan Ibu Kota, yang padat saat jam pulang kantor.
Menempuh hampir satu jam, Dika sudah tiba di cafe tempat Anyelir bekerja. Dia menunggu di dalam mobil saja, dari kejauhan Dika melihat Anyelir sedang di marahi oleh sesama pelayan.
"Kenapa kamu gak melawan, Nye? gumam Dika, Dika ingin keluar untuk membela Anyir. Namun dia takut Anyelir mengusirnya dan semakin jauh.
Tak lama Anyelir pun sudah pulang, jadwal pergantian shif pukul empat sore. Dan Anyelir kebagian shif pagi. Dika mengikuti Anyelir diam-diam, Anyelir tidak menyadari itu. Dia melamun dan menunduk, sesekali menabrak pejalan kaki.
Tak butuh waktu lama, Anyelir tina di kontrakannya. Dika pun dengan segera menerobos masuk.
"Dika." Pekik Anyelir terkejut.
"Ngapain kamu disini? Pergi Dik, nanti ada orang lihat."
"Kenapa? Kalau ada yang lihat, aku gak masalah. Aku akan menikahi mu," sahut Dika sekenanya.
Anyelir menggelengkan kepalanya, dia ingin menangis dan memeluk Dika. Dia merindukan Dika, saat Anyelir berucap kata putus. Hatinya sakit, bibir berucap putus tapi hati tak terima.
"Pergi Dik, aku mohon." Lirih Anyelir.
"Aku gak mau pergi Nye, aku sayang kamu."
Dengan tiba-tiba, Dika mencium Anyelir dengan kasar. Membuat air matanya luruh juga, Anyelir berontak tapi tenaganya tak sebanding dengan Dika.
Dika pun mengajak Anyelir ke sofa, Dika mulai menjadi pada Anyelir.
"Dika stop, jangan lakukan itu."
Namun Dika tak mendengarkan ucapan Anyelir, dia sudah membuka kancing kemeja Anyelir.
"Dika stop Dika, ini gak benar Dika." Pekik Anyelir, dia mulai menangis.
Dika sudah mencium dada Anyelir, dan dia turun ke bawah. Namun perkataan Anyelir membuatnya berhenti.
"Aku akan, membenci mu Dika. Jika kamu melakukannya," ucap Anyelir lirih, dengan air mata terus membasahi pipinya.
Dika terduduk di lantai, di dekat Anyelir. Mengatur napasnya, dan mencoba meredam hawa nafsu yang menyerang dirinya.
"Maafkan aku, Nye. Aku tidak bisa mengendalikan diri," sesal Dika.
Kemudian Dika merapihkan pakaian Anyelir, setelah rapih. Dia menarik Anyelir yang menatap kosong ke arah langit-langit kamar.
Dika menghapus air mata Anyelir, dan mengecupnya. Kemudian dia memeluk Anyelir.
"Ayok kita menikah," ucap Anyelir, membuat Anyelir menatap Dika.
Anyelir menggelengkan kepala.
"Kenapa kamu gak mau nikah sama aku Nye? Aku gak peduli, jika aku masih kuliah."
"Gak bisa Dika, aku sudah punya pilihan sendiri. Maafkan aku," lirih Anyelir.
Dika pun berdiri dari duduknya, dan menatap Anyelir.
"Baik kalau itu mau mu, kalau kamu mau putus dari ku. Baiklah aku terima, semoga kamu bahagia dengan pilihan mu." Ujar Dika. Dika pun keluar dan membanting pintu kontrakan Anyelir.
Agar Anyelir tahu, dia sedang marah. Tangis Anyelir pecah saat kepergian Dika.
"Maafkan aku Dika... Maaf."
Tanpa sepengetahuan mereka, salah satu tetangga Anyelir merekam kejadian tak senonoh antara Anyelir dan Dika. Dia tersenyum menyeringai.
Semoga suka 💞
Maaf typo