
Pagi-pagi sekali Laura sudah pergi ke kediamannya Mario. Dia ingin meminta tolong untuk mencari Yumna, walau bagaimana pun juga Yumna adalah putrinya juga. Tanpa berpamitan pada Anjani Laura menyusuri jalan yang masih sepi, beruntung ada tukang ojek yang sudah mangkal pagi-pagi.
"Antar saya ke alamat ini ya pak!" pinta Laura, sambil menunjukan alamat rumah Mario.
"Baik mbak, tapi ongkosnya agak mahal. Soalnya jauh dari sini,"
"Gak apa-apa pak, saya akan bayar. Tapi bapak tungguin yah,"
"Baik mbak, ayok naik."
Laura pun duduk dengan gelisah, dia sangat mencemaskan keadaan Yumna yang tak tahu dimana. Beberapa menit kemudian, Laura sudah sampai. Keadaan jalan yang belum terlalu ramai, memudahkan ojek yang membawa Laura sampai di tempat tujuan.
"Tunggu ya, pak. Saya gak akan lama,"
Dengan tergesa Laura berjalan ke pos satpam, dan memberitahukan bahwa dia ingin bertemu dengan Mario.
"Tapi tuan Mario, mungkin masih tidur nyonya."
Pak satpam yang mengenal Laura pun memanggilnya nyonya, karena dia adalah ibu kandung dari Yusra.
"Nyonya Laura," panggil Mala, saat melihat Laura memohon pada satpam.
"Mala,"
"Nyonya sedang apa pagi-pagi sekali disini?" tanya Mala.
"Mala tolong beritahu Mario, aku ingin bertemu," pinta Laura.
"Tapi tuan Mario belum bangun,"
Laura memejamkan matanya. "Izinkan saya masuk, Mala."
"Baiklah, nyonya tunggu dulu di dapur saja," usul Mala.
"Baiklah, tidak apa-apa."
Kemudian Laura berpesan pada tukang ojek, untuk menunggunya lebih lama.
"Gak apa-apa kan pak? Nanti saya, double deh bayarnya,"
"Baik mbak, saya akan tunggu."
"Baiklah, terima kasih."
Kemudian Laura mengikuti langkah Mala, menuju dapur. Keadaan dapur sendiri sudah ramai dengan aktifitas memasak.
"Ini di minum, nyonya,"
Mala memberikan segelas coklat panas, untuk Laura dan juga roti bakar selai strowberi.
"Makasih Mala,"
"Sama-sama, anda tunggu saja dulu disini,"
Laura pun menjawab dengan anggukan, saat sedang asik memperhatikan foto Yusra dan Mario, tiba-tiba sebuah suara mengagetkan dirinya.
"Apa yang sedang anda lakukan disini?" tanya Yusra datar.
"Yusra," lirih Laura.
"Ibu ingin, bertemu dengan ayah mu."
"Untuk apa?"
"Ingin membicarakan, kakak mu yang hilang," ujar Laura, menatap Yusra yang tanpa ekspresi.
"Kenapa harus di cari? Diakan sudah dewasa, bukan anak kecil lagi," sahut Dania tiba-tiba sudah berada di belakang Yusra.
"Nah! Mami betul, dia sudah dewasa buat apa di cari,"
"Yusra, kamu tidak ada simpatinya saudara mu hilang," geram Laura.
******
Beberapa menit mereka berdebat, tak lama Mario tidur masih mengenakan piyama tidurnya. Karena mendengar ribut-ribut di bawah, Mario langsung saja menuju lantai bawah.
"Laura," ucapnya kaget. "Laura, sedang apa kamu disini?" tanya Mario.
Laura menoleh pada kedatangan Mario, kemudian dia menghampiri Mario.
"Mario tolong cari Yumna, sudah beberapa hari dia tidak pulang," isak Laura.
"Apa?" pekik Mario.
Membuat Yusra memutar bola mata malas, dan Dania hanya mencebik kesal.
"Memangnya dia kemana?"
"Entahlah aku tidak tahu, waktu itu di acara pernikahan Keano, dia sempat pergi ke toilet. Aku kira dia pulang tapi, setelah di tunggu dia tidak pulang Mario," tutur Laura, dengan isak tangis.
"Sudah Laura, kita akan mencarinya. Kamu tenang dulu, ok."
"Yusra, dia kakak mu."
"Aku tidak punya kakak, Pih."
"Yusra papi mohon, jangan buat masalah ini semakin runyam. Selama ini papi selalu menuruti apa kata mu, dengan melarang papi menemui Yumna," ujar Mario menatap Yusra dengan tajam.
"Sudahlah nak, biarkan papi mu mencari anak yang lain. Mami akan membantu mu mempersiapkan pernikahan mu dengan Hito," jelas Dania, kemudian Dania membawa Yusra pergi dari ruang tamu.
Yusra menatap sinis Laura, ibu yang telah melahirkannya. Mario mengusap wajahnya frustasi.
"Jika kamu tidak mau mencari anak ku, aku tidak masalah. Setidaknya, jangan buat anak ku yang lain membenci ku, jika anak ku tidak kembali pada ku." Ujar Laura, kemudian dia melangkah pergi meninggalkan Mario. Yang terlihat kebingungan.
Mario menatap punggung Laura yang menjauh, dengan diam-diam, Mario masuk ke ruang kerjanya. Dan memutuskan untuk menghubungi anak buahnya, Mario memerintahkan untuk mencari Yumna.
"Kamu tenang saja Laura, aku akan membantu mu mencari anak kita."
Laura mengusap kasar air matanya.
"Kenapa jadi seperti ini? Yumna, maafkan ibu nak. Mudah-mudahan kamu baik-baik saja." Gumam Laura.
Laura pun meninggalkan kediaman Mario, dengan ojek yang membawanya. Setelah sampai di rumah Laura mendapati Anjani, sedang menunggunya dengan teh hangat.
"Dari mana?"
"Dari rumah Mario, bu."
"Lalu? Apa dia ingin membantu mu?"
Laura menggeleng, dia pasrah jika Yumna tidak kembali lagi padanya.
"Mintalah tolong pada, nyonya Antiah. Bagaimana pun juga, dia adalah neneknya Yumna."
"Aku tidak enak bu, sudah terlalu banyak merepotkan-nya,"
*****
Sementara itu di Bandung, tepatnya kediaman Jakie orang tua Bara.
"Sayang kemana Bara? Sudah beberapa hari, aku tidak melihatnya," tanya Jakie pada Amira.
"Aku tidak tahu, aku kira dia selalu dengan mu."
Jakie menatap sang istri dengan lekat, kemudian dia melangkah menuju garasi mobil.
"Mobilnya juga tidak ada, sebenarnya kemana anak itu?"
"Ada apa mas?"
"Sepertinya Bara tidak ada di rumah, mobilnya pun juga,"
"Lalu kemana dia?"
"Coba kamu hubungi nomornya,"
Amira pun menurut perkataan Jakie, tapi sayang nomor Bara tidak aktif sama seperti nomor Yumna.
"Tidak aktif mas," ucapnya cemas. "Aku khawatir terjadi sesuatu, mas."
"Kamu tenang ya, aku akan berusaha mencarinya."
Tak lama Jakie mendapat panggilan dari Antiah, dengan langkah tergesa Jakie menghadap pada sang nyonya. Yang sudah dia anggap sebagai ibu.
"Ada apa nyonya? Ada yang bisa saya bantu?"
"Ya, tolong suruh anak buah mu. Untuk mencari Yumna, sejak hari pernikahan Keano, Yumna tidak kembali ke rumah, dan baru sekarang Laura memberi tahu," terang Antiah.
"Baik nyonya, akan saya lakukan. Kalau begitu saya permisi," pamit Jakie.
Yang di jawab anggukan oleh Antiah, Jakie pun curiga bahwa Yumna dan Bara pergi bersama. Tapi yang menjadi pertanyaan, kemana mereka pergi?
Setelah memberitahu anak buahnya, dan memerintahkan mencari Yumna dan sang anak Bara, Jakie memberitahukan kepada Laura, bahwa dia sudah menyebar anak buahnya untuk mencari Yumna.
"Terima kasih, Jakie," ucap Laura.
"Sama-sama, nyonya."
*****
Sementara itu pengantin baru, masih saja merasa canggung. Mereka tidak melewati malam pertama seperti pasangan lainnya, saat setelah resepsi Zea dan Keano hanya saling diam.
Dan Zea pun memutuskan untuk ikut ke rumah Keano, dan Zea pun tak pernah tahu, akan seperti apa kedepannya rumah tangga mereka yang tanpa cinta. Dia akan membiarkannya seperti air mengalir, tanpa mereka tahu bahwa perjodohan mereka tentu dengan sedikit paksaan, dan mengorbankan perasaan orang lain.
Quote of the day ~Jalani semampu mu, nikmati seadanya dan syukuri segalanya.~
tbc...
maaf typo
Jangan lupa tinggalkan jejak ya, makasih 🙏