
Yumna dan Yusra di jemput oleh anak buah Mario, selama dalam perjalanan Yumna dan Yusra saling diam tidak ada kata dari mereka.
Berpuluh menit kemudian mereka sudah sampai, dan di sambut oleh Mario, Dania, Hito dan Wina.
"Yusra," pekik Dania kemudian dia memeluk Yusra erat.
"Mami," lirih Yusra.
"Kamu gak apa-apa kan, nak?"
"Aku gak apa-apa mih,"
Yusra tersenyum menatap Yumna, Mario mendekati Yumna dan tanpa dia duga Yumna memeluk Mario dengan erat. Dan menumpahkan tangisnya, bagaimana pun juga dia seorang anak yang merindukan ayahnya.
Hito yang melihat Yusra baik-baik saja pun, tersenyum lega. Kemudian tatapannya tertuju pada Yumna yang menangis di dalam pelukan Mario, dan Wina mengusap lengan sang anak pelan.
"Sudah-sudah ayo masuk," ajak Mario.
Merek pun masuk dan berkumpul di ruang tamu, mereka akan menunggu kedatangan Laura dan Anjani. Mereka sudah di beri tahu bahwa Yumna ada di rumah Mario.
Beberapa menit kemudian, mereka sudah tiba di kediaman Mario di susul Bara juga mengikuti mereka.
"Yumna," pekik Laura berlari dan memeluk Laura erat.
"Syukurlah kamu selamat nak, ibu sangat cemas," ujar Laura.
"Aku baik-baik saja bu," Yumna menatap Bara dan tersenyum tipis.
Yusra melirik ke arah Laura, dia melihat betapa ibunya yang melahirkan dirinya mencemaskan Yumna. Yusra menunduk di dalam hatinya, dia memang merindukan ibunya tersebut.
"Aku ke kamar dulu," izin Yusra, dengan cepat meninggalkan ruang tamu.
"Saya permisi menyusul Yusra," pamit Hito, dia tahu jika Yusra sedang sedih.
Setibanya di kamar Yusra, Hito masuk dan melihat Yusra sedang tengkurap dan menutup kepalanya dengan bantal.
"Yusra," panggil Hito.
"Aku nyesel Hito, aku menyesal. Kenapa aku harus benci ibu Laura?" isak Yusra.
"Aku merindukannya, tapi aku malu mengakuinya," ungkap Yusra.
"Apa dia mau, memaafkan aku yang selalu bersikap tak baik padanya?"
Yusra kemudian bangkit, dan duduk di hadapan Hito. Dengan pipi penuh air mata.
"Yusra aku yakin, tante Laura baik dan dia mau memaafkan kamu. Tidak ada seorang ibu di dunia ini yang membenci anaknya," jelas Hito.
"Tapi aku.... Aku takut, menyakiti mami Dania Hito. Walau kasih sayang dia berpura-pura," ujar Yusra.
"Tapi kalau aku liat, mami Dania tulus sayang sama kamu. Ya aku tahu dia dulu membenci mu,"
Hito membawa Yusra dalam pelukannya, suara ketukan pintu membuat mereka melepaskan pelukannya.
"Yusra,, boleh mami masuk?"
Yusra dan Hito saling pandang, dan Hito mengangguk.
"Bicaralah dari hati ke hati," ucap Hito di jawab anggukan oleh Yusra, Hito pun mengusap puncak kepala Yusra.
Pintu pun di buka, Hito tersenyum pada Dania.
"Masuk mih,"
Kemudian Hito, memutuskan untuk berkumpul bersama yang lain.
"Yusra,"
"Kenapa mih?"
"Maafkan mami sayang, jika kamu tidak nyaman bersama mami. Jika kamu merasa takut mami terluka," ujar Dania.
"Tidak mami, ini bukan salah siapa-siapa. Mungkin sikap ku yang masih ke kanak-kanakan,"
"Mami gak masalah kamu mau bertemu ibu mu, menghabiskan waktu bersamanya, mami gak akan egois. Karena mami tahu bagaimana perasaan Laura, dan mami rasa kini saatnya kita berdamai dengan masa lalu." Papar Dania mengusap pipi Yusra.
"Makasih mami, aku sayang mami. Mami tidak akan pernah kehilangan aku atau papi," Yusra memeluk Dania erat.
"Ya sudah kita kebawah, mungkin makanan sudah siap. Ayok," ajak Dania.
Dania dan Yusra pun keluar bersama, dengan perasaan lega. Mencoba berdamai dengan masa lalu, bisa menghilangkan rasa iri atau rasa tak suka.
Dan benar saja, mereka sudah berkumpul di meja makan.
*****
Sementara itu, Keano yang sudah sampai di rumah sakit. Dengan langkah cepat Keano menuju ruang perawatan, Keano membuka pintu, dia melihat Zea sedang menatap kosong. Tidak ada Auriga di sana, membuatnya leluasa berbicara dengan Zea.
Mendengar pintu di buka, Zea menoleh dan menatap Keano yang sedang menatapnya.
Maafkan aku Zea, aku sudah bicara dengan Yumna. Hubungan kita sudah berakhir, dan sepanjang perjalanan aku berpikir bahwa memang aku yang terlalu larut dalam kenangan dan kisah cinta ku dengan Yumna. Bagaimana pun dia yang selalu ada untuk ku di masa lalu. Tapi tidak di masa depan, aku tahu kita bukan pemeran utama di cerita ini. Tapi aku pastikan kita akan menjadi pemeran utama di cerita kita sendiri, di mulai dari aku ingin memperbaiki hubungan kita lalu memulai semua dari awal." Jelas Keano panjang lebar.
Mata Zea berkaca-kaca seharusnya dia bahagia, jika Keano ingin memulai semuanya dari awal. Tapi dia masih ragu, dia takut Keano akan menyakitinya.
"Aku gak yakin sama kamu,"
"Aku gak akan janji lagi, aku akan membuktikannya pada mu."
"Beri aku waktu untuk berpikir,"
"Baiklah,"
****
Sementara itu di kediaman Mario, semua orang sudah selesai makan siang dan Mario memutuskan untuk berbicara dengan Laura.
"Laura aku ingin bicara," ucapnya saat Laura sedang membantu membereskan meja.
Sedangkan yang lain, mereka memutuskan untuk beristirahat. Mario mengajak Laura berbicara di tamat belakang, dekat kolam renang dimana terdapat halaman bunga yang luas milik Yusra.
Hening menyelimuti keduanya.
"Terima kasih, terima kasih karena sudah menolong anak ku." Ucap Laura memecah keheningan.
"Dia anak ku juga, Laura."
Laura menatap Mario sesaat, kemudian dia memalingkan wajahnya kembali. Menatap lurus ke depan.
"Dia sudah mulai membuka hatinya, untuk memaafkan aku Laura. Izinkan dia tinggal disini bersama ku," ujar Mario membuat Laura menatap Mario tajam.
"Lalu nanti kamu akan membuatnya nyaman, bersama Dania. Dan akan melupakan aku sebagai ibu kandungnya begitu?"
"Tidak bukan itu, aku akan membuat Yumna dan Yusra akur. Mereka saling menerima," jelas Mario.
"Kita baik-baik aja pih," sahut Yusra dia datang bersama Yumna.
"Kalian," ucap Laura tak percaya.
"Iya aku dan Yumna, sudah baikan. Kejadian kemarin membuat aku sadar bahwa aku dan Yumna harus saling melindungi, tapi kemarin Yumna lebih banyak melindungi aku dari pada dirinya. Dia juga melakukan nego sama om Jimi, bahkan kejadian waktu aku di bully dan Yumna belum tau aku, dia melindungi ku dan membela ku." Jelas Yusra.
"Liat Laura, anak-anak kita mereka sudah berdamai. Dan mau membuka lembaran baru dan membuat kisah dari awal,"
"Baiklah aku izinkan Yumna, untuk tinggal disini sementara waktu." Putus Laura.
Laura bangkit dan menggengam tangan Yumna, memeluknya erat.
"Ibu pulang dulu, kamu baik-baik disini."
"Kenapa buru-buru sekali?" sahut Mario.
"Menginap lah disini, Laura." Sambungnya lagi.
"Aku tidak bisa,"
Setelah mengatakan itu, Laura pergi meninggalkan Mario, Yusra dan Yumna. Mario ingin menyusul Laura, tapi di cekal oleh Yumna.
"Biar aku saja, dan maaf aku tidak akan menginap disini ayah," ucap Yumna, walau dia masih kaku memanggil Mario dengan sebutan ayah, tidak Papi seperti halnya Yusra.
"Tapi, kamu kan janji akan tidur dengan ku Yumna!!" rengek Yusra.
"Yusra apa kamu lupa, kalau kamu sudah menikah. Dan selesaikan masalah mu dengan Hito," ujar Yumna.
"Hito pasti akan mengerti,"
Yumna menggeleng, dia ingin hubungannya Yusra dan Hito baik-baik saja.
"Berbicaralah dari hati ke hati dengannya Yusra, lain kali saja aku akan tidur dengan mu dan banyak bercerita."
Yumna memeluk Yusra, dia menatap Hito dari jauh yang tersenyum. Tadi Hito sudah mengungkapkan perasaannya pada Yumna, dan Yumna langsung menceramahi Hito sebagai kakak ipar. Tentu saja di temani oleh Bara.
Yumna melepaskan pelukannya dengan Yusra, menatap Mario dan memeluknya juga.
"Terima kasih ayah, aku pulang dulu,"
"Sama-sama sayang, baiklah. Lain kali kamu harus menginap di sini ok!!" perintah Mario.
"Oke siap," kekeh Yumna.
Tanpa mereka sadari sedari tadi Dania memperhatikan kebersamaan mereka, saat ada Laura mereka seperti keluarga bahagia. Sempat terbesit merelakan Mario untuk Laura, tapi Dania mencintai Mario, dan tidak ingin melepaskan begitu saja. Dania menghembuskan napasnya secara kasar, kemudian kembali ke kamarnya.
tbc...
Maaf typo
Jangan lupa tinggalkan jejak makasih, kalau gak suka boleh skip.