
🌹🌹🌹
Laura sudah sampai di tempat dia bekerja, Laura bekerja di perusahaan tersebut sebagai seorang office girl.
"Kenapa mereka memanggilku? Bukannya aku sudah mengajukan izin untuk satu minggu!!" gumam Laura, di dalam lift.
Tak lama lift pun sampai di lantai tujuan Laura, yaitu ruangan pemilik perusahaan. Setelah mengetuk pintu dan mendapatkan izin masuk. Laura membuka pintu, dan sangat terkejut bahwa di dalam ruangan sang bos bukan hanya ada dirinya melainkan Mario dan Jimi.
"aishh..mau apa mereka di sini?" tanyanya dalam hati.
"Selamat pagi pak, tuan." Sapa Laura, tersenyum ramah.
"Selamat pagi Laura, silahkan duduk." Perintah Pak Yusril CEO perusahaan Dymond grup.
Laura pun duduk di sofa single, yang berhadapan langsung dengan Mario. Laura enggan menatap Mario karena begitu gugup.
"Begini Laura, ini tuan Mario dia adalah patner bisnisku, pengusaha batu bara. Tujuan tuan Mario datang ke sini memintamu untuk bekerja di perusahaannya." Terang pak Yusril, panjang kali lebar.
Laura di buat melongo akan keterangan yang di berikan oleh atasannya itu. "Cih..modus," batin Laura.
"Tapi pak, saya hanya lulusan SMA mana bisa saya bekerja di bagian penting perusahaan Wiriadinata." Jelas Laura, tak mau kalah sambil menatap tajam Mario.
Mario pun membalas tatapan tajam Laura, dan saling bicara lewat bahasa kalbu. Sebenarnya tujuan Mario datang ke perusahaan Dymond hanya untuk supaya Laura keluar dari pekerjaannya, dan dia tidak perlu membayar finaltinya karena belum habis masa kontrak Laura bekerja.
Sedangkan Mario akan menikahi Laura walau secara sirih. "Apa dia lupa, dengan janjinya?" batin Mario.
"Tapi pak, kontrak sayakan belum habis." Protes Laura, tak terima dia masih terus mencari alasan agar tak di bawa oleh Mario.
"Tidak apa-apa Laura, perusahaan cabang yang Mario dirikan sedang membutuhkan pegawai baru. Dan saya bersedia memberikan pegawai saya untuk sahabat saya ini." Tutur pak Yusril, yang membuat Laura cemberut mau tak mau harus menerima keputusan itu.
"Baiklah, kalo gitu saya permisi dulu pak." Pamit Laura, dan beranjak dari duduknya. Sebelum menarik pintu Jimi berbicra pada Laura.
"Nona Laura, tunggu saya dan tuan Mario di lobby." Ucap Jimi, dan tanpa kata Laura mengangguk.
🌹🌹🌹
Laura berjalan gontai menuju pantry, dia akan berpamitan kepada Tia, dan Mimi sahabat yang selalu ada saat sedang susah, dan senang. Mereka adalah teman-teman Laura dari SMP.
"Tia..Mimi," panggil Laura, saat melihat kedua sahabatnya yang akan masuk ke dalam pantry.
Mimi dan Tia menoleh, mereka langsung merentangkan tangannya untuk saling berpelukan. Kebiasaan yang selalu mereka laukan setiap ketemu.
"Ya ampun, kangen." Seru mereka bertiga heboh, padahal belum satu hari Laura tidak kerja. Dan pada saat itu pula mereka sering bertukar kabar lewat pesan aplikasi hijau.
"Ya Tuhan kalian ini, kaya anak kecil saja." Tegur bu Endah, membuat mereka bertiga meringis dan meminta maaf.
"Bentar deh bu, Laura kan gak akan kerja sama kita lagi. Dia mau di pindahin kerjanya bu ke perusahaan lain," keluh Tia, yang selalu saja melow.
Bu Endah berdecak kesal. "Kalian ini." desisnya, membuat Laura terkekeh. Bu Endah masuk ke dalam pantry di ikuti oleh tiga MiTaLa.
"Kamu pindah ke perusahaan mana, Laura ?!" tanya Bu Endah, sambil menyeduh kopi instan yang beraroma huzelnut.
"Perusahaannya tuan Mario bu, aku lupa apa nama perusahaannya." Ucapnya.
"Tuan Mario yang tampan, macam Kevin Lutlof itu ?" tanya Mimi antusias, dan di jawab anggukan oleh Laura.
"Aku juga mau dong ikut ke perusahaannya." Sahut Tia cepat.
"Ya udah, kamu aja gantiin aku Ti." ucap Laura, terkekeh.
Saking asiknya mengobrol, Laura sampai lupa waktu dan Jimi pun datang membubarkan obrolan asik mereka.
"Nona jika anda lupa, tuan Mario sudah menunggu." ucapnya datar.
"Baiklah semua, aku pamit dulu bye." Pamit Laura kepada, Tia, Mimi, dan bu Endah.
🌹🌹🌹
Dan di sinilah sekarang Laura, di mobil mewah Mario. "Kita mau kemana? Aku tahu kamu tidak mengajakku bekerja di perusahaan barumu kan?" tanyanya tanpa basa basi.
Mario menyunggingkan senyum, yang tak dapat Laura artikan membuatnya berigidik merasakan sesuatu bukan setan.
Beberapa jam kemudian, mobil telah sampai di sebuh perumahan mewah dan elite di sekitaran Jakarata pusat. "Ayo turun, aku akan memperkenalkan mu pada istriku." Jelas Mario, membuat Laura membulatkan matanya seketika.
"Aa--apa kamu bilang? Is--istri eumm jadi kamu sudah punya istri tuan Mario?" tanya Laura gugup, entah mengapa rasa kecewa timbul begitu saja di dalam hatinya.
"kamu pikir aku pria lajang begitu?" tanya Mario balik, sambil menatap Laura.
Mario pun melangkah masuk, dan menemui Dania yang berada di taman belakang. Dan di susul oleh Laura, sedangkan Jimi dia menunggu di depan rumah saja.
"Sayang." Sapa Mario, dan Dania pun tersenyum.
"Aku ingin mengenalkanmu, pada seseorang." lanjut Mario lagi.
"Siapa?"
Mario memanggil Laura, dan Laura pun berjalan menuju tempat di mana Mario dan Dania. Dania yang melihat itu pun di buat bingung dengan gadis muda di depannya ini.
Sebelum Dania bertanya, Mario sudah mengenalkan Laura pada Dania. "Sayang kenalkan ini Laura, dan Laura ini istri ku Dania."
Laura mengulurkan tangannya, dan di sambut oleh Dania. dan saling berkenalan.
"Lalu, untuk apa dia di sini?" tanya Dania panasaran.
"Aku akan menikahinya, Dania." Satu jawaban yang membuat Dania, tersambar petir di siang bolong. Dania melepaskan tangannya dari Mario, dan mundur selangkah.
"Tidak Mario, kamu mau menduakan ku? Karena aku tidak bisa memberikanmu anak?" teriak Dania.
Mario mendekati Dania, dan memeluknya sedangkan Laura dia tidak tau harus berbuat apa dia hanya bisa menundukan kepalanya. Sebagai wanita dia tau akan kesedihan hati istri dari Mario ini. Wanita mana yang ingin berbagi suami dengan wanita lain.
Mario memegang bahu Dania, dan menatap wajah cantik yang berurai air mata. "Dengarkan aku Dania, aku tidak akan menikahinya secara resmi. Aku hanya akan menikah secara agama dengannya, dan dia di sini sampai melahirkan anakku, yang akan menjadi anakmu juga." Jelas Mario.
"Maksudmu, bagaimana ?aku tidak mengerti." Mendadak Dania merasa tidak mengerti, karena cobaan yang ada, dan rasa ke terkejutan atas pemberitahuan sang suami yang akan menikah lagi.
"Maksudku, dia akan memberikan kita anak setelah itu dia pergi dari hidup kita. Dia memiliki hutang yang besar kepadaku Dania." Ucapnya, sambil melirik sekilas Laura.
Mendengar ucapan Mario tentang kata 'Pergi' membuat hati Laura terasa mencelos, dan dia buru-buru memalingkan wajahnya, dan matanya terasa panas.
"Bagaimana, Dania ?!apa kau mengizinkanku menikahi Laura?" tanya Mario, dengan lembut.
"Kamu nanti, tidak akan sedih memikirkan apa yang telah pergi dari kita Dania." Lanjut Mario lagi.
"Baiklah, aku mengizinkan kalian menikah. Tapi..." Dania menjeda ucapannya.
"Rahasiakan pernikahan kalian, dan rahasiakan jika dia adalah istri keduamu Mario, bagaimana?"
Mario mengangguk tanpa pikir panjang, dia tidak ingin melukai Dania lebih dalam lagi. Tanpa di sadari olehnya, ada hati wanita lain yang terluka. "Istri yang tak di anggap." Batinnya, tersenyum miris.
"Ini baru izin menikah, dan belum satu hari bagaimana kedepannya? Apa aku bisa menjalani hari-hariku melihat kemesraan mereka berdua? Apakah aku bisa tidak melibatkan cinta di dalam hati, yang pasti akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Hati manusia tidak ada yang tau bagaimana itu." Batin Laura, menatap Mario dan Dania yang sedang berpelukan. Laura membalikan badannya, dan melangkah keluar tanpa permisi bulir bening meluncur dengan bebasnya.
Laura mengusap air mata yang jatuh, dengan kasar. "Sial, kenapa jadi cengeng gini sih." Guamamnya.
tbc...
Maaf typo.
Jangan lupa like, dan komen yah makasih 🙏 kasih 🌹 atau ☕ 😁