Twin'S

Twin'S
Pengumuman




Brak!


Ilham menggebrak meja dengan keras, membuat semua yang ada di ruang makan terkejut.


"Kenapa nilai matematika mu jelek banget, Git? Coba lihat adikmu, apa pernah dia mendapat nilai sejelek ini!" bentak Ilham.


Sagitta menunduk, tanpa berani menatap ayahnya. Mungkin dia bisa mendapat nilai bagus di mata pelajaran lain. Tapi tidak untuk matematika. 


"Kalo kamu gak bisa mendapatkan nilai seratus. Jangan harap kamu dapat uang jajan dari Ayah atau Ibumu," ancam Ilham.


"Ayah," protes Sagitta.


"Ayah tahu aku gak suka pelajaran itu. Tolong jangan paksa aku. Seenggaknya di mata pelajaran lain nilai ku bagus," tambah Sagitta.


"Gak ada alasan Sagitta!" tegas Ilham. Setelahnya pergi diikuti Laluna. 


Sagitta menatap ibunya yang masih diam di tempat dengan pandangan nanar.


"Bu," lirih Sagitta, meminta pertolongan.


"Maafin Ibu, Git," balas Hasna, tidak bisa berbuat apa-apa.


Hasna memilih menyusul suami dan putri bungsunya, meninggalkan Sagitta sendirian. Air mata yang berusaha gadis itu tahan, akhirnya luruh juga. Ia muak selalu mendapat tuntutan seperti ini dari ayahnya.


"Aku tahu aku gak berprestasi di bidang akademik, apalagi matematika seperti Laluna. Tapi asal Ayah tahu, aku juga punya kemampuan di bidang seni," monolog Sagitta.


"Aku capek dibandingkan-bandingkan dengan Laluna," tambah Sagitta, semakin terisak.


***


Sekolah menengah atas Erlangga adalah salah satu SMA favorite di kota Jakarta. Sekolah itu pun terkenal dengan kapten basketnya, Orion Nichole. Para siswa dan siswi selalu menyebut Orion mirip dengan Kim Taehyung, member BTS dari Korea.


"Orion," panggil Naomi.


Orion pura-pura tidak mendengar, terus berjalan kedepan sampai tak sengaja dia menabrak Sagitta membuatnya berdecak. Ingin mengurus gadis itu. Namun, tak ada waktu. Naomi dan teman-temannya terus mengikutinya.


"Minggir lo udik, ngehalangin jalan aja," sinis Naomi, menabrak bahu Sagitta dengan keras membuat buku gadis itu jatuh.


Amara dan Mita dengan sengaja menendang buku yang dibawa Sagitta. Setelahnya mereka tertawa terbahak mengejek Sagitta.


"Makanya jalan yang bener, dasar cupu," hina Amara, lantas pergi bersama kedua temannya. 


"Sabar-sabar," kata Sagitta, kembali memungut buku dari ruang guru untuk dibawa ke kelas. 


Sepanjang perjalanan, Sagitta mendadak teringat kat-kata Laluna beberapa tahun lalu, saat dia pertama kali masuk SMA.


"Kakak harus berpenampilan cupu kayak gini biar gak ada yang suka. Cukup aku aja yang paling cantik dan populer," jelas Laluna.


Sagitta yang terlalu menyayangi Laluna hanya bisa pasrah. Meski sedari dulu selalu dibandingkan oleh ayah, karena bagaimanapun Laluna adalah adiknya. Sejak saat itu ia selalu berpenampilan cupu dan culun. Keduanya memang bersekolah di tempat yang sama, Laluna anak kelas X-Bahasa sedangkan Sagitta anak XII-IPS 1.


"Ya ampun Sagitta, lo jalan lama amat sih. Ibu Antiah udah marah-marah karena lo terlalu lama," kesal Aiden, ketua kelas. 


"Ya maaf, ini berat banget mana gue bawanya sendiri lagi," keluh Sagitta.


Aiden tak menanggapi Sagitta. Mengambil setengah tumpukan bukunya. Lalu berjalan dengan cepat, takut teman-temannya di kelas keburu dihukum oleh guru sejarah yang terkenal killer itu.


***


Dari atas rooftop Sagitta bisa melihat anak-anak yang sedang bermain basket. Yang jadi pusat perhatiannya adalah Orion. Menurutnya cowok itu memang tampan, tapi sayang Orion memiliki sikap dingin dan jutek. 


Entah mengapa Orion merasa ada yang memperhatikannya. Ia lantas mencari orang disekitar hingga tak sengaja netranya melihat Sagitta. 


"Ngapain tuh cewek ada di sana? Ngeliatin gue lagi,"  gumam Orion, sedikit tidak suka. 


"Orion awas!" teriak Teo.


Dengan sigap Orion menghindar dari bola yang mengarah padanya.


"Mikir apa sih lo?" tanya Kevin, bingung.


"Mikirin cewek kali," sahut Jefri.


"Sinting," delik Orion, mendorong bahu Jefri, membuat yang lain terbahak. Karena Jefri sudah tersungkur dibawah.


Jefri mencebik kesal. Mengumpati Orion dalam hati. Sedangkan Orion kembali melihat ke atas. Namun, Sagitta sudah tidak ada. 


"Kantin, yuk," ajak Teo. Lantas melanjutkan," laper sama haus nih gue." 


"Kuylah," setuju Kevin. Merangkul bahu Teo lalu mulai melangkah pergi. 


"Orion ayok," kata Jefri yang sudah berdiri. 


Orion diam saja membuat Jefri bertanya, "Lo lihat apa sih? Dari tadi lihat rooftop terus, ada apaan emang?"


"Gak ada apa-apa," ketus Orion, lalu meninggalkan Jefri membuat cowok itu kembali mencibir dalam hati.


Nyatanya Sagitta buka turun, melainkan menunduk. Ia sengaja menyembunyikan diri dari tatapan Orion yang sedikit tajam. 


"Gitta," panggil Aiden membuat Sagita tersentak kaget. Lalu menegakan kembali tubuhnya. 


"Di cari Laluna tuh, dia adik lo, kan?" tanya Aiden, memastikan. 


"Bukan," bohong Sagitta, berlalu dari hadapan Aiden.


Kalau boleh jujur menurut Aiden gadis itu cantik, hanya saja Sagitta menutupinya dibalik kacamata bulat dan rambut kepang duanya itu. Karena dia pernah melihat Sagitta tanpa dua benda itu.


Sagitta tidak bisa mengabaikan Laluna. Dia berbalik. Menatap Aiden yang belum beranjak dari sana.


"Aiden," panggil Sagitta membuat Aiden terkejut. 


"Eh, apa?" bigung Aiden.


"Laluna di mana?" 


"Deket gudang."


"Makasih," ucap Sagitta, kemudian pergi dari sana. Meninggalkan Aiden yang sempat memikirkan kecantikan Sagitta. 


***


Ja**ngan lupa mampir ya, di cerpen ku Rasi Cinta boleh mampir ke profil ku makasih semua 🙏**