
Disinilah Mario dan Laura sekarang, mereka sedang berada di sebuah taman yang tak jauh dari rumah Laura. Sebelum pergi Laura sudah meminta izin pada Anjani.
"Aku berencana ingin mempertemukan Yusra dan Yumna, apa kamu setuju?" tanya Mario, setalah lama saling diam.
"Yumna sudah tau," jawab Laura.
"Hah! Dia sudah tau?"
Laura hanya mengangguk menatap lurus ke depan, Mario menghembuskan nafasnya secara kasar.
"Kita harus mempertemukan Yusra dan Yumna, mereka berhak tahu Laura." Usul Mario.
"Entahlah, aku tidak yakin. Selama ini Yumna selalu bahagia bersama ku, dulu saat dia masih kecil dia selalu bertanya dimana ayah bu? Kenapa ayah tidak menjemput ku? Kenapa ayah lama sekali," jelas Laura, mengenang saat masa lalunya yang sulit. Walau Antiah selalu membantu mereka dan memberikan apa yang Yumna mau.
Tapi setelah Antiah sering sakit-sakitan, dia jarang sekali menemui Yumna dan Laura.
"Percayalah Yusra gadis yang baik, dia akan mengerti dan menerima Yumna sebagai saudara kandungnya."
Laura menatap Mario. "Baiklah, aku setuju, kita akan memperkenalkan Yumna dan Yusra, serta aku sebagai ibu kandungnya," putus Laura.
"Syukurlah, malam ini aku akan menjemput mu dan Yumna. Untuk Nyonya Anjani aku akan mengirim pelayan, untuk menjaganya selagi kamu pergi." Jelas Mario.
"Baiklah kalau begitu, aku permisi dulu Mario." Pamit Laura, dan Mario hanya mengangguk tanpa mengantarkan Laura.
Tanpa mereka sadari, sedari tadi Dania mendengarkan percakapan mereka tak jauh dari mereka duduk.
"Ou jadi begitu, kalian berencana akan kembali. Sekali pelakor kamu tetap pelakor, Laura." Dania tersenyum sinis menatap kepergian Laura dan Mario.
Kemudian Dania menelepon Jimi, untuk membantunya menjalankan rencana liciknya. Dia akan mempengaruhi Yusra supaya membenci Laura dan Yumna, soal Jimi Dania sudah tahu semuanya tapi dia tidak memiliki perasaan apapun, Dania hanya menganggap Jimi sebagai seorang kakak tidak lebih. Perasaan Dania tetap sama hanya untuk Mario seorang.
******
"Yusra," panggil Dania.
Yusra yang baru saja pulang dari kampus, dia izin tak masuk kerja karena kepalanya sangat pusing akibat ulah Bianca cs tadi.
"Mami," cicit Yusra.
"Kening kamu kenapa sayang?" tanya Dania khawatir.
Yusra begitu terkejut dengan sikap Dania, yang mulai perhatian dan berkata lembut padanya.
"Tadi gak sengaja di dorong mih," bohong Yusra.
Dania memeluk Yusra dengan erat, kemudian terisak membuat Yusra bingung.
"Yusra maafkan mami," lirih Dania.
"Mi--minta maaf mi,"
"Iya kamu mau kan maafin mami sayang, selama ini mami selalu jahat sama kamu. Kamu tahu sendiri kalau mami gak bisa ngasih anak sama papi Mario, mami tak..."
Dania menghentikan ucapannya, karena tak sanggup untuk meneruskan kata-katanya.
"Tidak mi, bagaimana pun keadaan mami aku tetap sayang sama mami. Walau mami bukan ibu kandung ku, tapi aku tau mami selalu ada untukku." jelas Yusra.
"Maksud mu?" tanya Dania tak mengerti.
"Aku tau selama ini, mami diam-diam peduli pada ku. Saat aku sakit dan di rawat di rumah sakit, di saat teman-teman ku yang lain mengejek ku tak pernah pulang dengan mamahnya tapi mami selalu datang untuk ku. Dengan wajah datar dan dingin," ucap Yusra mengenang masa-masa terindahnya, dengan Dania walau secara diam-diam Dania memberikan sikap lembutnya.
"Yusra mami," suara Dania tercekat, dia tidak bisa berkata-kata lagi.
Dania memeluk Yusra dengan sangat erat.
"Yusra mami gak mau kehilangan kamu, nak. Mami sayang sama kamu," lirih Dania. "Mami takut papi Mario, membawa mu pada ibu kandung mu." Sambungnya lagi.
"Aku gak akan kemana-mana mi, aku akan selalu dekat dengan mami. Aku akan tinggal disini dengan mami, walau sekali pun papi meminta ku dekat dengan ibu kandung ku. Yang tega meninggalkan aku,"
Lagi-lagi Dania memeluk Yusra dengan erat.
"Berjanjilah nak, bahwa kamu gak akan ninggalin mami. Mami takut kehilangan mu, sayang. Maafkan mami Yusra, maafkan mami sekali lagi." Pinta Dania dengan wajah penuh harap, dan mata berkaca-kaca menatap Yusra.
"Aku memaafkan mami, sebelum mami meminta maaf pada ku. Aku sayang mami," balas Yusra, kemudian kembali memeluk Dania dengan erat.
"Mami juga menyayangi mu, sayang." Dania menyunggingkan senyum tipisnya.
Tanpa sepengetahuan mereka, Jimi melihat itu dan hanya menggelengkan kepala.
"Drama apa lagi yang akan kau buat?" gumam Jimi, menatap Dania dan Yusra. "Mungkin ini waktu yang tepat untuk aku, melupakan mu, Dania." Sambungnya lagi, kemudian berlalu dari kamar Yusra.
Keinginannya untuk mengejar cinta Dania mungkin harus di kubur untuk selama-lamanya, dia akan berusaha fokus untuk menata masa depannya dengan kedua anak kembarnya, yaitu Auriga dan Zea.
"Terima kasih, Delia. Kamu memberikan anak-anak yang menemaniku, tanpa mereka aku mungkin akan kesepian sampai sekarang, dan meratapi cinta ku pada Dania." Jimi menatap foto pernikahannya dengan Delia, yang dia simpan di ponselnya.
tbc....
Maaf typo
Jangan lupa tinggalkan jejak ya guys, slow update 😊