Twin'S

Twin'S
Exstra Part.17



Cinta itu sederhana, jika kamu tidak mampu membuatnya tertawa, cukup tidak membuatnya terluka. Cinta itu saling menguatkan jika engkau ikhlas dalam kebersamaan.


Permasalahan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir, membuat Yumna semakin lemah dia tidak bisa berpikir dewasa. Selalu mengandalkan emosi, karena sakit hati yang terjadi di masa lalu.


"Yumna," panggil Laura.


"Ibu."


Yumna memeluk Laura, hanya Laura yang selalu mengerti dan membuatnya tenang. Laura sudah tau tentang kejadian di rumah sakit, dan pagi ini Yumna di larang ke rumah sakit karena Dela enggan bertemu dengannya. Dan untuk sementara waktu Laura akan menginap di rumah Yumna.


"Belajar memaafkan Yumna, sudahi rasa benci mu itu. Izinkan mereka bersama, jika kamu tidak mau Dela membenci mu selamanya." Papar Laura.


"Yumna, cinta memang seringkali membuat kita terluka, tapi ia membuatmu semakin dewasa. Jadilah pribadi yang selalu memaafkan," sambung Laura menasehati Yumna.


"Tapi bu..."


Laura menyela ucapan Yumna.


"Jika kamu ingin anak mu berada di dekat mu, turuti keinginannya Yumna. Dela sudah dewasa."


"Akan aku pikirkan bu," lirih Yumna.


Laura pun mengusap tangan sang anak, dan memeluknya. Kemudian keluar dari kamar Yumna, hari ini Laura akan mengantar makanan dan baju ganti Bara ke rumah sakit.


"Tiana hari ini, di antar opah yah. Bunda lagi gak enak badan dan ayah mu lagi di rumah sakit jaga ka Dela," ujar Laura.


"Memang ka Del kenapa Grany?"


"Ka Dela sakit," sahut Mario, yang sudah duduk di meja makan.


"Aku mau liat, ka Dela bolehkan opah? Grany?"


"Boleh sayang, tapi nanti setelah pulang sekolah yah! Grany jemput kamu," ujar Laura, Tatiana pun mengangguk sebagai jawaban.


Mereka hanya sarapan bertiga saja, sebab Dika mengantar Anyelir pulang. Sedangkan Yusra dan Hito pulang sesudah mengantar Yumna pulang ke rumah.


****


Apartemen Auriga


Semalam Auriga tak menjemput kedua anaknya, dia menenangkan diri untuk sesaat. Merenung apakah benar dengan menjauh dari Dela? Tapi hatinya mengatakan tidak.


Semalaman dia tidak tidur, hanya menatap langit malam sambil menyesap minuman beralkohol yang sama sekali tak pernah dia sentuh setelah menikah. Namun itu tak membuatnya mabuk, hanya sedikit pusing akan hilang dengan tidur sebentar.


"Apa yang harus aku lakukan? Aku mencintainya, Aku butuh dirinya seperti jantung butuh detak. Bagi dunia, kamu mungkin satu orang, tetapi bagi ku kamu adalah dunia."


Auriga menatap mentari yang sudah muncul dari arah timur, dia masih betah duduk di balkon kamarnya. Dering ponsel membuyarkan lamunannya dari sang surya yang mulai tampak.


"Ya." Jawabnya, setelah mengangkat telepon.


"Ayah, Ara sakit." Pekik Lula panik di sebrang telepon.


"Apa? Kenapa bisa?"


"Aku gak tau ayah, semalam dia tidur sama aku. Tiba-tiba mengigau manggil ka Dela ayah,"


"Tante Zea mana?"


"Tante Zea lagi bikin bubur, Ara rewel lagi di pangku sama om Keano dan opah nenangin Ara."


"Sayang kasihkan ponselnya pada opah," pinta Auriga.


"Hallo."


"Dad, bagaimana Ara bisa demam?"


"Daddy gak tau, semalam dia makan dikit. Dan katanya dia kangen sama ka Dela, nanyain terus Dela. Auriga daddy harap kamu temui Yumna, dan bujuk dia. Atau daddy perlu yang melakukannya untuk meminta maaf?"


"Tidak usah dad, aku akan ke rumah sebentar lagi."


Auriga mematikan sambungan telepon, bergegas membasuh wajah saja. Kemudian meluncur menuju rumah Zea, mulai saat ini dia tidak akan mengandalkan Dela. Dela tidak perlu bahagia bersamanya.


Karena jalan belum terlalu ramai, Auriga sampai di rumah Zea dengan cepat.


"Ngebut lagi?" tanya Jimi tiba-tiba, saat dia masuk ke dalam rumah.


Auriga meringis mendapat tatapan tajam dari sang ayah.


"Maaf dad," sesalnya. "Gimana keadaan Ara?" tanyanya.


"Dia masih panas, saat ini sedang tidur. Semalam Keano dan daddy menjaganya bergantian."


Auriga menatap sang anak, yang terdapat kompres di dahinya. Auriga mengusap pipi Ara yang memerah karena panas, dan mengecup pipinya.


"Ayah," panggil Lula.


Auriga tersenyum menatap Lula, yang sudah memakai seragam.


Auriga menarik Lula dalam pelukannya, menenangkan sang anak.


"Sudah itu bukan salah kamu," ujar Auriga.


"Maafkan aku juga, karena kemarin bawa ibunya ka Dela ke rumah kita yah!"


"Gak papa sayang, mungkin ibunya ka Del khawatir sama ka Dela yang pergi dari rumah. Sekarang kamu siap-siap ya! Nanti ayah antar ke sekolah," ucap Auriga.


"Iya ayah."


Lula keluar dari kamar yang di tempati oleh Ara, Auriga menatap kembali sang anak dan mencium keningnya.


"Cepat sembuh sayang."


****


Di rumah sakit, Dela duduk termenung menatap jendela kamar yang menghadap keluar. Walau kamarnya mewah tapi namanya rumah sakit membuatnya tak nyaman, berulang kali dia meminta pulang pada Bara.


"Dela sarapan dulu," ucap Bara.


"Nanti saja ayah, aku gak lapar." Kata Dela tanpa menoleh pada Bara.


"Sayang jangan seperti itu, nanti sembuhnya lama.


"Aku gak peduli ayah, aku memang sedang sakit." Tunjuk Dela pada dadanya.


Sekalinya jatuh cinta langsung patah hati, memikirkan Auriga memuruskan untuk pergi membuatnya frustasi. Dia tidak bisa menyusul ke rumah Zea atau rumah Auriga.


Bara menghembuskan nafasnya, berusaha memahami sang anak. Mungkin ini saatnya untuk berbicara berdua.


"Dela apa kamu mencintainya?" tanya Bara.


"Iya ayah, aku mencintainya. Dia memberikan rasa nyaman yang selalu ayah berikan pada bunda, aku selalu memimpikan laki-laki yang seperti ayah." Papar Dela menatap Bara.


"Bukankah setiap anak perempuan, ingin memiliki suami yang baik seperti ayahnya. Dan ayahnya adalah cinta pertama bagi anak perempuan!" sambung Dela kemudian.


Seorang ayah akan menjadi sosok laki-laki pertama yang dicintai anaknya. Tak heran ketika seorang anak perempuan ditanyakan soal pria, maka dia akan menggambarkan bagaimana ayahnya. Dan itu terjadi pada Dela, dia selalu memimpikan memiliki suami sepertu ayahnya, yang mampu menyayangi sang ibu.


Bara tersenyum menatap Dela, dia tak menyangka sang anak telah dewasa bahkan mengenal cinta. Waktu yang di habiskan Bara sangat sedikit dengan Dela, saat libur Dela lebih sering bersama Maira di rumah Yusra sedangkan dirinya. Menghabiskan waktu bersama Yusra dan Tatiana.


"Ayah tak menyangka bahwa putri kecil ayah, sudah dewasa." Ucap Bara dengan mata mulai memanas.


"Kamu berhak bahagia Dela, bersama siapa pun pilihan mu. Asal dia baik, ayah akan mendukung mu nak, tentang bunda mu. Biar itu jadi urusan ayah, yang terpenting apa yang membuat mu bahagia akan ayah dukung." Papar Bara, memeluk Dela yang mengangguk.


"Terima kasih ayah," ucap Dela terisak.


Pintu di ketuk dari luar, melerai pelukan mereka. Bara membuka pintu dan Laura tersenyum pada Dela. Dia sudah mendengar pembicaraan ayah dan anak tersebut.


"Ibu bawakan baju ganti, dan juga makanan untuk mu dari Yumna." Ujar Laura, dan Bara pun menerimanya.


"Aku mandi dulu, Dela ayah mandi dulu." Izin Bara.


"Iya ayah," sahut Dela.


Bara masuk ke dalam kamar mandi, setelah meletakan kotak sarapan di ruang tunggu.


"Grany," sapa Dela.


"Gimana keadaan mu? Sudah lebih baik?" tanya Laura.


"Sudah mendingan, cuma masih sakit aja," tunjuk Dela pada tangannya.


"Lain kali jangan bertindak bodoh nak, gimana kalo waktu itu ayah mu tak mencoba mendobrak pintu kamar mu. Mungkin kamu gak jadi menikah dengan Auriga," canda Laura membuat Dela terkekeh.


"Nanti siang Tiana juga ingin menjenguk mu, katanya kangen," ujar Laura.


"Tumben kangen, biasanya masa bodo."


Laura menepuk paha Dela, membuat Dela terkekeh. Tidak biasanya sang adik merindukan dirinya.


"Mungkin kemarin dia khawatir, karena denger kamu di marahi bunda mu."


"Grany, apa kalo aku nikah sama yang seumuran bunda. Apa Grany akan merestui?" tanya Dela.


"Grany akan merestui kamu sayang, asal kamu bahagia. Kamu tahu, Grany dan opah mu perbedaannya saja sangat jauh," ujar Laura, mengusap lengan Dela.


"Tapi mungkin bunda mu, sudah punya cucu di usianya yang terbilang masih muda. Dan Grany sma opah mu punya buyut sambung," kekeh Laura, membuat Dela pun tertawa.


Bara menatap Dela yang tertawa lepas, anaknya tersebut memang selalu tertawa lepas seperti itu.


"Apa pun, yang membuat mu bahagia. Akan ayah dukung nak," gumam Bara, mengintip di balik pintu kamar mandi.


Semoga suka 💞


Beberapa bab lagi tamat ya, maaf menunggu lama.