Twin'S

Twin'S
Bab.72



Seuntai nada dalam relung jiwa


Menggema memanggil nama sang tahta tertinggi dalam hati tanpa suara


Hanya mampu terurai dalam dekap sunyi


Memangku rindu tak terperi


Hanya mampu berbisik kepada sang pencipta berharap bersama di keabadian


Pemakaman Dania di lakukan hari itu juga, setelah sholat Dzuhur. Sanak saudara Dania yang dari luar kota pun hadir dalam acara pemakaman, Dania di kebumikan di makam keluarga dekat dengan makam ayah dan ibunya.


Ucapan bela sungkawa datang silih berganti, semua orang bersedih tak terkecuali Jimi yang mendapat kabar meninggalnya Dania. Begitu sangat terpukul, dia yang berencana berangkat hari ini pun batal


"Kamu gak bercanda kan?" tanya Jimi pada Auriga.


"Engga dad, mana mungkin kematian aku jadiin candaan," jelas Auriga.


"Di sosmed rame banget dad," tunjuk Auriga pada ponselnya, dan benar pemberitaan Dania sangat ramai.


"Antar daddy kesana," perintah Jimi.


"Baik dad," setelah bicara Auriga, memutuskan untuk menghubungi Zea dan Keano. Ternyata mereka sudah ada di rumah duka.


"Ayo dad, Zea dan Keano sudah ada di sana. Dari tadi Zea menghubungi mu, tapi ponsel daddy tak aktif," kata Auriga.


"Ponsel daddy, mati," jawabnya singkat.


"Ya sudah, ayo dad."


Jimi dan Auriga pun meluncur, menuju kekediaman Mario dan Dania. Tak lama mereka sudah sampai, dan sudah banyak orang yang melawat.


"Katanya Zea mereka sudah pergi ke pemakaman," ucap Auriga.


"Ya sudah kita kesana, daddy tahu."


Auriga pun melajukan mobilnya, ke pemakaman pribadi milik keluarga Dania. Setelah sampai pun mobil milik Auriga sulit mendapatkan tempat parkir.


"Kita tunggu saja di sini, setelah semua pergi baru kita ke sana," perintah Jimi, setelah Auriga protes kesusahan tempat parkir.


Setelah lama menunggu, keluarga Dania sudah pulang. Termasuk Mario dan Yusra bersama Yumna, Jimi bisa melihat wajah sembab dari Yusra yang terus menangis.


"Kamu mau ikut daddy? Atau tunggu di sini?" tanya Jimi pada Auriga.


"Aku ikut dad," sahut Auriga cepat.


Auriga dan Jimi pun berjalan beriringan menuju pemakaman, Jimi menatap gundukan tanah di depannya dan mengusap foto Dania.


"Kamu lebih memilih menyusul putra mu, di banding bersama ku," gumam Jimi.


Auriga hanya memperhatikan apa yang Jimi lakukan, tanpa banyak bicara. Jimi ingin menangis tapi tak bisa, seolah-olah air matanya kering. Sesak di dada yang dia rasakan saat ini, kehilangan orang yang di cintai begitu menyakitkan baginya.


Awalnya hari ini Jimi akan pergi dari Jakarta, namun saat tahu Dania kecelakaan dia urung pergi. Jimi memanjatkan doa, mencium foto Dania dan mengusapnya.


"Aku pulang dulu," ucapnya pelan di depan makam Dania.


Auriga dan Jimi pun meninggalkan pemakaman.


"Kita pulang dad, atau mau kemana dulu?" tanya Auriga.


"Kita pulang saja," sahut Jimi.


****


Di kediaman Mario, orang-orang sudah mulai berkurang dan nanti malam akan di adakan pengajian.


Yumna dengan setianya menemani Yusra, dia terus memeluk Yusra dan menenangkannya.


"Yusra kamu makan dulu ya, kami belum makan dari tadi," ucap Yusra, saat Mala mengantar makanan untuk Yusra.


"Aku gak laper," jawab Yusra lirih.


"Tapi kamu bisa sakit, sedikit saja ya!!" pinta Yumna.


Yusra pun menurut, dia makan di suapi oleh Yumna. Yumna tersenyum lega setidaknya Yusra mau makan.


Bertuliskan untuk Mario dan Laura.


Mario memutuskan untuk membuka surat untuk dirinya dan membacanya.


Mario entah mengapa firasat ku mengatakan bahwa aku akan meninggalkan mu selamanya, setiap malam aku selalu bermimpi anak kita yang mengajak ku pergi tapi kamu menahan ku.


Mario maafkan aku jika selama ini, aku belum menjadi istri yang sempurna untuk mu. Aku egois dan keras kepala, tak pernah mau mendengarkan mu.


Saat kau menghabiskan waktu mu dengan Laura, aku merasa cemburu. Saat aku melihat kalian aku melihat keluarga yang sangat harmonis dan sempurna, Mario sampaikan salam ku pada Yusra. Dia harus tahu bahwa aku maminya yang sayang padanya dengan tulus, begitupun dengan diri mu. Aku mencintai mu hingga akhir hidup ku.


Sekali lagi maafkan aku Mario, bangkitlah setelah kepergian ku. Mulailah hidup baru mu dengan orang yang kamu cintai, aku sudah merasakan bagaimana rasanya seseorang yang kita cintai.


Mario meneteskan air matanya, membaca surat dari Dania. Dia akan memberikan amplop ini pada Laura nanti malam.


Mario pun merebahkan dirinya, menatap kasur yang biasa di tempati Dania kosong. Mario mengusap lembut bantal yang beraroma Dania, yang masih melekat di sana.


"Maafkan aku, Dania." Lirih Mario.


****


Senja berganti pekatnya malam, diselimuti kekosongan hati. Mario terbangun karena sayup-sayup mendengar orang mengaji, dia melirik jam di nakas, sudah menunjukan pukul setengah tujuh malam.


Mario memijat keningnya, dia merasa pusing dan perutnya belum terisi dari pagi. Dia juga belum mandi, Mario bergegas ke kamar mandi setelah mandi. Dia akan turun ke bawah dan bergabung dengan yang lain walau telat.


Saat turun Mario, tersenyum kepada semua orang yang mengaji. Dan menggumamkan kata maaf, sambil mengatupkan tangan, beberapa jam kemudian acara pengajian sudah selesai. Dia meminta Mala untuk menyiapkan makan untuk dirinya, dan menyuruh Laura yang mengantarkannya ke kamar. Mala pun mengangguk sebagai jawaban.


Tak lama pintu di ketuk, Mario membukakan pintu. Menatap Laura yang terlihat cantik dengan hijab dan gamis yang berwarna senada.


"Silahkan masuk, Laura. Aku ingin berbicara,"


Laura pun masuk ke kamar, dan menaruh nampan berisi makanan. Di atas meja dekat sofa, tempat di mana dia dulu, memilih perhiasan bersama Dania.


"Duduk," perintah Mario dan Laura menurut.


"Ini untuk mu, dari Dania."


"Apa ini?"


"Baca saja,"


"Baiklah, kalau begitu saya permisi." Pamit Laura.


"Ya," balas Mario singkat, kemudian dia memulai makan.


*****


Laura sudah berada di kamar Yusra, sedangkan Yusra berada di rumah Hito bersama Yumna. Laura membuka surat itu dan membaca isinya.


Laura maafkan aku, selama ini aku bersikap buruk pada mu. Bahkan pada anak mu, aku bahagia mendapatkan Yusra saat pertama kamu mengantarnya. Tapi entah mengapa dia begitu mirip dengan mu, membuat ku benci padanya.


Laura terima kasih, sudah memberi apa yang suami ku mau. Selama tiga tahun aku selalu gagal memberinya anak, tapi saat aku punya anak. Dia malah pergi karena keegoisan ku.


Laura aku tahu, kamu juga mencintai Mario. Maka temani lah dia. Hidup bahagia bersama anak-anak kalian dengan bahagia, aku pernah melihat kalian bersama dan itu sangat harmonis dan manis.


Berjanjilah pada ku Laura, kamu akan menikah dengan Mario dan kamu akan tetap bersama dengan Mario sampai kapan pun. Dan berikanlah dia anak laki-laki juga, tapi tidak apa. Jika dia memiliki anak perempuan lagi, dia akan menjadi laki-laki tertampan di keluarga kalian.


Maafkan aku Laura, apakah aku egois dengan permintaan bodoh ku ini? Maafkan semua kesalahan ku Laura. Beritahu Yusra jangan sedih karena aku mencintainya, seperti aku mencintai anak kandung ku sendiri.


Laura menghembuskan nafasnya secara kasar, tak ada air mata. Hanya ada raut sedih di wajahnya.


"Aku tidak tahu, apa aku harus bahagia atau tidak?" gumam Laura menatap surat Dania.


"Maafkan aku mbak Dania, jika aku mengecewakan mu."


Laura merebahkan dirinya, menatap langit-langit kamar. Dia pasrah akan seperti apa takdir hidupnya, setelah kepergian Dania.


tbc...


Maaf typo


Jangan lupa tinggalkan jejak, makasih 🙏