Twin'S

Twin'S
Bab.66



...~Tidak semua bisa di jelaskan dan tidak bisa semua orang mengerti~...


Sore itu juga Yumna, Laura, Anjani dan Bara pulang ke rumah mereka di antar oleh Bara, dalam perjalanan Yumna memperhatikan Laura yang sedang melamun. Entah apa yang di lamunkan oleh ibunya tersebut.


Beberapa menit kemudian mobil yang di kendarai Bara, sudah sampai di halaman rumah Anjani. Tanpa banyak kata, Laura turun lebih dulu. Mencoba membuka pintu yang entah mengapa terasa jauh lebih sulit, Yumna yang melihat ibunya berusaha membuka kunci langsung melangkah menuju Laura.


"Ibu biar aku saja," ucapnya Yumna pun telah membuka pintu, dan Laura masuk begitu saja.


Laura langsung masuk kedalam kamar, dengan membanting pintu sangat keras. Anjani muncul bersama Bara di belakangnya, membawakan barang-barang mereka.


"Ibu mu, kenapa?" tanya Anjani.


"Engga tahu oma, patah hati mungkin," kekeh Yumna.


"Taruh aja di situ Bar," perintah Yumna saat melihat Bara kebingungan akan di simpan dimana, dan Bara pun mengangguk sebagai jawaban.


"Oma, istirahat dulu aja. Aku mau buat minum buat Bara," Yumna tersenyum menatap Bara.


"Ya sudah, Bara oma ke kamar dulu,"


"Iya oma," sahut Bara.


"Duduk dulu Bara," perintah Yumna.


Bara pun menunggu di ruang tengah, dimana terdapat televisi yang di atasnya terdapat foto Anjani, Laura dan Yumna.


"Diminum dan ini kuenya di makan ya, Bara. Kamu gak akan kenyang kalo liat foto terus," canda Yumna, Bara pun terkekeh.


"Tante Laura kenapa?" tanya Bara setelah meletakan cangkir di atas meja.


Yumna mengedikan bahunya acuh, dan menjawab asal pertanyaan Bara. Membuat Bara tertawa.


"Aku kira, cuma kita-kita aja yang bisa cemburu dan patah hati. Ternyata tante Laura juga bisa," ujar Bara tertawa.


"Kamu ihh... Kok, gitu sih sama ibu. Gak dapet restu baru tahu kamu," kekeh Yumna.


"Uuuppsss..."


Lagi-lagi Bara tertawa, entah mengapa tawa itu menular padanya. Yumna hanya bisa geleng-geleng kepala, dengan tingkah Bara. Dari dulu dia selalu begitu.


"Udah ahh... Berisik, aku mau lihat ibu dulu. Kamu mau pulang atau nginap?" tanya Yumna.


"Mau, nikah sama kamu boleh gak?" gombal Bara.


"Bara apaan sih ahh,"


"Lah!! Aku serius Yumna,"


"Ya sudah minta restu dulu sana, sama ayah Mario," ucap Yumna, kemudian dia beranjak dari duduknya dan meninggalkan Bara.


"Hah!! Serius? Na, kamu serius?" teriak Bara, namun Yumna tak menjawab.


"Bara...Bara," senyum Yumna tipis.


Dia memutuskan untuk melihat sang ibu, yang sedang sedih. Walau tidak menunjukan dia sedang sedih, tapi Yumna tahu bahwa ibunya sedang dalam masalah hati.


"Seperti anak muda saja, ibu ini." Gumam Yumna terkekeh.


****


Setelah menyimpan nampan, Yumna mengetuk pintu kamar sang ibu.


"Ibu boleh aku masuk?" teriak Yumna.


"Masuk aja, gak di kunci," sahut Laura berteriak pula.


"Ibu abis nangis?" tanya Yumna, setelah membuka pintu dan menghampiri Laura yang duduk di sudut dekat jendela. Spot favorite Laura saat dia sedih.


"Engga ko, ibu cuma kelilipan aja," bohong Yumna.


"Ibu, aku bukan anak kecil lagi. Aku sudah besar,"


Yumna pun ikut duduk, disisi Laura sambil memandang keluar jendela.


"Ibu cemburu," celetuk Laura, membuat Yumna menoleh menghadap sang ibu dan menautkan alisnya.


"Cemburu," gumam Yumna.


"Cemburu sama siapa?" tanya Yumna.


"Sama istri Mario," ketus Laura.


Yumna tertawa melihat tingkah sang ibu, benar-benar mirip ABG yang sedang kasmaran.


"Ibu ini, ada-ada saja deh. Lagian kenapa ibu cemburu? Jangan-jangan CLBK ya?"


"Iya Cinta lama belum kelar," tawa Yumna pecah, melihat rona di wajah Laura.


"Ibu masih menyimpan rasa buat ayah?" tanya Yumna mulai serius.


Dan Yumna melihat ibunya mengangguk sebagai jawaban membuatnya mendesah, bagaimana ibunya bisa mencintai seseorang sampai bertahan lama seperti ini.


"Kenapa ibu, gak mencoba membuka hati untuk yang lain?"


"Ibu tidak bisa, sudah jangan pedulikan ibu. Lebih baik pikirkan masa depan mu dengan Bara, apa kalian akan ke tahap selanjutnya?"


"Aku tidak tahu bu," lirih Yumna.


"Kok, gitu sih!! Kamu tidak mencintainya?"


"Belum, aku sedang berusaha untuk jatuh cinta padanya bu. Aku merasa nyaman dengan Bara," jelas Yumna.


"Jangan buat dia menunggu mu lagi sayang, sudah cukup dulu saat dia masih jauh dengan mu."


"Aku akan mencobanya bu,"


"Ceritakan bagaimana kamu, dan Yusra bisa baikan?"


Yumna pun menceritakan semuanya, tanpa ada yang terlewati atau di tutupi dari Laura. Yumna bilang jika Yusra dan Hito akan berkunjung dan menginap.


"Syukurlah, kalian sudah baikan. Ibu senang melihatnya,", ujar Laura membuat Yumna tersenyum.


*****


Sementara itu di kediaman Yusra, Hito yang baru saja selesai membersihkan diri pun menatap Yusra yang sedang berdiam diri di balkon kamar. Kini Hito pun sudah mulai kembali, ke mode dimana dia ingin melindungi Yusra dan berusaha setia pada satu wanita.


Hito memeluk Yusra dari belakang, dan menyandarkan dagunya di pundak Yusra. Membuat Yusra menoleh dan tersenyum pada Hito.


"Apa perasaan mu bahagia?"


"Ya, aku bahagia setelah mendapat apa yang aku mau. Yang selama ini gak pernah aku dapet dari siapa pun," papar Yusra.


"Jika di lihat hidup ku lebih beruntung di banding anak mana pun, aku memilik ayah dan dua orang ibu yang menyayangi ku. Serta kakak yang selalu menjaga ku," ucap Yusra tanpa mengalihkan perhatiannya pada senja yang sebentar lagi akan pergi di gantikan oleh pekatnya malam.


"Jangan lupa, kamu mempunyai aku dan mamah mertua mu. Yang menyayangi mu Yusra," ucap Hito.


"Aku tidak akan lupa, kamu dan tante Wina.... Ehh, maaf mama Wina. Adalah dua orang terpenting dalam hidup ku setelah papi dan mbak Mala," jelas Yusra dan Hito pun mengangguk.


"Ayok masuk," ajak Hito.


Yusra memincingkan matanya curiga, dan menatap tajam Hito.


"Kenapa sih? Kok, liatnya gitu kaya mau nerkam," kekeh Hito.


"Jangan bilang kamu, lagi mikir yang mesum ya?" goda Hito.


"Ish kamu... Ngeselin ya engga lah, mana mungkin aku gitu." Yusra menunduk menyembunyikan rona wajahnya.


"Alah jangan bohong, itu pipi mu merah," kekeh Hito, terus menggoda Yusra.


"Udah ahh, rese kamu. Pokoknya kalau Yumna belum nikah, jangan harap ada malam pertama," ketus Yusra.


"Ehh jangan gitu dong, Yusra ko kamu tega sih. Gimana kalau kakak mu itu, gak nikah-nikah sama bara!!"


"Ya makanya kamu bantu bujuk Bara, buat cepat-cepat menikah dengan Yumna."


"Iya-iya, nanti aku usahakan buat bujuk Bara. Supaya cepat-cepat menikahi Yumna," pasrah Hito.


"Nah gitu dong bagus," ucap Yumna terkekeh.


Membayangkannya saja di sangat bahagia, jika nanti dia dan Yumna hamil bersama dan bulan madu bersama. Yusra memiliki ide, walau sempat berseteru dia akan mengajak Keano dan Zea dan Juga adik tiri Hito. Terakhir yang dia dengar Zea sudah di bolehkan pulang besok.


"Ahh... kayanya, sama Auriga akan lebih seru," batin Yusra tersenyum.


"Ou iya, sayang. Bagaimana kalau kita, jalan bertiga tripel date gitu. Gimana?" tanya Yusra.


"Aku sih oke aja, kamu coba tanya yang lain. Mereka mau atau tidak? Kalau mau kita jadwalkan acaranya," jelas Hito.


"Oke, nanti aku akan hubungi Yumna dan Keano," jawab Yusra antusias.


Yusra berharap dengan acara jalan bersama, bisa mengeratkan hubungan mereka semua. Terutama hubungannya dengan Yumna, yang sempat tidak di terima baik oleh dirinya. Dan juga membuat Zea berdamai dengan Yumna.


tbc...


Maaf typo


Jangan lupa tinggalkan jejak ya, makasih 🙏