Twin'S

Twin'S
Bab.37



Sementara itu di kediaman Laura.


Yumna yang sudah siap untuk bekerja, sedang menunggu Keano menjemputnya. Atasan sekaligus kekasihnya itu sedang dalam perjalanan menuju rumahnya, dan dia akan membicarakan ibunya yang akan membuka kembali toko rotinya.


Yumna yakin Keano akan membantu ibunya, dalam kemajuan toko tersebut.


"Gimana semalam?" tanya Keano, setelah Yumna masuk ke dalam mobil.


"Kata anak-anak, acaranya berjalan lancar,"


Keano mengerutkan keningnya, sebelum Keano bertanya. Yumna sudah lebih dulu memberikan jawaban.


"Semalam aku gak sampai selesai, karena om Mario mengajak ku jalan-jalan." Jawab Yumna.


"Kenapa kamu gak bilang? Aku kan kekasih kamu,"


Yumna menggaruk rambutnya yang tak gatal. "Maaf aku lupa,"


"Ya sudah, lain kali kamu harus bilang ok," tegas Keano.


"Baiklah," lirih Yumna.


"Aku sayang kamu, Na. Aku gak mau sesuatu terjadi padamu," terang Keano.


"Iya aku tau, maafkan aku."


"Ya sudah tidak apa-apa, ayo kita berangkat," ajak Keano.


******


Mario memutuskan untuk ke rumah Laura, dia sudah memberitahu Jimi bahwa dia akan datang terlambat.


Sedangkan Yusra dia berangkat sendiri di antar sopir, karena Hito sedang acara dengan tim basketnya.


Yusra menghembuskan nafasnya secara kasar, entah kenapa semua orang begitu mengasingkannya semua orang tidak menyayanginya. Bahkan Hito yang selalu ada untuknya pun kini Yusra mulai meragukannya, Karena asik melamun tak terasa dia sudah sampai di gerbang kampus.


"Nona sudah sampai," ucap sopir, membuyarkan lamunan Yusra.


"Ahh... Terima kasih pak," jawab Yusra. "Nanti tidak usah di jemput ya pak," sambungnya lagi sebelum turun.


"Baik, non."


Tidak adanya Hito membuat Yusra tak percaya diri, entahlah semua orang menatapnya dengan rendah karena penampilannya.


Sepanjang koridor Yusra hanya menunduk, jika dengan Hito dia selalu mengangkat kepalanya.


"Liat guys, upik abu kita jalan sendiri nih." Ucap Bianca, menghalangi jalan Yusra.


"Betewe, kemana bodyguard lo?" tanya Lusi teman Bianca.


"Udah bosan kali, ngawal terus mana gak di bayar lagi," sahut Salma, membuat semua yang lainnya tertawa terbahak.


"Minggir Bi, aku mau lewat." Pinta Yusra.


"Ohh... Tidak bisa, lo harus ikut gue," perintah Bianca. "Guys ayo, bawa dia," sambungnya lagi.


Kedua teman Bianca membawa Yusra, Yusra tidak henti berteriak meminta tolong dan melepaskannya. Tapi sayang teman-teman Yusra hanya tertawa dan mengabaikan teriakan Yusra.


"Tolong... Lepas, kalian mau apa? Kenapa kalian melakukan ini?" tanya Yusra mencoba melepaskan diri.


"Hiiih.... Lo, nyusahin banget bisa diem gak sih? hah!" bentak Lusi.


"Bi, gue gak kuat, dia tenaganya kuat juga." Keluh Salma.


Bianca kemudian membantu menyeret Yusra dengan kasar, kemudian mereka sampai di sebuah gudang belakang gedung yang tak terpakai dan jarang orang melaluinya.


Yusra di dorong dengan kuat oleh mereka, membuat keningnya terbentur sudut meja dan mengeluarkan darah. Yusra pun meringis dan meraba keningnya.


"Kalian mau apa?" teriak Yusra marah.


"Wow... Liat guys, dia marah," ejek Bianca, membuat Salma dan Lusi tertawa terbahak.


"Kita mau beri lo pelajaran, pelajaran yang berharga. Yang gak akan bisa lo lupain," jelas Bianca tersenyum sinis.


Salma dan Lusi sibuk mengeluarkan ponsel dan gunting.


"Bi udah ready nih," seru mereka berdua.


"Ok guys laksanakan," perintah Bianca.


"Jangan aku mohon jangan," pinta Yusra dengan berderai air mata.


"Terserah kalian lah, cepetan sebelum ada yang denger. Dia teriak terus," protes Bianca.


Saat Salma sedang menggunting baju Yusra, dan Lusi merekam aksi mereka. Tiba-tiba pintu di dobrak dengan keras, membuat mereka terkejut.


"Apa yang kalian lakukan?" teriak Alsaki, kemudian di susul oleh Rafa dan Raka.


Mereka menghalangi Yusra, agar tak ketauan oleh teman-teman Hito. Bianca cs yakin mereka bakal kena amuk Hito jika teman-teman Hito yang ada di depan mereka melapor.


Yumna langsung menerobos masuk menyingkirkan mereka semua, menurutnya lelaki yang ada di hadapannya banyak bicara membuat dia memutar bola mata malas. Dengan kasar Yumna menepis ketiga gadis tersebut sekuat tenaga, membuat mereka jatuh dengan keras. Dengan sigap Rafa dan Raka langsung menyeret mereka saat mereka akan kabur.


"Yusra," pekik Rakai.


"Kamu gak apa-apa?" tanya Yumna, saat melihat Yusra memeluk tubuhnya. Karena bajunya sudah sebagian koyak.


Yusra hanya menggeleng lemah, Yumna melihat ada darah dari kening Yusra dan membantu Yusra berdiri sambil memeluk tubuhnya.


"Hey kalian, bantuin jangan bengong aja," protes Yumna.


"Ahh.. ok ok," jawab Alsaki kikuk.


Sedangkan kedua temannya, sudah menyeret ketiga teman mereka yang mengganggu Yusra. Alsaki memberikan jaket kepada tubuh Yusra dan mereka pergi dari gudang tersebut.


"Dimana klinik kesehatannya?" tanya Yumna saat mereka sudah keluar.


"Dekat dengan ruangan dosen ka," jawab Alsaki.


Mereka berjalan beriringan menuju klinik kesehatan, untuk mengobati kening Yusra yang berdarah. Sementara itu Bianca cs sudah ada di camp tempat Hito berkumpul bersama teman-temannya.


Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di klinik, dan Yumna meminta izin untuk masuk karena dia bukan mahasiswa di kampus tersebut.


Yumna dengan telaten membersihkan luka, pada kening Yusra. Tanpa mereka sadari Alsaki yang dari tadi mengekor mereka terus memperhatikan mereka berdua.


"Apa kalian kembar?" celetuk Alsaki, membuat Yumna menghentikan gerakannya yang sedang memasang plester.


Sedangkan Yusra langsung menatap Yumna, dan mereka saling pandang dengan tatapan yang tak bisa di jelaskan. Tatapan mereka terputus saat dengan tiba-tiba, pintu di buka secara kasar membuat mereka tersentak kaget.


"Sialan lo, ngagetin aja," protes Alsakai.


"Ra, kamu gak apa-apa?" tanya Hito cemas, tanpa menghiraukan Alsakai, dan mendekat ke arah Yusra membuat Yumna menyingkir dan berdiri di dekat Alsakai.


"Aku gak apa-apa ko, cuma terluka dikit aja." Terang Yusra tersenyum pada Hito.


Yusra senang Hito selalu khawatir pada dirinya, Hito menghembuskan nafasnya secara kasar.


"Syukurlah, aku khawatir banget. Maaf ya aku gak bisa tolongin kamu tadi,"


"Kalau begitu saya permisi dulu, masih banyak kerjaan," ucap Yumna, memecah keheningan yang terjadi.


"Yumna," sapa Hito, Yumna hanya tersenyum.


"Makasih sudah nolongin saya, ka." ucap Yusra dengan tulus.


Entah mengapa membuat hati Yumna menghangat, Yumna pun hanya membalas senyum Yusra kemudian berlalu pergi.


"Lo berdua kenal sama tuh cewek?" tanya Alsakai.


"Kenal dia pegawai di cafe sebrang, emang kenapa?" jawab Yusra.


"Lo ngerasa gak sih Ra, bahwa dia tuh mirip sama lo?" tanya Alsakai lagi.


Yusra tampak berpikir, kemudian memandang Hito dan Alsakai secara bergantian.


"Aku harus bertanya pada papi Mario, di pasti tau jawabannya." ujar Yusra.


"Sudah-sudah lupain aja, btw ngapain dia tadi ada di kampus kita?" tanya Hito penasaran.


"Gak tau gue, tapi dia datang-datang minta tolong sama gue, kalo ada mahasiswi yang ngebully mahasiswi yang lain. Terus dia nunjukin gue ke gudang belakang yang terbengkalai," jelas Alsakai panjang lebar.


Hito hanya menganggukan kepalanya mengerti, kemudian mereka keluar bersama menuju basecamp.


"Ikatan batin saudara," batin Hito.


tbc..


Maaf typo


Jangan lupa tinggalkan jejak dan berikan bunganya 😊