Twin'S

Twin'S
Exstra Part.21



Dua minggu berlalu, besok adalah hari yang paling di nanti oleh Auriga dan Dela. Sebab mereka akan mengesahkan hubungan mereka, ke jenjang pernikahan.


Semua persiapan hampir selesai, Dela hanya duduk manis menerima hasilnya. Sedangkan yang mengerjakan adalah Yumna dan Yusra. Keluarga Bara dari Bandung pun, sudah berada di Jakarta.


"Aku gak sabar, nunggu besok." Ujar Dela, pada sebuah pesan chatnya.


Setelah pertunangan sederhana dan dadakan, Dela dan Auriga di larang bertemu atau di pingit. Dan mereka hanya berbalas pesan saja, sesekali Dela pun melakukan panggilan dengan Ara.


"Aku juga," balas Auriga singkat.


Saat sedang asik berbalas pesan, pintu di buka dan munculah Dika dengan wajah kurang cerahnya.


"Kenapa lo, uncle rese? Makin jelek aja tuh muka." Ledek Dela.


"Rese lo, dasar ponakan gak ada ahlak." Ketus Dika, membuat Dela terkekeh.


"Kenapa sih?"


"Sejak dua minggu yang lalu, Anyelir sulit di hubungi. Entah kemana dia," cerita Dika, ya sejak Dela kembali ke rumah Dika seperti kehilangan kontak dengan Anyelir.


Dan Dika pun tak ada waktu untuk bertemu dengan Anyelir, karena sudah mulai belajar di perusahaan Mario.


"Udah lo coba hubungi?"


"Udah, mungkin hari ini. Gue akan jemput dia ke tempat kerjanya, mumpung gak terlalu sibuk, kemarin-kemarin kan gue sibuk di perusahaan Papi." Jelas Dika, di jawab anggukan Dela. Dela mengerti sebab selain Dika siapa lagi yang akan memimpin perusahaan Mario. Bara dan Hito mereka memimpin perusahaan cabang milik Mario yang atas nama Yusra dan Yumna.


Dela pun menepuk pundak Dika, dan menatap pamannya tersebut. Terlahir hanya beda bulan membuatnya tak seperti paman dan keponakan, rasanya seperti sahabat yang selalu berbagi suka dan duka. Terkadang Dika dan Dela selalu saling melindungi jika mereka sedang di luar.


Sekilas jika orang tak tahu, mereka akan mengira bahwa Dela dan Dika adalah sepasang kekasih.


"Jalan-jalan yuk, kapan lagi kita bisa berduaan lagi kaya dulu. Lo kan bakal sibuk sama si duda," kekeh Dika, membuat Dela memutar bola mata malas.


"Ayok, traktir ya." Pintanya antusias.


"Okelah, yang terakhir ini. Gue tunggu di luar,"


"Iya."


Dela pun bersiap, dia keluar dari kamar dan menatap rumahnya yang sudah di hias sedemikian rupa. Mereka akan melakukan resepsi secara sederhana, yang akan di hadiri oleh sanak saudara, rekan kerja dan teman-teman Auriga maupun Dela.


"Bunda," panggil Dela.


Yumna pun menatap sang anak, yang sudah rapih dengan baju model Korea. Kemudian kembali melihat apa yang kurang untuk acara besok.


"Apa?"


"Aku izin keluar dulu yah!" ucapnya memeluk Yumna manja, menurut Yumna Dela menjadi manja saat sedang bersama dirinya.


"Kemana memang? Kamu lupa, besok kamu akan menikah." Kata Yumna.


"Maka dari itu, aku mau jalan-jalan dulu. Supaya gak gugup," ujar Dela, menyandarkan dagunya di bahu Yumna.


"Aku mau nemenin, cowok yang lagi galau bun," bisiknya menatap sekilas Dika, yang sudah siap dengan kaos dan Hoodie warna hitam, dan celana jins selutut.


"Udahlah ka, izinin besok-besok aku jalannya sama Maira." Sahut Dika.


"Enak aja, aku gak mau yah! Jalan-jalan sama om-om," cibir Maira, membuat Yusra tertawa puas.


"Ya udah sana, jangan pulang terlalu malam." ucap Yumna mengingatkan.


"Siap bun, aku pamit." Dela mencium pipi Yumna, dan menyusul Dika.


***


Sementara itu Anyelir yang mengabaikan Dika, selama dua minggu ini. Membuatnya tak enak hati, dia sangat merindukan laki-laki itu. Tapi keadaan lah, yang membuatnya menjauh dari Dika.


"Maafkan aku Dika," lirih Anyelir.


"Heh... Anye, jangan melamun terus. Memangnya cafe ini punya moyang lo apa," bentak salah satu pelayan cafe tersebut.


"Maaf," ucapnya pelan.


"Maaf... Maaf, kerja sana."


Dela dan Dika sudah sampai, di salah satu taman yang sering mereka datangi. Taman tersebut, selalu ramai oleh muda-mudi yang berpacaran.


Dela membeli dua minuman kopi dingin, dan beberapa jajanan yang menggugah selera. Dika yang melihat itu pun, hanya menggeleng saja.


"Banyak amat lo makan, awas entar kebayanya gak muat," sindir Dika.


"Dih, ya gak akan lah. Orang cuma makan batagor, cilok bumbu sama kue balok ko. Gak akan gemuk seketika," omel Dela.


Walau begitu, Dika tetap mencomot makanan yang sedang Dela makan. Begitulah terus sampai mereka berdua menghabiskan makanan bersama.


"Tadi di tawarin gak mau, ehh taunya habis." Cibir Dela.


"Sorry, laper gue," kekeh Dika, membuat Dela memutar bola mata malas.


"Kenapa?" tanya Dela, yang menyadari perubahan sang paman.


"Tidak ada, ayok pulang." Ajaknya.


"Ada apa sih?"


"Udah ayok kita pulang," ucapnya datar, Dela pun menurut dia mengikuti langkah Dika.


****


Keesokan harinya hari yang di nanti oleh Dela dan Auriga pun sudah tiba, semua orang sedang bersiap begitu juga Dela. Yusra menyewa jasa make-up artis, untuk menyewa semua anggota keluarga.


"Cantiknya," puji Maira, saat masuk ke kamar Dela yang sedang memakai baju.


"Jelas dong," kekeh Dela, membuat Maira cemberut.


"Pede benget, punya sepupu yang satu ini. Aku bakal kangen, sama kebersamaan kita nih nanti," ungkap Maira.


Dela tersenyum menatap Maira, temannya berbagi cerita. Selain Dika, saat dia sedang galau.


"Aku akan meminta izin, untuk menghabiskan waktu sama kamu Mai," kata Dela, membuat Maira tersenyum ingin memeluk tapi dia sedang di rias.


Di kediaman Zea, Auriga juga tengah bersiap. Sejak dua minggu lalu Auriga dan kedua anaknya. Tinggal di rumah Zea.


"Ayah," panggil Lula, menatap Auriga yang sedang memakai jasnya.


"Ya sayang?"


Lula memeluk Auriga erat, dan mendongkak menatap sang ayah. Karena belum terlalu tinggi hanya sebatas dada.


"Terima kasih ayah, terima kasih. Karena mau memberikan aku dan Ara seorang ibu lagi," ucap Lula lirih, dia bahagia bisa memiliki seorang ibu kembali. Dia akan memamerkan Dela kepada semua teman-temannya.


Auriga tersenyum dan mengusap rambut sang anak yang sudah di tata sedemikian rupa.


"Berjanji lah ayah, jangan buat bunda Dela hamil." Mohon Lula, membuat Auriga mengerutkan kening.


"Memangnya kenapa?"


"Aku gak mau kehilangan ibu lagi ayah, jika bunda Dela hamil." Lirih Lula. "Aku sayang banget sama bunda Dela ayah," sambungnya lagi, dengan mata berkaca-kaca.


Auriga duduk dan membawa Lula kedalam pelukannya kembali.


"Kamu jangan khawatir, bunda pasti akan baik-baik saja." Ucap Auriga menenangkan, mana mungkin dia melarang Dela hamil. Auriga ingin seorang putra dari Dela. Karena dua putri saja sudah cukup baginya.


Jimi yang mendengar obrolan ayah dan anak tersebut, membuatnya meneteskan air mata haru. Jika dulu dia melenyapkan Yumna, mungkin tidak akan ada Dela untuk menjadi ibu pengganti kedua cucunya. Bukan hal mudah bagi keduanya, Jimi dan Zea sempat mendekatkan Lula dan Ara. Pada kenalan Zea, namun Lula dan Ara menolak untuk kenal. Dengan terang-terangan dia menunjukan ke tidak sukaannya.


"Semoga kalian selalu bahagia," doa Jimi pada keluarga kecil sang anak.


Jimi pun berlalu meninggalkan kamar Auriga, memberikan waktu kepada ayah dan anak tersebut.


"Dad, mana ka Riga?" tanya Zea.


"Di kamar, sama Lula. Lula nangis gak mau Dela hamil," kekeh Jimi, membuat Zea geleng-geleng kepala. Zea pun menuju kamar Auriga, dan memanggil sang kaka untuk segera bersiap.


"Sebentar lagi," ujar Auriga, dia mengusap air mata yang membasahi pipi gadis kesayangannya.


"Sudah jangan nangis, hari ini hari bahagia ayah. Jadi kamu harus senyum ok!"


"Oke ayah," balas Lula, Lula pun memeluk Auriga dan keluar kamar karena sebentar lagi mereka akan menuju rumah Dela.


Keano, Manda, Ara sudah siap sejak tadi, dan masih menunggu yang lain.


"Aku udah gak sabar, mau liat bunda baru ku." Celoteh Ara yang sejak tadi, tak hentinya mengatakan bunda baru.


"Nanti jangan lupa sama aku yah! Kalo tante Dela udah ada, kamu suka lupa sama aku soalnya," ujar Manda, membuat Keano tertawa mendengar perkataan sang anak.


"Mana mungkin Ara lupa, dia pasti akan sering main ke sini," ucap Keano, berusaha menenangkan sang anak yang cemberut karena kemungkinan besar. Ara dan Lula tak akan ke rumah mereka lagi, Auriga akan memboyong langsung Dela ke rumah yang dia beli.


"Awas ya Ara, Lula. Kalo kalian gak sering main ke sini, aku marah pokoknya," ancam Manda, membuat Keano lagi-lagi tertawa.


"Iya... Iya, aku akan sering main ke sini," putus Lula, membuat Manda memeluknya.


"Ayok kita berangkat," ajak Jimi, saat melihat semua sudah siap dan Auriga pun sudah keluar dari kamarnya.


Mereka pun berangkat menggunakan dua mobil, Jimi dan Auriga sedangkan Keano dan Zea bersama anak-anak. Sedangkan kerabat Jimi dan Keano, akan menyusul saat resepsi nanti.


Semoga suka 💞💞


Maaf typo


Bonus foto prewed, ya anggap lah begitu 😂