Twin'S

Twin'S
Bab.17



💞💞💞


Beberapa jam kemudian Laura sudah tiba di kediaman ibunya, dia nampak ragu untuk keluar. Nyonya Antiah mengelus lengan Laura yang dingin.


"Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja." Ucapnya menenangkan.


"Tapi aku takut ibu akan marah dan kecewa padaku." Lirih Laura.


"Percaya pada ibu, ibu akan membantumu menjelaskan pada ibumu." Terang nyonya Antiah.


Laura menyetujuinya, Laura dan nyonya Antiah pun keluar dari mobil, dan seperti biasa Jakie membantu membawa barang-barang Laura.


Laura menghembuskan napasnya secara perlahan, untuk mengurangi ke khawatirannya sebelum mengetuk pintu.


Tok


Tok


Tok


Setelah mengetuk pintu, terdengar sahutan dari dalam membuat Laura mengeluarkan keringat dingin. Pintu terbuka nampaklah wanita paruh baya yang masih terlihat gurat kecantikannya.


"Laura." Ucap nyonya Anjani dengan mata membola, kemudian nyonya Anjani menarik Laura kedalam pelukannya.


"Laura, kamu sudah pulang nak." Isak tangis Laura, dan nyonya Anjani pecah saat mereka berpelukan melepas rindu.


"Iya bu, aku sudah pulang maafkan aku." Lirih Laura, masih memeluk sang ibu.


"Tidak apa-apa, nak ibu mengerti." Ucap nyonya Anjani lembut sambil mengelus rambut Laura.


Saat nyonya Anjani mengangkat pandangannya, dia baru sadar Laura tidak sendiri. Masih ada orang lain di belakang mereka.


"Laura, siapa mereka ?" tanya nyonya Anjani.


"Ibu itu..."


Sebelum Laura meneruskan kata-katanya, nyonya Antiah menjawab terlebih dulu.


"Perkenalkan saya Antiah, nyonya." Nyonya Antiah mengulurkan tangan pada nyonya Anjani.


"Anjani." Balasnya.


"Dan ini asisten saya, Jakie." Nyonya Antiah memperkenalkan Jakie pada nyonya Anjani.


Jakie mencium punggung tangan nyonya Anjani, sebagai bentuk hormat kepada orang tua.


"Mari masuk." Ajak nyonya Anjani.


Sebenarnya nyonya Anjani penasaran dengan bayi cantik yang berada dalam gendongan nyonya Antiah, tapi dia tidak ingin bertanya sebelum mereka menjelaskan.


"Silahkan duduk, saya akan membuatkan minuman terlebih dulu."


"Tidak usah bu, biar Laura saja. Ibu temani bu Antiah saja." Pinta Laura, dan di jawab anggukan kepala oleh nyonya Anjani.


"Maaf nyonya, bayi siapa ini ?" tanya nyonya Anjani pada akhirnya.


Nyonya Antiah tersenyum. "Jangan panggil saya nyonya, saya liat kita seumuran." Kekeh nyonya Antiah. "Bayi ini, anak dari Laura Anjani." Lanjutnya lagi.


Nyonya Anjani begitu terkejut, mendengar ucapan nyonya Antiah. "Ma--maksud anda, anaknya Laura anak saya ?"


"Iya ini anak Laura, cucu anda." Jelas nyonya Antiah, membuat nyonya Anjani terkejut.


"Tapi kapan dia menikah, dan dengan siapa?kenapa dia tidak meminta izinku ?" Lirih nyonya Anjani, dengan mata berkaca-kaca.


Laura datang dengan nampan, dan juga camilan. Setelah meletakan minuman, dan camilan tersebut, nyonya Anjani dengan tiba-tiba menampar Laura.


"Ibu." Pekik Laura.


"Jelaskan Laura, jelaskan semua nya padaku." Bentak nyonya Anjani.


Nyonya Antiah memberikan Yumna pada Jakie, dan mendekati Laura yang tengah memegangi pipinya yang terasa panas. "Anjani, tenang dulu saya bisa menjelaskan semuanya."


Nyonya Antiah mengajak Laura duduk, kemudian nyonya Antiah menjelaskan semua permasalahannya. Dan meminta maaf atas nama Mario anaknya.


"Jadi saya mohon, maafkan anak saya yang telah membuang anakmu. Laura melakukan itu semua untuk kesembuhan mu Anjani, dia tidak ingin keluarga satu-satu nya yang dia miliki pergi menyusul ayah, dan adiknya." Jelas nyonya Antiah, nyonya Antiah berusaha menjelaskan dengan tenang tanpa emosi.


Tapi nyonya Anjani tidak menjawab ucapan nyonya Antiah, dia hanya diam membisu sambil memperhatikan bayi cantik yang ada dalam dekapan Jakie.


"Jika anda tidak mau menerimanya, maka saya akan mengurus mereka sebagai anak perempuan, dan cucu saya Anjani." Terang nyonya Antiah.


Nyonya Anjani menangis. "Maafkan ibu, Laura gara-gara ibu kamu harus berkorban kebahagiaanmu," lirih nyonya Anjani.


"Tidak ibu, ibu tidak salah. Aku mau ibu sembuh dan tidak merasakan kesakitan lagi." Ucap Laura, dengan isak tangisnya.


"Ibu akan menerimanya Laura, bagaimana pun dia adalah cucuku anakmu. Sekali lagi ibu minta maaf tanpa mendengarkan penjelasanmu dulu, dan menghakimimu." Tutur nyonya Anjani.


Laura menghambur kepelukan sang ibu, dan menggumamkan terima kasih, dan kata maaf. Nyonya Antiah yang melihat hal tersebut pun merasa bahagia dan lega.


"Terima kasih mbak Antiah, anda sudah menjaga anak saya, dan mengantarkannya." Ucap nyonya Anjani tulus.


"Sama-sama, kalua gitu saya pamit pulang dulu. Karena masih banyak keperluan yang harus saya urus." Jelas nyonya Antiah, sambil beranjak dari duduknya.


Mereka pun beepamitan, tak lupa nyonya Antiag memberikan ciuman bertubi-tubi pada cucunya, membuat bayi mungil tersebut mengeliat geli. "Nanti oma akan merindukanmu, sayang." Keluhnya.


"Oma boleh menengokku, kapanpu oma mau." Ucap Laura menirukan suara anak kecil, membuat semua orang terkekeh.


Sekali lagi nyonya Antiah memeluk Laura, dan Yumna. Beralih kepada nyonya Anjani, dan mengucapkan banyak-banyak terima kasih, dan kata maaf.


💞💞💞


tbc...


Maaf typo


jangan lupa like, dan komen. Makasih 🙏