
💞💞💞
Pagi pun tiba Laura sudah siap dengan dua tas besar, miliknya dan juga milik Yumna. Hari ini dia akan kembali ke kediaman sang ibu, sebelum berpamitan Laura akan menemui Mario, dan menyerahkan Yusra.
Nyonya Antiah datang, dan mengelus pundak Laura yang sedang menatap foto pernikahan mereka. "Kamu sudah siap, nak ?ibu akan mengantarmu."
"Aku sudah siap." Jawab Laura mantap, walau hatinya sakit.
Nyonya Antiah, dan Laura keluar dari apartemen tersebut, di bantu oleh Jakie yang membawakan barang-barang Laura, dan putri kembarnya.
Mobil pun melaju membelah jalanan ibu kota, yang selalu ramai. Tak butuh waktu lama mereka sudah sampai di depan rumah mewah tersebut.
"Kamu yakin, akan baik-baik saja ?" tanya nyonya Antiah, dan Laura pun mengangguk.
Laura turun dari mobil, setelah Jakie membukakan pintu. Laura menggendong Yusra sedangkan Jakie dia membantu Laura membawa barang-barang Yusra.
Laura menghembuskan napasnya, dia berusaha untuk setenang mungkin. Jakie menekan bel beberapa kali. Kemudian pintu terbuka, Mala membolakan netra nya seolah-olah akan keluar.
"No--nona Laura, anda sudah melahirakan ?" Mala bertanya dengan gugup, dan Laura hanya tersenyum. "Ayo masuk nona, saya akan memanggilkan tuan." Ajak Mala, Laura dan Jakie mengekor Mala.
Setelah Mala melapor pada Mario tentang kedatangannya, Mala menyajikan air minum untuk Laura, dan Jakie.
💞💞💞
Betapa terkejutnya Mario, saat dia melihat Laura tengah menggendong bayi. Yang dia tahu bayi tersebut perempuan, dengan tergesa Mario melangkah menuruni tangga dengan cepat.
"Laura kamu..." Mario tidak melanjutkan kata-katanya, dia terlalu terkejut mengetahui Laura sudah melahirkan. "Kapan kamu, melahirkan Laura ?" lirih Mario.
"Kemarin, tak lama kamu pergi meninggalkanku." Jawab Laura, dengan senyum di wajahnya. Padahal hatinya terasa sesak.
"Perjanjian kita sudah selesai Mario, kamu harus segera menceraikanku. Dan aku akan memberikan putri mu ini." Tutur Laura, dengan air mata menggenang di sudut matanya.
Mario terdiam dia tidak bisa berpikir, mendadak otak cerdas nya bodoh. "Tidak Laura, aku tidak bisa melepaskanmu begitu saja. Bagaimana aku tanpamu, apakah hatiku akan baik-baik saja?" batin Mario.
Mario memejamkan matanya, dan menghembuskan napasnya dengan perlahan. "Baiklah, Laura Anjani saya Mario Wiriadinata membebaskanmu dari pernikahan ini aku menalakmu, dan kau haram bagiku." Mario berucap dengan lantang.
Laura yang mendengar ucapan Mario hanya bisa menatap putrinya sendu, Laura mencium Yusra dengan sayang. "Mamah pergi dulu, jadilah putri yang sholehah, nurut pada mami, dan papi mu yah nak. Mamah menyayangimu." Bisik Laura, dengan air mata di pipinya, Laura mencium Yusra sayang. Kemudian bangkit dari duduknya dan memberikan Yusra pada Mario. Mario menerima bayi cantik tersebut.
"Aku tidak mempermasalahkannya Laura, siapa nama bayi cantik kita ini ?" tanya Mario.
"Yusra Almira Wiriadinata." Jawab Laura.
"Apa artinya ?"
"Aku tidak tau," kekeh Laura. "Aku hanya menyukai nama itu." Lanjutnya lagi, dan Mario hanya menganggukan kepalanya.
"Kalo begitu, aku pamit Mario permisi." Ucap Laura, tanpa menunggu jawaban Mario, dia sudah melenggang pergi dari hadapan Mario.
Tanpa sadar dari lantai dua, Dania memperhatikan adegan dramatis di bawah. Dengan senyum sinis penuh kemenangannya dia berhasil menyingkirkan satu penghalang lagi dari kehidupannya, dan Mario.
"Aku tidak mempermasalahkan bayi itu, tapi aku akan membuatnya menderita bersamaku." Jelas Dania dengan nada sinis.
💞💞💞
Setelah keluar dari rumah Mario, Laura masuk ke dalam mobil. Dan seketika tangisnya pecah nyonya Antiah dengan sebelah tangannya merangkul Laura, satu tangannya lagi dia gunakan untuk menggendong sang cucu.
"Menangislah Laura, jika itu membuat mu lebih baik." Ucap nyonya Antiah menenangkan.
Setelah puas menangis dalam pelukan sang ibu. Laura merasa lebih tenang, nyonya Antiah tidak ingin menjadi mantan ibu mertua.
"Anggaplah, aku juga ibu kandung mu Laura." Pinta nyonya Antiah pada saat itu.
"Baiklah, bu." balas Laura, lalu Laura memeluk nyonya Antiah.
Mobil meninggalkan pekarangan rumah Mario, seakan tau keadaan sang ibu. Yumna begitu terlelap dalam tidurnya.
tbc..
Maaf typo
Jangan lupa like, dan komen. makasih 🙏