Twin'S

Twin'S
Jimi part.2



Beberapa tahun berlalu kini kedua anak kembar Jimi sudah memasuki usia dua puluh satu tahun, berbeda dua tahun dengan Yusra dan Yumna.


Mereka selalu bahagia walau tanpa sosok seorang ibu, nenek dan kakek mereka begitu tulus menyayangi Zea dan Auriga.


Setiap akhir pekan Jimi selalu menyempatkan waktunya untuk kedua anaknya, sekarang mereka di sibukkan dengan kuliah.


"Dad," sapa Zea, saat melihat Jimi sedang menatap lurus di halaman belakang.


"Ya sayang,"


"Apa daddy, tidak ingin menikah lagi?" tanya Zea.


"Tidak sayang, daddy ingin fokus pada kalian saja." Jelas Jimi.


"Selalu saja begitu," keluhnya. "Memangnya Daddy gak kesepian apa?" tanya Zea.


"Tidak, kan ada kamu si cerewet yang selalu telponin daddy kalo telat." Ucap Jimi mencubit pipi chubby Zea, membuat Zea meringis.


"Dad," protes Zea.


"Apa ada seseorang yang sedang daddy tunggu?" tebak Zea.


Bukan tanpa alasan Zea berkata seperti itu, dia selalu melihat sang ayah menatap foto seorang wanita mungkin seumuran ayahnya. Zea selalu mendengar sang ayah berkata.


"Sampai kapan pun, aku selalu mencintai mu."


"Dad, jujur lah pada ku. Apa pun pilihan Daddy aku dan ka Riga akan menerima dia sebagai sosok ibu," Zea mengusap lengan Jimi dengan sayang.


"Walau dia tidak bisa memberi mu adik?" tanya Jimi, membuat Zea terkekeh.


"Aku gak mau punya adik saat aku sudah dewasa ya," protesnya Zea. "Nanti orang-orang mengira, dia anak ku lagi." Sambungnya membuat Jimi tertawa.


"Apa ayah menyukai seseorang?"


Zea ingin Jimi selalu terbuka padanya, saat Zea beranjak remaja gadis tersebut selalu berusaha menyiapkan keperluan sang ayah dan kakaknya, Menggantikan peran sang nenek yang tak tinggal dengan mereka. Walaupun Jimi sudah mempekerjakan asisten rumah tangga, tapi sesekali Zea selalu masak untuk sang ayah dan kakaknya.


Jimi mengangguk pelan dan menatap Zea ingin mengatakan sesuatu tapi ragu.


"Kenapa dad? Katakan saja," pinta Zea.


"Daddy memang menyukai seseorang Ze, sebelum daddy bertemu mommy mu." Jelas Jimi.


"Namanya Dania, tapi sayang dia sudah menikah namun tak bahagia. Daddy selalu bilang padanya jika tidak bahagia, dia boleh datang pada daddy dan daddy akan menerimanya." Terang Jimi.


Zea menatap iba pada sang ayah, sekarang Zea tau bahwa sang ayah tak pernah mencintai ibu mereka. daddynya hanya bertanggung jawab atas kesalahannya.


"Apa dia juga mencintai mu, dad?" lirih Zea.


"Tidak, bahkan dia tidak mengetahui bahwa daddy mencintainya. Daddy takut dia tidak bisa menyayangi mu Ze, karena dia juga tidak bisa menyayangi anak dari suaminya." Ujar Jimi.


Jimi masih memikirkan perasaan anak-anaknya, dia tahu bahwa Dania tidak bisa menyayangi Yusra apalagi anaknya.


"Dad,"


Zea memeluk Jimi, dia berjanji akan meyakinkan Dania untuk bersama sang ayah. Zea tidak ingin melihat daddynya bersedih.


"Wah... Wah, ada apa nih?" tanya Auriga yang baru saja kembali dari kampus.


"Apaan sih, kepo amat," ketus Zea.


Auriga memutar bola mata malas, dia memutuskan untuk bergabung bersama daddy dan adiknya.


"Gimana kuliah mu, lancar?" tanya Jimi, setelah melihat Auriga duduk di sebelahnya.


"Lancar dad, perusahaan juga berjalan lancar. Daddy tahu aku tidak merasa kesulitan mencari investor," ucapnya bangga.


"Cih sombong," cibir Zea.


Zea dan Auriga tak pernah akur, walau begitu mereka saling menyayangi. Auriga memang sedang merintis usaha propertinya bersama sahabat-sahabatnya dan modal dari sang ayah, sedangkan Zea dia belum terpikir untuk membuka usaha.


"Sudah... Sudah kalian ini, sudah besar juga masih berantem," tegur Jimi. " Sekarang ayo masuk, kita makan malam." Sambungnya lagi.


Jimi bertekad akan memperjuangkan cintanya pada Dania, dia sudah mendapat restu dari Zea anak bungsunya tersebut, dan akan memperkenalkan Zea dan Auriga pada Dania dalam waktu dekat ini. Mungkin kesannya terdengar jahat, dia akan memanfaatkan situasi rumah tangga Mario dan Dania yang sedang tak baik-baik saja.


tbc...


Maaf typo


Jangan lupa tinggalkan jejak ya guys makasih 😊