Twin'S

Twin'S
Exstra part.4



Hari berlalu bulan berganti, satu bulan setelah pertemuan itu Dela menjalani hari-hari seperti biasa sebelum bertemu dengan Ara. Setiap malam minggu Dela sengaja mengajak Maira ke mall tersebut, berharap dia bisa bertemu dengan Ara.


"Ka Dela," panggil Maira.


"Apa?"


"Sampai kapan sih kita di sini ka? Sudah satu bulan ini ka Dela ajak aku ke mall ini terus," ujar Maira.


"Tunggu bentar lagi deh, siapa tau Ara ke sini. Aku kangen banget sama gadis itu," jujur Dela.


Dela menyesal tidak meminta nomor ponsel ayahnya Ara dan tak berkenalan terlebih dulu, Maira mencebik dia memainkan ponselnya mengacuhkan Dela yang sedang menatap ke pintu datang.


"Nah itu dia," seru Dela.


"Mana-mana," heboh Maira.


Tatapan Maira pun langsung tertuju pada Auriga dan kedua anak gadisnya, semua mata memandang kepada Auriga apalagi mata kaum Hawa. Sebagai seorang ayah yang memiliki dua orang anak gadis, dia masih terbilang tampan dan gagah.


"Itu ayahnya Ara ka? Sumpah kok ganteng banget sih."


"Ganteng sih, tapi udah punya istri." Dela menunjuk Zea yang berada di samping Ara.


"Heh!! Bukannya Ara bilang ibunya dah meninggal ya?" jelas Maira.


"Iya kah? Lalu wanita itu siapa? Masa calonnya sih."


"Mana aku tau, masih muda kok dah pikun," cibir Maira, mendapat cubitan dari Dela.


"Ihh... Ka Dela nih, sakit tau," rajuk Maira


Auriga datang ke mall tersebut bersama Zea dan Manda, sedangkan Keano berjanji akan menjemput istri dan anaknya sepulang dari cafe karena malam minggu selalu ramai. Sedangkan Eireen dia kuliah dan menginap di asrama, dia pulang satu bulan sekali.


"Ka Dela," pekik Ara, saat tak sengaja dia menatap Dela dan Maira yang tengah berdebat.


"Ara," balas Dela tersenyum pada Auriga dan Zea.


"Jadi kamu yang udah tolongin Ara?" tanya Zea.


"Iya mbak, bu ehh.." jawab Zea gugup.


"Tidak apa, panggil saja mbak. Makasih ya kamu udah tolongin Ara, kalau bukan kamu mungkin kami tidak akan bertemu lagi dengan Ara," ujar Zea memeluk Dela.


"Sama-sama mbak," ucap Dela, dia mencuri pandang pada Auriga yang berwajah dingin.


"Kalau begitu kami permisi dulu," pamit Zea.


"Dah ka Dela,"


Ara melambaikan tangannya pada Dela, dan di balas senyum oleh Dela.


"Ka kok diam aja sih, katanya mau minta nomornya ayahnya Ara."


"Hah!! Aku lupa," ucap Dela menepuk keningnya.


"Ya udahlah kita pulang, kesel tau kita cuma nongkrong aja," protes Maira cemberut.


"Kamu kan tau, bunda belum kasih aku uang. Bunda nih nyebelin pelit banget sama anak," omel Dela.


"Ya udah ayok lah pulang," Maira menarik lengan Dela, menuju parkiran.


****


Sementara itu Auriga dan Zea, mengajak anak-anak mereka menuju time zone. Dan mereka mengawasi dari jauh.


"Aku merasa familiar dengan wajah gadis itu," celetuk Zea.


"Masa sih? Perasaan aja kali."


"Kalau aku liat, kayanya dia sayang banget sama Ara."


Auriga melirik Zea sekilas, kemudian dia memperhatikan anak-anaknya yang sedang bermain, dia melihat Lula yang sedang memainkan mesin capit.


****


Maira dan Dela sudah sampai di kediaman Maira, Dela memarkirkan motor di dalam garasi yang sudah di buka Maira.


"Gak mampir dulu ka?"


"Engga Ra, langsung pulang aja. Makasih ya," ucapnya.


"Iya ka."


Mereka pun berpisah di halaman depan rumah Wina, Dela melangkah gontai sambil memikirkan Ara.


"Assalamualaikum, aku pulang." Seru Dela.


Laura yang sedang berada di dapur pun menjawab salam sang cucu.


"Ketemu Grany, tapi ya itu aku lupa minta nomornya." Kekeh Dela.


"Padahal aku pengen banget main sama Ara."


"Ya sudah lain kali saja, siapa tau ketemu lagi," jawab Laura.


"Bunda sama Ayah mana? Apa udah pulang?"


"Mereka di kamar bersama Tatiana," kata Laura, di jawab anggukan oleh Dela.


"Ohhh.... Iya, kemana anak Grany. Yang sok ganteng itu? Tumben dia gak di rumah?"


"Dika lagi keluar, katanya mau jalan-jalan."


"Wahh... Curiga nih," kekeh Dela.


"Curiga apa sih? Dia sudah dewasa Dela, grany gak masalah jika dia punya pacar. Asal dia tahu batasan," ujar Laura.


Dela hanya menganggukan kepala saja, kemudian dia berpamitan pada Laura yang sedang merebus rempah-rempah untuk Mario yang tak enak badan.


Sesampainya di kamar, Dela merebahkan tubuhnya di kasur yang cukup besar jika dia dan Ara yang tidur. Tapi jika dia dan Maira tentu tidak akan muat, tiba-tiba wajah dingin Auriga terlintas dalam pikirannya.


"Astaga kenapa aku jadi mikirin duda itu sih!" gumamnya.


"Tapi dia ganteng."


Dela tersenyum menatap langit-langit kamarnya, berharap keberuntungan bertemu dengan ayah Ara atau Ara berpihak padanya. Dela menyentuh kalung emas putih keberuntungannya, berbentuk bulat di dalamnya ada model daun berjumlah empat.


"Ara mudah-mudahan kita bertemu lagi," gumamnya, Dela pun terlelap ke alam mimpi.


****


Asik bermain di mall, membuat Ara tertidur karena kelelahan. Sedangkan Lula dia masih terjaga, dia menatap keluar jendela mobil.


"Lula." Panggil Auriga.


"Ya ayah!"


"Bisakah kamu melupakan ibu mu? Ayah tau dia ibu mu, tapi bisakah kamu menghilangkan kesedihan adik mu? Kamu pasti tahu bahwa Ara, ingin bermain bersama mu. Kamu kakaknya Lula,"


"Aku tidak bisa ayah, aku tidak bisa." Pekik Lula, membuat Ara terbangun.


"Ayah," panggilnya lirih.


"Ara sayang, maaf ya. Suara ka Lula buat kamu bangun, sebentar lagi kita sampai nak sabar ya."


Auriga melirik sekilas Lula yang terisak, dia masih setia memalingkan wajahnya untuk tak terlihat oleh Auriga. Tak lama mobil Auriga pun sudah sampai, Lula turun terlebih dulu sementara Auriga membuka pintu untuk Ara.


"Ayah gendong," pintanya manja.


Auriga pun menurut keinginan sang anak, membuat Lula makin tak suka. Lula sudah masuk ke dalam lift terlebih dulu.


"Lula," desah Auriga.


Auriga pun dengan sabar menanti pintu lift terbuka, beberapa menit kemudian Ara dan Auriga sudah sampai.


"Ara masuk kamar dulu yah, nanti ayah nyuslul ok," jelas Ara.


"Anak pintar," Auriah mencium kening sang anak.


"Ayah ke kamar ka Lula dulu yah!"


Ara pun hanya mengangguk saja, Auriga mengetuk pinta kamar Lula. Namun Lula mengabaikan ketukan pintu kamarnya, tapi setelah mendengar ancaman Auriga. Dengan terpaksa Luka membuka pintu kamarnya.


"Kenapa ayah ada di sini? Temani saja anak ayah itu," ketus Lula


"Ayah hanya ingin memastikan. Kalau kamu baik-baik aja," ujar Auriga.


"Aku baik-baik saja ayah, akan lebih baik jika Ara tak ada," desis Lula.


"Lula sayang,"


"Selama ini, ayah selalu memperhatikan Lula. Ayah gak sayang lagi sama aku, padahal ayah tau apa penyebab ibu pergi."


Lula pun terisak sambil memeluk Auriga, dengan sabar Auriga mengusap punggung Lula. Auriga pun sadar bahwa perhatiannya terlalu dominan pada putri bungsunya, dia tak pernah memikirkan perasaan Lula sama sekali.


"Maafkan ayah, ayah belum bisa jadi yang terbaik untuk mu." Ucap Auriga.


tbc...


Maaf typo


Jangan lupa tinggalkan jejak, makasih 🙏