Twin'S

Twin'S
Bab.15



💞💞💞


Setelah proses pembersihan selesai, Laura di bawa ke ruang perawatan VIP. Atas permintaan nyonya Antiah sang nenek dari kedua cucu kembarnya. Dan nyonya Antiah akan berancana menjenguk kedua cucunya besok.


Sedangkan Mario, dia tidak di beri tahu sama sekali. Karena Laura tau bahwa Mario di tahan oleh Dania.


Laura memandangi bayi yang terlelap di pangkuannya, sedangkan yang satu sedang terlelap dengan nyaman di box bayinya.


"Kalian begitu mirip ayahmu, tidak ada sedikit pun aku." Kekeh Laura, dia yang mengandung dan melahirkan, tapi tak ada satu pun yang mirip dengannya.


Tiba-tiba pintu kamar rawat Laura terbuka, Jakie datang dengan membawa banyak makanan di tangannya. Setelah meletakan makanan di atas meja, Jakie mendekat kepada Laura dan meraih bayi cantik itu untuk di letakan di box bayi. Yang bersebelahan dengan sang kakak.


Kemudian Jakie menata makanan yang dia bawa, dan memberikannya pada Laura.


"Tuan, terima kasih sudah mau di repotkan. Sudah menemani aku melahirkan." Lirih Laura, dengan mata yang akan berkaca-kaca.


"Tidak apa-apa nona, itu sudah tugas saya membantu anda. Anda menantu dari nyonya Antiah." Jelas Jakie, Laura tersenyum getir. Hanya mertuanya yang peduli padanya, sedangkan Mario. Dia sama sekali sulit di hubungi sampai sekarang.


"Segeralah makan nona," perintah Jakie, di jawab anggukan oleh Laura.


Laura, dan Jakie makan dalam diam, sampai makanan mereka habis. Jakie dengan setianya membantu membereskan bekas makan Laura.


"Sekarang anda istirahat saja, nona." Pinta Jakie.


"Baiklah, terima kasih sekali lagi." Ucap Laura.


💞💞💞


Pagi pun tiba, Laura sudah bangun dari tidurnya karena putri kembarnya menangis dengan hebohnya. Di bantu oleh perawat bayi kembar Laura di bersihkan, dan di beri Asi satu persatu.


Tepat pukul delapan pagi, nyonya Antiah datang rencananya dia akan menemani Laura sampai pulang.


"Ibu." Ucap Laura, menyambut pelukan nyonya Antiah.


"Bagaimana keadaanmu, nak ?" tanya nyonya Antiah.


"Aku baik-baik saja bu, bahkan nanti siang dokter bilang boleh pulang." Balas Laura antusias.


"Boleh ibu, lihat cucu ibu ?" tanyanya pada Laura, dan Laura pun menganggukan kepalanya sebagai jawaban.


Nyonya Antiah melihat cucu kembarnya, dan mengusap wajah mungil cucu kembarnya dengan sayang. Dia melihat seksama wajah cucunya tersebut begitu mirip Mario versi permpuan.


Nyonya Antiah terkekeh merasa gemas dengan mereka, seketika tatapaannya sendu. "Laura apa kau yakin akan keputusanmu ?dengan memberikan mereka pada Mario ?!" tanya nyonya Antiah, sambil menatap si kembar.


Laura bingung ingin menjawab apa, dia tidak gau apakah Laura akan memberikan salah satunya ?atau keduanya ?


"Aku tidak tau, bu." Cicit Laura.


"Ibu, akan selalu mendukung apapun keputusanmu Laura." Balas nyonya Antiah.


Siang pun tiba, Laura dan kedua putri cantiknya telah pulang. Di dalam perjalanan tak hentinya nyonya Antiah merekahkan senyumnya di wajah yang tak lagi muda, namun masih terlihat cantik.


"Apa Mario tau kamu sudah melahirkan ?" tanya nyonya Antiah.


"Tidak, dia belum tau bu. Biarkan saja aku akan mengantarkan mereka pada ayahnya." Ucap Laura pelan.


"Anak itu." Geram nyonya Antiah.


Nyonya Antiah sungguh tidak habis pikir pada anak semata wayangnya tersebut, selalu sesuka hatinya.


Berpuluh menit kemudian akhirnya mereka sampai di unit Laura. Laura sedang duduk memandangi bayi mungil cantiknya dengan seksama. Sedangkan nyonya Antiah sedang beristirahat di kamar tamu.


"Mamah belum memberimu nama nak," Laura tersenyum getir, mengusap air mata yang meluncur tanpa permisi.


"Bagaimana jika mamah kasih nama kakak, Yumna ?" tanya Laura pada sang anak, yang sedang tertidur.


"Yah, Yumna Anjani." Ucap Laura. "Dan kamu, dek mamah kasih nama..." Laura berpikir untuk memberikan nama yang cocok pada sang anak.


"Ahh ya, Yusra Almira Wiriadinata."


Lauta tersenyum menatap sang anak, untuk terakhir kalinya. Tapi pikirannya berubah. "Bagaimana, jika aku membawa salah satu dari mereka ?aku juga menyayangi mereka." Lirih Laura, mulai bimbang.


Laura membereskan semua barang-barangnya, dan dia menemukan sebuah kotak oleh-oleh dari Bali. "Ini milikmu Yumna." Gumam Laura.


Kemudian Laura membawa sebuah kalung hati, yang dia beli tempo lalu saat jalan-jalan bersama Mario. "Kalung ini, untukmu Yusra." Ucap Laura lirih, kemudian Laura menulis surat untuk Mario, dan menyelipkan kalung itu di dalam surat tersebut.


💞💞💞


"Aku sudah membuat keputusan bu," kata Laura.


"Apa keputusanmu ?apapun itu ibu akan mendukungmu nak." terang nyonya Antiah.


"Aku akan membawa salah satu dari mereka," cicit Laura, menatap nyonya Antiah takut.


Nyonya Antiah tersenyum tulus, menatap Laura dia iba akan nasip Laura yang di campakan oleh Mario.


"Ibu akan mendukung mu nak, bahkan ibu akan merahasiakannya dari Mario." Tutur nyonya Antiah.


"Terima kasih bu," Laura menghambur ke pelukan nyonya Antiah.


"Ou yah, siapa nama mereka ?" tanya nyonya Antiah.


"Kakak nya bernama Yumna, dan adiknya bernama Yusra." Jawab Laura.


"Lah kaya judul sinetron yah." Nyonya Antiah tertawa.


"Iya juga yah bu." Laura pun ikut tertawa, dan larut dalam kebahgiaan mereka.


💞💞💞


Sementara itu di tempat lain, entah mengapa sejak kemarin Mario tidak enak hati. Dan selalu kepikiran dengan Laura.


"Mudah-mudahan, kamu baik-baik saja Laura." Doa Mario dalam hati.


"Apa yang kamu pikirkan ?" tanya Dania, melihat raut khawatir dari Mario.


"Tidak ada," balas Mario cepat, sebelum Dania mengomel panjang lebar, dan Mario mencoba memejamkan matanya.


"Besok kamu bisa pulang, Dania aku lupa memberi tahumu." umum Mario.


"Benarkah ?" pekik Dania, dan Mario mengangguk.


"Jadi cepat tidur," perintah Mario.


Tak lama Dania terlelap, ponsel Mario bergetar. "Laura." Gumam Mario.


Akhirnya Mario mengangkat panggilan dari Laura, Mario keluar ruangan dan duduk di kursi tunggu.


"Hallo."


"Ha--halo, mas." Jawab Laura gugup. "Bagaimana keadaannya nyonya Dania ?" lanjutnya lagi.


"Dia baik, besok boleh pulang."


Walau lewat panggilan telpon, Mario, dan Laura merasakan canggung.


"Laura kalau tidak ada lagi, yang ingin kamu bicarakan sebaiknya akhiri panggilan ini. Aku tidak mau Dania marah." Jelas Mario.


Membuat Laura yang di sebrang sana meneteskan air matanya.


"Baiklah, aku akan memutuskan sambungan ini."


"Tentunya, dengan hubungan kita." Jerit Laura dalam hati.


Setelah sambungan telpon teeputus, Mario terduduk di kursi tunggu dengan menangkup wajahnya dan menyembunyikan kesedihannya.


Sementara itu, Laura yang baru selesai menidurkan anaknya dan memutuskan untuk menghubungi Mario, malah mendapatkan perkataan yang tidak dia ingin dengar.


"Kau hanya ingin kasih tau kamu, bahwa anak kita sudah lahir. Tapi ke khawatiran mu membuktikan bahwa aku tau siapa yang kamu pilih. Maka tekat ku untuk pergi darimu semakin kuat." Lirih Laura.


"Perjanjian kita, sudah selesai Mario."


Laura memutuskan untuk segera beristirahat, agar besok dia bersiap untuk pergi dari apartemen Mario. Dan menemui sang ibu. Mudah-mudahan sang ibu masih mau menerimanya, di saat dia pulang membawa seorang bayi.


tbc...


Maaf typo.


Jangan lupa like dan komen. Makasih 🙏