Twin'S

Twin'S
Bab.73



Satu bulan berlalu setelah kepergian Dania, Mario dan Yusra menjalani hidup seperti biasa sebelum Dania pergi. Antiah datang di hari ke dua, dia datang bersama dengan Jakie dan Amira, sedangkan Bara berada di Bandung.


Antiah memutuskan untuk tinggal di rumah Mario, menemani sang anak dan cucunya. Mario selalu pulang larut, dan bekerja dan bekerja. Sedangkan Yusra tetap melanjutkan kuliahnya dengan Hito, rencana mereka untuk kencan bertiga batal. Karena Yusra enggan kemana-mana setelah pulang kuliah.


Membuat Laura sedih, hubungannya dengan Yusra kembali berjarak.


"Ibu," panggil Yumna.


Kini Yumna sudah membuka kembali toko yang tutup, dengan uang pemberian Mario. Toko tersebut dia ubah menjadi cafe juga, hanya saja bisa menerima pesanan kue dan roti.


Yumna melihat sang ibu yang terus melamun, setelah pulang dari rumah Mario. Bahkan Yumna pun jarang pergi ke rumah Mario, hanya sering memberi kabar pada Bara


"Ibu, mau pergi saja." Sahut Laura, setelah lama diam.


"Maksudnya?"


"Ibu mau pergi sebentar Yumna, ibu ingin menenangkan diri ibu."


"Tapi kemana bu? Jangan buat aku khawatir," desis Yumna.


"Ibu akan pergi, bersama oma Yumna. Jangan khawatir,"


"Tapi kemana bu,


Laura membisikan tempat kemana dia akan pergi bersama ibunya.


"Hah!! Jauh sekali bu," keluh Yumna cemberut.


Yumna memejamkan mata dan menatap wajah sang ibu, Yumna mendesah lelah. Tapi demi kebahagiaan ibunya, apapun itu.


"Baiklah ibu, apa pun itu. Asal ibu bahagia,"


Yumna memeluk Laura erat.


"Kapan ibu berangkat?"


"Besok, hari ini ibu akan memesan tiket dulu."


"Ou, ya sudah bu. Aku pergi ke toko dulu,"


"Yumna," panggil Laura, dan Yumna menatap sang ibu.


"Terimalah Bara, dia laki-laki baik dan bertanggung jawab," ucap Laura.


"Ibu akan pergi, setelah kamu menikah nak."


Ucapan Laura membuat Yumna berhenti, dan menatap sang ibu.


"Aku akan memikirkannya lagi bu,"


"Kapan? Sudahlah, jangan buat dia terlalu lama menunggu nak. Orang tua Bara sudah datang melamar,"


"Hah!! Kapan? Kok aku gak tau sih bu,"


"Tiga hari setelah kepergian Dania, orang tua Bara datang pada ibu. Dan menyampaikan maksudnya pada ibu,"


"Apa Bara tahu?"


"Ya Bara tahu," Laura tersenyum menatap sang anak.


"Baiklah bu, aku akan menerima Bara." Putus Yumna, mungkin cinta itu sudah tumbuh di hati Yumna untuk Bara.


*****


Terima kasih untuk kesempatan mengenal mu, Bagaimana pun aku pernah ada di kehidupan mu. Dan pernah mengisi hari-hari mu.


Meski pada akhirnya aku bukanlah seseorang yang di takdir kan untuk menjadi pendamping di sisa hidup mu.


Jimi menatap makam Dania dengan tatapan nanar, selama satu bulan terakhir dia rutin mengunjungi makam Dania setiap sore. Dia sangat beruntung mengenal Dania walau tak menjadi pendamping hidupnya, apakah ini karma untuknya karena mensia-siakan seseorang yang tulus mencintainya seperti Delia?


Entahlah Jimi pun tak mengerti, hidupnya hampa dan terdapat ruang kosong dan dingin di hatinya. Kemudian Jimi pergi dari makam Dania, laju mobilnya membawa dirinya ke makam sang istri Delia.


"Jika waktu, bisa di putar kembali. Mungkin kita akan bahagia bersama anak-anak kita, maafkan aku Delia."


Jimi mengusap nisan Delia dengan sayang, penyesalan selalu datang terlambat. Lama duduk sendiri di makam sang istri, Jimi beranjak dari duduknya. Karen sebentar lagi senja akan berganti malam.


****


Yumna masih memikirkan perkataan Laura tadi pagi, tentang menerima Bara. Dan memutuskan untuk menelpon Bara.


Tak butuh waktu lama, Bara mengangkat panggilan Yumna lewat video call. Bara tersenyum di sebrang sana.


"Apa kabar?" tanya Bara basa basi.


"Baik, kamu kapan ke sini?"


"Mungkin besok, memang kenapa?"


"Aku mau beri jawaban,"


"Jawaban? Jawaban apa?"


"Masa kamu gak tau, kalo ayah sama ibu mu udah lamar aku sama ibu dan ayah Mario." Ujar Yumna cemberut.


Bara membulatkan matanya, sumpah demi apapun dia tidak tahu jika ayah dan ibunya melamar Yumna. Di saat di sibuk menyelesaikan pekerjaannya di Bandung.


"Aku gak tahu, serius. Aku kira ayah sama ibu, hanya nemenin nenek Antiah aja. Ehh taunya sambil lamar kamu, padahal aku bilang sekali waktu itu, dan aku sudah lupa." Jelas Bara.


Membuat Yumna mencebik, bisa-bisanya lupa untung sudah sayang.


"Ya sudah kapan ke sini?"


"Besok," jawab Bara antusias, dia tidak ingin menunda untuk acara lamaran secara resmi dengan Yumna. Dia ingin acara lamaran langsung menikah.


"Baiklah, aku tunggu besok. Aku tidur dulu udah malem soalnya,"


"Ok, selamat malam sayang. Mimpi yang indah," Bara memberikan ciuman jarak jauh, membuat Yumna tertawa.


Panggilan pun terputus, Yumna pun berbaring menatap langit-langit kamar. Dan tersenyum saat mengingat kebersamaannya dengan Bara.


"Tidak pernah aku merasakan, jatuh cinta seperti ini. Saat bersama yang lain. Setiap hari cintaku tumbuh lebih dalam, lebih dalam dari yang tidak pernah kupikirkan sebelumnya."


Yumna tersenyum dengan kata-katanya, menurutnya serasa lebay.


"Ya ampun, lebay banget aku. Tapi itu gak lebay sih, dulu saat bersama Keano aku gak kaya gini ternyata jatuh cinta pada orang yang tepat, membuat kita merasa bahagia."


Yumna tertawa kembali, menatap foto dirinya dan Bara. Teringat dia belum pernah foto secara formal, nanti Yumna akan mengajak Bara untuk berfoto di studio foto. Sekalian foto untuk buku nikah, membayangkan dia akan menikah membuatnya bahagia dan mengulum senyum.


"Akhhh... Bara, I love you," teriak Yumna, tapi teredam oleh bantal.


*****


Keesokan paginya, Bara sudah sampai di Jakarta. Dia berangkat dari Bandung mungkin tengah malam, membuat Jakie dan Amira geleng-geleng kepala. Dan memberitahukan bahwa Yumna ingin secepatnya, padahal mah Bara yang mau cepat.


"Ya sudah besok, ibu akan membelikan seserahan untuk Yumna," kata Amira.


"Sekarang bu, lamarannya besok." Pinta Bara.


"Tapi Bara..."


"Ya ayah, aku mohon. Aku tidak pernah meminta apapun pada mu tapi sekarang aku mau acara lamaran ingin besok, dan menikah besoknya lagi." Rengek Bara.


"Bara menikah bukan hal yang mudah, seperti kamu membalikan telapak tangan. Kamu harus mengurus semua persiapannya dan persyaratan ke KUA," imbuh Jakie.


"Baiklah ayah, maaf tapi bisakah lamarannya di percepat? Aku tidak ingin Yumna di ambil orang,"


Amira menggeleng dengan ucapan sang anak, dan Jakie memijit pelipisnya. Baru juga datang sudah membuat rusuh.


"Baiklah, besok kita akan mengadakan lamaran di rumah Yumna. Dan kamu harus memberitahukannya pada ibu dan oma-nya," jelas Jakie.


"Baik ayah, kalian memang yang terbaik," ucap Bara, mencium pipi kedua orang tuanya dan mencium punggung tangan sang ibu.


Sebab hari ini dia akan pergi ke rumah Yumna, untuk membicarakannya rencana pertunangannya kepada Laura.


tbc...


Maaf typo


Jangan lupa tinggalkan jejak, makasih 🙏