
Dilema besar yang di rasakan Dania, membuatnya sulit tidur. Jika dulu dia tidak membantah ucapan Mario, mungkin saat ini anak mereka masih ada dan sudah besar seperti Yusra. Tapi penyesalan memang selalu datang terlambat.
Pergerakan Dania membuat Mario, membuka matanya. Dia memandang Dania yang gelisah.
"Kenapa belum tidur?" tanya Mario.
"Aku belum ngantuk,"
"Kenapa? Ada masalah?"
"Tidak ada, hanya saja...."
Ucapan Dania menggantung, dia tidak bisa mengatakan bahwa dia cemburu pada Laura. Bahkan bertahun-tahun lamanya dia masih cemburu.
"Hanya apa? Katakan saja,"
"Tidak ada, hanya saja aku merindukan anak kita yang sudah pergi. Mungkin dia sudah besar sekarang," lirih Dania matanya kini mulai memanas.
Tanpa di duga Mario membawa Dania ke dalam dekapannya.
"Sudahlah anak kita sudah bahagia, ini semua takdir kita dan anak kita yang sudah pergi." Jelas Mario, mengusap punggung Dania yang bergetar.
"Bukankah sekarang ada Yusra, yang sebentar lagi bakal memberikan mu cucu Dania." Kata Mario.
"Tapi dia bukan putri ku," lirih Dania.
"Dania, dia putri ku darah daging ku. Ya aku tahu dia terlahir dari wanita lain, kamu tidak lihat Laura dan Yusra mereka tidak dekat. Malah Yusra selalu nempel pada mu, bukankah kamu sudah menerimanya!!"
"Entahlah,"
Dania melepaskan pelukan pada Mario, kemudian dia meninggalkan Mario sendiri di kamar.
"Bahkan Laura saja mengalah demi kebahagiaan mu, Dania." Ucap Mario memejamkan mata.
*****
Semalaman Dania hanya duduk merenung di taman belakang, rasa takut dan hawa dingin tidak dia rasa. Mungkin rasa cemburu yang belum hilang saat melihat kebersamaan Mario, Laura serta kedua putri mereka, membuat Dania berpikir seperti dia berada di antara keluarga kecil tersebut.
Sayup-sayup suara adzan terdengar, menandakan pagi akan segera tiba. Dania bergegas kembali ke kamarnya.
"Loh!! Mami, ko udah bangun jam segini?"
"Mami gak bisa tidur," jawab Dania jujur.
"Kenapa, mih?"
"Mami merindukan anak mami, yang sudah pergi," sahut Dania. Matanya mulai memanas kembali.
"Mih," suara Yusra tercekat, dia kehilangan kata-kata tidak tahu ingin berkata apa.
"Mami ke kamar dulu," ucap Dania, memecah keheningan.
"Iya mih," sahut Yusra lirih.
Yusra menatap punggung Dania yang menjauh, tanpa permisi air matanya meluncur bebas. Sekarang dia tahu, sekuat apa pun Dania berusaha menyayanginya. Hanya anak kandungnya lah yang Dania sayangi, apa Dania menyesal? pikir Yusra. Yusra kembali ke kamar dan masuk ke kamar mandi, menumpahkan tangisnya.
Dia mulai merindukan Laura, menyesal pernah berkata jahat padanya.
"Yusra," panggil Hito sambil mengetuk pintu.
"Kamu, baik-baik aja?" tanyanya lagi, tadi Hito terbangun karena mendengar pintu di banting dengan keras.
Hito menempelkan telinga berharap mendengar suara Yusra, sayang hanya air mengalir yang dia dengar. Tak lama suara air pun hilang dan pintu terbuka, Yusra langsung memeluk Hito dengan erat. Dia menangis di pelukan Hito, Hito tidak menanyakan kenapa Yusra menangis, dia ingin Yusra tenang dulu baru dia akan bertanya.
"Sudah tenang?"
Yusra hanya menjawab anggukan kepala, Hito membawanya duduk di sofa dekat jendela kamar tersebut.
"Mami, dia merindukan anaknya yang sudah meninggal," cerita Yusra dengan isak tangis yang tersisa.
"Memangnya kenapa? Itu wajar kan? Seharusnya kamu jangan sedih, ada saatnya orang bisa merindukan dia yang sudah pergi. Apalagi mami Dania, belum pernah sama sekali melihat wajah anaknya," ujar Hito.
"Iya aku tahu, tapi aku ngerasa mami Dania memang gak pernah bisa sayang sama aku," lirih Hito.
Hito menangkup wajah Yusra, dan menghapus sisa air mata di pipinya.
"Sudahlah jangan menangis, kamu masih punya aku yang akan selalu sayang sama kamu ok!! Kamu kan tahu, dari dulu mami mu memang begitu," terang Hito
Hito sudah tahu, bahwa dari awal Dania memang tak menyayangi Yusra. Entah kenapa beberapa bulan terakhir Dania menjadi baik pada Yusra.
"Sudah, jangan nangis lagi ok!! katanya mau ke rumah, Yumna. Ayo bersiap kita harus ke kampus dulu sebelum bertemu saudara kembar mu itu,"
"Kenapa sih, kamu ngajuin cuti nikahnya bentar," kesal Yusra, menyadari hanya dua hari mereka cuti setelah menikah.
Sedangkan yang di tanya hanya terkekeh, menggaruk rambutnya yang tak gatal. Tadinya Hito tidak mau berlama-lama dengan Yusra, tapi setelah banyak kejadian yang menimpa mereka dan Tuhan. Yang maha membulak balikan hati seseorang, membuat Hito menjadi luluh kembali pada Yusra. Awalnya memang dia malas meladeni Yusra, setelah mengenal Yumna.
"Maaf," ucapnya, hanya kata maaf yang bisa Hito ucapkan membuat Yusra cemberut.
****
Sementara itu di kediaman Anjani, Bara akan kembali terlebih dulu ke Bandung. Karena dia sudah meninggalkan rumah terlalu lama, Bara sudah berniat akan mencari pekerjaan di Jakarta agar dekat dengan Yumna.
"Tante, oma. Aku pamit pulang dulu," ucap Bara, mencium punggung tangan Anjani dan Laura bergantian.
"Hati-hati nak, salam buat ayah dan ibu mu," kata Anjani.
"Baik oma,"
Sedangkan Laura hanya tersenyum menatap pemuda, yang selalu ada untuk sang anak.
"Hati-hati, bawa orang tua mu untuk melamar anak ku," bisik Laura memeluk Bara.
Yumna yang melihat itu pun memincingkan mata curiga.
"Apa sih bu, bisik-bisik jadi curiga," ketus Yumna.
"Ada deh," kekeh Laura, membuat Yumna cemberut.
"Hati-hati ya Bara, jangan dengarkan apa kata ibu," ujar Yumna, dan Bara hanya tersenyum.
"Terima kasih," lanjutnya lagi.
"Sama-sama, kamu baik-baik disini ya. Aku akan kembali lagi," janji Bara, kemudian dia mencium kening Yumna.
Membuat Yumna melotot tak percaya, akan tindakan nekat Bara mencium di depan ibu dan Omanya.
"Bara," desis Yumna.
Bara hanya tersenyum pada Yumna, kemudian melambaikan tangan pada Anjani dan Laura.
"Halah baru di cium kening aja malu,", cibir Laura.
Yumna menatap tajam Laura, sejak kapan ibunya menyebalkan sekali. Menyesal semalam menemaninya tidur, biarin patah hati nangis semalaman.
Yumna pun berlari kedalam rumah, mengabaikan sang ibu.
"Kamu jail banget sih sama anak," tegur Anjani.
Namun Laura hanya tertawa menampilkan giginya yang rapi.
"Ya sudah ayok masuk," ajak Anjani di jawab anggukan oleh Laura.
****
Sementara itu Yumna dan Hito, sudah selesai dengan urusan kampus. Saat mereka masuk ke dalam kelas, banyak sekali teman-teman mereka yang meledek dan merajuk pada Yusra dan Hito.
"Ehh... Bro, gimana malam pertama lo? Sukses gak?" tanya Alsaki.
"Pasti sukses lah," goda Rafa dan Rakai kompak.
"Sialan lo semua, berisik lo. Gue sama Yusra belum apa-apa, lo tahu di awal gue menikah sampe beberapa hari. Gue sama Dia marahan, dan baru-baru kali ini gue sama Yusra baikan," ujar Hito.
"Ahh... Masa sih, gak percaya gue," goda Alsaki tak henti-hentinya berceloteh dan paling berisik di antara dua teman Hito yang lain.
"Serah lo ahh," Hito berdiri meninggalkan ketiga temannya tersebut.
"Ya elah, penganten baru ngambek. Hey!! Mau kemana lo?" tanya Rakai.
"Cari istri gue," jawabnya ketus.
"Udah-udah, biarin aja mungkin dia kangen sama istrinya." Ucap Rafa, membuat Rakai dan Alsaki tertawa terbahak-bahak.
Hito selalu bersyukur memiliki teman seperti Rakai, Rafael dan Alsaki yang selalu ada untuk dirinya. Tak pernah sekali pun meninggalkan dirinya saat kesusahan.
~Seorang sahabat adalah seseorang yang memahami masa lalumu, percaya pada masa depanmu, dan menerimamu apa adanya~
tbc....
Maaf typo
Jangan lupa tinggalkan jejak, Makasih 🙏