Twin'S

Twin'S
Bab.36



Sementara itu, acara ulang tahun di cafe Keano baru selesai pukul sepuluh malam. Yusra dan yang lainnya telah selesai membereskan sisa-sisa pesta.


"Makasih ya, kamu udah nungguin aku," ucap Yusra pada Hito, setelah mereka masuk mobil.


Hito tersenyum, mengacak rambut Yusra. "Santai aja, lagian kaya sama siapa aja sih, kamu kan selalu ngerepotin aku." Goda Hito, sambil terkekeh.


Yusra mencebik. "Ngeselin,"


Membuat Hito tertawa.


"Mau makan dulu?" tawar Hito.


"Boleh, aku yang traktir,"


Hito pun mengangguk sebagai jawaban, dan mereka meluncur ke tempat nasi goreng langganan mereka.


Sementara itu Mario baru saja sampai di kediamannya bersama Dania, Dania yang mendengar suara deru mesin mobil mengintip lewat balkon kamar.


"Dari mana?" tanya Dania saat Mario sudah sampai kamar mereka.


"Meeting penting," jawabnya singkat, entah mengapa hati Mario sangat hambar pada Dania. Dulu cinta mereka sangat menggebu.


"Meeting apa sampai malam seperti ini," ketus Dania.


"Sudahlah Dania, aku sudah lelah. Lebih baik kamu tidur ini sudah malam," ucap Mario, Mario melenggang ke kamar mandi membuat Dania semakin kesal.


Dania pun memutuskan untuk turun, dia akan mendinginkan kepalanya di taman belakang sambil menyesap minuman coklat kesukaannya.


Saat Dania sedang membuat minuman, pintu rumah terbuka dan Yusra masuk dengan perlahan. Dania melihat tingkah Yusra dan memilih tidak peduli, dari dulu dia selalu tidak peduli. Dania akan peduli jika itu adalah anak yang keluar dari rahimnya sendiri.


Selama beberapa menit Dania menyendiri di taman belakang, dia memutuskan untuk naik ke kamarnya. Saat dia melewati kamar Yusra yang masih menyala, dia pun masuk dan menanyakan dari mana saja dia.


Yusra begitu terkejut saat Dania datang, tanpa mengetuk pintu terlebih dulu.


"Mami," cicit Yusra takut.


"Baru pulang?" tanya Dania basa basi.


"Iya mi,"


"Memangnya kuliah apa sampai malam begini?"


"Aku bekerja mi," jawab Yusra jujur.


"Kerja? kerja apa yang sampai malam? apa kamu menjual diri hah!!" tanya Dania sinis.


Yusra menggeleng, tuduhan sang ibu membuatnya sakit. Yusra merasakan matanya panas, mungkin sebentar lagi dia akan menangis. Tapi sebisa mungkin akan dia tahan, agar tidak menangis di hadapan Dania.


"Aku kerja di cafe, mih. Dekat dengan kampus," jelasnya.


"Kenapa harus bekerja? apa uang yang di berikan papi mu masih kurang?"


"Aku ingin mandiri,"


"Kalau kamu ingin belajar mandiri, sebaiknya kamu segera keluar dari rumah ini. Dan cari keberadaan ibu kandung mu," ucap Dania dengan dingin.


"Apa mami, tidak pernah menyayangi ku? setitik saja. Apa mami benar-benar, tidak menyukai ku? Sehingga mami terus saja berkata kasar, dan tak pernah peduli pada ku. Aku ingin seperti anak yang lain, yang mendapatkan kasih sayang dari ibunya, dekapan hangat dari ibunya. Tapi aku, mami selalu menyuruh ku untuk menjauh dari mu dan tak pernah memberikan kasih sayang mu," tutur Yusra dengan lirih.


"Jika kamu lahir dari rahim ku, bukan dari wanita itu. Aku akan menyayangi mu," ucap Dania, kemudian pergi begitu saja membanting pintu dengan keras.


Membuat Yusra terkejut, seketika tangis Yusra pecah dia memeluk dirinya sendiri. Dan membenamkan wajahnya diantara kedua lututnya.


"Siapa ibu kandung ku?"


Yusra memutuskan untuk beristirahat, walau hatinya sedang sakit.


*****


Pagi pun tiba, Yusra sudah bersiap untuk pergi ke kampus karena jam pelajaran di mulai pukul delapan pagi. Dan jam pelajaran ke dua pukul satu siang, sedangkan pekerjaannya di mulai pukul empat sore.


Yusra menghembuskan nafasnya secara kasar, kemudian dia turun kelantai satu untuk memulai sarapan bersama. Di meja makan sudah ada Mario, sedangkan Dania tidak kelihatan batang hidungnya.


"Pagi, pih." Sapa Yusra, mencium pipi Mario.


"Pagi sayang,"


Yusra menatap Mario lekat, dia ingin sekali menanyakan tentang gadis yang mirip dirinya.


Mario yang sadar di perhatikan, mengalihkan pandangannya dari ponselnya.


"Kenapa?"


"Pih, apa aku punya saudara kembar?" tanya Yusra, membuat Mario tersedak.


Mario menatap Yusra lekat, dia bisa melihat mata yang sama dengan Laura. Membuatnya dia rindu dengan Laura.


"Apa jika papi jujur, kamu akan percaya?"


"Entahlah, aku bingung."


"Kenapa? Apa ada masalah?"


"Kemarin saat aku bekerja, salah satu pegawainya sangat mirip dengan ku. Pih, tapi dia lebih dominan ke papih, kalau aku," Yusra menunduk. "Kalau aku, tidak sama sekali mirip dengan dengan papi." Lirih Yusra.


Mario mengusap puncak kepala Yusra dengan sayang.


"Percayalah nak, kamu anak ku. Walau kamu tidak terlahir dari rahim mami Dania, bagaimana pun dia adalah ibu mu saat ini," terang Mario.


"Lalu kenapa aku tidak mirip dengan mu?" tanya Yusra dengan suara tercekat. "Apa aku, mirip dengan wanita yang melahirkan ku?" tanyanya lagi.


"Iya," jawab Mario pelan.


Tanpa sepengetahuan mereka, Dania mendengarkan dari balik lemari barang-barang mahalnya.


tbc...


Jangan lupa tinggalkan jejak ya, makasih 🙏


Maaf typo