
Beberapa bulan berlalu, hubungan Auriga dan Dela semakin dekat saja. Mereka tidak canggung menunjukan kemesraan saat bersama anak-anak Auriga, selama itu pula Dela berbohong pada Yumna bahwa dia akan ke kostan temannya terlebih dulu. Dan Yumna pun percaya, teman kost Dela di bayar untuk itu.
"Makasih, ya Nit. Kamu udah bantuin aku, nanti aku kasih bayarannya." Ujar Dela.
"Santai aja Del, aku malah seneng bantu kamu. Jadi sehari-hari aku sama bayar kost gak terbebani," ucap Anita.
Tidak pernah ada yang tahu rencana Dela, Dika pun yang setiap hari bersamanya di kampus tak pernah tahu.
"Dela," panggil Dika.
"Ya uncle," sahutnya tersenyum manis.
"Lo mau ke rumah Anita lagi?"
"Iya kenapa memang?"
"Engga apa-apa, gue curiga aja sih." Dika menatap Dela tak yakin, kemudian melirik Anita yang salah tingkah.
"Uncle rese gak percaya sama aku? Keterlaluan, ya sudah hari ini aku ke rumah Grany aja lah. Nit, maaf ya aku gak jadi ke kost mu." Ucap Dela.
"Gak papa Del, santai aja. Kalau gitu aku pulang dulu," pamit Anita, meninggalkan paman dan keponakan tersebut.
Dela pun mengikuti Dika sampai ke parkiran, Dika menatap Dela.
"Kenapa ikutin gue? Lo bawa mobil sendiri kan?"
"Mobil, mobil aku selalu di antar sama bunda. Pulangnya gue ikut Anita dan di antar sama dia," jelas Dela, dia tidak berbohong karena Auriga selalu mengantar Dela pulang ke kost Anita. Dan Anita akan mengantar Dela pulang.
"Ya sudah masuk."
Dela pun masuk ke dalam mobil, sambil mengirim pesan pada Auriga bahwa dia tidak bisa menemui anak-anak. Setelah mendapatkan balasan, Dela menyimpan ponselnya ke dalam tas. Mobil Dika melaju, meninggalkan parkiran kampus.
****
Sementara itu Auriga, yang membaca pesan Dela yang tak bisa ke rumah Zea. Menghembuskan napasnya secara kasar. Memastikan tak ada balasan dia menghubungi Zea, bahwa Dela tidak akan ke rumah, hubungannya dengan Dela sudah sekat. Dia juga merasa nyaman dengan gadis tersebut dan Auriga berniat untuk melamar Dela malam minggu nanti.
Dering ponsel membuyarkan lamunan Auriga, dia menatap panggilan video dari Zea. Saat mengangkatnya wajah Ara yang cemberut langsung memenuhi layar ponsel Auriga.
"Ada apa sayang?" tanya Auriga.
"Ayah, kenapa ka Dela gak ke rumah tante Zea? Pasti ayah nakal ya, sama ka Dela?" tuduh Ara pada Auriga.
"Tidak sayang, ka Dela katanya ada urusan sama keluarganya."
"Ahh... Ayah pasti bohong, makanya menikah ayah, biar ka Dela tetap sama kita. Gak pulang kalau mau malam," rajuk Ara.
"Iya sayang, kamu sabar yah!"
"Janji ya ayah," pinta Ara memohon.
"Iya iya."
Ara pun mematikan sambungan video dengan Auriga, Auriga beranjak dari duduknya memutuskan untuk pergi ke suatu tempat. Dia akan menyiapkan sesuatu yang spesial untuk Dela.
****
Malam pun tiba, setelah makan malam di rumah Mario. Dela memutuskan untuk pulang ke rumah Yumna.
"Grany, opah. Aku pulang dulu yah!" pamitnya pada Mario dan Laura, yang sedang bersantai di ruang keluarga.
"Iya sayang hati-hati yah!" ucap Mario, setelah Dela menciun punggung tangan Mario beralih pada Laura.
"Kamu gak tunggu Dika pulang dulu? Atau di antar supir?" tawar Laura.
"Engga Grany, takut dia lama ngapelnya. Aku gak perlu sama supir, udah pesen ojol ko," kata Dela.
"Ya sudah, hati-hati di jalan yah!"
"Siap."
Dela pun berjalan ke luar, menunggu ojek pesanannya. Saat menunggu dia mengenali mobil Auriga berada di ujung jalan depan rumah Mario.
"Ka Riga, sejak kapan dia di situ?"
Dela menghampiri mobil Auriga, mengetuk kaca mobil milik Auriga.
"Ngapain kakak disini?" tanya Dela heran.
"Aku nungguin kamu, dari dua jam yang lalu."
"Hah? Serius selama itu?"
Auriga pun menganggukan kepala sebagai jawaban, saat mereka mengobrol ojek pesanan Dela sudah datang.
"Batalkan saja, biar aku yang antar." Ujar Auriga, memberikan uang untuk tukang ojek tersebut.
Auriga menghampiri driver ojek tersebut, dan memberikan uang.
"Makasih mas," ucapnya.
"Sama-sama."
Auriga masuk ke dalam mobil, dan menatap Dela.
"Sudah di batalkan?"
"Sudah dari tadi, makasih ka."
Auriga melajukan mobilnya, meninggalkan perumahan elite tersebut. Berpuluh menit kemudian, Auriga sudah sampai di halaman rumah Dela.
"Makasih ka," ucap Dela.
Pada saat Dela akan membuka pintu mobil, Auriga menahan Dela.
"Kenapa?"
"Kamu mau jadi kekasih ku?" tanya Auriga menatap ke dalam mata Dela.
"Aku..."
"Dela aku mencintai mu, kamu juga menyayangi anak-anak ku. Itu yang terpenting, kamu yang paling tulus menyayangi kami bertiga." Papar Auriga, mengelus pipi Dela.
Dela memejamkan matanya, dia juga menyayangi Ara dan Lula. Bahkan mungkin dia sudah jatuh cinta pada Auriga tanpa dia sadari, ternyata cinta datang dengan sendiri dan tanpa dia sadari. Dela pun sudah merasa nyaman dengan Auriga.
Auriga mengusap rambut Dela, dia mencium puncak kepala Dela.
"Aku akan melamar mu, secepatnya."
"Aku takut bunda, gak merestui kita ka."
"Kamu tenang saja, jangan khawatir oke!"
Auriga membelai wajah Dela, kemudian dia mendekatkan wajahnya ke wajah Dela. Auriga mengecup bibir Dela yang begitu menggoda, hanya sebentar sebelum suara ketukan di kaca mobil, menghentikan aksinya semakin jauh.
"Ayah," pekik Dela panik.
"Tenang saja ayah mu, tidak melihat. Karena dari luar tidak akan terlihat ke dalam," kekeh Auriga melihat kepanikan Dela.
"Dasar mesum, udah curi ciuman pertama ku." Protes Dela, Auriga hanya terkekeh merasa lucu.
Dela menghembuskan napasnya secara perlahan, dia mencoba menormalkan perasaannya.
"Ayah," Dela tersenyum menatap Bara.
"Kamu, kirain siapa."
"Memang menurut ayah siapa?" Dela memeluk lengan kekar Bara.
Bara menatap mobil yang tak asing baginya, kemudian mengajak sang anak masuk.
"Yang tadi itu taxi online kan?" tanya Bara penasran.
"Iyalah, siapa lagi. Masa uncle rese diakan lagi apel ke rumah pacarnya yah, kayanya hanya aku yang jomblo," kekeh Dela.
"Kenapa gak minta jemput bunda?"
"Gak mau, aku malu ayah ahh... Kaya anak kecil aja, banyak yang ngetawain aku tau gak." Keluh Dela.
"Ya sudah mulai besok, ayah yang antar bagaimana?"
"Engga, malah jadi makin parah kalo ayah yang antar," tolak Dela.
"Memang kenapa?"
"Kalo ayah yang antar, terus keluar dari mobil. Pasti cewek-cewek centil teriak histeris liat ayah yang pake jas kece parah. Apalagi ayah tampan gini," ujar Dela, membuat Bara tertawa.
"Ada-ada saja kamu ini, mana mungkin ada yang suka sama ayah yang sudah tua. Punya anak cerewet lagi," jelas Bara.
"Ish... Jadi aku cerewet gitu? Bukannya ibu yang cerewet," kesal Dela.
"Gak ada yah, ibu gak cerewet." Sahut Yumna, dari dalam rumah.
Tadi Yumna menunggu anak dan suaminya, tapi mereka tak kunjung datang. Ternyata ayah dan anak tersebut sedang berbicara di terlas.
"Ayok masuk, sudah malam." Ajak Yumna.
Dela dan Bara pun menurut, dan masuk ke dalam rumah. Bara merasa sudah lama dia dan Dela tidak berbicara berdua, kesibukannya di perusahaan Mario membuat waktu bersama keluarga sedikit.
"Ayah janji, bakal ajak kamu liburan. Hanya kita berdua oke!" bisik Bara.
"Serius yah?" bisik Dela pula.
"Iya."
"Yes," Dela bersorak dalam hati.
"Kenapa bisik-bisik? Ngomongin bunda yah" tanya Yumna, membawa tiga cangkir teh hangat untuk mereka.
"Tatiana mana bun?" tanya Dela menyesap tehnya.
"Sudah tidur dia, memangnya kamu bergadang bangun kebluk banget," omel Yumna.
Membuat Dela meringis.
"Ya maaf bun, aku kan gak tiap hari ini bergadang."
Yumna memutar bola mata malas, dan menyalakan televisi untuk menonton acara favoritnya. Sedangkan Bara dan Dela melanjutkan obrolan antara ayah dan anak, waktu memang cepat berlalu satu hal yang Bara sadari. Sang anak yang sudah tumbuh dewasa, dia masih ingat saat Dela menangis untuk pertama kali.
Wajah Dela memang mirip wajah dominan Yumna, sedangkan Tatiana mirip dirinya.
****
Auriga menyampaikan maksudnya kepada Jimi, untuk melamar Dela. Namun tanggapan Jimi tak sesuai dengan keinginan dirinya.
"Daddy rasa Yumna tak akan merestui kalian," ujar Jimi, mereka mengobrol di ruang kerja Jimi.
"Tapi dad, aku yakin Yumna akan merestui kita," yakin Auriga.
"Kapan kamu akan melamarnya?"
"Besok dad."
"Baiklah, daddy akan antar kamu."
Auriga pun mengangguk sebagai jawaban, kemudian dia beranjak dari ruang kerja sang ayah. Auriga masuk ke kamar sang anak, adanya Dela membuat Lula tak begitu membenci Ara.
Auriga menatap kedua putrinya, yang tertidur lelap sambil berpelukan. Mencium kening mereka secara bergantian.
"Ayah menyayangi kalian berdua, jangan khawatir ka Dela kalian akan segera menjadi ibu untuk Lula dan Ara." Ucap Auriga.
Kemudian Auriga meninggalkan kamar sang anak, dia berjalan gontai menuju kamarnya. Yang tepat di sebelah kamar sang adik Zea, saat melewati kamar Zea. Auriga mengumpat saat mendengar suara *******, karena kamar adiknya tidak kedap suara.
"Dasar pasangan gak ada ahlak, bukannya tidur malah mesum." Ketus Auriga.
Dia bergegas masuk ke dalam kamar, dan merebahkan tubuhnya di kasur kesayangannya saat masih muda dulu. Dan dia juga membayangkan malam pertama dengan Dela nantinya.
Visualnya Bara ya, ayahnya Dela dan Tatiana (◔‿◔)
tbc...
Maaf typo
Jangan lupa tinggalkan jejak, makasih 🙏