
Kita berhak menjauh dari semua hal yang membuat kita sakit.
Pagi pun tiba, entah kenapa Yumna menjadi pendiam. Laura pun melirik sekilas pada sang anak yang hanya melamun.
"Apa kalian ada masalah?" tanya Anjani, saat melihat Laura dan Yumna saling diam.
"Tidak, jawab Yumna dan Laura serempak.
Anjani mengangguk saja memercayai ucapan mereka.
"Lalu bagaimana makan malam kalian? memangnya kalian bertemu siapa, tadi malam?"
"Om Mario dan anak ibu yang lain," sahut Yumna dengan cepat.
"Anak yang lain, memangnya kamu punya anak berapa Laura?" tanya Anjani.
"Kembar,"
Lagi-lagi, Yumna menjawab dengan cepat. Entah kenapa dia tidak suka saat membahas Mario dan Yusra.
"Kembar," ucap Anjani tidak percaya.
"Iya oma, anak ibu dan om Mario kembar, aku dan Yusra. Semalam mereka mengantarkan kami, tapi Yusra tidak mau bertemu dengan mu." Jawab Yumna, membuat Anjani mengangguk.
"Aku berangkat dulu oma, bu," pamit Yumna.
"Tapi sarapan mu, belum habis nak."
"Aku sudah kenyang oma," Yumna beranjak dari duduknya, mencium punggung tangan Laura dan mencium pipinya. Kemudian dia melakukan hal yang sama pada Anjani.
"Kalian kenapa? Berantem?" tanya Anjani.
"Kita baik-baik saja bu, percayalah."
"Baiklah ibu percaya," putus Anjani, tidak ingin memperpanjang masalah sang anak dan cucunya.
Kemudian mereka melanjutkan sarapan, rencana Laura akan membuka kembali toko roti mungkin akan dia pikirkan kembali. Jika keadaannya seperti ini, dia mana bisa berkonsentrasi.
*****
Setelah keluar dari rumah, Yumna memutuskan untuk berjalan-jalan terlebih dulu. Semalam setelah dia masuk kedalam kamar, dia mendengar ibunya menangis karena Yusra.
Setelah sampai di taman, Yumna duduk melamun dan memikirkan cara membujuk Yusra.
"Apa yang harus aku lakukan?" gumam Yumna, menendang bekas minum yang ada di dekatnya.
"Buang sampah sembarangan," marah Yumna, entah mengapa hari ini dia ingin marah-marah.
"Kenapa marah-marah," tegur Hito.
"Kamu... Ngapain kamu ada disini?" tanya Yumna ketus.
"Membeli bubur untuk ibu ku," jawab Hito ambigu.
Padahal setiap pagi Hito bersepeda menuju jalur rumah Yumna, alasannya tak masuk akal memang dia hanya ingin melihat Yumna sebelum pergi ke kampus bersama Yusra. Jika Hito pikir-pikir Yusra dan Yumna memang ada kemiripan, tapi cuma sekian persen. Kalau di tanya kenapa tidak melihat wajah Yusra saja kalau dia rindu Yumna? Entahlah Hito pun tidak tahu wkwkw
Walau Hito tahu, setiap pagi Yumna di jemput oleh seorang laki-laki. Seumuran dengan dirinya tak kalah tampan, hanya saja laki-laki tersebut kebulean tapi ada wajah Asi juga. Sedangkan dirinya lebih dominan wajah Asia.
"Cih alasan," umpat Yumna.
Yumna beranjak dari duduknya, dan melangkah pergi meninggalkan Hito.
"Hey!! Kenapa meninggalkan ku?"
Hito dengan tergesa menyusul Yumna, tapi sayang Yumna sudah naik angkutan umum menuju cafe Keano. Dia tidak meminta jemput pada Keano, karena Keano sedang ada acara keluarga.
"Huff, dia sulit sekali di dekati," gumam Hito, kemudian dia memutuskan untuk pulang.
****
Beberapa menit kemudian Yumna sudah sudah sampai di cafe Keano, dia membuka pintu tapi belum membuka cafe tersebut. Cafe Keano buka pukul sembilan pagi, dan sekarang baru pukul tujuh.
Yumna duduk di salah satu meja di sudut ruang, di temani segelas coklat panas, dimana meja tersebut menghadap kejalan tepat di seberangnya kampus tempat Hito dan Yusra menimba ilmu.
Terkadang ada rasa iri di hati Yumna, saat yang lain melanjutkan pendidikannya. Tapi dia haru bekerja saat lulus SMA, beruntung Keano mau memperkerjakan dirinya.
"Seandainya ibu dan om Mario bersama dulu, mungkin aku bisa seperti mereka," lirih Yumna, menatap gerbang kampus yang mulai ramai.
Tanpa sengaja dia melihat Yusra turun dari mobil, kemudian Yumna memutuskan untuk menemui Yusra sebelum dia masuk ke dalam.
Tapi Yusra mengacuhkan Yumna, Sedangkan Yumna dia berlari supaya cepat sampai. Tanpa melihat kiri kanan, beruntung jalan sedang sepi.
"Yusra," teriak Yumna, membuat perhatian semua orang kepada Yumna.
Yusra menoleh dia menatap Yumna dengan malas.
"Ada apa?" tanyanya ketus.
"Aku ingin bicara,"
"Apa yang mau kamu bicarakan? Semuanya sudah jelas, kalau aku gak bisa deket sma ibu mu." Ujar Yusra.
"Kamu gak bisa dekat dengan ibu Laura, karena kamu mau menjaga perasaan mami mu begitu?" sarkas Yumna.
"Ikut aku," sambungnya lagi, Yumna membawa Yusra ke cafe. Karena sadar menjadi pusat perhatian dan banyaknya pertanyaan dari semua orang di sekitar kampus.
"Ehh... Bi, itu kan si Yusra. Sama siapa dia?" tanya Salma.
Bianca cs memperhatikan Yumna dan Yusra, yang menghilang di balik pintu cafe.
"Nanti kita cari tahu geng," putus Bianca.
Mereka pun keluar dari mobil dan masuk ke gedung.
****
Yusra menepis kasar tangan Yumna setelah mereka sampai di cafe.
"Aku mohon Yusra, temui ibu dan oma. Biar oma Anjani berhak tahu siapa kamu," mohon Yumna.
"Aku tidak mau," kekeh Yusra.
"Yusra jangan bersikap kekanakan," desis Yumna, menatap tajam Yusra. Yumna seperti menatap dirinya di depan cermin.
"Siapa kamu mengatur ku hah!! Aku benci kamu dan Laura,"
"Yusra," bentak Yumna.
"Apa? Kamu mau marah? Mau pukul? Kamu gak berhak ngatur aku, Yumna."
Yumna memejamkan mata, bayangan sang ibu menangis membuatnya gundah.
"Oke, apa yang kamu mau?"
"Jauhi papi Mario dan pergi dari kehidupan Keano,"
Yumna mengerutkan kening bingung, kenapa membawa-bawa Keano pikir Yumna.
"Kenapa harus Keano?"
"Karena aku suka dia," jawab Yusra santai.
Yusra tahu bahwa Hito pun menyukai Yumna, Yusra tidak menyukai itu karena dia yang menyukai Hito. Yusra selalu berpikir kenapa semua orang sangat menyayangi Yumna, apa istimewanya dia.
"Engga, aku gak bisa menjauh dari Keano."
"Oke kalau begitu, maafkan aku yang akan bersikap kurang menyenangkan pada ibu mu,"
Kemudian Yusra pergi dari hadapan Yumna tanpa berpamitan, Yumna menatap Yusra dengan hati bimbang dan gundah. Antara cinta ibunya atau Keano, Yumna memutuskan untuk pergi dari cafe setelah melihat Bagas datang. Dan menyerahkan kunci cafe.
"Maaf Gas, aku gak bisa kerja hari ini. Tiba-tiba aku gak enak badan," jelas Yumna beralasan.
"Ohh... Oke,"
Yumna kemudian pergi entah kemana, dia memutuskan untuk berjalan kaki saja. Tadi saat dia tengah menatap Yusra keluar, Keano memberi pesan bahwa akan pergi ke cafe setelah acara keluarga selesai. Dan Yumna yang enggan bertemu Keano, memutuskan untuk tak bekerja hari ini.
"Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus menuruti keinginan Yusra? Tapi aku mencintai Keano," lirih Yumna, menatap ponsel yang menampilkan fotonya dengan Keano. Kemudian menatap fotonya bersama dengan sang ibu.
Yumna memutuskan untuk menonaktifkan ponselnya, menjauh sejenak dari masalah yang dia hadapi.
tbc...
Maaf typo
Jangan lupa tinggalkan jejak ya dan terima kasih bagi yang mau menunggu dan masih mau membaca novel ini.