Twin'S

Twin'S
Bab.71



"Mami," panggil Yusra.


Dania pun berbalik, dan menatap Yusra dengan tersenyum dan mengelus pipinya.


"Yusra sayang, terima kasih sudah mau menjadi anak ku. Walau aku tak begitu memperhatikan diri mu, tapi kamu harus percaya mami tulus sayang pada mu." Terang Dania, tersenyum menatap Yusra.


"Tapi mami, mau kemana?" tanya Yusra melihat Dania memakai pakaian rapih.


Dania tidak menjawab, dia berjalan meninggalkan Yusra sendiri. Yusra terus saja memanggil dan berteriak.


"Mami... Mami," teriak Yusra.


"Yusra," panggil Hito.


Yusra melihat sekeliling, dia sudah ada di kamarnya bersama Hito. Sore hari Mario menyuruhnya pulang bersama Yumna, sedangkan Laura ingin menemani Mario.


"Kamu kenapa?" tanya Hito.


"Aku... Mami, aku mimpiin mami. Pergi ninggalin aku Hito," lirih Yusra.


"Kami tenang saja, itu hanya mimpi. Aku yakin mami Dania baik-baik saja," jelas Hito.


"Tapi aku takut,"


"Sudah jangan takut, nanti kita kesana. Ini sudah malam,"


"Tapi aku ingin ke sana Hito," pinta Yusra.


Hito mendesah, Yusra dan keinginannya membuatnya sulit menolak.


"Ya sudah, jika keadaan mami baik-baik saja kita pulang. Ok!!"


"Iya."


Yusra hanya mengangguk menurut pada Hito, yang penting dia bisa melihat keadaan Dania. Tak lama mereka sudah sampai, karena jalanan yang lengang membuat mereka cepat sampai.


Dengan tergesa Yusra berjalan, di pegang oleh Hito agar dia tak lari. Sesampainya di ruangan Dania, Yusra melihat Mario sedang mengerjakan sesuatu di laptopnya.


"Papi," panggil Yusra.


"Sayang, kenapa kamu disini? Ini sudah malam,"


"Aku khawatir pih, aku cemas sama keadaan mami," ucap Yusra.


"Mami baik-baik saja sayang," bohong Mario, sejujurnya tadi Dania sempat kejang.


"Lebih baik, kamu pulang Yusra. Nanti kamu sakit,"


"Tapi pih,"


"Yusra dengarkan papi, jika mami mu sembuh. Lalu kamu sakit, dia pasti sedih nak," jelas Mario.


"Yusra turuti apa kata, papi mu," sahut Hito.


Sebenarnya Hito merasa kesal, karena Yusra keras kepala sulit di beritahu.


"Kamu tidur di hotel saja, nak. Disini ada hotel tak jauh dari rumah sakit," usul Mario.


"Baiklah, pih." Yusra pun mengalah, dia tidak ingin semakin merepotkan yang lain.


"Kami pulang dulu pih, kalau ada apa-apa. Segera hubungi aku," ucap Hito.


"Iya," jawab Mario.


Yusra dan Hito pun pergi meninggalkan Mario sendiri, Mario selalu tidur di kursi tunggu depan ICU. Besok dia akan berbicara pada dokter, agar memindahkan Dania ke ruang perawatan saja. Lama-lama bisa remuk badan Mario, tidur di kursi terus.


*****


Kematian merupakan suatu hal pasti yang akan terjadi pada setiap manusia. Meskipun begitu, hanya Tuhan yang mengetahui secara pasti takdir kematian dari setiap orang. Dan itu adalah perpisahan yang paling menyakitkan karena jika rindu tak bisa bertemu.


Tadi pagi saat Mario ingin berbicara dengan Dokter, tentang pemindahan Dania ke ruang rawat. Tiba-tiba suster memberitahukan keadaan Dania memburuk, Mario dan Dokter bergegas melihat Dania. Tapi Mario tak di izinkan untuk masuk.


Dokter pun keluar dari ruangan, dengan raut wajah sendu. Dia mengatakan bahwa Dania tidak bisa di selamatkan, dokter menjelaskan kemungkinan yang terjadi setelah operasi dan Mario tidak mendengar itu. Dia hanya menatap kosong ke depan dengan air mata yang memerah.


"Tuan Mario, saya turut berduka cita," ucap Dokter menepuk pundak Mario pelan.


Mario memberitahu Mala, mempersiapkan rumah untuk kedatangan Mario. Mala di ujung telepon pun bingung, kenapa sang tuan memerintahkan kasur di tengah ruang. Tapi Mala tak banyak tanya, setelah panggilannya terputus dia memberitahu kepada pelayan senior dan langsung membereskan rumah.


Yusra yang baru keluar dari kamar, heran melihat semua orang sibuk di rumah. Dan lebih heran lagi di luar banyak bunga dia pun membaca lebih dekat, membuat dia hampir jatuh, jika satpam tak menahan tubuh Yusra.


"Non!!" pekik pak satpam.


"Pak, apa ini beneran?" tanyanya bergetar.


"Iya nona, tadi tuan Mario yang mengabari," ucapnya, seketika Yusra pingsan dan membuat panik orang rumah.


Hito yang mendengar keributan di luar pun, bergegas keluar dari kamar setelah selesai membersihkan diri.


"Yusra, kenapa dia?"


"Nona Yusra pingsan, tuan saat tahu bahwa nyonya Dania telah tiasa," jelas Mala.


"Apa," pekik Hito. "Innalilahi," gumam Hito.


"Biar saya saja pak," Hito mengambil tubuh Yusra, kemudian membawanya ke kamar.


Saat Hito berusaha menyadarkan Yusra, tiba-tiba pintu terbuka.


"Hito," panggil Wina, membuat Hito terkejut.


"Yusra pingsan mah, setelah tahu mami Dania meninggal," kata Hito.


Wina pun duduk di dekat Yusra, dan mencoba menyadarkan Yusra. Tak lama Yusra pun sadar, dan langsung menangis pilu.


"Ternyata mimpi ku benar," lirih Yusra.


Hito dan Wina tak bersuara, mereka terus menenangkan Yusra yang menangis dalam dekapan Wina. Beruntung sekali Yusra memiliki orang-orang yang sayang di sekitarnya.


"Dia meninggalkan ku, dia jahat," isak Yusra lagi.


"Sudahlah sayang, mami mu sudah tenang dan bahagia." Ucap Wina menenangkan.


"Mami menyusul anaknya yang pergi mah, dia lebih sayang anak kandungnya di banding aku."


"Yusra kamu gak boleh ngomong gitu, kematian itu pasti. Kamu, Hito, mamah atau Papi mu bisa juga pergi, kamu harus percaya pada takdir Tuhan Yusra. Jangan larut dalam kesedihan kasian mami mu," imbuh Wina.


Yusra menggeleng baru beberapa bulan, dia merasakan kasih sayang Dania. Sedari kecil dia ingin mendapatkan kasih sayang Dania, tapi Dania malah abai padanya.


"Sudah nak," Wina terus menenangkan Yusra.


Tak lama suara mobil ambulans terdengar, Yusra melepaskan pelukan Wina. Dan bergegas turun, Hito menyusul Yusra yang turun dengan tergesa di ikuti Wina.


"Yusra hati-hati," teriak Hito.


Saat jenazah Dania di turunkan dan di letakan, Yusra langsung memeluk Dania erat.


"Mami, kenapa ninggalin aku. Maafkan aku mih," lirih Yusra.


Sedangkan Mario dia duduk tak jauh dari Yusra, dan mengusap punggung sang anak. Sedangkan Hito dan Wina yang menerima tamu.


****


Yumna yang mendapat kabar bahwa Dania telah meninggal, langsung memberitahukannya pada ibu dan oma-nya.


Mereka pun memutuskan untuk segera ke kediaman Mario, Yumna tahu bahwa Yusra dan Mario butuh orang yang menguatkannya.


Sesampainya di rumah Mario, Yumna melihat Yusra yang menangis tersedu di dekat jenazah Dania. Laura yang melihat itu pun merasakan sakit, bagaimana sang anak begitu menyayangi ibu tirinya.


Laura dan Anjani memutuskan untuk bergabung bersama tamu yang lain, sedangkan Yumna berusaha menenangkan Yusra dan memeluknya erat.


Kehilangan adalah salah satu ujian yang berat. Namun, di balik semua itu, ini pasti salah satu rencana Tuhan untuk menguatkan mu.


tbc...


Maaf typo


Jangan lupa tinggalkan jejak, makasih 🙏