
...~Jangan pernah takut untuk melepaskan sesuatu, karena yang terbaik tau jalan pulang~...
Setelah Yumna menceritakan kegundahan hatinya pada Antiah, Yumna mulai berpikir jika Keano memang jodohnya. Dia pasti akan mendekat, jika bukan dia akan menjauh. Toh Tuhan tahu yang terbaik untuk kita, jika menurut kita baik maka belum tentu baik di mata Tuhan, begitupun sebaliknya.
"Sekarang kamu mau balik ke Jakarta? Atau gimana? Kalau mau balik biar Bara yang antar," tawar Antiah.
"Aku disini aja dulu, nek. Aku kangen sama nenek, karena kesibukan aku dan ibu, jadi jarang kesini. Apalagi oma juga sakit-sakitan," ungkap Yumna.
"Ya sudah, terserah kamu. Tapi kamu sudah memberitahu ibu mu?"
Yumna menggaruk kepalanya yang tak gatal, tersenyum pada Antiah dan menggeleng. Kemudian Antiah berdecak kesal.
"Hubungi ibu mu," perintah Antiah. "Jangan buat dia, mengkhawatirkan mu Yumna," sambungnya lagi.
"Baiklah,"
Yumna pun menghidupkan ponselnya, dan mengirim pesan pada Laura. Bahwa dia berada di Lembang Bandung, menemui Antiah untuk menenangkan diri. Kemudian melihat chat Keano, dan membalasnya bahwa dia baik-baik saja, hanya ingin menenangkan diri.
*****
Keano yang sedang berada di cafe, mendapatkan pesan dari Yumna. Setelah acara selesai dan mengantarkan Zalfa, Keano bergegas pergi ke cafe.
"Syukurlah, kamu baik-baik saja."
Keano mendesah lega, setelah membaca pesan dari Yumna. Kemudian melanjutkan pekerjaannya kembali.
Sedangkan Laura yang mendapat pesan dari Yumna, mengerutkan kening.
"Tumben sekali dia di Bandung," gumam Laura.
"Kenapa?" tanya Anjani yang tiba-tiba datang.
"Ini Yumna ada di Bandung," beritahu Laura pada Anjani.
"Hah!! Tumben sekali anak itu pergi, apa ada masalah?"
"Tidak ada bu," dalih Laura, dia tidak ingin ibunya kepikiran masalah dirinya dan kedua anak kembarnya.
"Ya sudah kalau kamu gak mau cerita, ibu gak masalah. Ibu berharap kamu dan Yumna selalu bahagia," doa tulus Anjani kepada anak dan cucunya.
****
Sore pun tiba Yusra tidak bekerja, dia memutuskan untuk keluar dari cafe saja. Karena sekarang Dania, sudah mau meluangkan waktunya untuk dirinya.
"Yusra," panggil Rianti.
"Hai Ri,"
"Kamu gak pake seragam?"
"Aku mau berhenti," ucap Yusra.
"Loh!! Kenapa Ra? Apa ada masalah?"
"Tidak ada," jawab Yusra singkat.
"Ya sudah kamu bilang aja sama pak Keano, dia ada di ruangannya."
"Oke, aku ke ruangan pak Keano dulu yah, bye." Pamit Yusra, dan di jawab anggukan oleh Rianti.
tok!
tok!
tok!
Suara pintu mengalihkan atensi Keano dari laptopnya.
"Masuk," teriaknya.
Pintu terbuka menampilkan Yusra yang asli, yang mirip dengan Yumna.
"Yumna," gumam Keano.
"Maaf pak, boleh saya masuk?"
"Silahkan,"
Yusra masuk dan duduk di hadapan Keano, yang terhalang oleh meja kerja.
"Maaf pak, sebelumnya saya bukan Yumna. Saya Yusra," jelas Yusra.
"Yusra,"
"Iya pak, saya dan Yumna memang mirip, karena kita saudara. Apa bapak tidak tau?"
Keano menggeleng sebagai jawaban, apa-apan ini Yusra dan Yumna. Yumna punya kembaran, selama ini dia tidak pernah bercerita apa pun pada ku, batin Keano menatap Yusra.
"Ya sudah lupa kan saja dulu, ada apa?" tanya Keano, mencoba profesional dalam kerja.
"Kenapa?"
"Karena saya harus mengurus perusahaan ayah saya pak," bohong Yusra.
"Ou kamu anak orang kaya, kamu kerja karena kamu gabut bukan?" tebak Keano.
"Tidak pak, bukan itu, saya tidak bisa menjelaskan alasannya kepada anda. Karena ini privasi,"
"Ok baiklah, tapi saya tidak bisa memberikan mu gaji, kamu tau kan aturan saya di awal."
"Saya tahu pak, dan saya menerimanya. Lagian uang saya banyak," sombong Yusra, membuat Keano berdecak.
"Ya sudahlah kamu boleh keluar," usir Keano secara langsung karena tak suka dengan sikap Yusra.
Yusra menyodorkan paper bag seragam kerjanya pada Keano.
"Ini saya sudah cuci, permisi." Pamit Yusra.
Yusra beranjak dari duduknya setelah melihat Keano mengangguk, kemudian dia menuju teman-temannya dan berterima kasih selama bekerja mau membantu dirinya.
Setelah Yusra menghilang di balik pintu, Keano berpikir rahasia apa yang di sembunyikan Yumna, yang dirinya pun tak tahu.
"Nanti aku akan tanya kan padanya,"
Kemudian Keano tenggelam pada pekerjaannya, menyibukan diri untuk kemajuan cafe tersebut.
"Aku bakal kangen kamu Ra," rengek Rianti.
"Ya ampun Ri, aku juga kuliah di kampus sebrang, jadi aku bakal temui kamu. Kamu tenang aja yah,"
"Ya sudah aku balik dulu, bye semua." Pamit Yusra.
"Bye, hati-hati Ra," jawab mereka serempak.
****
Setibanya di rumah, Yusra memasuki kamarnya dan membaringkan tubuhnya yang lelah. Pertemuannya dengan Laura dan Yumna semalam, sejujurnya bahagia jika dia memiliki seorang kakak, bahkan telah menolongnya.
Yusra menghembuskan napasnya secara kasar dan memejamkan matanya guna beristirahat sejenak, karena nanti malam dia ingin mengajak Hito keluar, dan laki-laki itu pun sudah setuju.
"Yusra," panggil Dania, Yusra yang akan memejamkan mata pun membuka kembali dan beranjak dari tidurnya. Membukakan pintu untuk Dania.
"Mami, ada apa?"
"Kamu baru pulang nak?"
"Iya mih, masuk mih." Yusra melebarkan pintu kamarnya, dan mengajak Dania masuk.
"Malam ini, mami mau ajak kamu jalan, mau gak?"
"Maaf mih, aku udah janji sama Hito," sesal Yusra.
"Ou ya sudah, tidak apa-apa, lain kali saja. Kalau gitu mami keluar dulu," pamit Dania, tadinya dia ingin menghabiskan waktu dengan Yusra. Agar semakin dekat dengannya.
"Lebih baik aku pergi sendiri saja," gumam Dania, setelah dia keluar dari kamar Yusra.
Dania memasuki kamarnya dengan Mario, dulu kamar tersebut begitu hangat dan penuh cinta. Tapi sekarang suasananya berubah, menjadi dingin bahkan Mario jarang pulang, jika pun pulang hanya untuk tidur saja.
Dania menghembuskan nafasnya secara kasar.
"Semuanya berubah, seiring berjalannya waktu. Janji yang kau ucapkan hanya pemanis saja, nyatanya kamu pun tak setia."
Dania menatap foto pernikahannya dengan Mario, dia pun pasrah dengan pernikahannya bersama Mario.
"Aku mengsia-siakan, orang yang tulus mencintai ku. Demi dirimu, bahkan aku menutup mata ku demi dirimu,"
Akhirnya tangis Dania pun pecah, dia luruh di lantai memeluk lututnya dan membenamkan wajahnya, menangis sepuasnya. Menyesali seseorang yang telah dia sia-siakan.
"Maafkan aku Jimi," lirih Dania.
"Belajar menghargai lah tante, karena yang tulus belum tentu datang untuk yang ke dua kalinya," ujar Zea.
Perkataan Zea tempo lalu terus terngiang di kepalanya, ya Dania dan Zea telah bertemu pada saat Dania keluar dari ZeZone. Tak sengaja Zea mengenali Dania dari CCTV, karena toko sedang ramai Auriga pun tak menyadari sang adik yang keluar dari ruangan, dalih membeli tambahan makanan membuat Jimi percaya, dan mengizinkan sang anak keluar.
"Tante tahu, ayah ku sangat mencintai mu, bahkan dia mengabaikan cinta tulus ibuku. Hanya untuk menjaga cinta yang bertepuk sebelah tangan. Aku kecewa, saat tante menyakiti ayah ku kembali, berusaha untuk membuat tante, kembali padanya. Padahal pernikahan tante pun tak jelas, dia terpuruk dan sedih karena tidak membahagiakan ibu ku yang sudah pergi, karena tante." ucap Zea dengan datar.
Dania memejamkan mata dan menutup telinganya, pertemuan pertama dan terakhir untuk Dania dan Zea, karena Zea tak ingin melihat Dania lagi, sumber sakit sang ayah.
"Sudah hentikan... Hentikan, kenapa kamu selalu menyalahkan aku anak kecil," pekik Dania tanpa sadar, kebencian Zea dan Jimi membuatnya tertekan, dan tanpa sadar menimbulkan rasa bersalah. Tapi Dania mencoba abai.
Dan sekarang pun tak ada orang untuk dirinya bersandar, dulu saat dia sedih Jimi selalu ada untuknya, tapi sekarang dia sendiri. Entah sampai kapan Dania akan berhenti, dan merelakan Mario untuk Laura. Dan berhenti memikirkan dendam, dan menjalani hidup yang bahagia.
tbc...
Maaf typo
Jangan lupa tinggalkan jejak ya, makasih 🙏