Twin'S

Twin'S
Bab.19



💞💞💞


pagi pun tiba, cuaca yang dingin sungguh menggoda Yusra untuk bergelung di bawah selimut tiba-tiba di kaget kan dengan ketukan pintu yang sangat keras.


"Yusra, bangun kamu jangan malas." Teriak Dania, menggedor pintu kamar Yusra.


Yusra bangkit dari ranjangnya, kemudian berlari tergesa-gesa membuka pintu. Saat pintu terbuka tangan Dania melayang tepat di pipi Yusra, Yusra yang merasakan perih di pipinya hanya bisa meringis menahan sakit, di pipi dan juga hatinya.


"Kamu jadi anak gadis ko ya males bangun sih, Liat ini udah jam berapa?" teriak Dania, menggema di seluruh ruangan.


"Maafkan aku mi, aku semalam tidur malam ngerjain tugas." Lirih Yusra


"Halah..alesan aja kamu, aku kan sudah bilang jangan kuliah, masih aja ngeyel buang-buang uang saja. Dan ya satu lagi jangan pernah panggil aku mami, karena kamu bukan anakku." Desis Dania, membuat Yusra berkaca-kaca.


Yusra yang di marahi Dania pun, hanya bisa menunduk perkataan Dania melukai hati Yusra.


"Ya sudah, cepat siapkan sarapan. lima menit lagi aku mau keluar." Perintah Dania, dan berlalu meninggalkan Yusra.


"Jadi itu alasan mami gak sayang aku? Aku bukan anaknya, apa aku hanya anak angkat saja?" gumam Yusra, sambil berjalan menuju dapur.


💞💞💞


Di kediaman Laura, Yumna yang sudah terbiasa bangun pagi, dan bekerja di dapur membantu Laura. Semerbak wangi masakan tercium di seluruh ruangan.


"Akhirnya, masakanku selesai juga." Gumam Yumna.


Yumna menatap jam dinding di dekat ruang tamu, waktu menunjukan pukul enam pagi. Ibu dan omanya itu belum juga kembali dari olahraga paginya.


"Sebaiknya aku mandi dulu, sebelum Keano menjemput." Pikir Yumna, setelah menutup masakannya dengan tudung saji. Yumna bergegas masuk ke kamarnya, dan membawa perlengkapan mandinya.


Karena setiap kamar Yumna dan Laura tidak ada kamar mandinya, hanya di kamar omanya yang ada kamar mandinya.


Beberapa menit kemudian, Yumna sudah selesai melakukan ritual mandi, dan telah memakai pakaian yang rapi. Karena hari ini hari pertamanya bekerja, dan bertepatan dengan Laura, dan Anjani pulang olahraga.


"Ibu, oma. Sudah pulang?"


"Sudah, kamu sudah masak nak?" tanya Laura, dan Yumna menjawab dengan anggukan kepalanya. "Ya sudah aku, mau ke kamar dulu mah." Ucap Yumna, setelah mencium pipi Laura, dan Anjani.


"Baiklah bu, kita mandi dulu lalu kita sarapan." Ajak Laura.


Nyonya Anjani menahan tangan Laura. "Laura apa kamu, tidak ingin memberitahu Yumna siapa ayahnya ?"


Laura terpaku pertanyaan sang ibu, membuatnya tercekat. "Aku tidak tau bu, aku takut memberitahukannya pada Yumna. Aku takut dia memilih ikut dengan ayahnya." Lirih Laura.


Selama ini Laura selalu bungkam, setiap kali Yumna bertanya di mana ayahnya. Apalagi ketika Yumna menginjakan kaki di sekolah dan selalu menjadi bahan ejekan teman-temannya, karena tidak memiliki ayah.


"Maafkan ibu Yumna, ibu tidak bisa memberi tahu siapa ayahmu." Ucap Laura saat itu, ketika Yumna sudah beranjak remaja.


"Tidak apa-apa, Bu. Aku mengerti, Ibu jangan sedih lagi, maafkan aku yang selalu membuat Ibu menangis." Lirih Yumna, dan dia merasa bersalah ketika melihat ibunya selalu menangis tiap malam. Dan semenjak itu, Yumna tidak bertanya lagi tentang ayahnya.


Lamunan Laura buyar, saat nyonya Anjani mengusap tangan Laura. "Mungkin ini waktu yang tepat, Laura beri tahu dia."


"Beri aku waktu bu, aku belum siap." Gumam Laura.


Tanpa mereka sadari, Yumna mendengarkan percakapan mereka. Yumna mengusap air matanya yang tak tau malunya keluar.


"Maafkan aku Bu, aku selalu membuatmu menangis, aku belum bisa membahagiakanmu." Lirih Yumna, dan bersandar di depan pintu yang sudah dia tutup secara perlahan.


Saat sedang bersedih, hanya kotak musik berbentuk bola kristal yang akan menghiburnya dan dia akan menyalakannya untuk menenangkan hatinya.


"Yumna, kamu sudah siap sayang?" teriak Laura dari luar.


Yumna buru-buru menyimpan kotak tersebut, dan bergegas membuka pintu.


"Sudah bu, aku sudah siap." Senyum Yumna, membuat Laura mengingat Mario.


"Ayo mah, nanti Keano menjemput ku." Rengek Yumna pada Laura.


"Ya sudah, kita sarapan oma kamu sudah menunggu dari tadi." Ucap Laura, mereka berjalan menuju ruang makan dimana nyonya Anjani telah menunggunya.


Sekilas nyonya Anjani melihat mereka seperti adik kakak.


"Selamat makan semua," seru Yumna, membuat Laura dan nyonya Anjani geleng-geleng kepala.


"Selamat makan juga sayang." Balas Laura, dan nyonya Anjani kompak.


Kehangatan keluarga Yumna, berbanding terbalik dengan saudara kembarnya Yusra. Yang selalu mendapatkan perlakuan kasar dari Dania, saat Mario berada di luar kota.


💞💞💞


Sementara di kediaman Mario, Yusra yang selesai memasak, dan mandi menghampiri Dania yang sedang menikmati sarapannya.


"Kamu makan bersama pelayan." Ketus Dania.


"Baik," lirih Yusra. "Nyonya aku ingin..."


Belum sempat Yusra berbicara, Dania telah memotong ucapan Yusra.


"Pergilah, kamu tidak perlu izinku kan? Kalo bisa jangan pernah kembali lagi kesini." Ucap Dania dengan nada dingin.


"Kenapa dia seperti itu padaku mbak? Apa salahku? Apa aku hanya anak angkat mereka?Tapi papi bilang, aku adalah anak kandungnya." ucap Yusra, di antara isak tangisnya, membuat Mala iba. Dia tahu bagaimana perjuangannya merawat Yusra dari bayi hingga sebesar ini.


Pelayan yang menatap anak dari majikannya tersebut, hanya menatap dengan kasian. Mereka tidak bisa melakukan apapun, mereka hanya mencuri waktu untuk membantu meringankan pekerjaan Yusra.


Yusra berdiri dari duduknya, dan berlari keluar lewat pintu dapur.


"Yusra..Yusra, kamu mau kemana." Pekik Mala, tapi Yusra menghiraukan teriakan Mala.


Yusra berlari kerumah Hito, sesampainya di rumah Hito. Dia langsung menerobos rumah Hito dan langsung memeluk ibunya Hito yang sedang berada di dapur.


"Yusra, kamu bikin tante kaget saja." Ucap Wina, sambil mengenggam tanga Yusra yang melingkar di perutnya.


"Tante biarkan aku memelukmu," lirih Yusra.


"Baiklah sayang, tapi tante ingin mematikan kompor dulu. Nanti masakan tante gosong lagi." Kekeh Wina.


Setelah mematikan kompor, Wina mengajak Yusra duduk di sofa dan memeluk Yusra. Wina mengelus punggung Yusra lembut menenangkan.


"Wah...wah...wah, ada apa nih? Pagi-pagi sudah berpelukan." Tanya Hito, yang baru saja keluar dari ruangan olahraga dengan pakaian olahraganya yang basah. "Ra, kamu gak mau peluk aku? Dadaku pelukabel loh." Goda Hito, membuat Yusra melepas pelukannya.


"Ogah, aku gak mau peluk kamu bau. Belum mandi." Cebik Yusra.


Hito tersenyum, dia berhasil menghilangkan kesedihan Yusra. "Ya elah, kamu nih selalu saja gitu. Kemarin-kemarin siapa yang nangi-nangis minta di peluk." Sindir Hito, membuat Yusra melotot.


"Tente," rengek Yusra, Wina hanya terkekeh menanggapi Yusra, dan Hito yang selalu bertengkar tapi saling sayang.


"Udah Hito, kamu jangan godain terus anak gadisnya mamah." Tegur Wina, membuat Yusra senang bukan main karena Wina membelanya.


"Sudah sana mandi, nanti kamu telat." Perintah Wina, dan di jawab anggukan oleh Hito. "Kamu mau tunggu di sini? Apa ikut tante lanjut masak?" tanya Wina.


"Aku bantu tante masak, abis itu numpang mandi," ujar Yusra, dan di jawab anggukan oleh Wina.


Akhirnya Yusra melupakan kesedihannya sejenak, hanya bersama keluarga Hito lah dia merasa di terima, dan di sayang. Apalagi tante Wina yang menganggapnya sebagai putrinya sendiri. Tante Wina selalu ada untuknya saat dirinya sedih, dan dukungan seorang ibu.


Dulu saat Yusra untuk pertama kalinya kedatangan tamu bulanan, Wina lah yang selalu ada untuknya.


💞💞💞


Setelah selesai sarapan, Yusra dan Hito berpamitan pada Wina.


"Hito, kita mampir ke cafe dekat kampus kita yah nanti siang." Pinta Yusra.


Hito menautkan kedua alisnya. "Tumben, mau apa, memang?" tanyanya.


"Aku ingin melamar kerja siapa tau ada," balas Yusra mengedikan bahunya. "Cafe itu baru buka kan? Pasti butuh pelayan baru,"


"Kerja? Buat apa? Orang tuamu banyak uang Yusra masa iya kerja." Hito di buat heran dengan tingkah Yusra, yang ingin bekerja.


Yusra memutar badannya, menghadap Hito dengan wajah memelas dia memohon pada Hito. "Aku mohon, bantu aku yah." Mohon Yusra, sambil memegang lengan Hito. Membuat dia jadi salah tingkah.


Dan entah mengapa tiba-tiba jantungnya berdetak kencang. "Sepertinya, aku harus memeriksakan kondisi jantungku." Batin Hito.


Hito berdehem. "Baiklah nanti aku akan membantumu, tapi nanti jika papi mu marah, kamu tanggung sendiri ya,"


"Tenang saja, aku akan memotong rambutku jadi pendek dan mewarnainya. Agar papi tidak mengenaliku," senyum Yusra mengembang dengan rencananya.


"Terserah kamu lah,"


💞💞💞


Tak terasa jam makan siang pun tiba, Yusra sudah keluar kelas dari pukul sebelas. Dan dia menunggu Hito di taman kampus.


"Yusra, ayok." Teriak Hito, dan Yusra pun mengangguk.


"Kenapa ingin bekerja?" tanya Hito, kini mereka tengah berjalan di lorong kampus menuju parkiran.


"Aku ingin menghindari mami Dania." Lirih Yusra.


"Sudah jangan sedih lagi dong," bujuk Hito, mengusap air mata yang keluar di pipi Yusra. Yusra menghambur kepelukan Hito. "Terima kasih Hito, kamu selalu ada untukku." Gumam Yusra.


Hito melerai pelukan mereka. "Aku akan selalu ada untukmu, dan selalu menjagamu." Jelas Hito. "Ayok masuk."


Beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai di cafe yang bernama Keanos cafe. Cafe anak muda yang instagramabel, dan cocok untuk berselfi.


Yusra memakai kacamatnya, dan keluar. Pada saat membuka pintu dia berpapasan dengan Laura yang baru selesai bertemu dengan Yumna.


Laura yang merasakan, detak jantungnya berdetak tak biasa membuatnya berhenti berjalan dan menoleh ke belakang. Di sana Yusra juga merasakan apa yang Laura rasakan.


Mereka saling tatap, dan memberikan senyum hangat. Dan Yusra pun masuk ke dalam. "Aku sepeti mengenalnya, tapi dimana ?" gumam Laura.


tbc...


Maaf typo


Jangan lupa komen, dan like. Makasih 🙏