Twin'S

Twin'S
Exstra Part.11



Semoga Suka 💓


Beda orang beda kisah cintanya, Dika kini sedang bucin-bucinnya. Dia sudah sampai di kontrakannya Anyelir dan akan mengajak gadis itu jalan-jalan.


"Ka Dika." Anyelir tersenyum pada Dika, setelah membuka pintu.


"Anye, maaf ya tadi sore gak jadi jemput," ucapnya penuh sesal.


"Gak apa-apa kok ka, masuk ka." Ajak Anyelir.


"Gak usah Nye, di luar aja. Gak enak sama tetangga," ujar Dika.


"Ok, ka Dika duduk dulu. Aku mau ambil minum," balas Anyelir, Dika pun duduk di terlas depan dan Anyelir membuatkan dirinya minum.


"Di minum ka," ucap Anyelir, meletakan dua cangkir coklat panas.


"Makasih," balas Dika.


Suasana malam yang cerah, membuat dua insan tersebut larut dalam lamunannya.


"Hati-hati ya! Jangan sampai kebablasan," celetuk tetangga Anyelir, membuyarkan lamunan Dika dan Anyelir.


"Gak akan," ketus Anyelir mengembuskan napasnya secara kasar.


"Mereka emang selalu gitu yah?"


"Iya, mereka selalu kepo dan ikut campur urusan orang." Kata Anyelir.


"Kenapa kamu gak pindah? Dan bisa tahan sama tetangga kaya gitu!"


"Engga aku udah betah disini ka, selain gak terlalu jauh sama tempat kerja. Disini juga murah," kekeh Anyelir.


Dika hanya menganggukan kepala saja sebagai jawaban, jika pun dia menawarkan untuk pindah pasti Anyelir gak akan mau. Dia pasti akan berucap terlalu merepotkan Dika, dan tidak mau di katai cewek matre.


Tapi Dika bertekad untuk membuat rumah impian dengan Anyelir suatu saat nanti, mereka pun terlibat obrolan ringan. Sesekali bercanda. Acara jalan-jalan pun batal, karena Anyelir tidak mau dia beralasan terlalu lelah. Dan Dika pun menurut saja.


****


Sementara itu di kediaman Zea, Auriga sudah menatap tajam Lula. Karena dia yang bolos dari sekolah, dan Auriga akan menginap untuk semalam di rumah Zea.


"Memangnya kamu sudah hebat, berantem di kelas hah?" bentak Auriga.


"Auriga, jangan membentak Lula. Dan pelan kan suara mu," tegur Jimi.


Tapi Auriga tidak menanggapi ucapan Jimi, membuat Jimi geleng-geleng kepala. Sedangkan Zea sedang menemani Ara dan Manda di kamar, Zea tidak ingin Ara melihat kemarahan Auriga.


"Wali kelas mu bilang, kamu mukul salah satu teman kamu, benar begitu?" tanya Auriga.


Melihat Lula diam saja, membuat Auriga kesal.


"Jawab Qailula."


"Ka Riga, sabar." Ucap Keano.


"Lo bilang sabar, lo gak akan ngerti rasanya ngebesarin anak sendiri. Lo gak akan ngerti Keano," pekik Auriga, dengan muka merah.


"Auriga cukup, daddy mengerti keadaan mu. Kamu lupa, daddy membesarkan kamu dan Zea, tanpa seorang istri. Tanpa seorang ibu untuk kalian," ujar Jimi dengan tegas.


Auriga pun terduduk, dia lupa jika daddy-nya membesarkan dirinya seorang diri. Kadang di bantu oleh kakek dan neneknya atau asisten rumah tangga. Tapi Auriga tidak menyewa baby sitter atau menggunakan jasa pembantu, dia menatap Lula yang terisak sambil menunduk.


"Maafkan aku dad," sesal Auriga. "Aku kecewa sama Lula, karena dia berbuat kasar pada orang lain. Aku ingin mendengar penjelasan dari dia, bukan dari orang lain saja." Jelasnya.


"Baiklah, Lula sayang. Ayok katakan kenapa kamu sampai nekat pukul teman kamu?" tanya Jimi dengan lembut mengusap punggung tangan sang cucu.


"Teman-teman ku, selalu ledekin aku Ba. Mereka bilang aku gak punya ibu lah, ibu ku pergi karena aku nakal atau apalah. Tapi aku selalu diam, tadi mereka duluan yang dorong aku sambil bilang aku gak punya ibu terus saja seperti itu." Jelas Lula terisak.


Lula menatap sang ayah, yang juga menatapnya dengan air mata yang berlinang.


"Ayah tau, aku selama ini diam gak lawan mereka. Mereka gak tau apa yang terjadi, ibu pergi karena Ara. Dari awal aku gak mau punya adik," ujar Lula, kemudian Lula berdiri meninggalkan ruang tamu.


"Lula," panggil Auriga.


"Biar daddy saja," cegah Jimi.


Auriga menghembuskan napasnya secara kasar, dia menyandarkan punggungnya dan memejamkan mata.


"Saran saja ka, sebaiknya kamu menikah lagi. Turunkan ego mu. Demi kedua putri mu yang tak pernah akur," papar Keano.


Keano pun menepuk pundak Auriga, dan meninggalkan dia sendiri di ruang tamu. Sementara Lula di tenangkan oleh Jimi di kamarnya.


****


Pagi pun tiba, Dela memutuskan untuk pulang dia akan bolos kuliah atau nitip absen pada Dika.


"Kenapa lo gak kuliah? Galau yah?" goda Dika.


"Diem deh, pusing tau." Kesal Dela.


"Halah paling lo, galauin mas duda," kekeh Dika.


"Dika uncle rese."


Dika pun tertawa puas, dia menyusul Dela yang sudah menuruni anak tangga.


"Kenapa sih kalian ini, pagi-pagi udah ribut sih! Ayok makan, papi udah nunggu di meja makan," ujar Laura, kemudian mereka mengikuti langkah Laura menuju ruang makan.


"Loh ada ka Yusra juga, tumben pagi-pagi dah ke sini?" tanya Dika.


"Lah suka-suka aku dong, ini rumah papi dan ibu. Bukan rumah kamu," ketus Yusra.


"Maira kemana tan?" tanya Dela.


"Dia ada kunjungan ke museum gak tau kemana lagi deh, dua hari katanya. tadi Hito antar sekalian ke kantor ehh yang punya kantor masih di rumah sarapan," kekeh Yusra menatap Mario.


"Kalo mamah Wina, dia sedang liburan dari kemarin," sambungnya lagi, di jawab anggukan oleh Dela dan Dika.


"Sudah-sudah kita makan," ucap Mario.


Mereka pun sarapan seperti biasa, dengan keributan Dika dan Yusra. Sedangkan Dela merasa tak mood untuk ikut berdebat dengan tante dan unclenya tersebut.


****


Setelah sarapan Dela memutuskan untuk pulang saja, karena dia ingin menenangkan diri di kamar kesayangannya. Tapi sebelum pulang Dela memutuskan untuk pergi ke taman.


Di taman pun dia hanya duduk dan memandang, orang-orang yang sedang berolahraga.


"Boleh duduk!" tanya Auriga yang kebetulan berada di taman juga.


"Silahkan, ini tempat umum ko," jawabnya cuek.


"Gimana kabarnya Ara?" tanya Dela memulai pembicaraan.


"Baik, dia selalu ingin bertemu dengan kamu. Yang kemarin makasih sudah menolong Lula," ucap Auriga.


"Sama-sama, yang nolong aku sama Dika."


Auriga menatap Dela, dan mulai berpikir bagaimana jika dia menjalin hubungan dengan Dela. Yang pantas menjadi anak atau keponakannya, Auriga menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin juga Dela mau pada dirinya yang seorang duda dua anak, apa kata mulut julid dan pedas.


"Kenapa?" tanya Dela, yang melihat Auriga menatapnya.


"Kamu mau jadi pacar ku?" ucap spontan Auriga.


"Hah!"


"Kesambet apa, ayahnya Ara? Apa gak salah? Dia ngajak gue pacaran, heh mungkin kuping gue salah denger. Tapi kalo bener gimana coba?" batin Dela.


"Sory, gak bermaksud. Lupain aja ucapan ku tadi, kamu mau ketemu Ara? Dia pasti senang kalau kamu main ke rumah Zea," ujar Auriga dia mencoba menyampingkan gengsi dan menurunkan ego demi kedua putrinya.


"Memang boleh?"


"Boleh, memang siapa yang melarang. Ayok," ajak Auriga.


"Tapi saya bawa mobil sendiri," ujar Dela.


"Ya sudah pake mobil masing-masing," balasnya.


Dan Dela menganggukan kepala sebagai jawaban. Mobil Auriga berada di depan dan Dela mengikutinya dari belakang, berpuluh menit kemudian. Mereka sudah sampai di halaman rumah Jimi, yang tak kalah mewah dari rumahnya Mario.


"Mari masuk," ajak Auriga.


Baru akan duduk, suara jeritan Ara sudah terdengar.


"Ka Dela," pekik Ara, langsung berlari ke arah Dela.


Ara yang menubruk Dela dengan kuat, hampir saja terjatuh kalau tidak ada Auriga yang menahan tubuhnya.


"Ara sayang, hati-hati. Nanti ka Dela jatuh," tegur Auriga.


"Maaf ayah, ka Dela gak apa-apa kan? Maafkan aku ya! Aku seneng banget soalnya, udah beberapa minggu gak ketemu kaka," ucap Ara.


"Gak apa-apa sayang, lain kali jangan lari-lari yah! Nanti kamu jatuh." Ujar Dela, di jawab anggukan oleh Ara.


"Kemana yang lain?" tanya Auriga.


"Tante Zea lagi jemput ka Manda ayah, baba lagi tidur saat nemenin aku main," cerita Jimi.


"Ohh... Biarkan baba, istirahat." Ujar Jimi.


"Saya ke dalam dulu, kalau ada apa-apa kamu bisa panggil saya Dela," terang Auriga.


"Iya," balas Dela.


Seharian itu Dela bermain bersama Ara, saat tidur siang mereka pun tidur bersama. Jimi yang baru tahu kedatangan Dela membiarkan saja mereka, Dela melupakan memberi kabar pada kedua orang tuanya hingga petang menjelang, karena pada saat Dela bangun tidur sudah ada Lula yang menunggu dirinya.


Dela pun cukup senang bermain bersama Lula, Manda dan Ara. Mereka anak baik, apa lagi Dela melihat Lula yang mulai perhatian pada adiknya walau masih kaku.


"Semoga ini awal yang baik, nak." Ucap Jimi, menepuk pundak Auriga yang tengah memperhatikan anak-anaknya tertawa bahagia di samping Dela.


"Mudah-mudahan saja dad," balas Auriga


tbc...


Maaf typo


Jangan lupa tinggalkan jejak, makasih 🙏