
...~Berjuang untuk bertahan dan berjuang untuk melepaskan, keduanya adalah hal yang paling sulit untuk di lakukan~...
Malam pun tiba, Bara membawa Yumna keluar setelah makan malam. Tentu dengan seizin Laura, dan mereka duduk di dekat batu karang seperti biasa.
"Jadi bagaimana?" tanya Bara to the poin.
Yumna melirik Bara sekilas, kemudian dia menatap lurus ke depan.
"Mudah-mudahan, ini yang terbaik untuk ku. Keano semoga kamu, bisa mencintai istri mu." Batin Yumna.
"Aku menerima mu, Bara. Aku akan mencoba mencintai mu," jelas Yumna.
Membuat Bara menyunggingkan senyum, kemudian dia membantu Yumna berdiri. Lalu membawa Yumna kedalam pelukannya, Yumna yang mendapat pelukan mendadak pun. Di buat tertegun kemudian dia membalas pelukan Bara.
"Terima kasih, Yumna. Aku berjanji akan membuat mu jatuh cinta,"
Malam yang cerah menjadi saksi di mulainya, kisah cinta Bara dan Yumna.
******
Sementara itu hubungan Keano dan Zea, tak pernah ada baiknya. Mereka masih dingin dan saling diam, Zea pun memutuskan untuk mengabaikan Keano. Dia tak lagi melakukan kewajiban sebagai seorang istri pada Keano.
"Kalau kamu, tidak bisa merubah kisah kita menjadi romantis. Lebih baik, kita bercerai saja. Aku merasa sudah menikah, tapi serasa masih gadis." Ujar Zea, menatap Keano yang sedang menyantap makan malamnya.
"Zea sudahlah, apa kamu tidak bosan kita meributkan masalah yang itu-itu saja?" tanya Keano.
"Aku tidak akan bosan, karena kamu tidak pernah berubah. Ini sudah dua bulan kita menikah Keano, tapi kamu masih bersikap dingin pada ku. Bahkan kamu hanya bersandiwara di depan semua keluarga," ucap Zea menahan marah.
"Zea kamu tahu, aku tidak bisa. Aku tidak bisa mencintai mu Zea,"
"Iya karena kamu, tidak mencoba membuka hati mu Keano. Karena kamu sibuk berkubang dengan masa lalu mu," pekik Zea, membanting sendok membuat piringnya menjadi terbelah dua.
"Zea,"
"Cukup, aku lelah. Kita akhiri saja pernikahan ini." Ujar Zea, kemudian dia pergi meninggalkan Keano yang memejamkan mata.
Tak lama Zea pun muncul dengan satu koper besar miliknya.
"Kamu mau kemana?" tanya Keano.
"Pergi," sahut Zea.
"Tapi ini sudah malam Zea,"
"Aku tidak peduli, kamu memang lelaki yang tak punya pendirian. Kamu lelaki pecundang yang pernah aku temui, lelaki yang tak bisa move on dari masa lalunya. Dan aku tunggu surat cerai dari mu," jelas Zea, pergi meninggalkan Keano dan keluar dari apartemen milik Keano.
"Zea tunggu," panggil Keano.
"Kita bisa bicarakan ini, dengan baik Zea."
"Zea... Zea," teriak Keano.
Tapi sayang Zea sudah lebih dulu masuk ke dalam lift, membuat Keano meninju tembok. Entahlah dia merasa bingung dengan perasaannya, wajar Zea menyebutnya lelaki yang tak tegas atau pecundang. Dia belum tenang jika tidak bertemu dengan Yumna, rasa bersalah yang selalu menghantui dirinya akan kesalahan menyakiti Yumna.
Tanpa Keano sadari, mata-mata Jimi mengetahui pertengkaran Zea dan Keano. Kemudian dia melapor pada Jimi, membuat Jimi yang di sebrang sana mengepalkan tangannya.
*****
Sementara itu, Zea yang tak tau akan kemana memutuskan untuk menyewa hotel. Dia tidak mungkin pulang ke rumahnya, jika pulang pasti Jimi dan Auriga memberondong banyak pertanyaan.
Zea mengusap air matanya dengan kasar, dan memandang gelapnya malam. Beberapa menit kemudian Zea sudah sampai di sebuah hotel yang tak jauh dari apartemen Keano, dia akan memikirkan alasan jika nanti bertemu dengan Jimi.
"Aku berharap kamu mencari ku, tapi aku tahu kamu tidak akan melakukannya." Ujar Zea, menatap keluar Zea memutuskan untuk duduk di balkon kamar.
Sementara Keano, setelah kepergian Zea dia mencoba mencari Zea. Dia tidak tega jika Zea berkeliaran malam-malam, Keano yakin Zea tidak akan ke rumah Jimi.
Keano mencoba menghubungi Zea, tapi di abaikan.
"Zea ayo angkat, kita bicara lagi. Jangan seperti ini,"
Keano keluar masuk hotel, namun tak ada nama Zea di semua hotel yang di datangi. Begitu pun hotel di sekitar apartemennya, tidak ada juga namanya Zea. Karena dia memakai nama lain saat chek-in.
"Sekarang aku harus apa? Apa aku harus membuka hati? Tapi bagaimana dengan kamu Yumna?"
Keano mengacak rambutnya frustasi, seandainya Yumna bisa di temui dia akan bicara. Entah bicara apa yang penting, dia ingin bertemu.
Sementara itu di kediaman Jimi, Jimi yang sedang berada di ruang kerjanya mendapat telepon dari anak buahnya. Jika keluarga Yumna tidak ada di rumah, menurut tetangga mereka semua pergi dan tak tahu pergi kemana.
"Cari mereka sampai dapat, aku tidak mau tahu. Kalau perlu bawa Yumna langsung ke sini," bentak Jimi.
"Baik tuan," jawab anak buah Jimi di sebrang telepon.
"Sial! Kemana kamu? Sudah pergi pun, masih melukai anak ku. Aku tidak akan memaafkan mu Yumna," desis Jimi.
Kemudian Jimi memutuskan untuk menelpon sang anak, namun Zea tidak mengangkatnya malah langsung menonaktifkan ponselnya.
Zea yang mengetahui Jimi dan Keano terus menghubunginya, berusaha sekuat mungkin tak menerima panggilan tersebut. Walau pun dia ingin mengadu pada Jimi atau Auriga.
"Maafkan aku Dad," lirih Zea.
"Aku belum siap bercerita pada mu atau ka Riga," sambungnya lagi.
****
Sementara itu Bara dan Yumna, masih bertahan di tempat mereka saat ini.
"Bara ayo kita pulang!! Apa kita akan tidur disini?" tanya Yumna terkekeh.
"Sebentar lagi, aku tidak mau melewati malam ini. Malam yang paling istimewa bagi ku," jelas Bara.
"Besok kita masih bisa ke sini Bara, jangan lebay deh," omel Yumna.
Bara hanya mengedikan bahu acuh, entah mengapa sulit sekali bagi Bara untuk beranjak duduk. Seolah mereka tidak akan bersama lagu, padahal Yumna pikir besok mereka akan bisa bersama lagi.
Bara memandangi wajah cantik Yumna, membuat Yumna salah tingkah di pandangi terus.
"Apa sih, ko liatin terus."
"Kamu cantik," puji Bara.
Membuat Yumna tersipu. "Ya, aku tahu aku memang cantik."
Bara terkekeh mendengar Yumna memuji dirinya sendiri, hening yang menyelimuti mereka. Hanya suara deburan ombak yang menemani mereka berdua.
"Bara sebaiknya kita pulang," ajak Yumna.
Bara melirik jam di tangannya.
"Sebentar lagi saja, ini masih jam delapan."
"Ya sudahlah," putus Yumna.
Bara melirik diam-diam Yumna, yang sedang menatap lurus ke depan.
"Yumna berjanjilah, apa pun masalahnya. Kamu harus terbuka pada ku," ucap Bara.
"Bara aku tidak bisa berjanji, tapi aku akan berusaha selalu jujur pada mu," ujar Yumna.
Membuat Bara mengangguk dan membawa Yumna dalam dekapannya.
"Aku mencintai mu,"
"Ya aku tahu," balas Yumna.
Sulit sekali rasanya mengatakan 'I Love You to', tapi Bara tidak mempermasalahkan itu, dan dia mendengar Yumna menghembuskan nafasnya secara kasar.
tbc...
Mudah-mudahan suka sama part ini, Jangan lupa tinggalkan jejak, jangan lupa mampir di cerita ku yang lain 'Still love you' Makasih 🙏
Maaf typo