Twin'S

Twin'S
Exstra part.2



Pagi menyapa semua nampak sibuk dengan aktifitas mereka masing-masing, karena Dela menginap di rumah Mario dia tidur larut malam. Karena banyak cerita dengan Maira.


"Dela," panggil Yumna.


Dela yang mendengar suara Yumna, langsung menajamkan pendengarannya. Takut salah dengar, tapi gedoran pintu dan teriakan Yumna itu nyata membuatnya buru-buru bangun, pintu terbuka dan nampak lah Yumna yang melipat tangan di dada.


"Bunda ko, di sini sih?" tanya Dela heran.


"Sengaja bunda ke sini, karena bunda tau kamu bangun bakal siang." Omel Yumna.


Membuat Dela meringis, Yumna bertolak pinggang dan menatap tajam sang anak.


"Udah bun, maaf aku kan cuma sekali tidur malam,"


"Bohong ka, tiap hari juga dia tidur malam ko." Celetuk Dika, dari arah samping.


Pemuda tampan tersebut sudah siap dengan kemeja dan celana jins berwarna Dongker.


"Bohong bun," bela Dela.


"Jangan percaya," bisik Dika pada Yumna.


"Cepetan lo siap-siap, gue tinggal jangan nangis lo," ucap Dika.


"Aku kebawah duluan ka," pamit Dika, di jawab anggukan oleh Yumna.


"Sekarang kamu mandi, nanti pulang kuliah bareng sama Dika. Bunda akan tunggu kamu pulang," putus Yumna.


"Baiklah," putus Dela pasrah.


Saat masuk kedalam kamar Dela, menghentakkan kakinya dan meninju udara. Gagal lagi nanti malam ke luar rumah, padahal dia sudah punya rencana bersama Maira di malam minggu nanti.


Beberapa menit kemudian Dela sudah siap, dia turun ke lantai bawah untuk sarapan. Di meja makan ada Dika, Laura dan Yumna. Sedangkan Mario sudah terlebih dulu pergi ke kantor.


"Pagi grany," sapa Dela mencium Laura.


"Pagi juga sayang," jawab Laura tersenyum.


Dela melirik ke arah Yumna, yang menatapnya tajam.


"Bunda kenapa sih? Natap aku kok gitu banget, kaya mau makan aku."


"Gak apa-apa, Dika bilang nanti malam kamu mau ke luar sama Maira?"


Dela melirik ke arah Dika yang tersenyum mengejek, astaga ingin rasanya Dela mengacak-acak wajah sok tampannya itu.


"Iya bun, kita cuma main ke mall aja. Boleh kan?" izin Dela memelas.


"Sudahlah Yumna, izinkan Dela pergi. Toh sama Maira ini, gak sama cowok nanti ibu suruh Dika yang kawal." Ujar Laura.


"Aku setuju bu," sahut Yumna.


Membuat Dela cemberut dan Dika tertawa puas, Dela mengirim pesan pada Maira bahwa malam minggu kali ini mereka akan di kawal oleh Dika om tampan mereka.


****


Sementara itu di apartemen Auriga, ayah dua orang anak tersebut sudah selesai membuat sarapan untuk kedua putrinya. Tinggal membangunkan putri bungsunya saja, Auriga tahu bahwa Lula pasti sudah bangun.


Auriga membuka pintu kamar sang anak, dan membuka gordeng agar dapat cahaya masuk ke dalam kamar. Auriga tidur bersama Ara, sedangkan Lula tidur sendiri.


"Hai... Tuan putri, ayo bangun," ucap Auriga lembut.


"Daddy Ara masih ngantuk," jawab Ara parau.


"Ini udah siang sayang, daddy janji. Setelah daddy pulang kerja kita jalan-jalan dulu ok,"


Ara pun terpaksa bangun, dia menatap sang ayah dengan mata polos dan berbinar.


"Benar dad? Daddy gak bohong kan?"


"Engga dong sayang, mana mungkin daddy bohong sama kamu. Tapi cepat kamu mandi dan kita sarapan ok,"


"Siap dad,"


Ara pun masuk ke kamar mandi, di umurnya yang ke tiga tahun dia sudah bisa buka baju dan mandi sendiri. Dan Auriga dengan setia menunggu sang anak mandi dan akan mengenakan baju untuk putri kesayangannya tersebut.


Beberapa menit menunggu Ara sudah selesai mandi, dan Auriga sudah mendandani sang anak.


"Sudah cantik,"


Ara tersenyum dan memeluk Auriga.


"Ayo kita sarapan dulu, kakak mungkin sudah menunggu."


Auriga pun menuntun sang anak, dan benar Lula sudah berada di meja makan. Tengah menyantap nasi goreng sosis telur kesukaannya, sedangkan Ara dia sarapan dengan menu roti isi selai coklat, omlete dan sosis bakar.


"Masakan daddy selalu enak," puji Ara, membuat Lula memutar bola mata malas.


Mereka pun sarapan dengan di hiasi celotehan dari Ara, sedangkan Lula tetap tidak suka apa pun yang di lakukan oleh sang adik.


****


"Sabar ya ka, lain kali kita pergi berdua," bisik Maira.


"Heh ngapain bisik-bisik?" tanya Dika, saat dia sudah sampai di dekat ruang keluarga.


"Ada deh, rahasia cewek," kekeh Maira.


"Ayok berangkat, entar keburu larut malam lagi," ajak Dika.


Kemudian Dela dan Maira berpamitan kepada Laura, Mario, Yumna dan Bara, sedangkan Tatiana dia sudah tidur di kamar tamu.


"Jangan pulang terlalu malam ya," ujar Yumna.


"Dika jaga keponakan mu," titah Mario.


"Beres Pih, tenang aja pokoknya mah. Mereka bakal aman," balas Dika.


Mereka pun berlalu dari ruang santai, yang terletak dekat pintu keluar taman belakang. Berpuluh menit kemudian, mereka sudah sampai di mall daerah Jakarta.


"Kita nonton dulu, uncle mau ikut gak?" tanya Maira, sebab sedari di rumah Dela sudah cemberut.


"Ikut dong, ya kali aku nunggu kalian," balasnya.


Maira pun memesan tiga tiket film layar lebar bernuansa horor, film tersebut pun akan di mulai sebentar lagi.


"Kalian gak salah? Mau nonton horor?" tanya Dika saat menatap judul di tiket masuk.


"Ya engga lah uncle, lagian kenapa harus ikut sih,"


"Udah Ra, cowok ini kalo di kasih tau suka lemot," cibir Dela.


"Kurang ajar lo Dela," desis Dika.


"Udah-udah, ayok kita masuk mau mulai nih."


Mereka pun masuk ke dalam, penontonnya pun lumayan ramai. Karena film horor baru tayang.


****


Sedangkan Auriga, dia sudah sampai di mall tempat Dela menonton film horor. Auriga mengajak Lula terlebih dulu belanja.


"Ara, kakak Lula mau belanja dulu. Gimana kalo kita temenin?" tawar Auriga.


"Boleh dad, aku juga mau beli baju dad. Boleh gak?" tanya Ara.


"Boleh dong, kalo gitu ayo." Seru Auriga.


Lula dan Ara pun melihat-lihat baju yang dia inginkan. Tapi Lula benar-benar tidak bersemangat, dulu saat dia ingin berbelanja selalu ada sang ibu yang menemaninya.


"Belanja sama daddy gak seru," celetuk Lula.


"Lula sayang,"


"Aku mau pulang dad, atau antar aku ke rumah tante Zea." Pinta Lula, dengan air mata yang sudah membasahi pipi chubby tersebut.


"Baiklah sayang kamu mau kemana?" tanya Auriga pelan.


"Aku mau ke taman aja dad," putus Lula


"Ya sudah ayo, kita ke taman."


Pada saat Auriga akan memanggil Ara tiba-tiba, bocil itu sudah menghilang dari pandangannya.


"Ya Tuhan, Ara. Dimana kamu nak?" gumamnya khawatir.


Auriga menuntun Lula agar tak hilang, dia mengajak Lula mengitari mall tersebut walau tak mungkin. Setidaknya dia berusaha mencari sang anak, belum memberitahukan pada bagian informasi.


Sementara itu Dela yang ingin buang air saat film akan di mulai, dia buru-buru ke luar dan berlari ke toilet. Pada saat akan keluar dari toilet tiba-tiba, dia menubruk seseorang. Dela mencoba membantu bangun gadis kecil yang sedang menangis itu.


Dela memutuskan untuk ke bagian informasi, dan memberi tahu bahwa anak ini mungkin hilang. Setelah ke bagian informasi, Dela membawa gadis tersebut ke kedai ice cream.


"Makasih tante,"


"Sama-sama," Dela tersenyum menatap gadis kecil yang cantik di depannya.


"Siapa nama mu sayang?" tanya Dela.


"Ara," ucapnya pelan.


"Ara nama yang bagus," lagi-lagi Dela tersenyum manis.


tbc...


maaf typo 🙏


Jangan lupa tinggalkan jejak, makasih 🙏


Mungkin yang lebih dominan ceritanya Dela, Dika cuma nyelip-nyelip dikit. Makasih pengertiannya.