
Berpuluh menit kemudian, Mario sudah sampai di cafe milik Keano. Dia memarkirkan mobil agak jauh dari cafe, karena keadaan cafe tersebut cukup ramai.
Saat masuk Mario mengedarkan pandangannya. "Ramai sekali," gumamnya.
"Maaf tuan, cafe kami sudah tutup." ucap Teguh.
"Tidak apa, saya ingin menemui Yumna,"
"Ou nona Yumna, dia sedang sibuk," beritahu Teguh. Kemudian Teguh membawa Mario keruangan untuk tamu VIP.
"Tunggu disini saja tuan, saya akan menyampaikan pesan anda pada nona Yumna."
Mario hanya mengangguk sebagai jawaban, kemudian Teguh berlalu dari hadapan Mario menuju pantry. Memberitahu Yumna bahwa ada yang mencari dirinya.
"Nona," panggil Teguh.
"Ya, Teguh ada apa?" jawab Yumna to teh poin.
"Di ruang VIP ada yang sedang mencari mu,"
"Siapa?"
"Entahlah laki-laki, mungkin seusia ayah mu."
"Baiklah aku akan temui dia,"
Yumna mencari keberadaan Yusra, yang tadi sempat membawa minuman ke depan tapi mereka tidak pernah menyadari satu sama lainnya.
"Kinan," panggil Yumna.
"Tolong lanjut ini ya, bentar lagi mereka bakal makan cake ini." Ucap Yumna pada Kinan, salah satu pegawai Keano.
"Baik nona,"
Setelah Yumna mencuci tangannya, dia bergegas menemui seseorang yang menurut Teguh seumuran ayahnya.
"Ayah! Apa om Mario?" gumam Yumna.
Tak lupa dia membawa minum dan juga cemilan untuk Mario, saat dia membuka pintu pandangan mata mereka bertemu. Ada debaran yang tak bisa di jelaskan oleh Mario dan Yumna, Yumna bisa melihat sorot mata penuh kerinduan.
"Om Mario," sapa Yumna membuyarkan lamunan Mario.
Mario tersenyum. "Yumna apa kabar, nak?"
"Baik om, ada apa om?" tanya Yumna sambil meletakan minuman dan cemilan yang dia bawa.
"Tidak ada, om hanya ingin bertemu dengan mu, ibu mu sudah mengizinkan om untuk membawa mu jalan-jalan."
"Tapi om, bukan aku gak mau. Tapi hari ini aku sedang sibuk, di cafe ada acara dan pemilik cafe sedang tidak ada di tempat aku tidak bisa meninggalkan karyawan yang lain om," jelas Yumna panjang lebar.
"Tidak apa, om bisa menunggu mu sampai selesai," ucap Mario.
"Baiklah aku akan, menyelesaikan pekerjaan ku lebih cepat. Silahkan om menikmati makanan dan minuman yang aku buat. Kalo engga, aku gak mau pergi sama om," ancam Yumna, membuat Mario tertawa.
"Baiklah..baiklah, om akan menikmati pemberian kamu."
"Kalo gitu, aku permisi dulu om. Mari," pamit Yumna pada Mario.
Mario menatap punggung Yumna yang sudah menghilang di balik pintu, Mario menghembuskan nafasnya secara kasar.
"Tidak bisakah kamu, memanggil ku dengan sebutan ayah nak?" gumam Mario, menatap pintu yang sudah tertutup. Walau pun Yumna tau Mario adalah ayahnya, tapi dia tetap bersikap berpura-pura acuh dan berusaha ramah pada Mario.
Sementara itu, Hito yang sedang menunggu Yusra selesai bekerja hanya berdiam diri di roof top. Menikmati senja yang sebentar lagi berganti dengan pekatnya malam.
Tepat pukul tujuh malam, Yumna sudah menyelesaikan semua pekerjaannya. Dia akan pulang lebih dulu karena tidak ingin Mario menunggu terlalu lama.
Yumna keluar dari arah dapur dan mengedarkan pandangannya, selain menjadi asisten juru masak. Yumna juga merangkap membantu Keano untuk memantau cafe tersebut.
"Hey kamu, anak baru sini." Panggil Yumna pada Yusra.
Yusra yang merasa di panggil pun langsung menghadap Yumna, dan deg!
Yusra begitu terkejut karena wajah Yumna, sangat mirip dengan wajahnya.
"Hey!! Kenapa melamun?" panggil Yumna, melambaikan tangannya pada Yusra.
"Ahh... Maaf nona, ada apa?" tanya Yusra, berusaha bersikap biasa saja. Walau dalam hati dia ingin bertanya kenapa wajahnya mirip sekali dengan dirinya.
"Nanti jika acaranya sudah selesai, jangan lupa keluarkan menu yang sudah aku buat. Bantu chef dan yang lainnya untuk menata hidangan tersebut di meja, yang sudah aku persiapkan." Terang Yumna.
"Ahh... Satu lagi, beritahu Teguh, kalo aku pulang terlebih dulu ok," lanjutnya lagi, Yusra pun hanya menganggukan kepalanya saja.
"Emm...Nama saya, Yusra nona."
"Ou, jangan panggil saya nona. Saya juga sama pegawai seperti mu," kekeh Yumna. "Ya sudah, kalau begitu saya duluan Yusra. Aku suka kamu, kamu irit sekali bicara," Yumna terkekeh kembali.
"Bye Yusra," pamit Yumna, dia menuju tempat dimana Mario berada.
"Huff... Dia mirip sekali Papi Mario," lirih Yusra. "Kenapa aku tidak? Bahkan aku pun tidak begitu mirip mami Dania," keluh Yusra.
"Yusra, ayo tamu semakin banyak nih. Kita harus terus melayani mereka," ajak Rianti, menarik lengan Yusra. Yusra yang sedang melamun pun begitu terkejut karena di tarik Rianti.
Untuk sementara waktu Yusra bisa melupakan masalahnya dan fokus bekerja, Mungkin lain kali dia akan bertanya pada Mario.
*******
Berpuluh menit kemudian, Yumna dan Mario telah sampai di pusat perbelanjaan. Semakin malam malah semakin ramai oleh muda mudi yang sedang nongkrong atau pacaran.
Mario mengajak Yumna ke toko baju, perhiasan, tas dan juga sepatu. Awalnya Yumna menolak semua pemberian Mario, tapi Mario yang terus memaksanya dengan pasrah Yumna menerima saja.
"Terima kasih, om. Ini sangat merepotkan sekali, aku jadi tidak enak," ucap Yumna setelah mereka sampai di cafe, tak jauh dari toko sepatu.
"Tidak apa-apa, kamu pantas mendapatkannya, karena kamu anak ku," celetuk Mario.
Yumna hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Mario, entahlah begitu sulit bagi Yumna menerima Mario sebagai ayahnya.
Setelah makan malam selesai, Yumna meminta langsung pulang karena dia sudah lelah.
"Terima kasih om, sekali lagi," ucap Yumna, setelah sampai di halaman rumah Yumna.
"Sama-sama, jangan pernah ragu untuk menerima semua bantuan dari om."
Yumna menggeleng sebagai jawaban, dia tidak ingin merepotkan Mario atau bergantung pada Mario.
"Kalo begitu om permisi, salam pada ibu mu." Ujar Mario.
"Baik om, hati-hati di jalan."
Yumna melambaikan tangannya pada Mario, menunggu Mario menjalankan mobilnya. Setelah mobil Mario tak terlihat olehnya Yumna memutuskan untuk masuk.
Saat membuka pintu dan berbalik, Yumna di kejutkan oleh Laura.
"Ibu, bikin kaget saja," keluh Yumna.
"Maaf sayang, kamu baru pulang? Itu apa?" tanya Laura beruntun.
"Iya, ini belanjaan aku bu. Tadi om Mario mengajak ku jalan-jalan," jelas Yumna, sambil merebahkan diri di sofa ruang tamu.
"Hah!! Pegal sekali," keluhnya, sambil memukul-mukul pahanya.
Laura duduk di sebelah Yumna dan memijatnya lembut kaki Yumna, membuat Yumna tak enak.
"Jangan bu,"
"Tidak apa, sayang. Ibu tau kamu pasti lelah, maafkan ibu belum bisa membahagiakan kamu sayang," lirih Laura, Yumna menggeleng kepala kuat.
"Tidak bu, aku sudah bahagia bersama ibu dan oma." Yumna memeluk Laura dengan erat.
"Mulai besok ibu, akan buka toko lagi. Supaya kamu tidak perlu bekerja keras seperti ini,"
"Tidak bu, kasian oma tidak ada yang menemaninya."
"Ibu bisa membawa oma ke toko."
"Ya sudah, terserah ibu jika itu mau ibu. Kalau gitu aku ke kamar dulu bu, selamat malam." Yumna mencium pipi Laura.
Laura menatap punggung Yumna dengan lekat. "Apa aku harus memberitahunya, bahwa Yumna memiliki saudara kembar?!"
Laura menghembuskan nafasnya secara kasar, dia begitu bimbang dia takut Yusra tidak bisa menerima Yumna begitu pun sebaliknya.
"Aku harus bicara dengan Mario, besok." Putus Laura.
tbc...
Hai....Hai 👋
Selamat malam, masih adakah pembaca setia Yusra dan Yumna? Mudah-mudahan masih ada ya 🤭
Maaf banget jarang up 🙏
Jangan lupa tinggalkan jejak ya sayang, maaf typo dan maaf masih berantakan dalam menulis.