
Janur elok menghantam karang
Menari dalam kelopak sang Surya
Hangat dalam peluk hujan
Tertawa dalam untaian tetes darah sang tahta
Kerajaan suci ini menjadi tanda bahagia atas janji suci yang terukir
Tak mampu terbisik dalam kepala setiap insan bahwa tak ada duka yang menutupi seluruh pelangi bahagia
Dua puluh tahun berlalu lika-liku kehidupan rumah tangga mereka jalani. Dan kini Radika dan Radela sudah tumbuh dewasa, mereka hanya terpaut lima bulan saja. Sedangkan Yusra melahirkan seorang putri bernama Maira Arsyana, yang kini sudah berumur tujuh belas tahun selisih tiga tahun dari Dela dan Dika.
Yumna dan Bara memutuskan untuk tinggal di rumah peninggalan Anjani, yang kini telah berpulang menghadap sang pencipta. Dan mereka memiliki satu orang putri berumur tujuh tahun selisih tiga belas tahun dengan Dela, yang di beri nama Tatiana Nareswari. Sedangkan Yusra dan Hito memilih menemani Wina.
"Ibu, aku pulang," seru Dika.
Walau sudah dewasa, tapi sikapnya pada Laura sangat manja. Tetapi jika di luar dia berubah menjadi cowok yang dingin dan ketus, hanya pada Dela dia bisa bersikap konyol. Tak ayal banyak para cewek-cewek kampus tempat mereka belajar, banyak menitipkan surat pada Dela. Membuatnya jengkel.
"Loh!! Dela juga ikut? tumben,"
Dela mencium punggung tangan Laura, di susul Dika dan langsung menuju dapur untuk membawa minuman.
"Iya nih, dia selalu ngikut kemana pun aku pergi bu." Keluh Dika.
"Heh... Enak aja, gue mau ketemu Maira," sahut Dela ketus.
"Grany, kayanya bakal punya mantu cepet," bisiknya pada Laura.
"Maksudnya?"
Dela menyerahkan banyak surat dan hadiah, dari cewek-cewek yang naksir Dika. Ada juga teman kelasnya mereka sering menitip pada Dela.
"Dari calon-calonnya Dika," kata Dela tertawa pelan.
"Sebanyak ini?"
"Iya, mereka semua naksir anaknya grany yang paling tampan." Dela mengedipkan sebelah matanya pada Dika.
"Apaan sih lo, gue gak suka sama mereka. Merekanya aja yang sok tebar pesona dan kecentilan," omel Dika, dia membawa dua cangkir kopi dingin di tangannya.
"Makasih uncle," ucap Dela, membuat Dika mendengus.
"Bu, bilang sama cucu ibu ini. Jangan panggil aku uncle terus risih tau," rengek Dika pada Laura, membuat Dela memutar bola mata malas.
"Loh memang kenapa?" sambar Yusra yang baru datang dari depan.
"Kakak ni, aku masih muda. Punya ponakan ko seumuran sih heran, ya kalo aku sama Maira ya gak apa. Toh dia masih SMA," kata Dika.
"Apa ibu sama ka Yumna, hamilnya bareng yah?" tebak Dika, langsung mendapat pukulan dari Laura.
Laura pun bingung, ingin menjawab apa dia hanya menggaruk pipinya yang tak gatal sama sekali.
"Ya gak apa-apa dong, kamu jadi uncle paling tampan dan hot," ucap Yusra mengedipkan matanya, saat sudah duduk dekat sang ibu.
"Betul tuh, apa yang di kata tante."
"Rese lo, awas besok gue gak mau jemput lo," ancam Dika.
"Bodo amat," kekeh Dela.
"Sudah kalian ini, kenapa jadi berantem sih," tegur Laura, sungguh pusing melihat kelakuan anak dan cucunya.
Terlebih jika Yusra sudah bergabung dengan Dela, dia senang sekali meledek sang adik bersama Dela.
"Wah coklat, bunga, surat sama jam. Dari siapa nih?" tanya Yusra, baru sadar banyak barang-barang di meja. "Ulang tahun, kamu kan masih lama," sambungnya lagi.
"Siapa lagi kalo bukan si Most Wanted kita," ujar Dela.
"Waw... Hebat kamu dek,"
Dika hanya berdecak kesal, rasa-rasanya dia menyesal memiliki kakak seperti Yusra. Berbeda jika dengan Yumna, dia lebih santai dan tak pernah meledek.
Laura pun memilih masuk ke kamar, dan membiarkan anak dan cucunya berdebat dan saling ledek.
"Astaga aku lupa, Maira udah pulang tan?" tanya Dela, menatap Yusra yang sedang membaca surat dari penggemar sang adik.
"Belum kayanya bentar lagi, dia di jemput om mu," jawab Yusra, yang hanya di jawab anggukan oleh Dela.
Yusra dan Dela pun asik membaca surat dari fans Dika, sambil tertawa dan meledek Dika. Tapi Dika tidak peduli.
****
Sementara itu di tempat lain, kehidupan rumah tangga Zea dan Keano makin harmonis dan kini Keano memiliki kembali seorang putri bernama Manda Ulfairah.
Zea dan Keano masih tinggal bersama Jimi, karena Zea tidak mau meninggalkan sang ayah di masa tuanya. Dia tidak mau membuat Jimi kesepian, terkadang Jimi selalu menangis merenung semua kesalahannya pada Delia.
Sedangkan Auriga dia memiliki dua orang anak perempuan, yang pertama berumur dua belas tahun dan yang ke dua berumur tiga tahun. Istri Auriga meninggal setelah melahirkan putri bungsu mereka, membuat Auriga menitipkan kedua anaknya kepada Zea saat dia bekerja.
"Ayah," teriak Ara si bungsu.
"Sayang, ayah kangen sama Ara," ucap Jimi mengendong sang anak.
"Mana kakak? kamu gak nakal kan sama bunda Zea dan opa Jimi?" tanya Auriga.
"Engga dong ayah, Ara baik. Iya kan sayang." Sahut Zea.
"Iya ayah, Ara baik kok sama bunda. Ara main sama kakak Manda," jawab Ara antusias.
"Anak pintar," puji Auriga mencium sang anak.
"Lalu kakak dimana?" tanya Auriga.
"Lula di kamar, pulang sekolah dia di kamar terus. Aku udah bujuk dia makan tapi gak mau," sahut Zea.
Auriga pun mengangguk, anak sulungnya yang sudah duduk di bangku kelas satu smp tersebut. Menjadi gadis tertutup setelah kepergian ibunya, Lula selalu menyalahkan Ara akan kepergian ibunya.
"Ara sayang, kamu main dulu yah sama ka Manda. Nanti kita pulang ayah mau ke kamar ka Lula dulu, ok!" ujar Auriga.
"Siap ayah, ayo bunda." Ajak Ara pada Zea.
Auriga pun menuju kamar di lantai dua dimana kamarnya saat mereka menginap disini, di dalam dia mendengar Jimi dan Lula terisak.
"Tapi Baba, Ara jahat. Dia udah buat ibu pergi," lirih Lula.
"Sayang itu bukan kesalahan adik mu, itu takdir nak. Apa kamu gak kasian pada adik mu? Dia ingin bermain dengan mu tapi kamu selalu bersikap dingin padanya,"
"Aku gak mau Ba, aku gak mau sama Ara. Aku benci Ara, gara-gara dia ibu gak datang ke acara ku."
"Ibu janji bakal datang, tapi dia malah ke rumah sakit karena akan melahirkan Ara." Lanjut Lula.
Auriga yang mendengar itu merasa sangat sedih, tak menyangka jika kepergian Maria sangat berpengaruh pada kondisi Lula. Auriga mengusap air mata yang jatuh dengan kasar.
"Lula," panggil Auriga.
Namun Lula acuh tak ingin mendekat pada Auriga.
"Baba ke luar dulu," pamit Jimi, ingin memberikan waktu kepada anak dan cucunya.
"Lula maafkan ayah nak," lirih Auriga.
Tapi Qailula tak menatap Auriga sedikit pun, dia memalingkan wajahnya. Selama ini Auriga kurang memperhatikan putri pertamanya tersebut, karena sibuk dengan bekerja dan saat pulang pun dia lebih memperhatikan Ara dari pada Lula.
*****
Sementara itu di kediaman Mario, sudah semakin panas karena kelakuan Yusra dan Dela yang tak ada habisnya mengejek Dika.
Mario menatap anak dan cucunya, dia merasa bersyukur bisa melihat tumbuh kembang anak dan cucunya.
Tak ada kata lagi yang bisa dia ucapkan, selain mengucap syukur kepada sang pencipta.
"Opa bolehkan aku nginep di sini?" tanya Dela pada Mario.
"Boleh sayang, kamu mau tinggal di sini pun boleh," jelas Mario.
"Makasih opa," ucap Dela memberikan ciuman jarak jauh.
"Aku keberatan pih," protes Dika.
"Kenapa memang?" tanya Mario.
"Dia paling takut di grecokin pih," sahut Yusra terkekeh.
Mario hanya geleng-geleng kepala saja, tak lama Maira datang mengucapkan salam dan mencium tangan Yusra dan Mario. Sedangkan Laura sejak tadi sibuk di dapur.
"Kemana grany?" tanya Maira.
"Di dapur, bantuin sana. Mommy mu gak mau bantuin noh males banget," cibir Dika.
"Heh adik nyebelin, orang ibu maunya sendiri kok. Sama pelayan," bela Yusra.
"Maira ayok kita pulang dulu, kamu harus mandi lalu ganti baju." Kata Yusra.
"Kok buru-buru tan, aku kan belum ngobrol sama Maira." Ujar Dela.
"Nanti abis makan malam, kamu ke sana aja yah," pinta Yusra.
"Ok," jawab Dela.
Yusra pun berpamitan pula pada Mario dan Laura yang sedang di dapur, Laura menahan karena dia ingin makan malam bersama anak dan cucunya tersebut. Namun Yusra menolak.
tbc...
Maaf typo jangan lupa tinggalkan jejak, makasih 🙏
Aku kasih beberapa exstra partnya, cerita kisah cinta Dela dan Dika ya. Yang mau lanjut baca monggo 🙏