
Waktu terbaik dalam hidupku adalah Ketika menjadi ayah untuk kedua anak Perempuanku.
Pagi itu Auriga mengantarkan Ara ke rumah Zea, Ara tak mengatakan apa pun dan tak menanyakan apa pun. Biasanya anaknya itu selalu ingin ikut, jika Auriga dan Lula pergi tapi tadi Ara hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Ara." Panggil Zea.
"Ya tante,"
"Kamu baik-baik aja sayang?"
Bukannya menjawab Ara, malah meminta Zea untuk mengantar dirinya ke rumah Dela.
"Tante anterin Ara, ke rumahnya ka Dela yah!" pinta Ara.
"Memang kamu tahu dimana rumah ka Dela?"
Ara menggeleng dia pun tak tahu dimana rumah Dela, tapi dia sangat ingin bertemu dengan Dela.
"Ya sudah nanti siang, tante ajak kamu dan ka Manda jalan-jalan ke taman lagi ok!"
"Iya," jawab Ara pelan.
Zea pun membawa Ara untuk bermain, di ruang bermain dekat kamar Manda. Ara bermain di temani oleh Manda dan di awasi oleh Jimi, selagi Zea mengerjakan pekerjaan rumah.
"Aku titip mereka yah, dad."
"Iya, tenang saja. Mereka aman sama daddy," kekeh Jimi.
*****
"Kita mau ke mana sayang?" tanya Auriga melajukan mobilnya.
"Ke mall ayah, aku ingin jalan-jalan, belanja dan nonton. Boleh kan?"
"Boleh, apa pun untuk putri ayah tersayang." Ucap Auriga mengelus rambut Lula.
Lula tersenyum merasa sangat bahagia, akhirnya dia bisa berjalan-jalan dengan sang ayah tanpa ada gangguan. Auriga pun melajukan mobilnya ke salah satu mall terbesar di Jakarta, dan akan menghabiskan waktu bersama sang anak sampai sore.
****
Lain Auriga lain lagi Dela, setelah orang tuanya pulang dan Dika pergi kencan dia langsung masuk kamar. Dan bermalas-malasan sebenarnya dia ada tugas kuliah, namun entah mengapa malas sekali untuk mengerjakan tugas tersebut. Dela memutuskan untuk menunggu Dika saja, agar bisa nyontek.
"Maira, sini dong. Bete nih," ucapnya saat sambungan telepon di angkat.
"Engga bisa ka, aku lagi jalan-jalan bareng ibu dan oma Wina." Jelas Maira.
"Huh... Gak ngajak, nyebelin," kesal Dela.
"Ya udah ka, aku tutup yah. Bye," pamit Maira.
"Maira, ihh... Ngeselin. Gak ada yang ajak aku jalan-jalan."
Dela pun memutuskan untuk mengutak-atik ponselnya, saat melihat status Dika di aplikasi hijau dia langsung cemberut.
"Uncle rese."
Dela pun memutuskan untuk keluar rumah sendiri, dari pada mati bosan. Ehh tapi gak ada yang mati karena bosan, Dela tertawa karena ucapannya sendiri. Dela sudah siap, dia memakai sweater rajut berwarna hitam, dan celana jins berwarna hitam pula.
"Ahh... Pake sendal jepit aja," gumamnya dalam hati.
Dela pun memoleskan lipstik berwarna natural di bibirnya, walau tak memerlukan lipstik sebenarnya karena bibirnya sudah pink alami. Dela mengetuk pintu kamar Laura, dan Laura tersenyum pada Dela.
"Sayang mau kemana?"
"Grany aku mau izin keluar yah!" pintanya manja.
"Ya sudah boleh, tapi jangan pulang telat yah!"
"Siap, Opa cepat sembuh," ujar Dela pada Mario, yang sedang berbaring menatap sang cucu.
Mario hanya menganggukan kepala saja, Dela pun pergi menggunakan mobil sendiri.
"Terkadang aku masih tidak percaya, kalau aku dan kamu bisa sampai sejauh ini Laura." Ucap Mario, menatap Laura yang telaten mengurus dirinya yang sedang sakit.
Dulu pada saat Dania ada, Dania selalu menyuruh pelayan untuk mengurus Mario jika sedang sakit. Laura hanya tersenyum menanggapi ucapan suaminya tersebut.
"Aku pun begitu, aku selalu tidak percaya bahwa bisa memiliki anak lagi bersama mu. Terkadang apa yang kita tidak pikirkan sama sekali, malah kita dapat dulu aku begitu tidak mengharapkan mu," kekeh Laura.
"Terima kasih Laura, kamu sudah menemani ku dan memberikan anak-anak yang kadang menyebalkan. Tapi aku sayang pada mereka," kata Mario, Mario pun membawa Laura dalam pelukannya walau Mario tak fit.
****
"Kayanya cuma aku yang jomblo," keluh Dela melipat tangan di dada.
"Aku mau punya pacar Tuhan," jerit Dela dalam hati, saat dia melihat ke samping dan mendapati pasangan muda yang saling suap-suapan.
Dela pun memutuskan untuk membeli minum kesukaannya, dan duduk di bangku dekat pohon yang rindang.
"Ka Dela." Pekik Ara, membuat Dela langsung menoleh.
Entah kebetulan atau keajaiban, dia bertemu dengan Ara di taman ini.
"Ara, jangan lari-lari nanti jatuh." Tegur Dela.
"Ka Dela, aku kangen," ucapnya setelah sampai. Dan langsung memeluk erat Dela.
"Ara sayang baba kan bilang, jangan lari nanti jatuh," tegur Jimi yang terengah karena mengejar Ara.
Di belakang Jimi Zea, Keano dan Manda menyusul.
"Hai... Kita ketemu lagi," ujar Zea.
"Iya mbak," jawab Dela tersenyum.
Mereka pun duduk di bangku yang Dela tempati, kebetulan bangku tersebut terdapat meja dan lumayan untuk menampung mereka yang berjumlah empat orang dewasa.
"Aku tahu nama mu, tapi aku belum memperkenalkan diri. Saya Zea adiknya Auriga ayah Ara dan ini daddy saya namanya Jimi, ini Keano suami saya. Dan ini anak bungsu saya Manda, Manda salam sama ka Dela." Pinta Zea. "Sebenarnya masih ada lagi, tapi yang ada saja di sini yah!" sambungnya lagi sambil tertawa.
"Salam kenal, om, ka Keano." Jawab Dela.
"Salam kenal juga Dela, saya ucapkan terima kasih karena kamu menolonh cucu saya," ucap Jimi, Dela pun mengangguk.
Berbeda dengan Keano, dia menatap lekat Dela.
"Siapa nama ibu mu?" celetuk Keano.
"Ehh... Itu, ibu saya namanya Yumna ka." Jawab Dela.
"Yumna? Anaknya tante Laura?"
Dela pun menganggukan kepala, membuat Jimi menghela napas berat.
"Dunia begitu sempit ya," kekeh Zea. "Kita semua kenal orang tua mu, dan nenek mu," sambungnya lagi.
Dela hanya tersenyum saja, bingung ingin menanggapi apa. Dia akan menanyakan sendiri tentang keluarga Ara pada Yumna, Ara dan Manda pun bermain. Sedangkan orang dewasa mengobrol dan tak lupa, Dela meminta nomor ponsel Zea dan Auriga.
"Terima kasih, mbak Zea." Ucapnya.
"Sama-sama."
"Lain kali, mainlah ke rumah. Ara pasti senang," papar Jimi.
"Baik om, kapan-kapan aku akan main," sahut Dela.
Mereka pun makan siang bersama di salah satu cafe dekat taman, Keano dan Auriga juga menceritakan bahwa dia juga memiliki cafe dan kapan-kapan Dela harus mampir. Sungguh beruntung Del bertemu dengan keluarga Ara yang baik, tapi dia tidak tahu akan masa lalu keluarga itu terhadap sang ibu.
Dela menyuapi Ara dengan sabar, karena Ara selalu mengobrol saat makan.
"Maaf yah, Dela. Ara merepotkan, dia kalau makan gak ngobrol kaya ada yang kurang kali," kekeh Zea.
"Gak apa-apa mbak, aku seneng Ara cerewet banget." Balas Dela.
"Kamu juga makan, Dela." Kata Jimi, di jawab anggukan oleh Dela.
"Baba boleh gak aku nginap lagi, di rumah ka Dela?" celetuk Ara.
Jimi pun menoleh pada Zea dan Keano, dia sebenarnya kasihan pada Ara jika di rumah pun selalu di musuhi oleh kakaknya Lula.
"Nanti baba tanya dulu ayah ya! Kalo ayah boleh, nanti baba bakal antar langsung ke rumah ka Dela, gimana?" tawar Jimi.
"Oke, tapi janji ya!"
"Iya," balas Jimi.
Mereka makan siang dengan santai, karena masih ingin quality time bersama keluarga. Terutama Zea dan Keano, yang jarang sekali membawa Manda pergi keluar.
tbc...
Maaf typo
Jangan lupa tinggalkan jejak ya, makasih 🙏