Twin'S

Twin'S
Exstra Part.12



Semoga suka


Sementara itu Yumna yang mengetahui sang anak belum pulang, dia memutuskan untuk menghubungi Laura.


"Ibu."


"Ya sayang," jawabnya setelah mengucap salam.


"Dela sudah pulang? Biasanya dia suka ngasih kabar, kalau mau pulang ke rumah. Tapi hari ini dia gak ada ngabarin bu,"


"Dela tidak di sini Yumna, Dika bilang Dela hanya menitip absen kuliah. Tadi habis sarapan, dia bilangnya mau pulang ke rumah." Jelas Laura.


"Ya ampun anak itu, kemana dia? Ya sudah bu makasih."


Setelah mendapat salam dari Laura, Yumna mematikan sambungan teleponnya. Dia mencoba menghubungi sang anak namun tak mendapat jawaban.


"Dela kemana sih?"


"Kenapa sayang?" tanya Bara, yang baru pulang kerja.


"Sayang, kamu ngagetin aja sih."


"Maaf, tadi aku sudah mengucap salam tapi kamu asik dengan ponsel mu. Apa aku sudah tak menarik lagi hem?"


Yumna mengalungkan tangannya di leher Bara, mengecup sekilas bibir sang suami.


"Kamu tetap selalu menarik di mata ku sayang, malah aku yang semakin tua," kekeh Yumna.


"Kita hanya terpaut tiga tahun sayang, kamu masih seperti dulu. Dan hebat di ranjang juga," bisik Bara mengedipkan matanya genit.


"Nakal kamu ihh," kekeh Yumna.


"Ayok mandi, aku siapkan makan."


Yumna dan Bara memasuki kamar mereka, Yumna menyiapkan baju santai untuk Bara. Setelah menyiapkan baju santai, dia langsung menyiapkan makan malam tak lupa Yumna memanggil Tatiana.


****


"Ara, ka Dela harus pulang. Ini sudah malam sayang," ucap Dela.


"Ka Dela nginap aja di rumah tante Zea," balas Ara.


"Iya ka, kakak nginap yah disini. Tidur sama aku lagi," pinta Lula.


"Gak boleh, ka Dela cuma boleh tidur sama aku ka Lula," pekik Ara.


Dela menggaruk kepalanya yang tak gatal, bingung harus menjawab apa. Seharian ini dia belum memberi kabar pada Yumna, Dela yakin Yumna akan marah.


"Tapi sayang, besok ka Dela harus pergi ke kampus. Hari ini ka Dela bolos loh!" bisiknya pada Lula dan Ara.


"Hah! Ka Dela bolos?" tanya Ara berbisik pula.


"Iya, nanti kalo lama gak masuk. Ka Dela bisa di keluarin dong!"


"Ya sudah, tapi nanti ka Dela ke sini lagi yah? Ayah bolehkan ka Dela ke sini lagi besok?" tanya Ara penuh harap.


"Iya boleh," balas Auriga.


Ara pun bersorak senang, besok dia akan menyuruh Dela menuju apartemen milik ayahnya. Dia akan bermain seharian di apartemen milik ayahnya.


"Ya sudah kaka pulang dulu ya," pamit Dela.


Ara dan Lula mengangguk kompak sebagai jawaban, kemudian Dela mencium pipi Ara dab Lula bergantian memeluk mereka. Dela pun berpamitan pada tuan rumah.


"Jangan bosan main ke sini Del," ujar Zea.


"Iya mbak, aku gak akan bosan ko," kekeh Dela.


"Kamu harus kenalan dengan putri ku, dia mungkin seusia dengan mu atau malah kamu lebih muda."


"Iya mbak lain kali saja, kalau gitu aku permisi. Om Jimi, ka Keano mari," pamit Dela.


"Hati-hati," jawab Jimi dan Keano serempak.


Sementara Auriga akan mengantar Dela sampai, ke halaman rumahnya walau dia membawa mobil sendiri.


****


Tepat pukul sembilan malam, Dela sudah sampai di halaman depan rumah orang tuanya. Dia turun dari dalam mobil, dan menemui Auriga.


"Makasih ka Auriga," ucapnya.


"Sama-sama, aku pulang dulu," pamit Auriga, di jawab anggukan oleh Dela.


Setelah mobil Auriga menjauh, Dela masuk ke dalam rumah dan mendapati Yumna sudah berdiri di depan ruang tamu.


"Dari mana?" tanya Yumna dingin, di sebelahnya Bara mencoba meredam amarah Yumna.


"Dari rumah temen bun," jawabnya pelan.


"Laki-laki atau perempuan?"


Dela bingung harus menjawab apa? Jika dia bilang laki-laki maka Yumna akan marah.


"Kenapa diam? Jawab Radela."


"Sabar bun, jangan marah-marah." Ucap Bara menenangkan.


"Kamu dari mana Dela?" bentak Yumna.


"Aku dari rumah temen bu, abi ngerjin tugas." Bohong Dela.


"Berani berbohong ya kamu," marah Yumna.


"Engga bun, aku memang...."


Sebelum Dela melanjutkan ucapannya, Yumna sudah memotong ucapan Dela.


"Cukup, jangan bohong. Dari mana kamu?"


"Dari rumah Ara," cicit Dela, menunduk enggan menatap sang bunda.


"Ara yang ayahnya duda itu? Kenapa? Kamu mau jadi ibunya?" tanya Yumna dingin.


"Bukan bu, aku gak akan jadi ibunya."


"Lalu apa? Jadi pengasuh seperti itu? Apa uang ayah dan bunda mu kurang hah," bentak Yumna.


"Engga bun, bukan aku cuma..."


"Bunda gak suka kalau kamu, berhubungan dengan orang tuanya Ara Dela. Bunda gak suka, jika sampai jatuh cinta, bunda tidak akan pernah memberikan mu restu." Marah Yumna, kemudian pergi meninggalkan ruang tamu.


"Urus saja anak mu," teriak Yumna.


"Ayah." lirih Dela terisak.


"Bunda mu tidak menyukai keluarga Ara Dela, ada alasan yang tak bisa kita beritahu pada mu. Demi perasaan bunda mu," papar Bara.


Bara berdiri dari duduknya, mendekat pada Dela dan memeluknya.


"Kamu sabar ya, sekarang kamu istirahat," pinta Bara. "Biar ayah, yang bicara dengan bunda mu secara pelan. Ok," sambungnya lagi.


"Baik ayah, terima kasih. Ayah selalu yang paling ngerti aku," ucap Dela memeluk Bara.


Bara tersenyum pada Dela, kemudian Dela melangkah gontai ke dalam kamar. Pikirannya selalu di penuhi dengan kenapa bundanya tidak menyukai keluarga Ara?


****


Di kamar Yumna, dia sedang menangis Bara memeluknya dari belakang. Mengusap punggung sang istri agar tenang.


"Mereka belum resmi sayang, Dela benar-benar menyayangi Ara dan Lula. Aku tau kamu masih sakit hati sama tuan Jimi," ucap Bara lembut.


"Dela tidak tahu, bagaimana sakitnya aku saat mereka mengancam ku. Aku bukannya cemburu pada Zea atau belum move-on dari Keano, malah aku tak peduli padanya. Aku mencintai mu Bara, yang buat aku sakit hati kenapa Dela haru dekat dengan anak-anak Auriga! Jimi juga hampir merenggut nyawa ku," cerita Yumna sambil terisak, dalam pelukan Bara.


"Sudah sayang, jangan nangis lagi." Ucap Bara menenangkan.


"Mulai besok aku akan antar jemput Dela, supaya mereka gak selalu ketemuan," tegas Yumna, membuat Bara tertawa.


"Kenapa ketawa?" tanyanya ketus.


"Yakin Dela mau di antar jemput? Yang ada dia risih karena kamu perlakukan dia seperti Tatiana," kekeh Bara.


Yumna mencubit perut Bara, kemudian membalikan badan membelakangi Bara.


"Kamu selalu nyebelin, sama kaya Dika."


Lagi-lagi Bara tertawa, memeluk Yumna dengan erat.


"Dia kan ipar ku, adik kamu. Sekarang kamu tidur ya."


Yumna pun memeluk Bara erat, Yumna mana bisa tahan marah pada Bara lama. Apalagi dia tak rela kehilangan pelukan hangat suaminya itu.


****


Pagi pun tiba, Dela masih saja bergelung di bawah selimut. Yumna sudah berulang kali membangunkan dirinya.


"Radela bangun," teriak Yumna dari luar.


"Bentar lagi bun," jawabnya.


Tentu saja Yumna tak mendengar, Yumna kembali berteriak sambil menggedor pintu kamar sang anak. Tak peduli jika rumah ini akan roboh, Yumna tidak peduli.


"Iya... Iya, bunda ini aku bangun," ucapnya cemberut, membuka pintu menatapnya dengan tajam.


"Anak gadis jangan males bangun pagi kamu, cepet mandi lalu sarapan. Kamu kuliah jam berapa?" tanyanya.


"Jam sepuluh bunda,"


"Ya sudah nanti bunda antar, lalu jemput adik mu."


"Apa?" pekik Dela. "Bunda mau antar aku ke kampus? Kenapa? Kaya anak kecil aja," dengus Dela.


"Supaya kamu gak ketemu sama duda itu," ucap Yumna ketus.


Dela berdecak kesal, bundanya ini keterlaluan apa kata uncle resenya nanti jika dia liat. Hah Dela benar-benar pusing, dan mengacak rambutnya frustasi.


"Aku mandi dulu," pamitnya menutup pintu.


Tak lama Dela sudah menyelesaikan mandinya, dia akan turun saat bundanya pergi mengantarkan adiknya ke sekolah.


"Mudah-mudahan bunda pergi ke sekolah Tiana," gumamnya.


Tapi sayang semuanya itu hanya khayalannya saja, nyatanya Yumna ada di rumah. Sedangkan Tatiana pergi bersama Bara.


"Kenapa liatin bunda gitu?" tanya Yumna.


"Gak apa-apa, kok." Balasnya cemberut.


Dela mengambil roti bakar, dan di olesi selai coklat kesukaannya tak lupa di tambah irisan pisang.


"Pokoknya aku gak mau di antar jemput sama bunda yah!" protes Dela.


Sayang Yumna tak mendengarkan Dela, seolah pura-pura sibuk dengan ponselnya. Membuat Dela cemberut dan berdecak kesal.


Pukul setengah sembilan pun tiba, dengan terpaksa Dela di antar oleh Yumna. Dela mencium punggung tangan Yumna, setelah sampai di depan gerbang.


"Nanti bunda jemput, awas jangan kabur. Kalau kabur bunda gak akan kasih kamu uang jajan," ancam Yumna, Dela hanya memutar bola mata malas.


Toh dia bisa minta pada ayahnya atau merengek pada Mario, Dela pun turun dan memastikan mobil bundanya sudah melaju. Di parkiran dia bertemu dengan Dika yang tersenyum meledek.


"Anak mamah, tumben di antar," ledek Dika.


"Diem uncle rese, berisik," ketus Dela, berjalan meninggalkan Dika.


****


Jam pulang pun tiba, Dela sudah di tunggu oleh Auriga. Namun Yumna belum datang. Karena harus mengantar Tatiana les berenang.


"Dela," panggil Auriga saat melihat gadis tersebut.


"Ka Riga," gumam Dela. "Aduh gimana kalo bunda liat? Pati marah."


Dela melirik kesana kemari mobil Yumna, tapi mobil yang akan menjemputnya itu belum ada.


"Kenapa?" tanya Auriga sekarang sudah mulai lembut.


"Ahh... Ka Riga ngagetin aku aja," kekeh Dela canggung. "Engga kok ka," sambungnya lagi.


"Ayok Ara sudah nunggu, aku janji bakal jemput kamu padanya."


"Iya ka."


Dela pun pasrah di bawa oleh Auriga, dan salahnya Dela tak memberi tahu pada Yumna. Hanya pada Dika saja saat pas-pasan di gerbang kampus. Dia berharap bundanya lupa untuk menjemput dirinya, dan saat pulang tak mengamuk.


tbc...


Maaf typo


Jangan lupa tinggalkan jejak, makasih 🙏