Twin'S

Twin'S
Pernikahan Hito dan Yusra



2 Bulan Kemudian


Hari, minggu dan bulan mereka lewati, dengan berbagai ujiannya masing-masing. Besok adalah hari yang paling di nanti oleh Hito dan Yusra, lebih tepatnya Yusra yang sangat antusias.


Yusra dan Dania sudah mempersiapkan semuanya, dari gedung, catering, make-up, baju dan WO. Dania lebih memilih gedung Arkha Hotel, yang terletak di sekitaran Jakarta. Tempatnya berdekatan dengan pantai, bisa sekalian liburan begitu pikir Dania. Mereka mengusung tema in door dan out door. Garden party yang akan di lakukan di pantai dekat hotel pada malam harinya, sedangkan pada siang harinya resepsi akan di lakukan di aula hotel Arkha Hotel.


Dania dan Mario juga menyewa satu lantai, untuk anggota keluarganya dan Hito.


Sedangkan Yumna dan Bara tidak akan datang, setelah kepergian Mario dari Pacitan, Yumna mendapat surat bahwa rumah yang di tempati sudah di beli atas namanya. Membuat dia langsung menghubungi Mario untuk menolah, namun Mario memaksa. Dan mengucapkan terima kasih.


"Setidaknya, buat papi berguna dan tidak merasa bersalah pada mu. Yumna," ucapnya kala itu.


Sedangkan Laura dan Anjani, dia akan datang pada saat ijab saja. Kemudian pulang setelah acara selesai. Dan disinilah semua anggota keluarga berkumpul, kecuali Hito dan Yusra yang sedang perawatan tubuh bersama Dania.


"Ngomong-ngomong kemana Hito?" tanya Antiah, dia baru tiba dari Bandung dan langsung menuju tempat acara bersama Jakie dan Amira.


"Dia ada di kamarnya, nyonya." Sahut Carina tersenyum ramah, yang di jawab anggukan oleh Antiah.


"Suruh dia bergabung bersama kita disini," perintah Antiah.


"Biar saya saja, yang menyusul mbak Carin. Permisi," pamit Wina.


Beberapa menit kemudian, Wina sudah sampai di kamar sang anak. Dia mengetuk pintu dan mencoba membukanya, pintu tidak di kunci.


"Hito," panggil Wina mengedarkan pandangannya.


Wina mendapati Hito sedang berdiri di balkon, menghadap lautan. Dia memperhatikan orang-orang yang sedang mendirikan tenda untuk resepsi malam harinya.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Wina mengelus pundak Hito.


"Entahlah, aku gak yakin mah. Tiba-tiba, aku merasa ragu untuk menikah, awalnya memang aku ingin menikah dengan Yusra. Tapi entah mengapa setelah aku mengenal kembaran Yusra, hatiku mulai berpaling darinya." Ungkap Hito, tanpa menoleh pada Wina.


"Tapi kamu tidak bisa mundur lagi, nak. Seharusnya dari awal kamu memberitahukan itu pada mamah, sebelum Yusra meminta mu untuk melamar."


"Tapi aku sudah berusaha, menjelaskan pada mu mah, tapi kamu selalu sibuk. Papah juga sama selalu memaksa, apalagi dia begitu senang menjadi besan om Mario, apalagi om Mario menerima tawaran kerjasama itu," kesal Hito.


"Ya sudah maafkan mamah, sekarang kamu jalani saja. Apapun masalahnya nanti, jangan pernah kamu menyakiti Yusra atau bertidak kasar," nasihat Wina.


"Mamah hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk mu, kamu anak ku." Wina memeluk Hito dengan erat, anak yang hadir karena perjodohan juga.


"Sudah jangan sedih, ayok kita ke bawah. Semua orang sudah menunggu mu." Ajak Wina.


Hito hanya bisa pasrah, atas pernikahan ini. Rasa-rasanya dia ingin lari saja. Dan menemui Yumna, yang entah berada di mana.


*****


Pagi pun tiba, Yusra sedang di rias oleh MUA profesional. Pilihan Dania, sedangkan di kamar terpisah Hito juga sedang di rias. Nanti setelah sah ruang ganti mereka akan di satukan, tepat pukul delapan Yusra sudah selesai di rias. Dia tampak cantik dengan kebaya berwarna putih tulang, dan mahkota di kepalanya khas pengantin Sunda.


Sedangkan Hito terlihat gagah dengan tuxedo yang senada dengan Yusra, setelah selesai di dandani. Asisten MUA tersebut keluar meninggalkan Hito atas permintaan Wina, Wina memandang Hito dengan tatapan haru.


"Sudah jangan menangis," ucap Hito menghapus air mata ibunya.


"Kamu sangat tampan Hito," puji Wina.


"Jadi selama ini aku jelek gitu," goda Hito, membuat Wina terkekeh.


"Anak mamah, selalu tampan setiap saat. Hito jadilah suami yang bertanggung jawab, jangan pernah mengulang kesalahan mamah atau papah mu. Ingat jangan pernah memakai kekerasan pada Yusra, jika dia bersikap manja atau membantah mu." Ujar Wina memberikan nasehat pada Hito.


Dan hanya di jawab anggukan oleh Hito, karena rasanya Hito enggan melakukan pernikahan ini. Seandainya ada ada lampu Aladin, dia ingin meminta menghilang dari sini. Hito menghembuskan nafasnya secara kasar, kemudian pihak WO memberitahu bahwa acara akan di mulai sebentar lagi.


Tak lama, Haikal pun muncul dengan Carina dan Naysa.


"Wah... Ka Hito, sangat tampan," puji Naysa.


"Kalau aku bukan adik mu, mungkin aku juga sudah jatuh cinta pada mu," canda Naysa sambil terkekeh.


Dia begitu sayang pada Naysa selama ini, bagaimana pun kisah orang tua mereka. Hito akan tetap menyayangi Naysa.


"Sudah-sudah, acaranya akan di mulai. Ayo kita ke bawah," ajak Haikal, menyusut sudut matanya terharu harus melepas anak lelakinya menikah.


Hito berjalan beriringan bersama Haikal, sedangkan Carina, Wina dan Naysa berada di belakang mereka.


"Kalian duluan saja, aku akan ke kamar Yusra," ucap Wina.


"Aku ikut tante," sahut Naysa, dan di angguki oleh Wina.


"Ya sudah aku juga ikut deh, mau liat calon mantu. Gak apa kan, kalian hanya berdua?" tanya Carina.


"Tidak apa sayang, kamu pergilah temani Wina dan Naysa." Perintah Haikal, dan di jawab anggukan oleh Carina.


Akhirnya ketiga wanita tersebut, memutuskan untuk ke kamar Yusra. Dan Yusra sedang menunggu di panggil ke bawah.


"Ya ampun... Ka Yusra juga cantik banget sih," seru Naysa. "Kaya putir tau gak," ocehnya lagi.


"Kamu Nay, berisik amat sih," tegur Carina.


"Gak apa-apa tante, aku gak ngerasa ke ganggu ko," ujar Yusra tersenyum.


"Tuh ibu, ka Yusra aja biasa. Aku mau nanti kalau menikah kaya ka Yusra yah bu," pinta Naysa.


"Sekolah yang bener," ketus Carina.


Membuat semua orang tertawa, dan Naysa memutar bola mata malas.


"Ibu mah gitu,"


"Tapi Naysa benar, Yusra memang cantik seperti putri," puji Wina.


"Makasih tante," sahut Yusra tersipu malu.


"Jangan panggil tante dong nak, kamu panggil Wina mamah. Dan kamu panggil tante Carin ibu, oke." Pinta Carina.


"Baiklah bu, mah."


****


Hito sudah duduk di depan Mario, sebentar lagi acara akan di mulai. Dan dia sedang menunggu Yusra, saat Yusra tiba di dampingi oleh Dania dan Wina. Sesaat Hito terpana, dan entah mengapa di malah melihat bayangan Yumna.


Sedangkan Laura yang melihat sang anak terlihat cantik, mengingatkan akan dirinya yang menikah dengan Mario.


"Dia mirip dengan ku, saat aku menikah dulu," gumam Laura.


Tapi yang lebih menyakitkan adalah, dia hanya bisa melihat Yusra di tuntun oleh Dania dan bukan dirinya. Ada rasa iri dalam hati Laura, namun iya mencoba menepis rasa itu.


"Teruslah tersenyum, karena hidup itu indah dan ada banyak hal yang bisa disyukuri." Batin Laura, saat melihat Yusra tersenyum dengan bahagia dan mata berbinar saat saksi mengucapkan kata sah.


Laura pun ikut tersenyum.


"Bahagia lah selalu sayang," gumam Laura.


Kemudian Laura mengajak Anjani, untuk segera pulang berlama-lama melihat mereka membuatnya sedih. Terutama melihat kompaknya Yusra dan Dania, ada rasa iri di hati Laura.


tbc...


Semoga suka dan maaf typo feel nya kurang dapet deh kyanya entahlah, aku gak sepinter senior huhuhu


Jangan lupa tinggalkan jejak, makasih 🙏