Twin'S

Twin'S
Bab.5



🌹🌹🌹


Pagi pun tiba tapi Laura sama sekali tidak memejamkan matanya, dia masih setia terduduk di lantai pinggir kasur dengan memeluk lututnya, dan membenamkan wajahnya.


Suara pintu terbuka, dan Laura mengangkat kepalanya di lihat Mario sudah rapih dengan jas yang melekat pas di tubuhnya. Laura memalingkan wajahnya enggan menatap Mario, dia kesal saat mengigat kejadian tadi malam. Di tinggalkan di malam pertama.


Mario yang melihat Laura, masih dengan pakaian semalam pun hanya bisa menghembuskan napas secara kasar. Dia sengaja bangun pagi karena merasa bersalah telah meninggalkan Laura sendiri. Dan langsung pergi ke apartemen dengan buru-buru.


"Laura maafkan aku."


Laura tidak menjawab, dia beranjak menuju kamar mandi, dan melakukan ritual mandinya, sambil menggerutu, dan mengumpat.


Laura keluar dari kamar mandi, dia tidak melihat Mario di kamar. "Mungkin dia ada di luar kamar." Gumam Laura. Laura menuju walk in kloset, dia melihat seisi lemari terdapat dres cantik, dan mahal tak lupa sepatu, dan tas juga. Laura mengambil satu dres bermotif bunga tanpa lengan, dengan panjang selutut. Tak lupa dia juga membawa **********, mengangkat salah satu. "Apa dia juga yang membelinya ?" gumamnya. "Sudahlah, aku tidak peduli," lanjutnya lagi.


Setelah selesai berpakaian, dan merias diri Laura keluar dari kamar. Dan tak menemukan siapa pun di sana, hanya catatan kecil beserta satu box makanan yang terkenal.


"Maafkan aku Laura, aku tidak bisa menunggumu. Aku ada meting penting. Dan juga aku sudah janji akan menemani Dania pergi. Jangan lupa habiskan sarapannya, untuk makan siang aku akan pesankan untukmu."


salam Mario


Laura meremas surat tersebut, dan membuangnya asal. Kemudian dia duduk dan membuka kotak makan tersebut. Ayam serundeng, lengkap dengan lalapannya. Dan dengan terpaksa dia memakan makanan tersebut karena dari kemarin dia belum makan lagi.


🌹🌹🌹


Sedangkan di kediaman Mario, dan Dania. Dania tengah sibuk mengurus segala sesuatu untuk liburan Mario dan Laura. Jika tak secepatnya kapan Laura bisa hamil begitulah pikiran Dania, walaupun sakit tapi Dania mencoba sabar, dan menerima semua segala sesuatunya.


"Apa anda yakin nyonya ?" tanya Jimi, Jimi membantu Dania untuk mengurus visa milik Laura.


"Ya, aku yakin Jim. Jika tidak secepatnya, Laura tidak akan cepat-cepat hamil. Aku takut semakin lama mereka bertemu setiap hari, dan semakin lama akan menimbulkan cinta di hati Laura." Jelas Dania, dan di jawab anggukan oleh Jimi.


"Sudah beres nyonya, mereka akan berangkat malam ini," jelas Jimi, pada Dania.


"Baik Jimi, terima kasih. Jangan lupa kamu jemput Laura kesini."


"Baik nyonya, saya permisi."


Jimi pun beranjak dari duduknya, dan akan ke tempat di mana Laura berada.


🌹🌹🌹


Di apartemen Laura sedang duduk di balkon, dia memandang ibu kota dengan perasaan bosan, dan kesal. "Dasar manusia gak punya hati," gerutu Laura.


Saat tengah asik melamun, Laura di kejutkan dengan suara bel. "Siapa yah ?apa makan siang ?" gumam Laura, sambil melirik jam di tangannya.


Laura membuka pintu. "Jimi."


"Selamat siang, nona." Sapa Jimi.


"Ada apa ?" tanya Laura ketus.


"Nyonya Dania, menyuruh anda ke kediamannya." jawab Jimi.


"Aku gak mau, lebih baik aku pulang sajalah. Aku bosan di sini." Keluh Laura.


"Laura, menurutlah jangan buat pekerjaanku sulit. Apa kamu tidak kasian pada nyonya Dania ?!"


"Dania..Dania..Dania, lagi lagi dia. Apa kamu tidak kasian padaku ?kenapa semua nya begitu simpati padanya. Sedangkan padaku tidak ada yang peduli." Bentak Laura, dengan napas yang memburu. Laura sedang sangat kesal.


"Bukan aku yang minta menjadi istri tuan mu itu Jimi. Bukan aku," lirih Laura, mulai terdengar isak tangisnya.


Laura enggan untuk menjawab, dia meninggalkan Jimi sendiri di ambang pintu tanpa berniat mempersilahkan dia masuk. Jimi menghembuskan napas secara kasar. Dia masuk dan memutuskan menunggu Laura di ruang tamu, Jimi juga sudah memberi tahu Mario bahwa Dania, ingin makan siang dengannya di rumah mereka. Dan Mario menyanggupi itu.


Jimi adalah orang kepercayaan Mario, dan Dania sekaligus menjadi asisten pribadi Mario, dan Dania. Laki-laki blasteran mandarin, dan Indonesia membuatnya selalu di teriaki oppa oleh gadis-gadis remaja jika di luar. Jika di kantor Jimi menjadi sekertaris Mario, dan Mario memiliki dua sekertaris yang selalu menggantikan Jimi jika Dania membutuhkannya sepeti saat ini.


🌹🌹🌹


Kediaman Wiriadinata


Mario sudah sampai di rumahnya, dia di sambut oleh Dania yang menunggunya di teras depan. Dania mencium punggung tangan Mario, dan Mario mencium kening, dan bibir Dania. Yang tak luput dari pengelihatan Laura yang baru saja turun dari mobil Jimi.


Dania yang menyadari kehadiran Laura pun, segera melepas pelukan Mario. "Laura, sudah sampai." Tanyanya basa basi, dan di jawab gumaman yang masih bisa di dengar oleh Dania.


"Kamu mengundang Laura juga, sayang ?" bisik Mario


"Aku punya sesuatu, untuk kalian." Dania balas berbisik.


"Laura ayo masuk, kita makan siang bersama." Ajak Dania, dengan senyum di wajahnya. Dania dan Mario masuk terlebih dulu, dan di susul oleh Laura di belakang mereka.


Sesampainya di meja makan, berbagai macam hidangan telah tersedia di meja. "Ya Tuhan, banyak sekali makanan nya. Jika ibu di sini dia pasti senang." Gumam Laura.


"Ayo duduk Laura, jangan bengong aja. Nanti setelah makan aku ingin bicara sesuatu denganmu, dan juga Mario." Tutur Dania.


Terjadi keheningan, dan kecanggungan selama makan siang tersebut. Hanya suara denting sendok, dan garpu yang terdengar.


Setelah selesai makan, Dania mengajak Laura, dan Mario ke kamarnya. "Apa yang ingin, kamu bicarakan sayang ?" tanya Mario, setelah sampai di kamarnya, dan Dania.


Laura duduk agak jauh, dari Mario dan Dania. Dania menyodorkan sebuah tiket liburan ke Bali. "Ini untuk kalian, tiket bulan madu beserta kamar hotelnya." Jelas Dania.


"Kamu tidak ikut ?" tanya Mario.


"Tidak, aku tidak ikut kalo aku ikut kamu tidak akan punya waktu untuk Laura. Dan calon anak kita akan lambat hadirnya." Terang Dania.


Mario membenarkan perkataan Dania, jika tidak segera maka tidak akan ada anak di antara mereka. Tapi masalahnya Mario selalu saja teringat akan Dania.


"Laura tolong tinggalkan, kami sebentar ada yang ingin aku bicarakan dengan Dania." Jelas Mario, dan Laura pun mengangguk kemudian beranjak dari duduknya. Dan keluar dari kamar mereka.


"Maafkan aku Dania sayang, aku sangat mencintaimu." Ucapnya, sambil memeluk Dania.


Dania membalas pelukan Mario. "Ini bukan salahmu, ini salahku yang tidak bisa memberikan mu keturunan Mario. Aku telah lalai menjaganya." Lirih Dania, mengingat dulu saat dia masih tengah hamil, dan tak mengindahkan kata-kata suaminya. Sehingga menyebabkan kehilangan sang anak yang di nantikannya.


"Tidak apa-apa sayang, jangan menyalahkan dirimu terus. Mungkin ini sudah menjadi kehendak Tuhan." Mario mencium kening Dania, mata, hidung, kedua pipi, dan terakhir bibir.


"Sudah aku masih halangan sayang." Goda Dania, membuat Dania terkekeh melihat raut wajah sang suami.


"Kamu lakukan bersama Laura Mario." Pinta Dania lirih, dan Mario mengangguk.


"Sampai dia hamil." Final Mario.


Tanpa di sadari mereka, Laura mendengar pembicaraan Mario dan Dania. Air mata Laura meluncur tanpa permisi. Dalam hati Laura bertekad untuk tidak melibatkan perasaan dengan Mario.


tbc...


Maaf typo, semoga suka di setiap episode yang aku tulis πŸ™


jangan lupa like, komen dan kasih hadiah 🌹atau β˜• makasih πŸ™πŸ–€β€οΈ