Twin'S

Twin'S
Exstra part.7



Waktu menunjukan pukul tiga sore, Dela memutuskan untuk pulang. Namun Ara menahannya untuk tidak pulang, dia ingin bermain bersama Dela. Atau Ara ikut ke rumah Dela, pilihan yang sulit dan membingungkan.


"Sayang ka Dela, besok harus kuliah. Lalu jika ka Dela pergi kamu sama siapa nanti," tanya Zea masih membujuk keponakannya yang menangis.


"Tapi aku mau ikut tante," isak Ara.


"Sudahlah sayang, biarkan Dela ikut. Nanti kita kasih tau saja ka Riga," ujar Keano tak tega melihat Ara menangis.


"Ya sudah Ara boleh ikut, tapi janji jangan nakal ya."


"Iya tante," sahutnya antusias.


"Dela titip cucuku yah! Nanti baju-bajunya akan diantar ke rumah tuan Mario," kata Jimi.


"Iya om, saya akan menjaga Ara. Kalau begitu kami permisi dulu om, mbak, ka Keano. Mari," pamit Dela.


Zea pun menghela napas lelah, bagaimana bisa keponakannya itu langsung menempel dengan orang baru.


"Sudah kita pulang, kasian Manda kelelahan dia tidur di mobil. Nanti daddy bakal bilang sama kakak mu," jelas Jimi.


"Iya dad, ayo sayang kita pulang. Kamu jangan mengkhawatirkan Ara," ujar Keano.


Mereka pun meninggalkan taman, yang masih saja ramai oleh pengunjung. Sedangkan di tempat yang berbeda, Auriga dan Lula sudah selesai menonton film kesukaan Lula.


"Ayah aku lapar," rengek Lula.


Auriga menganggukan kepala sebagai jawaban, dia terlalu lelah mengikuti setiap langkah sang anak. Auriga membawa Lula kesalah satu makanan cepat saji, yang menyajikan ayam goreng tepung yang super krispy.


Auriga menatap Lula yang sedang makan dengan lahap, sedangkan Auriga hanya menatap burger yang ada di hadapannya.


"Kenapa gak makan yah? Ayah gak suka?" tanya Lula membuyarkan lamunan Auriga.


"Tidak, ayah suka kok. Cuma ayah bahagia melihat kamu makan dengan lahap,"


Lula tersenyum menatap sang ayah, kemudian dia melanjutkan makannya. Dia ingin setiap akhir pekan seperti ini dengan sang ayah, tanpa gangguan dari adiknya. Biarlah orang beranggapan Lula tak peduli, dan jahat sebagai kakak. Karena Ara juga jahat, dia telah menyebabkan ibu yang dia cintai pergi.


*****


Dela dan Ara pun sudah tiba di kediaman Mario, ternyata mobil Dika sudah terparkir cantik di garasi.


Dela mengucapkan salam, yang di balas oleh Dika.


"Hai... Ara," sapa Dika.


"Hai... Ka Dika," Ara berjalan ke arah Dika, dan memeluk lelaki tersebut.


"Ara kangen sama ka Dika, sama ka Maira juga," ucapnya.


"Kakak juga, kok kamu di sini Ra? Apa kamu hilang lagi," goda Dika, membuat Ara terkekeh.


"Tadi gue ketemu Ara dan keluarganya di taman," jawab Dela, sudah duduk di dekat Dika.


Dan meminta pelayan untuk membuatkan minuman untuk dirinya dan Ara.


"Dika!" panggil Dela.


"Lo tuh yah, Dika, Dika. Gue paman lo, panggil gue uncle ke gitu," protes Dika membuat Dela terkekeh.


"Lah! Biasanya lo, gak mau di panggil uncle. Malah selalu lo gue aja, tapi kalo lagi ada maunya aku kamu, atau uncle." Kekeh Dela, membuat Dika memutar bola mata malas.


Tak lama pelayan pun datang membawakan tiga minuman dingin.


"Makasih mbak," ucap Dela.


"Sama-sama."


"Ara minum dulu," pinta Dela.


Ara pun menutut meminum susu coklat dari tangan Dela, Ara tersenyum dan bersorak dalam hati begitu bahagianya dia saat ini.


"Oh... Aku lupa, Ara mau tinggal di sini? Grany nanti marah gak yah?"


"Ya mana gue tahu," sahut Dika, sibuk dengan ponselnya.


Dela yang super kepo pun mengintip, dan membaca sedikit pesannya dengan sang kekasih.


"Jangan lupa makan, makanan yang aku beli ya sayang," ledek Dela.


"Heh!! Gak sopan banget lo."


Dika pun pergi meninggalkan ruang tamu, sambil membawa minumannya.


"Ara kita ke kamar ka Dela yuk, kita mandi sudah mau sore soalnya." Ajak Dela.


"Ayok ka, aku kangen di mandiin ka Dela. Biasanya aku mandi sendiri, ayah selalu sibuk kerja kalau di rumah pun dia selalu membujuk ka Lula," cerita Ara lirih.


Dela memeluk Ara dengan sayang, sungguh Ara sangat bahagia dengan pelukan Dela. Membuatnya tenang dan nyaman.


"Sudah jangan sedih lagi yah! Kan ada ka Dela, nanti pulang kuliah. Ka Dela janji bakal temui Ara dan nemenin Ara sampe ayah pulang ok!"


"Ok," sahut Ara antusias, dia tidak perlu berada di rumah Zea sampai sore atau malam.


****


"Lula, ayok kita pulang! Ini sudah sore, kita harus jemput adik mu," ujar Auriga.


Membuat Lula yang sedang duduk setelah makan mendelik ke arah Auriga.


"Yah, Ara pasti baik-baik saja."


"Lula, ayah sudah menuruti segala keinginan mu. Dan sekarang kita pulang," tegas Auriga.


Lula mendengus tidak suka, dia pun menurut tanpa banyak kata. Setiap hari rasa bencinya pada sang adik makin besar.


Berpuluh menit kemudian, Auriga sudah sampai di kediaman Zea.


"Tunggu sebentar, ayah akan menjemput Ara. Lalu kita pulang!" ucap Auriga, di jawab anggukan oleh Lula.


Auriga mengetuk pintu rumah Zea, dan tak lama asisten rumah tangga Zea membukakan pintu.


"Tuan, silahkan masuk."


"Makasih, bi. Kapan balik dari kampung?" tanya Auriga saat berjalan masuk ke rumah.


"Ohh... Saya ke dalam dulu ya bi, mau jemput Ara."


"Tuan itu, nona Ara tidak di sini. Kata nyonya Zea dan tuan Jimi, dia ikut bersama Dela. Dan sekarang mereka sedang menuju ke rumah gadis yang bernama Dela," beritahu bi Sari wanita paruh baya, yang sudah mengabdi pada keluarga Jimi saat mereka kecil.


"Iya kah?"


"Iya tuan,"


Auriga menghela nafas kasar, dia harus menyusul Ara ke rumah Dela. Tapi dia tidak tahu di mana rumah Dela.


"Bibi tahu di mana rumahnya?"


"Tidak tuan, tapi nona Zea bilang dia akan ke rumah Mario."


"Mario, sepertinya aku tahu. Baiklah aku pamit dulu bi," ucap Auriga meninggalkan rumah sang adik.


****


Sementara itu di kediaman Mario, Mario yang terkejut dengan kehadiran Jimi dan keluarganya. Sudah lama hubungan mereka memburuk dan menjauh, karena masa lalu antara Jimi yang mengganggu Yumna sang anak.


Dan disinilah Mario sekarang di hadapan Jimi, mantan asistennya dulu yang dia percaya.


"Bagaimana keadaan anda tuan?" tanya Jimi.


"Baik," jawab Mario singkat.


Kecanggungan terjadi di antara Mario dan keluarga Jimi, sampai teriakan Ara membuat suasana menjadi hangat.


"Baba," pekik Ara.


"Kok disini? Tante, om sama ka Manda juga."


"Iya kita mau jemput Ara pulang, kasian ayah nunggu loh!" bujuk Zea.


Zea merasa bahwa hubungan daddynya dan tuan Mario tidak baik-baik saja, terlihat dari interaksi mereka berdua. Zea hanya tahu, jika daddynya menyukai Dania tapi itu kan dulu saat beliau masih hidup. Zea merasa ada satu hal, yang tak di ketahuinya.


"Gak mau tante, baba kan janji bakal antar baju saja. Bukan jemput aku," protes Ara.


"Tapi sayang, kasian ayah." Jimi berusaha membujuk Ara.


"Aku gak mau," bentak Ara, dia pun berlari dan memeluk Dela yang duduk di dekat Laura.


"Sayang Ara, dengar ka Dela. Kamu harus pulang sayang, kan kakak janji bakal main sama kamu saat kakak pulang kuliah." Jelas Dela.


Laura dan Mario hanya diam, mereka tidak ingin ikut campur dulu. Tapi melihat Ara yang menangis membuat Laura tak tega.


"Ara sayang, lebih baik Ara pulang dulu. Kasian tante sama om mu nak, Ara izin dulu sama ayah. Kalau ayah Ara izinin tinggal disini, Grany janji bakal bolehin Ara disini, dan menemani Ara saat ka Dela kuliah," terang Laura dengan lembut, dia mengusap rambut Ara.


"Tapi Grany," lirih Ara.


Laura tersenyum pada Ara, dan menarik Ara dalam pelukannya. Ara pun luluh dia akan ikut pulang bersama kakek dan tantenya, dan Ara minta Dela berjanji akan menjemputnya dari rumah Zea.


Setelah keluarga Jimi pulang, Dela menatap Mario dan Laura.


"Kenapa kamu menatap opa seperti itu?"


"Opah sama tuan Jimi ada masalah? Aku rasa kalian terlihat saling benci dari sorot mata kalian," tebak Dela.


"Kenapa kamu bisa berbicara seperti itu? Dela opah minta kamu jauhi Ara, jika bunda mu tahu dia cucu siapa. Opah rasa dia tidak melarang mu menemuinya," ujar Mario.


"Memang kenapa? Aku kan gak pacaran sama ayahnya," kata Dela.


"Dela ada salah satu hal, yang tak bisa opah jelaskan. Grany mu saja tidak tahu, masalah apa antara opah dan Jimi."


"Tapi opah!"


"Cukup Dela, sekarang masuk ke kamar. Mulai besok jangan dekati Ara lagi, kamu tahu jika kamu sering bertemu dengan Auriga. Maka cinta itu akan muncul," papar Mario, kemudian Mario beranjak dari duduknya.


"Grany," lirih Dela, mencari pembelaan dari sang nenek.


"Grany tidak tau apa masalahnya, nak. Turuti saja apa kata Opah mu," ujar Laura, kemudian Laura pun beranjak menyusul Mario.


Dela memijit pelipisnya yang terasa pusing, masa lalu apa yang keluarganya sembunyikan. Saat sedang melamun tiba-tiba bel rumah berbunyi.


"Mbak biar aku saja," ucap Dela, saat Mala akan membuka pintu.


"Baik non."


Dela membuka pintu dan.


Deg!


Jantungnya berdetak cepat saat menatap sorot mata tajam milik ayah dari Ara, siapa lagi kalau bukan Auriga. Entah kenapa dia selalu memasang wajah yang dingin pada dirinya. Walau di tatap seperti itu, entah kenapa Dela malah menyukainya. Seolah pesona hot daddy dan hot duda ada pada Auriga.


"Kenapa menatap ku seperti itu?" tanya Auriga, membuat Dela salah tingkah.


"Ahh... Maaf mas ehh.... Emm pak," ucap Dela bingung akan panggilannya pada Auriga.


"Saya ingin menjemput Ara," ucapnya dingin.


"Dia sudah pulang baru saja," jawa Dela.


Auriga berdecak sebal, dia lupa mengapa tak menghubungi sang adik terlebih dulu.


"Ya sudah kalau begitu, saya permisi." Pamit Auriga pada Dela.


Setelah memastikan Auriga pergi, Dela menghela napasnya secara kasar.


"Huff... Macam guru killer aja tuh orang, untuk anaknya baik dan cantik," gumam Dela.


Tapi dalam hatinya, walau begitu dia mengakui ketampanan Auriga. Yang berhasil membuatnya terpesona saat pertama kali bertemu dengan Auriga.


"Masa aku jatuh cinta sama om duda sih!" keluhnya, memegang dadanya yang merasakan detak berlebih.


Semoga suka 💜


tbc..


Maaf typo


Jangan lupa tinggalkan jejak, makasih 🙏