Twin'S

Twin'S
Jawaban



"Laura, kamu mau kemana?" tanya Anjani, saat melihat Laura tengah membereskan baju-bajunya.


"Aku ingin bertemu Yumna, bu. Aku merindukannya, sudah 2bulan dia tak menghubungi ku," terang Laura.


"Sebaiknya ibu ikut saja," usul Laura.


"Baiklah, ibu ikut kamu. Ibu juga merindukan Yumna,"


Setelah menyiapkan baju-bajunya, Laura kemudian menuju kamar Anjani dan membereskan barang-barang miliknya pula. Setengah jam kemudian Laura dan Anjani sudah siap, mereka akan menggunakan kereta menuju Jawa Timur. Yumna pernah memberikan alamat rumahnya, pada saat terakhir mereka kontekan.


"Yumna, tunggu ibu," batin Laura.


****


Sementara itu Yumna dan Bara, sudah mulai bekerja terutama Bara. Dia sudah mendapatkan pekerjaan di salah satu hotel, dekat pantai tersebut. Sedangkan Yumna, dia bekerja di rumah makan. Yang tak jauh dari tempat mereka menginap, setiap hari Bara selalu menjemput Yumna pulang, mereka berjalan kaki menuju rumah mereka.


Pernyataan cinta Bara tempo lalu, belum di jawab oleh Yumna. Yumna selalu bingung dan belum siap untuk memberikan jawaban, dan dia pun tahu pernikahan Yusra dan Hito yang sangat meriah.


"Udah beres?" tanya Bara basa basi.


Yumna pun mengangguk, hari ini kebetulan mereka bisa pulang bersama. Dan Bara akan menanyakan tentang jawaban cintanya.


"Yumna, bagaimana jawaban mu?"


"Aku... Entahlah, aku tidak tahu Bara," jawab Yumna menunduk.


"Apa waktu, yang aku beri kurang?"


"Tidak, tapi aku yang belum yakin dengan hati ku."


"Kamu belum bisa melupakannya?"


Yumna pun menggelengkan kepalanya dengan pelan, membuat Bara menghembuskan nafasnya secara pelan.


"Sudahlah lupakan saja, anggap aku tak pernah mengungkap kan isi hati ku," ujar Bara.


"Kadang bingung sama diri sendiri, selalu mementingkan perasaan orang lain. Dari pada perasaan sendiri," celetuk Bara, dan Yumna tersindir secara tak langsung.


Kemudian Bara melangkah lebih dulu, meninggalkan Yumna di belakang. Yumna menatap punggung Bara yang menjauh.


"Bukannya aku tidak mau, aku takut terluka." Lirih Yumna, menyusul Bara.


****


Beberapa jam kemudian, Laura dan Anjani sudah sampai. Kemudian mereka menyewa jasa taxi online untuk menuju ke tempat Yumna, mereka pun tak lama sampai, dan harus berjalan kaki.


Anjani bisa melihat seorang gadis yang sedang mengejar anak muda, dia pun tersenyum dan memanggil Yumna.


"Yumna," teriak Yumna, saat akan mengejar Bara lebih dekat.


Sontak Bara dan Yumna, menoleh ke sumber suara. Yumna membulatkan mata, dan berlari menuju Laura.


"Ibu," pekik Yumna.


Setelah dekat Yumna memeluk Laura erat.


"Maafkan ibu, sayang," lirih Laura.


"Tidak ibu, justru aku yang harus minta maaf,"


"Bara apa kabar?" tanya Anjani.


"Baik oma," sahut Bara.


Kemudian Bara beralih mencium punggung tangan Laura, dan membantu membawa koper kedua wanita kesayangannya Yumna.


"Kamu dari mana?" tanya Laura.


"Aku abis pulang kerja bu, di cafe dekat sini. Bara juga sama baru pulang," jelas Yumna dan Laura pun menganggukan kepala saja.


"Ayok masuk bu," ajak Laura, setelah sampai di rumahnya.


Anjani dan Laura, duduk di ruang tengah sementara Bara menyimpan barang-barang Anjani dan Laura ke kamar tamu. Kamar yang biasa Bara tempati, tapi hari ini dia akan tidur di sofa ruang tengah. Tidak mungkin juga dia tidur dengan Yumna.


"Tante, oma. Barang-barangnya sudah aku simpan di dalam kamar ya, kalau butuh sesuatu tante sama oma bisa kasih tahu aku," jelas Bara.


"Terima kasih Bara," sahut Laura.


"Sama-sama,"


Bara pun meninggalkan wanita beda generasi tersebut, sedangkan Yumna sedang membuatkan minuman untuk ibu dan oma-nya.


Tak lama, Yumna pun datang dengan dua cangkir teh. Dan dua toples makanan.


"Di minum bu, oma."


"Terima kasih sayang,"


"Sepertinya disini nyaman, ibu suka," celetuk Laura.


Anjani menepuk paha Laura pelan.


"Bilang aja kamu mau tinggal sama Yumna," omel Anjani membuat Laura dan Yumna terkekeh


"Ibu tahu aja,"


"Ibu boleh ko, tinggal disini sama aku. Aku rindu ibu," Yumna memeluk Laura dengan erat, walau dia tahu bahwa. Sayangnya Laura sekarang terbagi untuk Yusra.


"Kalau oma? Apa oma, juga boleh tinggal disini?"


"Boleh ko, oma juga." Yumna berpindah posisi, dia duduk di tengah-tengah antara Laura dan Anjani.


"Aku juga merindukan oma, yang bawel ini. Oma kalau udah sehat cerewet banget yah!!" kekeh Yumna, dan mendapat cubitan dari Anjani.


"Awww... Ihh oma, kok KDRT sih," protes Yumna sambil mengerucutkan bibirnya.


Senang sekali dia mengerjai sang cucu, cucu yang sedari bayi yang selalu bersamanya saat Laura bekerja.


Yumna memeluk Anjani erat.


"Ngambek nih," goda Yumna.


"Laura liat anak mu," adu Anjani.


"Heh!! Kok ngadu sih, aku kan cuma bercanda oma. Aku sayang oma,"


Yumna mencium pipi Anjani, dan memeluknya lagi. Yumna melepaskan pelukannya dari Anjani.


"Ou ya, berapa lama ibu sama oma disini?"


"Ibu gak tahu, ibu ingin disini sama kamu aja." Ungkap Laura.


"Ibu ikut saja, apa rumah yang di Jakarta kita jual saja dan pindah ke sini!!" usul Anjani.


"Boleh tuh oma, kita bisa buka usaha disini bu," jelas Yumna.


"Nanti ibu pikir-pikir lagi,"


"Lagian rumah ini juga, sudah atas nama ku bu. Om Mario membelikannya saat dia datang ingin menjemput ku," ujar Yumna.


"Hah!! Mario kesini? Dia tahu kamu disini?"


Yumna pun mengangguk sebagai jawaban, dia kira ibunya tahu.


"Sudahlah, lupakan saja Laura. Biar bagaimana pun, Mario adalah ayah kandung Yumna," ucap Anjani.


"Baiklah,"


Saat mereka asik bercengkrama, Bara datang dengan dua kotak makan siang cepat saji.


"Tante sama oma, makan dulu."


"Gak usah repot-repot nak Bara, nanti Yumna bisa masak," ujar Anjani.


"Tidak oma, kami belum beli bahan-bahan makan. Karena kita berdua jadi seringnya makan di luar," sahut Yumna.


"Ya sudah kita makan dulu saja, bu. Gak baik, Bara sudah membelikannya." Ucap Laura.


Yumna pun segera membawa sendok dan air minum mineral dalam botol, di bantu oleh Bara. Entah mengapa Yumna merasa Bara jadi dingin padanya, mereka pun makan dengan tenang. Laura sesekali melirik Yumna yang sedang mencuri pandang pada Bara, yang tenang dan tak melihat Yumna.


"Pasti ada apa-apa," batin Laura.


Setelah selesai makan, Laura dan Anjani pun memutuskan untuk beristirahat sejenak. Sebelum Magrib tiba, Laura memutuskan untuk menemui Yumna di kamarnya.


"Yumna boleh ibu masuk?" ucap Laura setelah mengetuk pintu.


Yumna pun membukakan pintu, untuk Laura.


"Ada apa bu? Ibu perlu sesuatu?"


"Tidak, ibu hanya ingin bicara dengan mu,"


Yumna pun mempersilahkan Laura masuk, dan mengajak Laura ke balkon kamar. Walau rumahnya tidak memilik lantai dua, tapi kamar yang di tempati Yumna memilik balkon.


"Yumna apa kamu dan Bara ada masalah?" tanya Laura to the poin.


"Tidak ada, memangnya kenapa?"


Laura mengusap wajah Yumna dengan sayang, hanya dia anak yang Laura punya. Laura berharap suatu saat nanti, Yusra mau menyayangi dirinya.


"Saat hidup mu bahagia, ibu tidak pernah meminta mu untuk membagi kebahagiaan itu dengan ibu, tapi saat kamu terluka ibumu selalu datang untuk menerima bagian dari lukamu. Jadi berbagilah dengan ibu, sayang. jangan kamu pendam sendiri, lalu kamu pergi ninggalin ibu," lirih Laura, yang matanya sudah memanas menahan tangis.


"Ibu aku...."


"Yumna ibu mohon, ibu sudah kehilangan satu orang anak. Dan ibu gak mau kehilangan kamu Yumna," isak Laura.


Yumna membawa sang ibu dalam pelukannya.


"Maafkan aku ibu,"


"Tidak nak, ibu yang salah. Kamu tidak perlu meminta maaf," ujar Laura. "Jadi ceritakan pada ibu, kamu dan Bara sedang berantem?" tanyanya lagi.


"Bara menyatakan cinta pada ku bu, tapi aku takut dan belum siap untuk membuka hati ku lagi. Aku takut terluka bu," lirih Yumna.


Tanpa sepengetahuan Yumna dan Laura, Bara tanpa sengaja mendengar pembicaraan Yumna. Dia berniat hanya untuk mengecek Yumna dari samping rumah, namun dia melihat Yumna dan Laura tengah berpelukan. Dan Bara pun, memutuskan untuk menguping pembicaraan mereka. Terdengar tidak sopan sih, tapi apa boleh buat.


"Kamu belum mencoba sayang, ibu yakin Bara terbaik untuk kamu. Dia menjaga mu dan mau membantu mu," jelas Laura.


"Yumna terkadang kita sulit untuk melupakan masa lalu yang indah, tapi kita juga harus maju ke depan dan tidak boleh terpuruk karena keadaan. Yumna lupakan lah yang lalu, dan maju bersama yang baru. Dan jangan pernah melihat lagi kebelakang," nasihat Laura.


"Ibu aku..."


"Yumna, lupakan Keano sayang. Jangan jadi perusak dalam rumah tangganya,"


"Baiklah bu, aku akan coba." Putus Yumna mengembuskan napasnya.


Laura tersenyum, Laura berharap Yumna selalu bahagia. Entah mengapa hatinya resah dan gelisah, dan untuk siapa rasa resah dan gelisah ini Laura pun tak tahu. Sedangkan Bara yang sedang menguping tersenyum bahagia, dia kira dia akan menyerah berjuang untuk Yumna.


"Terima kasih, tante Laura. sudah membuka jalan pikir Yumna, dan melupakan masa lalunya," gumam Bara.


Yumna: Ciee bisa juga merangkai kata nasihat nih penulisnya 😂


penulis: Ish Yumna kok gitu sih, jangan meledek 😭


tbc....


Jangan lupa tinggalkan jejak makasih 🙏


Maaf typo