Twin'S

Twin'S
Puncak Patah Hati



...~Tak ada satu orang pun yang baik-baik saja saat kehilangan, jika pun ada, dia terlalu hebat dalam menyembunyikan rasa.~...


Satu bulan berlalu, kini Yumna menjadi pendiam bahkan di cafe pun dia menghindari bertemu Keano. Ada saja alasannya, membuat Keano sulit untuk membicarakan tentang hubungannya, meski Yumna meminta putus, tapi Keano tidak mengiyakan begitu saja. Dia begitu sangat menyayangi Yumna.


"Yumna aku mohon, ayok kita bicara," pinta Keano, terus berdiri dihadapan Yumna.


"Bicara apa lagi? Gak ada yang perlu di bicarakan Keano. Pembicaraan kita tidak akan merubah keputusan ku, atau merubah keadaan yang ada," jelas Yumna.


"Yumna aku mohon, aku tidak pernah menerima kita putus."


"Aku tidak peduli Keano, pernikahan mu tinggal beberapa hari lagi. Jadi jangan pernah buat masalah," tegas Yumna.


"Seharusnya saat kamu bertunangan dengan Zea, aku keluar saja dari cafe mu,"


"Yumna," desis Keano.


"Jangan pernah mengganggu ku Keano, jika kamu masih ingin melihat ku," lirih Yumna, kemudian Yumna meninggalkan Keano di depan meja kasir.


Yumna menyuruh Rianti mengganti dirinya terlebih dulu, karena dia ingin ke kamar mandi. Dan Rianti pun mengiyakan, tanpa curiga.


*****


Hari pernikahan pun tiba, semua orang sangat sibuk termasuk Yumna. Dia dengan besar hati mempersiapkan acar pernikahan Keano. Mungkin baginya ini adalah puncak patah hatinya.


"Nona Yumna, anda di minta menjadi pengiring pengantin wanita," ucap petugas WO.


"Hah! Kok saya?"


Petugas wedding hanya mengedikan bahu acuh, kemudian memberikan baju seragam Bridesmaids. Yumna membawanya ke ruang ganti.


"Kamu punya waktu, sekitar 20menit nona," ucap petugas wedding. Kemudian pergi meninggalkan Yumna.


Yumna masuk ke kamar yang sudah di persiapkan, dia mengeluarkan dress berwarna biru langit model Sabrina dengan tali spaghetti.


Yumna tersenyum nanar menatap gaun tersebut, ingin rasanya dia pergi dari acara yang menyakitkan ini. Tapi dia tidak bisa, keselamatan dirinya, ibu dan Omanya terancam.


Beberapa menit kemudian Yumna sudah siap, dan sudah di rias oleh MUA profesional. Saat akan keluar salah satu petugas hotel memberitahu bahwa Keano memanggilnya, Yumna berjalan dengan gontai, menuju kamar dimana Keano berada. Setelah pintu terbuka nampak lah Keano, tengah memandang keluar. Dia begitu tampan dan gagah, dengan jas berwarna putih sama dengan sang pengantin wanita.


"Ada apa?" tanya Yumna to the point.


Keano menatap Yumna yang sangat cantik, dengan rambut di sanggul dan menyisakan anak-anal rambut disisinya. Make-up yang natural membuatnya semakin manis dan terlihat seperti anak remaja.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Keano, pertanyaan bodoh macam apa itu, batin Yumna kesal.


"Kamu bertanya padaku apa aku, baik-baik saja atau tidak?" Yumna menatap tajam Keano, yang mencuri waktu bertemu dirinya.


"Tidak ada satu orang kekasih, mana pun yang hatinya baik-baik saja, saat melihat kekasihnya menikah dengan wanita lain. Kamu belum memutuskan aku, status kita tidak jelas Keano." Marah Yumna, Dari jauh hari, Yumna meminta Keano segera memutuskannya, namun Keano tidak menggubrisnya, hanya dirinya yang memutuskan secara sepihak.


"Tapi kamu yang siap, untuk jadi kekasih ku," bela Keano.


"Itu kemarin, saat aku di kuasai emosi," pekik Yumna.


"Kamu gak bisa tegas Keano, kamu hanya pasrah. Saat ayah mu akan menjodohkan mu, iya kan?"


"Yumna, aku tidak bisa menolak ayah. Aku mohon kamu mengerti Na," lirih Keano.


Yumna menggeleng jengah, tidak ada yang mengerti perasaannya, termasuk ibunya sekali pun.


Yumna memperbaiki riasan, di wajahnya karena air mata yang sempat menetes di pipinya. Dia kembali bergabung bersama para Bridesmaids lainnya, notifikasi pesan masuk di aplikasi hijaunya.


"Yumna, aku sudah di dalam,"  beritahu Bara.


"Baiklah Bara, tunggu sampai acara ijabnya selesai,"


"Oke,"


Yumna memutuskan untuk pergi dari hidup semua orang bersama Bara, jika mungkin orang-orang akan bahagia tanpa dirinya, Yumna pun menaruh kembali ponsel ke dalam selempang kecil.


Ya Bara adalah orang yang selalu menemaninya akhir-akhir ini, dia rela bulak balik Bandung-Jakarta demi Yumna. Dan saat Yumna mengutarakan niatnya, dengan senang hati Bara akan membantu Yumna, tanpa sepengetahuan orang tuanya, Antiah dan Laura.


*****


Yumna berdiri di samping Zea, bersama Viana. Dengan wajah sendu dia menatap sekali lagi laki-laki yang di cintainya, yang juga menatapnya, tapi Yumna buru-buru memutuskan pandangan mereka, dan berusaha untuk tersenyum. Yumna melihat tatapan Mario dan Laura, yang menurutnya tatapan iba, tapi Yumna tidak peduli. Pandangan Yumna bertemu dengan Yusra saudara kembarnya yang tersenyum mengejek.


Dengan langkah pelan Yumna dan Viana menuntun langkah Zea, Zea tersenyum menatap Keano, saat dia sudah ada di hadapannya. Yumna dengan segera duduk di dekat sang ibu yang langsung mengusap lengannya.


"Aku baik-baik saja bu, jangan khawatir." ucapnya menenangkan Laura.


Tapi Laura terlalu peka, dia tahu anaknya tak baik-baik saja. Tapi dia tak terlalu banyak bicara.


Keano dengan lancar dan tegas mengucapkan ijab, dihadapan penghulu dan wali hakim. Akhirnya mereka sah menjadi suami istri, air mata Yumna jatuh tanpa permisi.


"Aku mundur Keano, kamu bukan milikku." gumam Yumna mengusap air matanya dengan kasar.


Semua orang bertepuk tangan, saat melihat Keano mencium Zea dengan lembut.


"Ibu aku ke toilet sebentar ya," izin Yumna, dan Laura mengangguk.


Yumna tidak ke toilet, dia berbelok menuju samping hotel dimana anak buah Jimi dan Radit berada. Dengan tatapan tajam, dan dingin Yumna menatap anak buah Jimi dan Radit.


"Aku akan pergi, beritahu bos kalian, jangan pernah menganggu keluarga ku. Jika ingkar maka mereka akan tahu akibatnya," jelas Yumna.


"Baiklah, saya akan memberitahukannya,"


Tapi Yumna tak mudah percaya, dia meminta mereka untuk menelpon Jimi atau Radit.


"Bos dia ingin berbicara," ucap anak buah Jimi, pada Jimi.


"Saya sudah melakukan tugas saya, dan akan pergi. Jangan pernah menganggu keluarga saya lagi tuan Jimi," ucapnya penuh penekanan.


"Ya, baiklah. Saya tidak mungkin ingkar janji," sahut Jimi di sebrang telpon.


Yumna mematikan ponsel tersebut, dan mengembalikan kepada anak buah Jimi dengan kasar. Kemudian pergi meninggalkan mereka, saat di depan loby dia bertemu dengan Bara. Kemudian menghambur kedalam pelukan Bara, air mata Yumna pun tumpah dalam dekapan Bara. Dengan sabar Bara memeluk Yumna dan mengusap punggungnya dengan lembut.


Tanpa banyak kata lagi, mereka akan pergi ke suatu tempat sesuai rencana mereka. Tanpa orang tua mereka dan tanpa sepengetahuan yang lain.


tbc....


Jangan lupa tinggalkan jejak ya say, makasih.🙏


Maaf typo