Twin'S

Twin'S
Exstra Part.15



Beberapa menit setelah Bara sampai, tanpa menunggu lama Yumna mengajak Bara ke rumah Jimi.


"Ada apa sih?" tanya Bara.


"Anak mu kabur Bara, dia pergi ke rumah duda itu," marah Yumna.


"Sayang sudahlah, Dela sudah besar kasian dia. Kamu selalu melarang ini dan itu,"


"Aku melakukan itu demi kebaikannya, apa salahnya? Aku gak rela, kalau dia menikah dengan anaknya Jimi."


Bara diam tak menjawab ucapan Yumna, dia tahu Yumna sedang emosi jadi lebih baik dia diam.


Berpuluh menit kemudian mobil Bara sudah sampai di kediaman Jimi, dengan cepat Yumna turun dari mobil.


"Sayang," panggil Bara, dia tidak ingin terjadi apa-apa dengan sang istri.


Yumna menggedor pintu rumah Jimi, dan dengan terpogoh-pogoh pelayan rumah Jimi membuka pintu rumah. Jimi dan Zea yang mendengar keributan langsung keluar kamar.


"Ada apa ini?" tanya Jimi.


"Ini tuan, nyonya ini mencari den Auriga."


"Bibi boleh masuk ke dalam," perintah Jimi.


"Baik tuan."


Yumna menghiraukan Jimi, dia berteriak memanggil Dela.


"Yumna, Dela tidak ada di sini." Kata Zea.


"Kalian pasti nyembunyiin anak ku kan?" pekik Yumna.


"Sayang," Bara mencoba menenangkan Yumna, dan menahan tubuh Yumna dengan memegang kedua tangannya.


"Zea benar, Dela tidak di sini. Auriga juga dia tidak berada di sini," jelas Jimi.


"Bohong, pasti anak mu culik Dela. Seperti yang kamu lakukan ke aku."


"Kalau kamu gak percaya, kamu boleh masuk. Ayok masuk," ajak Zea membuka lebar pintu rumahnya.


Yumna pun menerobos masuk, dan berteriak memanggil Dela. Membuat Ara takut dia memeluk Lula dengan erat.


"Aku takut ka, apa ibunya ka Dela akan marah sama kita?"


"Engga Ara, percaya sama kakak. Ibu ka Dela gak akan marah."


Lula berusaha menenangkan sang adik, bersama Manda. Sebenarnya Manda takut tapi di berusaha bersikap biasa saja.


****


Tepat pukul tujuh sore, Dika sampai di rumah Yumna. Rumah tampak sepi namun semua lampu sudah menyala.


"Rumahnya kok sepi ka?" tanya Anyelir.


"Entahlah, ayo kita liat."


Dika mengetuk pintu rumah Yumna, dan dibukakan oleh Tiana.


"Uncle," pekik Tiana, memeluk Dika erat.


"Aku takut uncle, di rumah sendiri. Bunda sama ayah cari ka Dela dari tadi," ujar Tiana.


"Memang ka Dela kemana?"


"Ka Dela pergi dari rumah, aku yang bantu kabur tapi aki gak bilang bunda. Takut di marahin bunda," cerita Tiana.


"Ya sudah tidak apa-apa, uncle temanin kamu dulu di rumah."


Dika dan Anyelir memutuskan untuk menemani Tiana, Tiana bilang dia juga belum makan. Anyelir pun memasak ayam yang sudah di bumbui yang berada di dalam kulkas, beruntung Yumna sudah memasak nasi terlebih dulu. Anyelir memasak di temani oleh Dika.


"Makasih uncle, tante." Ucap Tiana.


"Sama-sama," balas Anyelir.


Mereka menemani Tatiana makan, tak lama terdengar suara deru mobil dan pintu di buka dengan kasar. Serta suara tangisan Dela, Dika dengan segera melihat ke depan. Dimana Dela di seret paksa oleh Yumna, dan jangan lupakan pipinya yang memerah dan rambut acak-acakan.


Bara berusaha memisahkan mereka, Dika yang melihat kakak iparnya kesusahan dengan segera membantunya.


"Ka Yumna," bentak Dika menatap tajam Yumna.


"Apa?" marah Yumna.


"Apa yang kakak lakukan hah? Lepasin dia ka, kakak gak liat Dela kesakitan."


"Diam kamu, jangan ikut campur. Kamu gak tau apa yang di lakukan gadis pembangkang ini."


"Sayang sudah, lepaskan Dela." Pinta Bara.


Dika melirik Anyelir dan Tatiana yang memeluk Anyelir ketakutan, Dika memerintahkan membawa Tiana ke kamar. Dan Anyelir pun menurut.


"Ka tenang, ada apa?" Dika berusaha melepaskan tangan Yumna dari rambut Dela yang di jambak.


Namun Yumna menepis kasar tangan Dika, Dika dan Bara berusaha melepaskan mereka berdua.


"Yumna cukup, jangan buat kesabaran ku habis," bentak Bara.


Yumna melepaskan cekalannya pada Dela, Dela terduduk di lantai dengan memegangi kepalanya. Sedangkan Yumna di peluk oleh Bara.


"Del ada apa?" tanya Dika.


"Kamu tau Dik, keponakan mu itu. Dia bukan lagi perawan, dia sudah melakukan hal tak pantas dengan duda itu," cerita Yumna, sambil terisak.


"Apa?" pekik Dika. "Del, ini gak bener kan? Pasti ini bohong hanya akal-akalan lo, buat nikah sama dia." Tanya Dika.


"Aku gak bohong Dik, aku serius." Lirih Dela lemah.


Membuat Dika menjauh dari Dela, menatapnya tak percaya. Segitu inginnya dia menikah dengan Auriga, sampai melakukan hal nekat tersebut.


"Dela lo."


"Aku gagal mendidiknya Bara, aku gagal. Aku ibu yang gagal," ucap Yumna memeluk Bara.


Bara pun sama sakit hati dengan pengakuan sang anak, tapi dia lebih tenang tanpa emosi. Dia akan mengajak bicara Dela setelah Yumna tenang.


"Dika tolong hubungi ibu, dan papi." Perintah Bara.


Dika pun mengangguk tanpa banyak bicara, dia menghubungi kedua orang tuanya. Yumna yang masih dalam pelukan Bara, menatap tajam Dela yang menangis memegangi pipinya. Dia tak pernah mau melakukan itu pada anaknya, tapi pengakuannya membuatnya murka.


****


"Kamu yakin, Dela tidak di sini?" tanya Yumna pada Zea, Zea pun mengangguk sebagai jawaban.


"Lalu dimana kakak mu?"


"Aku tidak tahu." Balas Zea.


Yumna pun tersenyum tipis menatap Zea, Yumna pun menuju kamar anaknya Zea. Dan mengetuk pintu tersenyum sinis menatap Jimi.


"Jika kalian, tidak memberitahu ku. Maka akan aku tanyakan pada anaknya," batin Yumna.


Manda membuka pintu dan menatap Yumna, Yumna tersenyum manis menatap Dela.


"Sayang boleh tante, bicara sama Lula atau Ara?"


"Boleh tante," jawabnya pelan.


Yumna pun masuk ke dalam kamar, Manda di ikuti oleh Zea yang takut anak-anak di lukai. Jimi dan Bara pun sama mereka menunggu di depan pintu yang tertutup.


"Lula sayang, jangan takut aku ibunya ka Dela. Kamu mau kan ka Dela jadi ibu mu?" tanya Yumna lembut.


Lula pun tersenyum dan mengangguk antusias.


"Baik tante, ikut aku." Ajak Lula.


Lula menatap Ara, yang memeluk boneka kesayangannya itu.


"Ara tunggu di sini, kakak mau ke rumah kita." Pinta Lula, dan Ara pun mengangguk.


Lula pun mengajak Yumna menuju apartemen mereka, Lula cukup hapal daerah tersebut.


"Kalian jangan ikut, tetap di sini." Ucap Yuman pada Jimi dan Zea.


"Tapi Yumna, jangan sakiti Auriga." Pinta Jimi


Membuat Yumna tersenyum sinis.


"Aku bukan diri mu, yang tega menyakiti anak orang." Ujar Yumna dingin.


Mereka pun pergi meninggalkan rumah Zea, Zea dan Jimi merasa khawatir akan keadaan Auriga.


"Zea cepat hubungi kakak mu," pinta Jimi.


"Sudah ayah, tapi dia tidak mengangkatnya." Jawabnya.


Jimi memejamkan mata, dan menghembuskan napasnya secara kasar.


"Semoga kamu baik-baik saja nak."


Zea memeluk Ara dan Manda.


****


Berpuluh menit kemudian, mereka sudah sampai di apartemen milik Auriga. Lula membawa Bara dan Yumna menuju unitnya.


Tak lama mereka sudah sampai di unit Auriga, Lula menekan password apartemennya. Setelah terbuka mereka pun masuk.


Detak jantung Yumna menjadi cepat, saat melihat pemandangan yang tak pantas di lihat. Sedangkan Bara dia membawa Lula ke luar apartemen.


"Dela," pekik Yumna marah, dia menghampiri Dela dan menamparnya dengan keras.


"Bunda, aku bisa jelaskan."


"Jelaskan apa hah? Jelaskan kamu sudah melakukan itu," marah Yumna.


"Bunda aku..."


"Cukup, katakan apa kamu sudah melakukan itu Dela?"


"Yumna aku bisa jelaskan," sahut Auriga cepat.


"Iya bunda, aku sudah melakukannya." Pekik Dela menangis.


Yumna terduduk di lantai, dadanya sakit Bara yang melihat Yumna memegangi dadanya langsung menghampiri sang istri. Dan menatap Dela dan Auriga yang hanya mengenakan handuk.


"Ayah," panggil Dela lirih.


"Ayah kecewa sama kamu, bukan begini caranya." Ujar Bara. "Sekarang cepat pake baju kamu, dan kita pulang," sambungnya lagi, dia membawa Yumna keluar untuk menenangkan dirinya.


"Dela, kenapa kamu bilang kita sudah melakukannya?" tanya Auriga.


"Karen aku gak mau berpisah sama kamu," ucap Dela memeluk Auriga.


"Semua akan sulit Dela, Yumna akan semakin membenci ku."


Auriga memegang pipi Dela, dan mengecup bibirnya sekilas.


"Jika kita jodoh, maka kita akan bersama. Percayalah aku akan setia sama kamu," ujat Auriga memeluk Dela, dia sudah pasrah pada takdir.


"Auriga tapi..."


"Menurut lah Dela, sekarang pake baju mu dan pulang. Aku baik-baik saja dan akan memberi pengertian pada Lula dan Ara," kata Auriga.


Dela pun menurut, tadi dia habis mandi di kamar Auriga. Sedangkan Auriga mandi di kamar Lula, rencananya mereka akan menjemput anak-anak. Tapi Dela yang jatuh menimpa Auriga membuat Yumna salah paham, salahnya mereka terbuai dalam ciuman panas. Dan tangan Auriga yang tak bisa di kondisikan.


****


Lamunan Yumna buyar, saat Mario, Laura dan Yusra datang.


"Ada apa?" tanya Mario menatap Yumna dan Dela bergantian.


"Dela dan Auriga, melakukan hubungan badan yah!" ucap Yumna.


"Apa?" pekik Mario dan Laura.


"Aku gak percaya, ka kamu jangan menuduh sembarangan." Bela Yusra.


"Aku gak menuduh Yusra, aku liat sendiri."


Mario memegang dadanya yang terasa sakit.


"Sayang kamu gak apa-apa?" tanya Laura.


"Gak papa sayang," balasnya.


Dela mendekati Mario, dan bersimpuh di kakinya.


"Aku tidak melakukan itu opah, bunda salah paham. Aku ingin menjelaskan tapi bunda menuduh ku."


"Tapi kamu mengakuinya Dela," bentak Yumna.


"Itu karena bunda gak percaya sama aku," pekik Dela menatap Yumna.


"Aku gak mau bunda melarang ku, berhubungan dengan Auriga bun. Aku cinta sama dia bunda, aku gak tau permasalahan apa antara bunda dan om Jimi. Tapi aku mohon restui kita bunda," pinta Dela.


Semua orang terdiam mendengarkan kejelasan dirinya, dia nekat berbohong demi bisa bersama dengan Auriga.


"Opah, aku mohon." Dela berlutut di depan Mario.


Mario menghembuskan napasnya lelah, bagaimana pun dulu Jimi pernah menjadi asisten setianya. Terlepas dia pernah menyakiti Yumna, Mario menatap Dela yang menangis menunduk memohon padanya, kemudian menatap Bara dan Yumna.


"Opah terserah, ayah mu." Kata Mario.


"Ayah," lirih Dela menatap Bara.


Dela yakin Bara tidak seperti Yumna, Yumna menatap Bara dan menggeleng.


"Beri ayah waktu nak, ayah akan memikirkannya. Sekarang kamu istirahat terlebih dulu," pinta Bara, Dela pun menurut dan pergi ke kamarnya tanpa menatap semua orang.


"Sebenarnya apa masalah ka Yumna sama om Jimi?" tanya Dika.


"Dia pernah mengancam dan menculik kakak mu," sahut Laura.


"Alasannya apa?"


"Karena Keano mantan kakak mu, dan belum bisa move-on dari kakak mu. Membuat Zea tak suka," jelas Laura, Laura tak menjelaskan secara rinci permasalahannya pada Dika.


Dika pun tak menjawab ucapan sang ibu, dia menatap kakaknya yang menangis dan di tenangkan oleh Bara. Semua anggota keluarga memutuskan untuk menginap di rumah Yumna, Dika pun meminta Anyelir untuk tinggal di sini.


"Gak apa kan, kalo kamu nginap di rumah kakak ku?" tanya Dika.


"Gak papa, ka. Aku gak masalah," balas Anyelir.


Hari itu juga Anyelir di kenalkan pada Laura dan Yusra yang sedang memasak makan malam, sang ibu terlihat menerima Anyelir dengan hangat. Apalagi sang kakak yang nampak nyambung dengan Anyelir, membuat Dika bernapas lega. Sekarang dia akan membantu bagaimana kakaknya menerima Auriga sebagai menantunya, dengan masa lalu mereka yang buruk.


Semoga suka


Pengen di buat sad ending, karena gak ada ide sama sekali (༎ຶ ෴ ༎ຶ)


Maaf typo


Jangan lupa tinggalkan jejak, makasih 🙏