
💞💞💞
Sementara itu di perjalanan menuju rumah sakit, Mario dengan setianya memangku Yusra yang tak sadarkan diri. Darah terus keluar di bagian pelipisnya.
"Yusra, sayang maafkan papi nak. Bangun." Lirih Mario. "Hito cepat." Perintah Mario.
"Iya om, ini juga udah cepat." Balas Hito panik.
Beberapa puluh menit kemudian, mereka telah sampai di rumah sakit. Hito membuka pintu belakang dan menggendong Yusra, dan membawanya ke IGD.
Saat sedang dalam penanganan, Hito dan Mario menunggu dengan cemas. Pada saat itu pula entah mengapa Laura ingin melintas di depan IGD.
"Sepertinya itu Mario," gumam Laura, tanpa pikir panjang Laura langsung melangkah menghampiri Mario. "Mario." Panggil Laura.
Mario yang merasa di panggil pun, mendongkakan wajahnya dan melihat Laura ada di depannya.
"Sedang apa kamu, di sini ?" tanya Laura.
Tanpa di duga, Mario memeluk tubuh Yusra. Membuat Yusra gelagapan. "Mario lepas," desis Laura.
Hito yang melihat itu pun, sudah tidak peduli. Yang dia peduli hanya keadaan Yusranya. Laura melepas pelukan Mario dengan paksa.
"Kamu ingin membunuhku, Mario." Pekik Laura.
Tak lama dokter pun keluar, dan memberitahukan bahwa pasien baik-baik saja. Tidak mengalami luka serius hanya saja pelipisnya perlu di jait karena sobek. Setelah mendengar penjelasan dari dokter, Mario bisa bernapas lega dan langsung memindahkan Yusra ke ruang perawatan VIP yang berdekatan dengan kamar nyonya Anjani.
Saat di beri tahu bahwa Yusra yang terluka, Laura menangis dia langsung menemui sang anak yang sangat di rindukannya, dan memeluknya saat Yusra belum sadar.
"Kenapa jadi seperti ini, jika aku tau kamu terluka maka aku akan membawa mu." Lirih Laura, membelai wajah Yusra.
"Jika kamu tidak menginginkannya, maka kembalikan padaku." Ucap Laura dingin.
Dan Hito pun mengerti, bahwa wanita cantik tersebut adalah ibu kandung dari Yusra. "Pantas, ada kemirip dengan Yusra ibunya." Gumam Hito, menatap lekat Laura.
"Bukan seperti itu, Laura. Ini semua di luar dugaan, Dania tidak sengaja mengatakannya pada Yusra." Jelas Mario.
Laura tidak menjawab, dia terlalu malas mendengar kejelasan yang Mario lontarkan.
💞💞💞
"Aku gak bisa tidur, aku kepikiran sama laki-laki yang bersama mamah." Kata Yumna.
"Kamu mau tau siapa dia ?kalo mau tau kita bisa cari tau, Na." Usul Keano.
Yumna menoleh, dan menatap lekat wajah tampan kekasihnya itu. Membuat Keano salah tingkah. "Biasa aja kali liatnya, aku kan memang ganteng." Kekeh Keano, membuat Yumna mencebik.
"Baru di liatin aja udah ke pedean," Yumna tertawa terbahak-bahak. "Boleh tuh, kita cari tau siapa dia." Yumna menerima usul dari Keano.
Kemudian mereka larut dalam perbincangan ala anak muda, hingga tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 11 malam.
"Udah malam, ayo tidur." Ajak Keano, Yumna berdiri di susul Keano mereka berhadapan.
Yumna menghambur kepelukan Keano, Keano menyunggingkan senyum kecil dan membalas pelukan Yumna.
Keano tau yang Yumna butuhkan, hanya satu yaitu pelukan.
Sementara itu di rumah sakit, Mario menyuruh Hito pulang dan besok bisa kembali lagi.
Mario menatap Laura, yang tertidur di samping Yusra dengan terus menggenggam tangan Yusra erat. Mario juga sudah menempatkan seorang perawat untuk menemani nyonya Anjani.
"Aku mencintaimu," ucap Mario.
"Saat kau pergi, aku baru menyadari kau begitu penting, dan berarti di hidupku." Lirih Mario. "Apakah akan ada kesempatan, untukku bersama denganmu ?"
Mario terus bergumam sendiri, sambil menatap Laura wanita yang dia cintai akhir-akhir ini, wanita yang lebih muda dari nya. Yang membuat hidupnya berubah, dan meluluh lantahkan hatinya.
tbc...
Maaf typo
Jangan lupa like, dan komen. Makasih 🙏