
🌹🌹🌹
Saat tengah menunduk di ruang tamu, tiba-tiba ada yang menyentuh pundaknya. Dan laura buru-buru menghapus air mata yang terus saja ingin keluar. Setelah menghapus air matanya Laura membalikan badan, dan di hadapannya sudah ada Jimi dengan segelas teh hangat. Dan menyodorkannya pada Laura.
"Minumlah, kamu perlu menenangkan hatimu." Ucap Jimi, Laura menerima gelas tersebut dan menggumamkan kata terima kasih.
Laura duduk di sofa ruangan tersebut, dan di ikuti Jimi. "Kamu harus bersabar, demi membayar semua biaya perawtan ibumu."
"Iya, aku tau tidak perlu di ingatkan." Ketus Laura.
Hening beberapa saat, hingga seorang pelayan datang dan menyuruh Laura datang ke kamar nyonya Dania, Laura pun mengekor pelayan tersebut. Hingga tiba di depan kamar tersebut dan dia di perailahkan untuk masuk.
"Nyonya sudah menunggu di dalam, nona." Ucap si pelayan, yang sudah membukakan pintu untuk Laura.
Dan Laura pun masuk, dan langsung menganggumi kamar Dania dan Mario. Karena dia melihat foto pernikahan mereka yang tergantung sangat indah di tengah-tengah dinding.
Laura berdecak kagum, dengan isi kamar Mario ini. "Apa nanti, kamarku semewah ini juga ?" gumam Laura. "Aihh...jangan mimpi deh, mau jadi cinderella upik abu gini." Kekeh Laura.
"Nyonya Dania." Sapa Laura, saat melihat Dania berada di balkon kamar.
"Ou Laura, sini duduk." Perintahnya, seraya menepuk tempat kosong di sebelahnya.
Laura sedeng melihat-lihat satu set perhiasan yang mewah. "Laura pilihlah, mana yang kamu suka ?" tunjuk Dania pada perhiasan yang di hadapan mereka.
"Untuk apa nyonya ?" tanya Laura.
"Bukankah kamu, akan menikah dengan Mario ?kamu harus tampil cantik di hari pernikahanmu. Ya walaupun hanya secara agama." Jelas Dania, mampu membuat hati Laura mencelos.
"Baik nyonya, saya akan memilih."
Laura melihat-lihat, semua perhiasan tersebut dengan mata berbinar. Seumur-umur dia belum pernah melihat perhiasan yang indah bertahtakan berlian seperti ini. Kemudian ada salah satu cincin yang mencuri perhatian Laura, sebuah cincin yang sangat sederhana bertahtakan berlian di sekeliling cincin tersebut.
"Saya suka yang ini, nyonya." Tunjuknya, pada cincin tersebut.
"Pilihan yang bagus," Dania tersenyum, menatap cincin pilihan Laura.
🌹🌹🌹
Malam pun tiba, ijab kabul pernikahan Laura dan Mario akan segera di lakukan. Laura sudah mengabari pada ibunya yang sudah sadar, tadi siang saat Laura sedang membantu persiapan pernikahannya, Laura berkata bahwa dia akan bekerja di luar kota selama satu tahun. Karena kontrak kerjanya akan selesai setelah setauh setelah Laura melahirkan anak untuk Mario.
Dan ibunya mengizinkan Laura.
#flashback
"Ibu maafkan aku, aku gak bisa jaga sama rawat ibu." sesal Laura, pada Anjani yang baru saja sadar dua jam yang lalu.
"Tidak apa-apa nak, ibu mengerti. Kamu hati-hati di sana yah, dan jaga diri, kerja yang benar." Nasihat sang ibu, walau suara Anjani terdengar lirih.
"Iya bu, tapi aku sudah menyewa perawat buat mengurus ibu di rumah, dan menemani ibu. Jadi ibu jangan khawatir yah, gak akan kesepian. Aku janji bu, cuma satu tahun kok, bisa juga lebih bisa juga pas." Ucap Laura, dengan senyum di wajahnya.
Laura berdiri, dan memeluk tubuh ringkih Anjani. "Aku pamit ya bu." Ucap Laura, setelah melepas pelukannya. Laura mencium kening ibunya, dan mencium punggung tangan sang ibu.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam, nak hati-hati." Lirih Anjani.
Tangis Laura pun, pecah seketika dia akan berpisah sementara dengn ibunya, dan akan sulit untuk bertemu. "Demi ibu, ini semua demi ibu. Semangat kamu pasti bisa lewati ini." Gumam Laura.
#Flashbackend
Lamunan Laura buyar, saat pelayan datang untuk memanggilnya. Laura sudah selesai di rias oleh MUA terkenal, balutan kebaya berwarna putih yang melekat di tubuh mungilnya, dan rambutnya yang di tata sedemikian rupa menambah kecantikan Laura. Sampai-sampai Mario terhipnotis akan kecantikan Laura yang natural alami.
ijab kabul telah selesai, dan para tamu sudah pulang karena hanya di hadiri oleh pemuka agama, Jimi, ketua Rw, dan RT.
Dan di sinilah sekarang Laura, dan Mario, di apartemen Mario. Yang letaknya jauh dari rumah Mario, tapi dekat dengan kantor Mario.
"Aku tidak bisa, membuat mu tinggal di rumahku bersama Dania. Aku tidak ingin dia terluka lebih dalam." Terang Mario.
"Kamu pikir, aku tidak terluka ?kamu selalu menjaga perasaan istrimu. Aku juga istrimu." Jerit Laura dalam hati.
"Aku tidak masalah, yang penting semua terjamin, dan hutangku lunas." sahut Laura cepat. Laura membalikan badan, dan menuju kamar yang ada dekat dengan dapur Mario sudah mengatakan jika di apartemen ini hanya ada satu kamar.
"Ini mulut, bener-bener yah gak sopan," kesal Laura, sambil memukul pelan mulutnya. Bukan itu yang ingin dia katakan, tapi entah mengapa kata-kata itu meluncur bebas dari mulutnya.
Laura membersihkan, make up yang menempel di wajahnya. Setelah melepas sanggul rambutnya, dan membiarkan rambutnya tergerai Indah.
Mario memperhatikan Laura, dari ambang pintung kamar yang terpaku menatap kecantikan alami Laura. Dengan tergerainya tambut bergelombang milik Laura.
Secara tak sadar, kaki Mario melangkah mendekati Laura dan sudah berada di belakang Laura. Mario mengusap puncak kepala Laura, sambil menatap Laura.
Mario membawa Laura berdiri, dan membalikan badan Laura. Mario mengusap pipi Laura turun ke bibir di usapnya lembut, dan pelan reflek Laura membuka mulutnya.
Mario mendekatkan wajahnya, ke wajah Laura hembusan napas Mario bisa Laura rasakan terasa hangat menerpa wajahnya. Mario mengecup bibir Laura sekilas kemudian berubah menjadi *******, mereka berjalan mundur hingga terhempas di kasur king size.
Saat Mario memejamkan mata, dan sedang meraba dada Laura tiba-tiba. Wajah sendu Dania terlintas di pikirannya, membuat Mario menghentikan aksinya. Laura menatap Mario bingung kenapa pria ini menghentikan aksinya.
"Maafkan aku, Laura aku belum siap untuk menghianati pernikahanku dengan Dania." Lirih Mario, kemudian pergi meninggalkan Laura sendiri di dalam kamar.
Laura terduduk di lantai, dan memeluk kedua lututnya dia menenggelamkan wajahnya di antara lututnya. Dan menangis sejadi-jadinya. "Lalu bagaimana denganku Mario ?!" lirih Laura.
"Kau selalu berbicara, seolah dia yang paling tersakiti. Apakah dia sadar bahwa aku yang paling tersakiti dan di rugikan di sini paling banyak, ya walau semua biaya ibu lunas." ucapnya di antara isak tangis.
🍂🍂🍂
Sementara itu di dalam mobil, Mario tengah menenagkan hati dan pikirannya. Sungguh dia dalam dilema. "Seandainya aku tidak terlalu terburu-buru, dalam mengambil keputusan."
"Maafkan aku Laura, maaf."
Mario melajukan mobilnya, menuju kekediaman nya bersama Dania. dengan kecepatan tinggi mobil Mario sudah sampai di halaman rumah mewah tersebut. Pelayan yang membuka pintu rumah begitu terkejut, dengan kedatangan tuannya.
Tanpa memperdulikan kebingungan pelayan tersebut, Mario terus melangkah menuju kamarnya dengan Dania. Pintu terbuka dan Mario melihta Dania tengah memandangi foto pernikahan mereka.
"Kenapa kamu kesini, Mario ?" tanya Dania, tanpa mengalihkan pandangannya.
"Aku belum siap Dania, aku tidak bisa melakukannya secepat itu." Tutur Mario.
Dania duduk di pinggir ranjang, dan Mario bersimpuh di hadapan Dania. "Aku mencintaimu." Ucapnya sambil mengecup punggung tangan, Dania.
"Aku kira, kamu sedang menikmati malam pertama mu itu." Isak tangis Dania, terdengar pilu.
Kemudian Mario memeluk Dania, dengan sayang dan di baringkannya Dania dan di bawanya Dania kedalam dekapannya.
tbc...
Maaf typo 🙏
jangan lupa, komen dan like, makasih 🙏
jangan lupa 🌹 atau ☕😊