Twin'S

Twin'S
Exstra Part.27



Bagaimana Dika bisa menemukan Anyelir, jika Anyelir mengganti namanya menjadi Melati. Anyelir pun merubah penampilannya, menjadi gadis desa yang kucel dan cupu. Dan warna kulitnya pun berubah jadi sedikit gelap, tentu saja anak buah Mario tak mengenali Anyelir.


Padahal sudah dua atau tiga kali, anak buah Mario yang di pimpin oleh Mike selalu berpapasan dengan Anyelir. Dan sempat menanyakan kepada Anyelir, namun dengan wajah biasa saja Anyelir mampu menjawab pertanyaan orang-orang yang mencarinya.


"Kenapa kalian, tidak bisa mencari satu wanita saja hah!" bentak Dika.


"Maaf tuan, wanita yang di foto memang tidak ada di mana pun. Kami sudah melakukan pencarian ke seluruh desa bahkan kota," jelas anak buah Mike.


"Maaf tuan, kemungkinan besar. Nona Anyelir berganti identitas atau perubahan wajah," tebak yang lainnya.


Dika tampak berpikir, namun Dika merasa Anyelir tidak mungkin melakukan itu. Tapi hati kecilnya mengatakan ya.


"Betul juga," gumam Dika.


"Aku akan ikut kalian mencarinya," putus Dika kemudian.


"Ya sudah kalian boleh pergi," sambung Dika kemudian.


Dika pun memutuskan untuk ke ruangan Mario, dia ingin meminta izin untuk tak masuk kerja.


"Memangnya kamu mau kemana?" tanya Mario.


"Aku ingin mencari Anyelir Pih," jujur Dika, lebih baik dia jujur pada sang ayah dari pada bohong.


"Bukannya anak buah mu sedang mencari Anyelir?"


"Iya pih, tapi ada kemungkinan Anyelir berganti identitas bahkan wajah."


"Lalu? Bagaimana kamu meyakinkan kalau itu Anyelir, jika menurut mu Anyelir telah berubah!"


"Aku bisa merasakannya dengan hati ku," jawab Dika mantap.


Mario mengehela napas panjang, dia menatap Dika yang persis dirinya bagai pinang di belah dua. Hanya mata saja yang menurun dari Laura.


"Dika lebih baik, kamu terima perjodohan mu dengan Jenny. Papi takut Anyelir juga sudah menikah," ujar Mario.


"Aku gak mau pih, tolong jangan paksa aku. Aku tidak mencintai dia," marah Dika.


"Jika papi terus memaksa ku, maka jangan salahkan aku. Jika aku pergi dari rumah," ancam Dika, dia pun berdiri dan berlalu begitu saja.


Mario hanya bisa menghela napas panjang, dan menatap pintu yang telah tertutup rapat. Sementara Dika memutuskan untuk pergi ke rumah Dela, dia akan curhat pada Dela tentang Mario.


"Hallo Dela," panggil Dika.


"Ya uncle rese, ada apa?" jawab Dela di sebrang telepon.


"Kamu dimana?"


"Di rumah, kenapa gitu?"


"Auriga ada?"


"Dia di kantor, pulang nanti sore. Aku di rumah bareng Ara karena Lula masih di sekolah, ada apa sih? Mau kesini? Pake sok bilang segala, biasanya juga langsung datang," cerocos Dela sebal, membuat Dika meringis.


"Ya udah aku otewe."


****


Sementara itu di Bandung, Anyelir yang mengetahui tengah di cari. Membuatnya selalu waspada, dia pun lebih banyak diam dan tak berinteraksi dengan siapa pun hanya menjawab singkat saja.


"Itu pasti orangnya Dika," gumam Anyelir, melihat orang yang sama sedang bertanya pada pemetik teh yang lain.


Anyelir pun pura-pura memilih teh yang akan di petik, anak buah Dika tersebut hanya lewat saja. Membuat Anyelir bernapas lega.


"Dika, berhentilah mencari ku. Aku harap kamu bahagia dengan pilihan orang tua mu," lirih Anyelir.


Dika pun baru sampai di rumah Dela, dan di sambut oleh Ara. Karena Dika adik Yumna, jadi otomatis Dika adalah kakek tiri dari Ara, namun Dika menolak dia lebih baik di panggil uncle juga. Karena dia merasa terlalu tua di panggil kakek.


"Hai cantik, apa kabar?" tanya Dika mencium pipi Ara.


"Baik uncle," ucapnya tersenyum.


"Ayok masuk," ajak Dela.


Untuk pertama kalinya, Dika masuk ke rumah baru Dela. Terdapat foto pernikahan Dela dan Auriga di dekat pintu masuk, tak lupa foto lainnya juga.


"Bentar yah, aku ambilkan minum dulu. Duduk aja uncle anggap rumah sendiri," kekeh Dela, membuat Dika memutar bola mata malas.


Dela pun meninggalkan Dika dan Ara, tak lama Dela datang dengan membawa minuman kemasan kopi dalam botol.


"Rumah mu gak ada pembantu?" tanya Dika.


"Belum ada, aku juga belum terlalu repot. Riga suka bawa kita makan di luar," kata Dela.


"Ohh.... Ya, sabtu ini aku mau pergi ke Bandung. Mau ikut gak?" tawar Dela.


"Engga ahh, mening cari Anyelir."


"Belum ketemu juga? Udah mau satu minggu loh!"


"Kata anak buah papi, menurut mereka Anyelir berganti nama atau merubah penampilannya agar tak di kenalin orang lain," ujar Dika menatap Dela.


"Papi juga, suruh aku nerima perjodohan dengan si Jenny. Anaknya Alderik, gue sih ogah," kesal Dika, sudah dengan bicara gue lagi.


"Aku gak setuju yah!" tolak Dela.


"Aku gak suka dia, dia artis pasti kerjanya syuting di luar dan jarang pulang. Bisa kebayang kalo kamu nikah sama dia," cetus Dela, membayangkan artis yang sudah menikah tapi sangat mesra dengan lawan mainnya.


Hening di antara mereka, hanya terdengar celotehan Ara yang tengah bermain dengan boneka kesayangannya.


"Teru gue harus gimana sekarang?" tanya Dika lirih, menatap kosong ke depan.


"Semangat uncle jangan nyerah, aku yakin Anyelir pasti gak terlalu jauh dari sini. Dia gak mungkin pergi jauh," kata Dela menyemangati Dika.


Semoga suka 💞


Maaf typo