
...~Kadang manusia harus sampai kepada titik kehilangan untuk mengerti arti sebuah kehadiran, kasih sayang, dan kesetiaan~...
Perasaan Yusra terus saja gelisah sampai malam tiba, Yusra tidur dengan Laura dan Yumna di kamar Laura. Sedangkan Hito di kamar Yumna, Hito tidak mempermasalahkan jika Yusra ingin tidur dengan ibu dan kakaknya.
Yumna, Yusra dan Laura. Mereka asik bercerita sampai tengah malam, rasanya mereka sedang curhat bareng sahabat dari pada ibu dan anak.
Sedangkan di rumah sakit, Mario belum pulang sama sekali. Hanya Mala yang datang mengantar kebutuhan Mario, Dania belum sadar dia masih kritis.
Mario juga ragu ingin memberitahukannya pada Yusra, tapi bagaimana pun Yusra harus tahu keadaan Dania saat ini.
Mario memutuskan untuk memberitahu Yusra besok pagi, karena sekarang sudah malam. Mario khawatir jika Yusra pergi malam-malam begini, meski pun Mario tahu ada Hito yang mengantar.
Pagi pun tiba, bangun dari tidurnya semalaman dia tidur di kursi tunggu di depan ICU karena Dania belum sadar. Rasa sakit di badan tak dia rasa, dia memandang Dania dari kaca.
"Kamu betah banget tidurnya," gumam Mario menyentuh kaca.
Kemudian dia memutuskan untuk pulang sebentar, dan menjemput Yusra dari rumah Laura.
Setelah sampai di rumahnya Mario, langsung menuju kamarnya dia melakukan ritual mandi. Dengan cepat Mario melakukan mandi, sehingga beberapa menit kemudian dia cepat selesai. Dan bergegas ke bawah.
"Tuan, apa anda ingin sarapan terlebih dulu?" tanya Mala, saat melihat Mario turun dari tangga.
"Tidak Mala, saya langsung pergi." Sahutnya, terus berjalan.
Sesampainya di luar, Mario mendapati Wina yang sedang menyiram tanamannya.
"Selamat pagi, Wina." Sapa Mario.
"Ya, selamat pagi juga. Sepertinya kamu buru-buru sekali, memang mau kemana?" tanya Wina.
"Aku harus pergi menjemput Yusra, Dania berada di rumah sakit," terang Mario, membuat Wina terkejut.
"Apa? Ada apa dengan Dania?" tanyanya.
"Dia kecelakaan, ya sudah kalau begitu aku permisi,"
"Ya," sahut Wina, dengan wajah khawatir.
"Astaga, aku lupa minta alamat rumah sakitnya." Wina menepuk keningnya.
"Nanti tanya Hito saja," sambungnya lagi.
****
Beberapa menit kemudian, Mario sudah sampai di halaman rumah Laura. Dari luar terdengar suara tawa Yusra dan yang lainnya, Mario mengetuk pintu rumah Laura dan pintu terbuka.
"Ayah," ucap Yumna.
Mario tersenyum dan mengusap puncak kepala sang anak, ada rasa bahagia saat Yumna memanggilnya ayah.
"Masuk yah, kita lagi sarapan. Apa ayah sudah sarapan?" tanya Yumna.
"Belum, ayah buru-buru sayang. Maaf ya, ayah ingin menjemput Yusra saja,"
"Baiklah aku akan panggil Yusra, ayah duduk dulu saja,"
Mario pun mengangguk sebagai jawaban, dan duduk di sofa ruang tamu. Menatap foto kebersamaan Yumna, Laura dan Anjani.
"Papi, ada apa?"
Yusra menghampiri Mario, dan duduk di sisinya.
"Sayang ikut papi, ke rumah sakit ya!!" pinta Mario.
"Memang siapa yang sakit pih?"
"Mami mu kecelakaan, Yusra dia masih kritis di rumah sakit," jelas Mario, membuat Yusra membulatkan mata dan lemas seketika.
"Ma--mami kecelakaan?"
Mario pun mengangguk sebagai jawaban, dan menggenggam tangan Yusra.
"Iya sayang, ajak juga Hito."
"Baik pi, aku akan memanggil Hito,"
Yusra pun beranjak dari duduknya, dan menemui Hito. Tak lama Yusra dan Hito sudah muncul, di ikuti oleh Laura dan Anjani serta Yumna.
"Ayo pih, aku udah siap." ajak Yusra.
Mario pun beranjak dari duduknya, kemudian dia pamit kepada Anjani dan Yumna. Sedangkan pada Laura dia hanya melirik saja, entah mengapa membuat hati Laura sakit.
Yusra dan Hito pun berpamitan pada mereka.
"Kasih tau aku alamat rumah sakitnya ya." Bisik Yumna, saat memeluk Yusra.
"Iya,"
Yumna mengantar mereka ke depan, dan setelah mobil mereka tak terlihat Yumna baru masuk dan mengusap lengan sang ibu.
"Nanti kita ke sana bu, setelah Yusra memberikan alamatnya."
****
Berpuluh menit kemudian, Mario sudah sampai di rumah sakit tempat Dania di rawat. Mario membawa Yusra dan Hito menuju ruang ICU, karena keadaannya masih belum sadar.
"Boleh saya masuk?" tanya Yusra pada perawat penjaga.
"Boleh nona, tapi hanya satu orang dan harus memakai pakaian khusus." Jelas perawat.
"Baik sus,"
Yusra pun masuk ke ICU, setelah memakai pakaian khusus. Dia menatap Dania yang terbaring lemah, walau wajahnya pucat garis kecantikan di wajah Dania masih terlihat.
"Mami" lirih Yusra.
"Kenapa mami, jadi seperti ini!! Mami harus cepat bangun, aku rindu," ungkap Yusra, menggenggam tangan Dania yang bebas dari infus.
"Cepat sembuh, mih," ucap Yusra kemudian dia mencium kening Dania.
Yusra pun keluar dan menemui suami dan ayahnya, Yusra memeluk Mario erat. Walau Dania tidak bisa menerima dirinya sepenuhnya tapi dia begitu takut kehilangan Dania.
"Sebaiknya kamu dan Hito, pulang dulu. Papi akan disini menjaga mami mu," papar Mario.
"Engga pih, aku disini aja."
"Sayang papi, gak mau kamu sakit. Hito bawa Yusra pulang," perintah Mario.
"Baik pih, sayang sebaiknya kita pulang. Kita tunggu di rumah saja ok," kata Hito.
"Baiklah," jawab Yusra pasrah.
"Aku pulang dulu pih," lanjutnya.
Mario pun mengangguk sebagai jawaban, dan memeluk Yusra sekali lagi. Mario pun menatap sang anak yang telah menjauh, tak lama ponselnya berdering dan asistennya lah yang memanggil. Mario menugaskan Andi untuk menggantikan dirinya mengurus perusahaan, dan di sanggupi oleh Andi setelah panggilan terputus Mario menghembuskan napasnya secara kasar.
*****
Tak sampai satu jam di rumah, Yusra sudah merengek pada Hito ingin ke rumah sakit. Dia ingin ada saat Dania membuka mata.
"Baiklah, sayang. Kamu sabar dulu, kita harus memberitahu Yumna atau ibu Laura. Agar dia tak khawatir," terang Hito.
"Baiklah," jawab Yusra, Yusra pun akhirnya menghubungi Yumna dan mengatakan akan ke rumah sakit lagi.
"Yumna dan ibu mau ikut," kata Yusra.
"Ya sudah, kita jemput dulu saja mereka.
"Iya,"
Setelah Hito rapih, Yusra dan Hito segera meluncur ke rumah Laura. Berpuluh menit kemudian mobil Hito sudah sampai di halaman depan rumah Laura, Hito membunyikan klakson. Yumna dan Laura pun keluar dan berpamitan pada Anjani.
"Kenapa gak turun sih!!" omel Yumna, setelah masuk ke bangku belakang.
"Biar cepat," jawab Yusra, membuat Yumna memutar bola mata malas.
"Ya sudah ayok, jalan malah melamun sih," protes Yusra pada Hito.
"Iya... Iya,"
Tak terasa mobil mereka sudah sampai di rumah sakit. Yusra berjalan tergesa sepanjang lorong rumah sakot.
"Yusra, pelan-pelan kalo jalan," tegur Hito.
"Aku mau cepat sampai," sahutnya.
Laura dan Yumna hanya saling pandang tanpa banyak kata, mereka mengikuti langkah Hito dan Yusra yang sudah jauh di belakang.
Mario melihat Yusra datang lagi bersama, Yumna dan Laura.
"Pih, gimana mami?"
"Kenapa kamu kesini lagi? Papi kan sudah bilang kamu pulang saja nak, biar papi yang jaga mami mu," ucap Mario.
"Tapi aku khawatir pih." Yusra memeluk Mario erat, dan menangis dalam pelukan Mario.
"Berdoalah, supaya mami mu baik-baik saja. Sayang,"
Yusra pun mengangguk sebagai jawaban, Laura bisa melihat ketulusan hati Yusra terhadap Dania. Bagaimana cara dia mengkhawatirkan ibu tirinya tersebut, terkadang Laura cemburu.
Laura mengusap air mata yang tanpa permisi mengalir di pipinya, kenapa Tuhan selalu mempermainkan takdirnya. Dari awal dia mengenal Mario dia sudah mulai jatuh hati, lalu patah hati karena harus berpisah sesuai perjanjian. Kemudian dia di pertemukan kembali setelah dua puluh tahun berlalu, mendapatkan kata cinta. Yang ternyata palsu, lalu sekarang dia bisa melihat tulusnya cinta dari kedua orang yang dia sayang untuk Dania.
tbc...
Maaf typo
Jangan lupa tinggalkan jejak Makasih 🙏
Maaf aku gak bisa kasih karma ke mereka yang berat-berat, Dania kehilangan anak dan gak bisa hamil pun itu sudah menyakitkan dan Jimi yg tak bisa mendapatkan cintanya pun sudah cukup