Twin'S

Twin'S
Bab.49



Setelah pertemuannya dengan Jimi, Yumna lebih banyak diam dan mengurung diri di kamar.


"Yumna, sayang. Ayo kita makan malam," ajak Laura.


Laura terus mengetuk pintu kamar Yumna dan memanggilnya.


"Yumna,"


"Aku belum lapar, bu." Teriak Yumna dari dalam.


Laura pun meninggalkan kamar sang anak, dan makan malam hanya dengan sang ibu.


"Loh!! Kemana Yumna, tidak ikut makan?"


"Katanya dia tidak lapar,"


"Anak itu, sama seperti mu saat dulu. Kalau lagi merajuk," kekeh Anjani mengenang, saat dulu Laura remaja.


"Ibu bisa aja," Laura tersipu malu.


Di kamar Yumna


Yumna menundukan wajahnya di antara sela lututnya.


"Apa yang harus aku lakukan?" gumam Yumna.


Dia menatap fotonya dengan Keano, pada saat liburan ke Farm House kemarin. Yumna tersenyum menatap Keano yang malah mirip lelaki Korea, saat mereka memakai baju khas Eropa.


"Aku akan mempertahankan mu," putus Yumna.


"Bagaimana pun kedepannya hubungan kita, aku akan tetap bersama mu, aku tidak peduli jika harus menentang ayah mu."


Setelah semalaman asik menatap foto Keano, Yumna bisa terlelap pukul satu dini hari. Suara ketukan pintu membuatnya terpaksa bangun, Yumna meringis memegang kepalanya, pusing itu yang di rasa sekarang.


"Yumna, apa kamu tidak bekerja?" tanya Laura dengan berteriak.


Karena tidak ada sahutan, Laura terus saja memanggil dan menggedor pintu kamar sang anak.


"Ahh ibu," desah Yumna.


Pintu pun terbuka, Laura menatap sang anak yang baru bangun.


"Kamu baru bangun?" tanya Laura.


Dan Yumna hanya mengangguk sebagai jawaban, terlalu malas untuk berbicara hanya sekedar iya.


"Tumben, biasanya kamu paling rajin,"


"Semalam aku gak bisa tidur bu, dan baru tidur pukul satu," jawab Yumna. "Dan sekarang aku pusing," keluh Yumna.


Laura mengembuskan nafasnya secara kasar, menatap sang anak. Laura jelas tahu bahwa Yumna sedang ada masalah.


"Kamu ada masalah? Cerita sama ibu, nak. Kamu anak ibu, kebahagiaan ibu." Ujar Laura, mengusap pipi Yumna.


Yumna tersenyum, menatap Laura.


"Itu dulu, sebelum ibu ketemu sama Yusra. Aku tahu ibu selalu sedih karena dia." Jawab Yumna pelan.


"Sayang," Laura tercekat, akhir-akhir ini dia terlalu memikirkan Yusra. "Maafkan ibu," sambungnya lagi.


"Ibu tidak salah, harusnya dulu ibu tinggalkan aku. Bersama om Mario dan ibu bawa Yusra, atau berikan kami, kepada om Mario dan istrinya."


"Yumna,"


"Aku mau siap-siap dulu bu," pamit Yumna, dia ingin mengakhiri pembicaraan dengan Laura mengenai Yusra.


Laura meninggalkan kamar Yumna, dia melihat Anjani yang sedang menikmati sinar matahari pagi. Kemudian memilih menyiapkan sarapan untuk Yumna, beberapa menit kemudian, Yumna sudah rapi dengan seragam kerjanya.


"Dimana oma?" tanyanya setelah duduk di meja makan.


"Di depan, sedang berjemur,"


Yumna hanya beroh saja sebagai jawab, kemudian dia menyantap masakan sang ibu. Tak lama Yumna pun pamit, setelah menyelesaikan sarapannya, berpamitan pada Laura dan Anjani, Yumna memang selalu datang paling awal di banding yang lain.


*****


Saat tiba di cafe, Yumna begitu heran karena sudah buka.


"Tumben udah buka,"


Tanpa pikir panjang Yumna masuk dan mendapati bunda Zalfa. Melirik kearahnya sebentar kemudian fokus pada pekerja, yang tengah mendekorasi cafe.


"Ada apa ini?" tanya Yumna dalam hati.


"Ahhh.... Bagas," panggil Yumna.


"Iya Na, ada apa?"


"Ini ada apa? Ko rame?"


"Kamu belum tahu yah? Bukannya tuan Keano akan melangsungkan acara lamaran satu hari lagi, kalau sekarang sih katanya akan ada pertemuan dua keluarga malam ini disini. Sekaligus mengenalkan calonnya. Pada kita semua," jelas Bagas, membuat Yumna membulatkan mata.


"Kamu serius Gas, gak bercanda kan?"


"Memangnya wajah ku, terlihat sedang bercanda Na. Sudah ahh, aku sibuk bye," pamit Bagas.


"Lamarannya di majukan?" Yumna tersenyum miris.


Saat Yumna sedang menatap orang-orang yang sibuk, dia di kejutkan oleh tepukan di bahunya.


"Bun... Tante, maaf," lirih Yumna menunduk.


"Tidak apa-apa sayang, kamu boleh panggil tante, bunda."


"Apa Keano sudah cerita?" tanya Zalfa.


Yumna menggeleng dengan lemah, dan ingin menangis rasanya.


"Maafkan bunda dan om Radit, sayang. Mungkin ini akan menyakiti hati mu, Tapi bunda harus kasih tahu kamu,"


"Aku sudah tahu bun," lirih Yumna.


Zalfa memeluk Yumna, anak gadis yang selalu melindungi anak lelakinya dulu. Sejujurnya Zalfa pun bimbang dan kasihan kepada mereka tapi, dia pun tidak bisa apa-apa.


*****


Kabar pertunangan Keano dan Zea, sudah sampai kepada Yusra. Dia tahu dari Rianti temannya di cafe, Rianti selalu mengirim pesan terupdate pada Yusra.


"Keano tunangan, baguslah dia pasti sedih." Yusra tersenyum sinis, membayangkan kesedihan Yumna.


"Sekarang aku harus gerak cepat, aku harus minta tante Wina bujuk Hito buat lamar aku," ide Yusra.


Dengan segera Yusra menuju rumah Hito, kebetulan hari ini dia tidak ada kelas.


"Tante... Tante," panggil Yusra.


"Yusra, ada apa?" tanya Wina terkejut.


"Ayo masuklah, kebetulan Hito juga masih di kamar. Sedang mandi,"


"Langsung saja tan, aku sangat sayang sama Hito," ungkapnya jujur sambil menunduk.


"Tante sudah tau, sayang. Lalu apa masalahnya?"


"Tante mau kan datang ke rumah, buat melamar ku?"


"Hah!!" Wina membulatkan matanya, ada-ada aja Yusra ini batinnya.


"Ta-tapi Yusra, kamu harus tanya dulu Hito, apa dia mau atau tidak?"


"Dia pasti mau tan, aku yakin Hito pasti bakal dengerin apa kata tante," desak Yusra.


"Baiklah, tante akan menanyakan pada Hito." Putus Wina kikuk.


"Makasih tante," Yusra memeluk Wina.


"Sama-sama,"


Tinggal sekarang Yusra, memberi tahukan pada Mario yang sedang di luar kota.


****


"Ayah," pekik Keano.


"Ada apa?"


"Kenapa acaranya di cafe yah?" keluh Keano.


Sejujurnya dia tidak ingin Yumna tahu, tadi sebelum dia meninggalkan cafe. dia memastikan bahwa Yumna belum datang.


"Siapa suruh semalam, kamu menolak bertemu keluarga mereka," omel Radit.


Keano membuang nafas kasar.


"Tapi yah, gak harus di cafe juga, trus tadi bunda bilang ketemuannya bakal di cafe juga? malam ini?"


"Iya sambil makan malam, dan acara tunangan kamu besok malam." Umum Radit.


"Tapi ayah,"


"Keano cukup, jangan buat aku marah."


Keano pergi meninggalkan rumah dengan perasaan marah dan kesal, setelah kepergian sang anak. Radit menelpon seseorang.


"Suruh dia yang membuat menu makan malam, dan suruh dia juga besok yang menyerahkan cincin. Ohh... Ya, satu lagi. Suruh dia membeli seserahan untuk calon menantu ku," perintah Radit.


Setelah mematikan sambungan telepon, Radit mengirim pesan bahwa malam ini dia mengundang Jimi dan kedua anaknya ke cafe milik Keano, dan Jimi menyanggupi itu.


"Aku tahu, kamu pegawai anakku,"


****


Beberapa menit kemudian, Keano sudah sampai di cafe. Keadaan cafe sudah ramai dan sudah di hias sedemikian rupa, dia mengedarkan pandangannya mencari Yumna.


Sedangkan yang di cari sedang berbelanja, bersama Bagas.


"Dimana Yumna?" tanya Keano pada Teguh.


"Dia sedang keluar tuan, bersama Bagas."


"Baiklah terima kasih,"


Keano memasuki ruang kerjanya dan menatap CCTV, menanti kedatangan Yumna. Beberapa puluh menit kemudian, Yumna dan Bagas sudah selesai berbelanja kebutuhan untuk lamaran besok. Dia juga sudah memesan buket mawar merah dan putih untuk calon tunangan Keano.


"Lamaran untuk kekasih ku ini mah judulnya," keluh Yumna membuang nafas kasar.


Bagas terkekeh melihat Yumna, dia cukup tahu hubungannya dengan sang atasan.


"Udahlah, terima nasib aja,"


Yumna memutar bola mata malas, kemudian meninggalkan Bagas dengan cepat.


"Lah, Na bantuin kenapa," kesalnya.


"Urus aja sendiri,"


Yumna melenggang masuk ke dalam cafe, saat sudah sampai di dalam dia di beri tahu bahwa Keano ingin bertemu dengannya. Yumna mengetuk pintu ruangan Keano, dan terdengar sahutan dari dalam.


Keano memeluk Yumna dengan erat, Yumna berusaha melepaskan pelukan Keano.


"Maafkan aku," lirih Keano.


"Tidak usah minta maaf, kamu gak salah. Mungkin kita tidak berjodoh," Yumna tersenyum manis, walau hatinya perih.


"Aku akan tetap jadi pacar kamu," ucap Yumna mengejutkan Keano.


"Tapi Na, gimana nanti pendapat orang lain, tentang kamu?"


"Aku gak peduli tentang orang lain, aku hanya peduli dengan hati ku, perasaan ku."


"Yumna," desis Keano.


"Aku permisi dulu, aku banyak kerjaan," pamit Yumna enggan membahas apa pun.


Keano hanya bisa menghela napas secara kasar, kemudian kembali di depan laptop, tapi sayang dia tidak bisa berkonsentrasi.


******


Sementara itu di kediaman Wina, Wina terus memaksa dan mendesak Hito.


"Tapi mah, aku belum siap," Hito masih bersikeras dengan permintaan Wina.


"Hito mamah mohon, sekali ini saja, turuti apa kata mamah. Kamu cinta kan sama Yumna?"


Hito tidak menjawab, dia ragu sebab dia mulai oleng pada Yumna. Dan belum menceritakannya pada Wina.


"Mamah sudah memberi tahu, papah. Dan papah setuju saja, karena papah mengenal Mario,"


"Mah, kenapa harus memberi tahu papah?"


"Baiklah, aku akan melamar Yusra pada tante Dania dan om Mario," putus Hito, dia akan memikirkan sebab akibatnya belakangan.


Hito tahu bahwa Yusra, orang yang nekat jika. keinginannya tidak terpenuhi. Wina tersenyum dengan keputusan Hito, dan akan mempersiapkan barang bawaan ke rumah Yusra, serta memberitahu kepada ayah Hito, agar dia dan keluarganya datang di acara lamaran sederhana tersebut.


tbc...


Maaf typo


Jangan lupa tinggalkan jejak ya guys, makasih 🙏


Selamat malam semua